"Gina!!" Pekikan Jesselyn menyapa kedatangan Gina. Wanita setengah baya itu berlarian kecil sebelum menubruk Gina dengan dekapan.
"Akhirnya Mami ketemu Perawan Mami lagi!" Wanita dengan sanggul itu memberi kecupan di setiap pipi Gina, kerinduan yang selama ini dipendam membuncah.
"Gina juga kangen banget sama Mami." Gina balas dekapan Jesslyn, menepuk-nepuk pundak Jesslyn perlahan.
Nathan lirik keduanya. Tak heran mengapa mereka begitu dekat, hingga Jesslyn menganggap Gina putrinya sendiri. Tujuh tahun menjadi sekretaris pribadi Nathan, membuat Gina selalu berkomunikasi dengan Jesslyn hingga waktu akhirnya mengikat mereka.
"Gimana perjalanannya, Sayang?" Dekapan mereka diurai, Jesslyn menuntun Gina masuk ke dalam rumah.
"Lumayan macet, Mi." Sebuah buah tangan di tangan Gina disodorkan. "Ini Gina beliin buah buat Mami ngemil."
"Ya ampun. Emang Perawan Mami ini paling ngerti sama Mami. Enggak kayak si onoh." Pipi kanan Jesselyn mengembung, lidah di dalam mulut menunjuk keberadaan Nathan.
Gina bawa pandangan mengikuti petunjuk Jesselyn. Tawa kecil menguar. Keduanya masih juga sama: Jesslyn dan kejengkelannya pada ketidakpedulian Nathan, buat keduanya kadang berselisih hanya karena masalah sepele.
"Hari ini Mami bikinin makanan favorit kamu." Antusias Jesslyn meletup-letup, bahkan dia terlihat enggan lepaskan Gina dari gandengan tangan, mengabaikan Nathan yang telah mendahului mereka.
"Beneran, nih, Mami yang masak?" Gina berkelakar, membuat Jesselyn tertawa.
"Dalam mimpi kamu pun Mami gak bakalan bisa masak, Gin." Jawaban jenaka Jesslyn menguarkan tawa di antara mereka, hingga mereka sampai di tempat tujuan.
"Siapa ini?" Valdo hampiri calon menantunya, senyum merekah di wajah pria setengah baya itu. "Akhirnya saya lihat kamu lagi, Gin. Saya pikir kamu pindah ke dimensi lain."
"Bapak bisa aja bercandanya." Gina menyahut selagi menyalami Valdo.
"Waktu Nathan mau nikahin kamu, saya sempet lupa, loh, Gin. Saking lamanya kita gak komunikasi." Pundak Gina menjadi tempat berlabuh tangan Valdo, binar matanya seolah menatap anaknya sendiri, penuh kasih dan kehangatan yang tidak Gina dapat dari orang tuanya sendiri.
"Mana calon istrinya, Nathan?" Seorang pria baya datang, jalannya diiringi ketukan tongkat kayu yang menopang tubuhnya.
Segera tungkai Gina melangkah, hampiri sepuh Abigail sekaligus pemimpin utama Abigai Corp. Satu-satunya orang dengan kuasa penuh atas jalannya Abigail Group sekaligus aturan keluarga yang dia pegang.
"Pak Presdir apa kabar?" Bukan lagi sebagai rekan kerja, karena itulah Gina menyalimi tangan sepuh Abigail penuh hormat.
Senyum Tata Baeskha Abigail merekah, kehangatan dari kasih sayangnya terpancar melihat Gina. "Pantes aja Nathan maunya sama kamu."
"Cewek pilihan Kakek bukan seleraku." Nathan menyahut di kursi pilihannya, memilih menyantap potongan buah yang telah disajikan pelayan.
"Iya. Karena kamu maunya sama Gina." Tata berjenaka, kerlingan menggoda dia berikan untuk Gina.
Gina hanya mengulas senyum, sebelum sempat melirik Nathan hanya untuk melihat responsnya. Melihat tidak adanya respons menarik, Gina alihkan tatapannya.
"Enggak gitu juga, Kek." Gina menyangkal, antara malu juga tak percaya.
"Bener, loh, Gin." Jesslyn menyela, dia dekati ayah mertua serta calon menantunya.
Gurat menggebu hendak menghardik Nathan telah muncul di wajah Jesslyn.
"Jangan kamu pikir sebelum Nathan lamar kamu, dia enggak dijodohin sama cewek-cewek pilihan Kakek. Dan kamu tau alesan dia buat batalin perjodohan itu apa?" Dahi telah bergelombang, bibir dimoncongkan, sebuah khas Jesselyn jika berbicara serius dengan Gina.
"Apa, Mi?" Ekor mata Gina bertempat pada Nathan, tak lama tatapannya bersambut, di detik itu Gina segera melepas tatapannya dan fokus mendengarkan cerita Jesslyn.
Nathan beranjak, bokongnya mendorong kursi agar dapat keluar dari tempatnya duduk. "Jangan didengerin."
