Acha berjalan cepat menuju ruang dosen. Sepanjang mata kuliah, ia tak bisa fokus dengan apa yang diterangkan. Pemikirannya terus tertuju pada kabar yang tadi disampaikan oleh Naura.
"Ini nggak boleh dibiarin. Orang-orang nggak boleh tau kalau Om Dirga udah nikah. Apalagi, nikahnya sama gue."
Ngedumel sepanjang jalan, Acha akhirnya sampai di ruangan Dirga. Akan tetapi, ternyata laki-laki itu tidak ada di ruangannya. Terlihat dari kaca, bangku tempat Dirga duduk itu kosong.
"Dia nggak ada di tempatnya. Terus, dia ke mana?" batin Acha.
Berpikir keras, Acha kemudian mengambil ponselnya yang berada di dalam tas.
"Telpon dia, Acha. Kita harus meluruskan masalah ini," ujar Acha kemudian.
Namun, berulang kali gadis itu mencoba menghubungi suaminya, tidak ada jawaban. Acha berdecak dengan kesal.
"Sialan! Kemana Pak Duda ini?"
Acha memutuskan untuk duduk di kursi panjang, depan ruang dosen itu. Dirinya berniat untuk menunggu sampai Dirga kembali ke ruangannya.
Akan tetapi, waktu terus berlalu dan sudah 30 menit lamanya dia menunggu, tidak ada tanda-tanda bahwa Dirga kembali ke ruangannya. Acha menjadi kesal dan kembali mengambil ponselnya lalu menghubungi Dirga.
"Loh, kok ditolak?" kaget Acha ketika panggilan teleponnya ditolak.
***
Sore hari, Acha mondar-mandir di depan rumah. Dirga sejak tadi belum juga kembali. Biasanya, Dirga akan pulang untuk menjemput Diora. Tapi, Diora justru pulang dijemput sopir neneknya.
"Non Acha ngapain dari tadi jalan mondar-mandir begitu?" tanya Bi Sari yang heran dengan tingkah majikannya.
"Om Dirga belum pulang 'kan?" tanya Acha balik.
"Lah, mana Bibi tau, Non. Non istrinya, kok malah tanya saya," jawab Bi Sari. "Kangen, ya? Pengantin baru, ditinggal belum sehari aja udah kelojotan," sambungnya dengan nada menggoda.
"Ih, rese banget, sih"
***
Lama menunggu dan tidak ada kabar dari Dirga, Acha memutuskan untuk menemui Diora di rumah. Ia langsung masuk ke dalam rumah itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Mama?" kaget Diora saat melihat Acha masuk.
Acha yang melihat Diora sedang bermain dengan temannya pun mendadak senyap. Ia ingat dengan jelas wajah dua anak yang bermain dengan Diora itu.
"Mereka temen kamu yang kapan hari ngejekin itu 'kan?" tanya Acha.
Dua teman Diora tersenyum kaku. Mereka menatap Acha dengan sedikit takut. Sementara Diora yang melihat wajah tak bersahabat Acha pun segera mengalihkan perhatian.
"Mama ngapain ke sini? Tumben banget," kata Diora.
"Papa kamu mana?"
"Papa masih kerja. Belum pulang tuh," jawab Diora.
"Tumben banget. Biasanya setelah jemput kamu, papa pulang 'kan?"
"Oh, ini. Papa ada kerjaan di kantor katanya. Nanti pulang agak malem. Emang nggak ngasih tahu Mama?" tanya Diora. Acha menggelengkan kepalanya pelan.
"Mama sih, semalam nggak tidur sama Papa. Jadinya, Papa ngambek."
***
Acha yang sedang mengerjakan tugas dari dosen pun teralihkan karena pintu kamar yang tiba-tiba terbuka. Diora masuk dengan membawa tas sekolah.
"Kenapa?" tanya Diora saat Acha menatapnya.
"Kamu yang kenapa? Bawa tas segala macem."
"Diora nggak bisa kerjain PR sendiri. Bantuin, ya?" ujar Diora dengan cengengesan.
"Ogah. Tante juga punya banyak tugas."
"Kok Tante lagi, sih? Harusnya kan mama," ucap Diora yang melayangkan protes.
"Kenapa sih pake sebutan mama? Tante aja udah bikin kuping geli," ucap Acha.
"Ya karena Tante udah nikah sama Papa. Jadi, Diora manggil mama aja," sahut Diora.
