Terjebak dalam ruang hampa
Aku tak bisa diam. Selama ini aku selalu mengalah Dan menuruti apa maunya. Entah sampai kapan aku harus menunggu. Cukup sudah aku sia-siakan waktuku selama ini.
Entah mengapa semakin lama semakin muak aku melihatnya. Meski dalam hati kecilku aku sedikit merasa kasihan melihatnya. Namun aku sudah tak sanggup lagi menahan diri.
Astaghfirullaahaladziim... tanpa terasa air mata mengalir dari sela desahan nafasku. Ampuni hamba ya Allaah...
"Maaf...kemasi saja baju-bajumu... Lebih baik kita urus diri masing-masing"
"Iya sudah kalau begitu" katanya sambil tersenyum datar, yang membuat aku semakin muak melihatnya.
Benar-benar ular.
"Jadi..??? Cepatlah...bawa ini semua. jangan ada yang tertinggal!" kata-kataku sudah tak lagi mengandung belas kasihan.
Lima belas tahun sudah aku bersamanya. Tapi selama ini hanya siksa dan derita yang hanya bisa dia torehkan dalam hatiku.
Janji demi janji yang dia ucapkan hanya berlalu tanpa bukti. Rumah, surat nikah dan ketenangan, semua hanya omong kosong.
Ya... dia bilang aku adalah istri yang dia cintai. Tapi bukti cinta itu tak pernah ada. Aku sudah sangat bodoh sekali karena sangat percaya padanya selama ini.
Bertahun-tahun berlalu tanpa ada perubahan yang berarti. Pada akhirnya sejak awal semua ini hanya fatamorgana.
Hanya saja aku selalu percaya bahwa satu saat nanti akan ada mukjizat. Aku tak pernah mau menyadari bahwa semua itu mustahil akan terjadi.
Bahkan pada saat dia mengenalkanku pada keluarganya, aku terus saja berharap satu saat nanti aku akan menjadi istri resminya.
Tapi memang aku sudah sangat bodoh sekali dibutakan harapan palsunya.
Janjinya akan mempertemukan aku dengan tiga puterinya pun membuat aku tetap bertahan dengan bodohnya.
Satu hal yang membuatku bertahan, bahwa kecemburuannya yang membuatku percaya bahwa dia benar-benar mencintaiku.
Saat itu saja harus dengan gertakan ancaman baru dia mau mengeluarkan uangnya untuk menyelesaikan kuliahku yang tinggal selangkah lagi.
"Aku harus selesaikan kuliahku. Apa janji mas waktu itu?"
"Iya nanti"
"Kalau tidak, biar sudah kita hidup sendiri-sendiri. Kalau perlu aku jadi TKI saja." kataku ringan.
"Iya sudah terserah" jawabnya santai, dan itu membuatku benar-benar tak tahan.
"Aku serius ini. Mulai sekarang pulang saja sana ke keluargamu. Jangan lagi pedulukan aku." ancamku.
Dia diam menatapku tak percaya.
"Jangan dikira setelah kita hidup sendiri-sendiri tak akan ada yang akan menolongku. Sedangkan untuk buat KTP saja mas tidak bisa membantuku. Tolong diingat siapa yang sudah berjasa menolongku."
"Baiklah. Besok kita urus ke kampus." Akhirnya keluar juga kata-kata itu.
Untuk sementara aku merasa lega. Pada akhirnya aku akan menyelesaikan sarjanaku meski aku harus mengancamnya terlebih dahulu.
Satu demi satu setelah anakku disekolahkannya, aku selesai dengan sarjanaku, janjinya kutagih pelan-pelan meski agak terpaksa.
Memang aku sudah mulai bosan dengan keadaan ini. Statusku yang hanya sebagai istri muda, tak mungkin aku serta merta menuntut apa yang dia janjikan meski itu. bukan hakku sepenuhnya, karena memang dari awal tak pernah kulihat ada harapan yang jelas.
Belum lagi nafkah yang dia berikan tiap bulan benar-benar tidak seperti yang aku harapkan.
Bukan aku tak bersyukur dengan keadaan ini. Hanya saja kenyataan hidup benar-benar tidak sesuai dengan apa yang dia janjikan. Sehingga mau tidak mau aku harus mencari sumber nafkah yang lain selain gaji kecilku sebagai guru honor di sekolah itu.
"Mbak..mau gak terima Les privat?" akhirnya temanku menawariku kerja sampingan.
Tentu saja aku tak akan menolaknya. Aku tak bisa terus-terusan berharap menerima lebih dari suami yang tak bisa diharapkan.
Selama kurang lebih dua tahun aku menjalani sebagai guru privat di luar jam mengajarku di sekolah.
Saat itu aku baru saja punya motor bekas yang bisa kuhandalkan untuk mencari uang tambahan.
Dengan tertatih-tatih, kujalani semua itu dengan sabar, meski sebaliknya aku sudah mulai jenuh dengan kebersamaanku dengannya.
Jujur saja, aku merasa letih lahir batin. Tapi dia masih saja mau dilayani. Padahal aku sudah capek di luar sana. Dia menuntutku untuk melakukan kewajibanku sebagai istri.
Aku sudah benar-benar habis sabar.
"Aku capek..jangan sentuh aku." kataku ketika tangannya mulai menyentuh pinggangku.
"Ayolah dik .." ujarnya memelas.
"Aku akan pergi kalau mas masih memaksaku" ujarku gusar sambil meraih selimutku beranjak keluar kamar.
Bergegas aku berlari keluar kamar, sementara suamiku berusaha menarik tanganku yang segera kutepis dengan kasar.
Aku berlari menuju kamar depan dan segera masuk dan menguncinya dari dalam. Aku merebahkan badanku dan menutup telingaku dengan bantal dan berusaha tidur tanpa mempedulikan teriakan suamiku....
Begitulah hampir setiap malam aku menghindari ajakannya tanpa peduli dosa atau tidak.
Jiwa dan ragaku yang terlebih dahulu letih karena menggapai asa yang tak kunjung tiba.