Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Mereka bertemu ketika matahari baru duduk di singgasana, hingga matahari pamit dari tugasnya, urusan mereka baru selesai bersama Fania.
Taburan bintang membentang di cakrawala, di dasari oleh kegelapan malam kala itu.
Lampu-lampu di setiap jendela gedung mulai menyala, bagai lentera modern di jantung kota. Baliho-baliho berjejeran di sisi jalanan yang kemudi Nathan lewati. Deruan bising dari kendaraan menjadi kehidupan urban malam itu.
Saat lampu lalu lintas memperlihatkan warna merah, semua kendaraan serempak berhenti, dan itulah saat Nathan dapat melihat sesosok yang kini tidur lelap di sisinya.
Kepala Nathan dimiringkan, merekam setiap embusan napas dari si jelita. Wajahnya tidak lagi terlihat segar seperti pagi tadi. Biarpun demikian, Gina tidak mengatakan 'lelah' setelah seharian diajak jalan-jalan untuk mengurus pernikahan mereka yang Nathan serahkan semuanya pada Gina.
Bermenit-menit dihabiskan mengantar Gina kembali ke kediamannya, akhirnya kemudi yang Nathan kemudian terparkir di depan gerbang rumah Gina.
Melihat betapa tenangnya napas si jelita mengembus, dibersamai d**a yang yang kembang-kempis terkonsolidasi, seolah mimpi indah tengah Gina karungi, Nathan terdiam sejenak.
Seatbelt pun Nathan buka, tubuhnya diarahkan mencondong pada Gina, menyurutkan jarak semula membentangi mereka. Telaga hazel Nathan mengarungi sosok jelita dengan jiwa tengah tertidur, perhatikan setiap jengkal di wajahnya.
"Eunghhh." Gina menggeliat, menggaruk pipi yang terasa gatal.
Alis tipis dilukis warna coklat muda milik Gina perlahan bergerak, mengukir kerut samar di dahi. Bulu mata yang Gina lapisi dengan maskara bergerak, menandakan kelopaknya akan terbuka.
Tak lama mata Gina sepenuhnya terbuka, pertemukan tatapan mereka. Pandangan mereka saling bertaut, tertera makna berbeda saling menyambut. Gina dan kesadarannya yang belum sepenuhnya datang, dan Nathan, entah apa yang bersarang di pikirannya, dia menatap Gina begitu lekat, pertahankan posisi walau Gina telah terbangun.
Tatapan Gina turun ke kerah kameja Nathan. Dalam satu detik, kerah itu diraih oleh tangannya sebelum bibir mereka bertemu.
Pupil mata Nathan menyusut, bola mata terbuka lebar. Di dalam d**a, jantungnya bertabuh kencang seolah hendak perang, nyaris meloncat ketika Gina menautkan bibir mereka.
Gerakan kaku dari bibir Gina menyentuh bibir Nathan. Namun, perempuan itu tidak memberi tanda akan melepaskan ciumannya. Dia semakin menggerakkan bibir dan lidah dengan kasar tapi kaku. Tangan kanan menahan kepala Nathan, memperdalam ciuman mereka.
Sempitnya kabin membuat d**a terasa sesak oleh atmosfer asing, ketika ciuman mereka saling bertaut. Sebelum kesadaran Gina akhirnya bertandang, barulah ciuman mereka terlepas.
"A-apa?" Gina bergumam, tak mampu mencerna apa yang sudah terjadi.
Dia berkedip, mengumpulkan fragmen memori yang baru dia ciptakan. Ketika rasa malu datang, terburu handle pintu Gina capai sebelum lari terbirit-b***t keluar dari mobil.
Perginya Gina meninggalkan Nathan dan keterkejutannya. Ibu jari Nathan terangkat, menyentuh bibir yang meninggal jejak gerakan amatir ciuman Gina.
"Dia ... kenapa?"
***
"Apa yang udah gue lakuin?" Kepala Gina dicengkram, rasa malu baru datang sepenuhnya usai dia masuk ke dalam kamar.
"Gina, lo udah gila." Dia meringis ngilu, tak mampu rasanya kembali mengingat ciuman tadi.
Tengah sibuk merutuki diri, dering telepon menginterupsi. Tangan Gina jelajahi isi tas, ketika ponsel teralih ke genggaman, Gina lihat ID caller yang tertera.
Jehan. Satu-satunya sahabat yang Gina miliki.