"Siapa bilang kalau Tante nikah sama papa kamu? Nggak ada kayak gitu," kilah Acha.
"Kata Bi Sari. Tante sama Papa emang udah nikah. Iya 'kan?"
Acha terdiam. Ia merutuk pada Bi Sari. Bisa-bisanya Diora diberitahu tentang pernikahan itu. Padahal, Acha sendiri tidak ingin pernikahannya diketahui oleh orang lain.
"Terserah!" jawab Acha.
Kedua perempuan itu kemudian belajar bersama. Acha terkadang menjawab pertanyaan Diora yang bingung dengan tugasnya.
Hingga pekerjaan mereka selesai, keduanya sama-sama merebahkan diri di atas ranjang.
"Papa tadi telpon. Dia di rumah Nenek," ucap Diora.
"Papa hubungi kamu?"
"Iya. Dia nggak telpon Mama?" tanya Diora yang membuat Acha menggelengkan kepalanya.
"Mungkin Papa lupa kalau udah punya istri," kekeh gadis kecil itu.
Acha hanya mencebikkan bibirnya, lalu berbalik miring, menatap pada Diora.
"Diora. Papa kamu orangnya kayak gimana?" tanya Acha.
Kening Diora mengerut. Ia menatap balik Acha dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Bukannya kalian berdua pacaran, ya? Kenapa malah nanya ke Diora?"
Acha terkejut dengan perkataan Diora. Ia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Nggak ada, ya. Tante sama Papa kamu itu nggak pacaran."
"Masa sih?"
"Iyalah. Siapa juga yang mau pacaran sama Papa kamu. Dia itu kaku banget kalau di kampus. Mukanya datar banget, meskipun nggak jelek-jelek amat," ucap Acha.
"Masa sih, Ma? Diora pikir, kalian berdua pacaran, makanya Papa punya banyak banget foto Mama di hpnya."
Acha seketika berteriak, "What?" dengan histeris setelah mendengar perkataan Diora.
"Yang bener aja kamu, Diora?" sambungnya.
"Beneran. Pernah sekali, pas Papa lagi mandi, Diora iseng-iseng buka-buka handphone Papa. Diora nemuin banyak banget fotonya Mama."
Acha tentu saja tak percaya dengan perkataan dari Diora. Pasalnya, sikap anak ini sedikit out of the box. Tingkahnya juga terkadang di luar nalar.
Acha mencoba berpikir positif. Barangkali memang Diora berbohong kepadanya. "Buat apa juga Om Dirga nyimpen foto gue di galerinya," batin Acha.
"Diora dari dulu pengen banget ngerasain punya Mama. Sekolah diantar sama kedua orang tua, pas acara pentas juga kedua orang tua Diora datang. Nggak cuma Papa aja kayak selama ini."
Acha terdiam mendengar keluh gadis kecil itu. Ia memperhatikan bagaimana Diora menatap langit-langit kamar.
"Diora pernah punya mimpi bisa gambar keluarga lengkap di buku gambar. Tapi, temen-temen selalu bilang kalau Diora nggak punya mama."
"Kan ada mama kamu," kata Acha.
"Nggak mau," ujar Diora. "Dia jahat. Dia sering nyakitin perasaan aku," ujar Diora.
"Halah, pret! Kamu aja kalau dijemput mama kamu betah banget. Bisa sampai seminggu 'kan di sana?" cibir Acha.
Diora menjawab dengan memamerkan deretan giginya. Ia tersenyum lebar.
"Mama kamu kaya, cantik, model lagi. Kamu pasti bangga banget sama dia. Iya 'kan?"
"Nggak. Biasa aja. Buat apa juga punya mama terkenal kalau sama anak sendiri nggak ngasih perhatian. Dia ngajakin Diora juga karena habisin tabungan aku," jawab Diora.
"Maksudnya?"
"Belanja pakai kartu yang dikasih Papa buat Diora."
Acha terdiam, mencerna ucapan Diora. Itu terdengar seperti sungguh-sungguh, tapi juga sekedar perkataan anak-anak.
"Dia itu cuma suka uang. Nggak suka sama anaknya," sambung Diora lagi.
"Iya deh, terserah. Tante lapar, mau makan," ucap Acha yang kemudian bangun.
Keduanya berjalan menuju pintu dan hendak keluar dari kamar. Namun, Acha tertegun saat membuka pintu. Ia mendapati seseorang yang berdiri di depannya dengan mata memerah dan bau alkohol yang menyeruak.
"Om Dirga?"