Bab 6. Keluarga Toxic

1070 Words
"Paket!" Seruan kurir di luar membuat Gina menyeret tungkai, terburu mengambil barang belanjaan yang ia beli melalui online. Melihat raut senang sang kakak, Naura mencebik. "Paket mulu lo." "Mana uang lamaran? Kamu gak bagi ke Mama?" Jalan Gina dihadang, nyaris paket yang baru ia terima, berpindah tangan pada Rani. "Mama gak dikasih-kasih itu duit. Dipegang mulu sama kamu. Pelit banget kamu. Padahal kamu juga numpang di rumah Mama." Bibir Gina menipis, paket di tangan dia bawa ke belakang tubuh. "Uangnya aku pake buat keperluan pernikahan," jawabnya, tanpa melirik sang ibu yang sudah mengembang-kempiskan hidung. "Alesan aja kamu! Mama tau kamu sembunyiin uangnya!" Tungkai Rani mengambil satu langkah untuk meraih paket di tangan Gina. Namun, Gina terburu menghindar. "Kemaren 'kan udah Gina kasih." Seperempat siku tertera di pelipis Gina, dia masih ingat sebagian uang lamaran dari Nathan diberikan pada Rani karena hari itu juga Rani menagih. "Kamu pikir lah sendiri! Mana cukup uang segitu!" sentak Rani. "Mana! Mama minta lagi!" Desakkan dari Rani tidak membuat Gina segera menyetujui. Dia menggaruk belakang daun telinga, bertindak seolah tak begitu pedulikan keinginan Rani. "Bisa abis, dong, Ma, uangnya. Kan buat biaya pernikahan juga." Dia memberi alasan. "Calon suami kamu itu orang kaya! Biarin aja dia nanggung semua biaya pernikahan! Kenapa kamu harus mengkhawatirkan hal yang gak perlu!" Rani menyentak, tepat di depan wajah Gina. Kedua mata Gina terpejam, mencoba memperluas kesabaran. Hidungnya menarik oksigen begitu panjang, mengisi ketenangan untuk jiwanya yang telah menimbulkan kesal. "Tau lu, Kak." Naura turut memperkeruh. "Gue juga butuh duit banget buat kerja kelompok. Minta, lah, sedikit." "Banyak biaya yang harus dikeluarkan, Gina. Kamu masih mau egois, saat kamu sendiri masih numpang di rumah ini?" Rani semakin mendesak, bertujuan menekan Gina agar menyerah. "Pa. Emang Papa gak punya uang buat mereka?" Gina beralih pada ayahnya yang diam saja, menyaksikan perselisihan anak dan istrinya. "Kamu kasih aja. Kenapa sih emang?" sahut Ali, menambah kejengkelan Gina. Gigi Gina saling beradu di dalam mulut ketika marah dan jengkel bergerumul menjadi satu. Muak telah mencapai puncaknya. Tenggorokannya tak tahan ingin menyuarakan kemarahan dengan nada tinggi. Namun, Gina masih waras. Dia tidak ingin bertindak sama dengan mereka. "Kalo uangnya ada, ya Gina kasih. Masalahnya semua uang yang Nathan kasih ke Gina, Gina kasih ke Nathan buat tambahan pesta pernikahan." Itu adalah alasan terakhir Gina untuk beralibi, sebelum sebuah tamparan mendarat pedas di pipinya. "Kalo aja kamu bukan anak Mama! Udah Mama usir kamu!" Teriak marah Rani melengking, telunjuknya diangkat di depan muka Gina. "Bego banget lo, Kak! Egois! Udah tau keluarga lo jauh lebih butuh uang itu. Malah dikasih semua. Kan calon suami lo kaya. Kenapa lo harus repot sama pesta pernikahan lo." Wajah Naura telah dihiasi rona merah, pelupuk mata menahan tangisan atas kekecewaan yang dia buat. "Gimana ini, Ma? Aku butuh banget uang buat bayar UKT sama biaya kuliah lainnya." Rengekkan Naura diberi dekapan oleh Rani. Rani melesatkan tatap tajam pada putri sulung yang kini sibuk mengusap pipi setelah ia tampar. Surai Gina menutup sisi wajah yang dijejaki tamparan Rani. Napas Gina tersengal, segala emosi bergemuruh agar dia keluarkan dan membalas tindakan Rani. Namun, sejauh ini dia masih bertahan, berlagak kuat. "Gak berguna banget, ya, kamu jadi anak. Nyesel Mama udah lahirin kamu!" Bukan kalimat pertama yang Rani lontarkan. Setiap marah kepadanya, Rani akan mengatakan kalimat itu. Dulu Gina akan