Tanpa berpikir panjang, Gina terima sambungan telepon Jehan, meski tahu yang akan Jehan laporkan adalah hak tidak penting.
"Gila! Gila! Gila!" Gina berseru heboh begitu telepon tersambung.
"Ngape lo?" Sahutan Jehan terdengar terheran.
Tungkai Gina diseret cepat menuju ranjang, di sana tubuhnya dihempaskan tanpa melepaskan tas di pundak.
"Lo tau apa yang udah gue lakuin?" Cengiran Gina membentang, debaran d**a berdegup kencang karena emosi positif.
"Lo pikir aja sendiri." Sahutan acuh Jehan, Gina terima. "Apaan, sih, emang? Seneng banget lo, kedengerannya."
"Emang," sahut Gina. "Gue abis cium Pak Nathan."
"Demi ungker?" Jehan memekik di ujung telepon, suara grasak-grusuk terdengar, responsnya jauh lebih heboh dari Gina. "Gimana kronologinya? Bukannya dia ... impoten?" Jehan terdengar ragu ketika akhir kalimat diucapkan.
"Nah, itu." Adalah kalimat pembukaan sebelum Gina bercerita kejadian seharian ini saat dia bersama Nathan.
"Gin, nanti kalo udah nikah. Lo pake, pakaian yang seksoh, hot jeletot, biar nganunya berdiri. Kan lo dari dulu penasaran banget, dia bisa berdiri apa enggak."
Sebagai sahabat sekaligus teman kerja, Jehan selalu diperdengarkan rasa penasaran Gina yang sangat tinggi terhadap Nathan Raeksha Abigail, yang saat itu masih menjadi atasan Gina.
Nathan yang tidak pernah sekalipun berkencan, memiliki ketertarikan dengan lawan jenis, mendatangkan rumor bahwa Nathan memiliki kelainan seksual. Namun, Nathan membantah. Hingga datanglah rumor lain: impoten.
Sebagai sekretaris, Gina selalu dihadang oleh profesionalitas. Padahal lubuk hatinya selalu mendorong agar dia menggoda Nathan, membuktikan rasa penasaran terhadap masalah seksual atasannya.
"Emang itu yang gue rencanain, Han. Dari dulu ... akhirnya gue punya kesempatan buat ngetes seksualitas Pak Nathan." Posisi Gina diubah, dia merangkak dengan kaki digoyangkan.
"Tapi lo juga harus nanggung risiko."
Alis Gina mengkerut. Sebelumnya tidak pernah terpikirkan risiko yang Jehan maksud.
"Gimana kalo Pak Nathan nafsu sama lo? Terus lo diterkam sama dia tujuh hari-tujuh malam?"
"Alah, ngadi-ngadi lo. Gak mungkin, lah."
Terdengar decakan keras dari Jehan, menyangkal pernyataan Gina. "Terus tujuan lo buat godain Pak Nathan apee? Lo pikir Pak Nathan beneran impoten?"
"Walaupun gue mau ngetes Pak Nathan, bukan berarti juga gue mau diapa-apain sama dia. Gue cuma mau skinship kecil, ngetes dia terangsang apa enggak. Udah, deh. Selesai."
"Dipikir segampang itu?" Ragu dari Jehan membuat Gina juga baru terpikirkan hal yang sama. "We never know, kalo ternyata Pak Nathan gak impoten. Dia cuma mau jaga image aja. Begitu lo godain, dia nafsu terus terkam lo."
"Pak Nathan gak kayak gitu."
"Otak lo, lo gadaikan ke siapa, sih, Gin? Masa kepikiran mau godain, tapi gak kepikiran Pak Nathan bakalan nafsu sama lo?"
"Gue kenal Pak Nathan lebih dari lo kenal dia. Tau banget gue karakter dia yang gak bakalan bertindak impulsif."
"Iya gue tau," sahut Jehan, kejengkelannya terdengar karena kebodohan Gina. "Tapi 'kan Pak Nathan juga cowok. Ya dia pasti terangsang, lah."
"Bukan gitu maksud gue." Gina tetap menyangkal, meski Jehan merasa pendapatnya sangat benar. "Biarpun Pak Nathan terangsang, dia gak bakalan gituin gue. Kan dia bisa nahan diri. Pak Nathan itu tipikal orang yang pandai mengendalikan diri."
"Bisa lo ngomong gitu sekarang. Kalo nanti Pak Nathan nafsu sama lo, terus terkam lo, gue mau ketawa pake toa."