"Biar calon istrimu tau kelakuanmu, Nath." Valdo turut serta dalam menyudutkan posisi Nathan, sedikit tergelitik ketika Gina serius ingin dengarkan kelanjutan cerita Jesselyn.
"Enggak mungkin Nathan ngaku punya kelainan 'kan, Mi?" Saat tebakan itu Gina ajukan, sengaja dia rendahkan intonasi suaranya, khawatir Nathan dan semua orang tersinggung.
Belum Nathan seret Gina agar segera duduk dan menyantap jamuan, Nathan sudah dibuat terkejut. Tidak menyangka Gina akan menghubungkan cerita Jesselyn dengan pengakuan Jan kemarin.
"Itu yang dia bilang ke cewek-cewek yang mau dijodohin sama dia! Dia ngaku impoten masa?"
Enggan cerita memuakkan mereka berlanjut berakhir membuatnya tidak nafsu makan, Nathan mencapai tangan Gina. Perlahan dia dorong Gina dan menduduki Gina di kursi tepat bersisian dengan kursinya.
"Udah, udah. Ayo makan. Makanannya udah dingin."
Tepat Nathan mengakhiri perbincangan itu, tawa semua orang mengurangi. Terkecuali Gina. Biarpun yang Jesselyn katakan entah benar atau tidak, dia tetap menjaga perasaan Nathan yang saat ini terlihat menahan malu.
***
"Gerah banget, ya, malem ini?" Tangan Gina sibuk mengibas di depan leher, berupaya datangkan angin guna lenyapkan hawa panas.
Di sisi Gina, Nathan kerutkan dahi. Tidak sama dengan Gina, justru Nathan merasa biasa saja. AC di mobil pun telah Nathan atur dengan suhu biasanya. Karena Gina mengeluh panas, akhirnya Nathan naikkan suhu AC.
"Masih gerah?" tanya Nathan, lihat Gina yang masih sibuk mengibas-ngibas tangan.
"Iya," sahut Gina. "Kenapa, ya? Apa karena siang tadi panas banget? Jadi gerah gini."
"Maybe," sahut Nathan, kemudian jalankan kembali kemudi menuju rumah Gina usai lampu hijau menyala.
Gina menoleh, melirik tanya Nathan yang tidak mengalami hal ynag sama dengannya. "Kamu gak ngerasa gerah?"
Pundak Nathan berkedik. "Biasa aja."
Kepala Gina diluruskan, melihat lalu-lalang transportasi melalui kaca depan. "Aku buka aja, deh, blazernya."
Blazer crop di atas dress tanpa lengan pun Gina lepaskan. Kulit lengan serta dadanya terpampang. Belahan d**a mengintip di balik dress-nya karena model di bagian tersebut didesain rendah, dan itu adalah alasan Gina mengenakan blazer.
Lampu di luar mobil menembus melalui kaca mobil, menyentuh pundak kiri Gina yang tidak ditutupi kain, lukiskan siluet halus di sana.
Nathan sempat menoleh, sebelum kembali fokus menyetir. Tangan kanan Nathan bawa mengusap lekuk leher ketika benaknya dirayapi ketegangan. Walau suhu AC telah Nathan naikkan suhunya, atmosfer di kabin terasa menyesakkan. Terlebih sebuah ingatan menyelinap tanpa permisi, saat bibir mungil Gina memainkan bibirnya, meninggalkan keanehan yang Nathan rasakan.
"Nah, ini baru lega." d**a Gina membusung, buat bongkahan padat di balik dress-nya terlihat semakin sesak, seolah ingin keluar.
"Sekarang jam berapa, sih?" tanya Gina, walau jam terpampang jelas di head unit.
"Delapan." Nathan menyahut singkat. Fokusnya mulai kacau, sementara mata Nathan usahakan agar tetap mengarah ke jalanan, walau objek di sampingnya bak magnet yang terus menarik atensi.
"Baru jam delapan. Gimana kalo kita ke bar dulu?" Tubuh Gina menyamping, pertontonkan lebih jelas tampilannya yang terbuka.
"No. Let's just go home." Penolakan tegas Nathan tidak menyurutkan harapan Gina.
"Aku sengaja, loh, pake pakaian kayak gini karena mau ke bar sama kamu." Gina tunjukkan bagaimana penampilannya saat ini.
Pinggang yang melekuk indah, tulang selangka terpahat sempurna, dan poin pentingnya adalah pion dari penampilannya saat ini: bongkahan padat yang menyembul di balik dress-nya.
Lengan atas Nathan pun Gina capai, dia goyangkan perlahan. Berlagak merajuk. "Ya? Mau, ya? Aku sumpek banget, pengen minum." Suaranya tidak bernada seperti biasanya, dialunkan dengan nada merajuk, sedikit dibuat imut.
"Oke." Nathan akhirnya menyetujui. Bukan karena nada suara Gina yang imut, bukan juga karena tampilan seksi Gina, melainkan Nathan pun merasakan hal sama, dia mumet karena kerjaan, jadi ingin minum walau hanya segelas.