berlari ke kamar dan menangis sejadi-jadinya. Namun, sekarang dia merasa sudah dewasa, sudah lebih dari mampu mengontrol emosi. *** Berbagai pakaian seksi terpampang. Gaun tidur minim bahan pun menyertai. Bukan untuk kesenangan semata, sengaja pakaian-pakaian terbuka itu Gina beli untuk menjalankan misinya: menggoda Nathan dan membuktikan seksualitasnya. "Apa-apaan lo beli baju begituan?" Bibir Gina mengkerut. Lekas bibir bawahnya ditekan oleh kedua belah gigi, menahan jengkel karena Naura menyelonong masuk ke kamar tanpa ketuk pintu. Bahkan pakaian-pakaian yang telah Gina siapkan telah ditelisik oleh Naura. Tatapan adiknya skeptis, mengandung tuduhan negatif ketika pakaian-pakaian itu dia lihat. Tujuan adanya pakaian seksi tersebut mencuat di kepala Naura, yang jelas bukan mengarah ke hal baik. "Gila lo. Bisa-bisanya mau melacur. Padahal calon suami lo ganteng, kaya lagi." Lingerie maroon berbahan tulle di tangan Naura pun sengaja dilemparkan. "Parah banget, dih. Mas Nathan pasti cancel pernikahan lo." Bibir perempuan itu mencebik, mengejek Gina yang membiarkannya terus menghardik. "Coba aja lo kasih tau dia." Tantang Gina, dagunya sengaja diangkat. "Dih? Najis," kata Naura. "Setelah ini lo bakal nanggung malu. Dan gak akan ada cowok yang mau nikah sama cewek kayak lo. Mvrahan, p3lacur lagi." Puas menghardik kakaknya, Naura angkat kaki begitu saja. Sempat Gina melihat binar bahagia di mukanya, seolah temuannya adalah hal paling berharga dan akan meledakkan sejarah luar biasa. "Ini seriusan gue lahir dari rahim yang sama dengan dia?" gumam Gina, meringis karena faktanya begitu. *** "Mas Nathan udah liat chat aku belom?" Suara dialunkan mendayu-dayu dari Naura menyambut Nathan yang datang untuk menjemput Gina. Sapaan Naura mengejutkan Nathan. Alas sepatunya baru menapak di ambang pintu. Namun, Naura lebih dulu berdiri menjulang. Senyumnya merekah, pancaran bahagia tertera di kedua manik matanya. "Chat?" Nathan membeo. Adalah pertanyaan baginya karena Naura yang tak begitu dekat dengannya dapat memiliki nomor pribadinya. "Iya. Aku barusan chat Mas Nathan." Naura memberi penjelasan selagi mencari bukti atas perkataannya. "Aku mau bilang. Kak Gina mau jual diri. Dia beli baju gak senonoh banyak banget. Mas Nathan yakin mau lanjut nikah sama dia? Dia bukan cewek baik-baik, loh, Mas." "Apalagi Mas Nathan ini 'kan cowok bervalue. Tapi Kak Gina enggak menghargai Mas. Dia malah main serong sama cowok lain. Bahkan berani jual diri." Dari cara bicaranya telah mencerminkan seorang adik yang khawatir sekaligus kecewa pada kakaknya. Namun, Nathan tidak menyangka adanya kesungguhan, seolah perkataannya adalah dialog dari sebuah drama. "Saya bisa bicarakan ini sama Gina," sahut Nathan, memilih tidak langsung percaya. "Di mana Gina?" "Aku di sini." Keluar dari sebuah ruangan seorang yang menjadi tujuan bertandangnya Nathan. "Ayo." Tanpa melihat . presensi adiknya, Gina menarik Nathan menjauh dari rumahnya. Gina menyeret Nathan sampai mobil, setiap langkah yang dia ambil dipercepat. Sudah terlalu muak diperdengarkan kata-kata basi adiknya. "Kamu percaya apa yang dia bilang?" Kedua lengan Gina melipat di d**a, telisik wajah Nathan yang terpampang seperti biasanya: datar. Nathan hanya menggeleng tipis. "Kalopun kamu percaya, aku bisa buktiin kalo aku masih perawan. Kita bisa check in ke hotel setelah dinner." Pernyataan Gina menyerupai bom yang meledakkan keterkejutan Nathan. Bola matanya melebar, bulatan kecil di dalamnya mengecil. Sebuah ekspresi yang jarang ditunjukkan oleh Nathan Raeksha Abigail. Sejak kapan dia jadi sebrutal ini? Batin Nathan menerka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD