Kemarin malam, Dirga merasa harga dirinya terluka dengan perkataan Acha. Pernikahan yang dijalani memang bukan pernikahan impian. Akan tetapi, bukankah tidak sepatutnya bertanya mengenai akhir dari hubungan itu?
Dirga kembali ke rumah dengan perasaan kecewa. Begitu masuk ke ruang kerja, Dirga menenggelamkan diri dalam berbagai macam pekerjaan. Ia kemudian terus menghindar dari istrinya untuk menekan hal-hal yang tidak ingin terjadi.
Namun, malam ini, Dirga kembali dalam keadaan setengah sadar. Yang langsung ia tuju ketika kembali adalah kamar Acha. Tempat di mana istrinya itu berada.
“Om Dirga! Apa-apaan ini?” tanya Acha dengan terkejut.
“Maaf, Acha. Apa Diora ada di dalam? Saya menelponnya beberapa kali,” ujar Dirga dengan suara khas orang mabuk.
Acha kemudian melirik Diora yang ada di belakangnya. Jangan sampai anak kecil itu melihat apa yang terjadi. Diora tidak boleh melihat papanya dalam kondisi seperti ini.
Langsung saja Acha menutup kembali pintu kamarnya dan meminta pada Diora untuk tetap berada di dalam kamar. Ia bahkan mewanti-wanti anak kecil itu untuk tidak keluar sampai Acha memanggilnya.
Diora hanya bisa menurut pada ucapan Acha. Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Diora akan tetap di sini. Minta Bi Sari bawa makan malamnya ke kamar saja,” kata Diora.
“Hubungi saja Bi Sari. Ponsel tante ada di atas meja,” ujar Acha yang kemudian langsung pergi keluar.
Dirga bersandar di dinding dengan mata terpejam. Acha begidik ngeri. Ia tak pernah melihat orang mabuk sebelum ini, kecuali papanya.
“Apa yang harus gue lakuin?” pikir Acha.
“Bawa ke kamar bawah aja, deh. Daripada di sini, nanti dilihat sama Diora. Bisa-bisa anak dugong itu banyak tanya lagi,” putus Acha.
Ia kemudian memapah Dirga menuju kamar sebelah. Acha mengeluh dengan berat badan Dirga yang bertumpu padanya. “Ini orang berat banget. Kebanyakan dosa apa gimana, sih?” ujar Acha dengan kesal.
Ia pun meletakkan Dirga di atas ranjang. Dengan telaten, Acha melepaskan sepatu dan kaus kaki yang masih melekat pada suaminya itu. “Dia pulang kerja? Masih pakai pakaian kantor gini,” tanya Acha pada diri sendiri.
“Om dari mana sih?” tanya Acha.
“Apa, Baby?” racau Dirga.
Acha begidik mendengar panggilan itu. “g****k banget, sih. Udah tau orang mabuk, masih aja ditanyai,” ujar Acha.
“Kamu kangen sama saya?” ucap Dirga lagi. Matanya sedikit terbuka, menatap Acha dengan sayu.
“Siapa? Acha? Nggak tuh,” jawab Acha.
“Hm. Mana mungkin kamu kangen sama saya. Kamu kan punya pacar,” kekeh Dirga kemudian.
Acha mengernyitkan keningnya. “Om ngomong apa sih?”
“Iya. Saya juga kangen sama kamu.”
Detik itu juga, Dirga menarik tangan Acha hingga menubruk d**a bidang laki-laki itu. “Kamu kelihatan cantik dari bawah sini, Baby.”
Dirga melingkarkan tangannya, memeluk Acha. Posisi Acha yang setengah berbaring di atas tubuh Dirga pun membuatnya merasa canggung.
“Saya sakit hati sama ucapan kamu kemarin. Seolah-olah, perkataan kamu menunjukkan bahwa saya laki-laki yang tidak pantas. Apa kamu ingin bercerai?” kata Dirga. Matanya sedikit terbuka dan saling bertatap dengan Acha.
“Saya merasa bahwa kamu jijik sama saya. Sampai-sampai, kamu menanyakan itu. ‘apa pernikahan ini akan berlanjut selamanya?’ Saya tidak memiliki jawabannya!”
Acha terdiam mendengar semua yang dikatakan oleh Dirga. Mendadak, rasa bersalah muncul dan menghujam hati. Perkataannya kemarin meninggalkan luka dalam hati Dirga.
“Kamu sudah merobek satu dinding dari pernikahan kita dengan sebuah keraguan. Saya kecewa. Sangat-sangat kecewa,” sambung Dirga.
Mata Acha berkaca-kaca. Ia tak menyangka jika pertanyaannya kemarin m*****i pernikahan suci ini. Ya, seharunya Acha tak menanyakan itu. Ia belum mencobanya. Ia belum mencoba pernikahan ini dengan hati yang bahagia.
“Jika kamu ingin bercerai, maka kita bisa bercerai. Saya melepaskan kamu sebagai ---“
Ucapan Dirga terhenti saat tangan Acha membekap mulutnya. Gadis itu menggeleng pelan. Hatinya merasa tak rela dengan apa yang akan dikatakan oleh Dirga.
Tidak! Mereka tidak boleh bercerai. Bahkan, pernikahan mereka baru berjalan tiga hari. “Acha mohon, jangan lanjutkan ini. Kita bisa bicarakan besok,” ujar Acha dengan mata berkaca-kaca.
“Acha minta maaf kalau perkataan Acha kemarin sudah menyakiti Om Dirga. Acha hanya ... Acha hanya belum siap, bukan tidak. Acha minta maaf. Kita ... kita bisa mencoba pernikahan ini, seperti yang Om katakan. Acha mohon, jangan bercerai!”
Tangis Acha berderai. Hatinya berdenyut membayangkan pernikahan pertamanya akan gagal karena kebodohannya sendiri. Dirga laki-laki yang baik dan tentunya Acha tau itu. Dirga bukan pemain wanita, Dirga bukan penjahat dan Dirga adalah laki-laki lembut dengan adab yang luar biasa.
“Acha menyesal, Om!”
**
Keesokan pagi, Acha terbangun saat merasakan sebuah tangan membekapnya dengan erat. Terpaan napas hangat di ceruk lehernya pun menciptakan gelenyar aneh.
Ia melenguh dan mencoba melepaskan dekapan itu. Akan tetapi, Dirga justru mengeratkan pelukannya. “Biarkan seperti ini dulu, Acha,” ujar Dirga dengan suara serak.
Acha diam mematung. Jantungnya berdegup dengan kencang. Ternyata, Dirga juga menyadari pelukannya. Ini berarti pelukan disengaja.
“Maaf karena semalam saya pulang dalam keadaan mabuk.” Suara Dirga kembali terdengar.
“I-iya, Om.”
“Apa saya menyakiti kamu?” tanya Dirga lagi, membuat Acha menggelengkan kepalanya.
“Baguslah. Saya pikir, saya memaksa kamu untuk tidur di sini. Itu berarti kamu masih perawan,” kata Dirga.
Wajah Acha memanas. Pipinya memerah. Ia tersipu malu dengan ucapan laki-laki itu. Sepagi ini, kenapa pembahasan mereka sudah berat?
“Mengenai perkataan kamu semalam. Apa itu sungguh-sungguh?” tanya Dirga.
Mata Acha melotot. Ia teringat akan semalam ketika dirinya menangis saat Dirga akan mengikrarkan perceraian. Tangis yang membuatnya memeluk Dirga sepanjang malam hingga terlelap dengan saling berpelukan.
“Saya senang, akhirnya kamu bisa menerima pernikahan ini. Memang tidak mudah, tapi kita bisa mencoba. Perjodohan yang terjadi diantara kita tidak mungkin terjadi jika bukan karena takdir,” kata Dirga lagi.
“Jadi, bisakah kita memulai semuanya dengan saling menerima?” bisik Dirga lembut di telinga Acha.
Perlahan, Acha memberanikan diri untuk berbalik dan menatap laki-laki tampan itu. Mata mereka saling bertemu, membuat Acha merasakan jantungnya berdetak semakin kencang.
“Istriku,” ucap Dirga dengan lembut.
Acha menenggelamkan wajahnya di d**a bidang Dirga. Sungguh, ia tak mampu jika harus bertatap mata dengan manik hitam itu. Jantungnya tidak akan kuat.
“Mulai sekarang, mari saling menerima sebagai pasangan. Kita bisa memulai semuanya dari awal dengan saling beradaptasi,” kata Acha yang langsung membuat Dirga tersenyum dengan lebar.
“Tapi, apakah bisa jika di kampus, kita bersikap seperti biasa?” tanya Acha.
Dirha mengangkat dagu Acha sehingga mereka kembali bertatap mata. Keduanya saling berpandangan dalam sepersekian detik.
“Saya bisa melakukan itu, selama kamu memutuskan hubungan dengan Miko.”