Dirga yang mendengar pertanyaan dari Acha pun berhenti melangkah dan berbalik menatap pada gadis itu.
"Hak?" tanya Dirga.
Acha mengangguk dengan ragu dan menjawab, "Acha belum siap kalau harus memenuhi kewajiban itu. Acha ... Acha masih pengen menata diri. Om Dirga tau 'kan, kalau pernikahan kita nggak berdasarkan suka sama suka. Jadi ---"
"Saya mengerti. Kamu masih sangat muda dan memerlukan waktu untuk menerima pernikahan kita. Saya tidak akan memaksa," jawab Dirga dengan tersenyum.
Acha bernapas lega mendengarnya.
"Om juga nggak terima saran Acha dengan nikah kontrak. Jadi, apakah pernikahan kita akan berlanjut untuk selamanya?" tanya Acha lagi.
"Saya sudah tekankan sejak awal kalau pernikahan itu bukan perkara main-main. Kita jalani saja dulu. Kalau kamu keberatan, kita bisa tinggal di rumah yang terpisah," ucap Dirga yang kemudian pergi tanpa menunggu jawaban dari Acha lagi.
Acha tertegun mendengar jawaban dari Dirga. Seperti ada kalimat keberatan dari nada suaranya. Apalagi, raut wajah Dirga langsung berubah saat menjawabi.
"Apa dia marah?" monolog Acha.
***
Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Akan tetapi, belum ada tanda-tanda Dirga kembali. Acha yang terus merasa tak enak pada Dirga, setelah kejadian tadi, benar-benar tidak bisa tidur dengan tenang.
"Om Dirga beneran nggak balik," ucap Acha. Ia kemudian membekap mulutnya sendiri setelah menyadari apa yang dia katakan barusan. "Ngapain juga aku nungguin dia? Bukannya bagus kalau dia nggak balik lagi?" lanjut Acha.
Meskipun bibirnya berkata demikian, ada sebuah rasa tak nyaman ketika laki-laki yang kini berstatus menjadi suaminya itu masih belum menampakkan batang hidungnya.
Acha memilih untuk keluar dari kamar dan berjalan menuruni anak tangga. Ia melirik ke sekitar ruang tamu. Tidak ada siapapun di sana. Sepi, kosong, seperti biasanya.
Ia pun berjalan menuju dapur. Tiba-tiba perutnya keroncongan. Ia membuka kulkas dan mengambil makanan sisa tadi malam malam. Acha dengan segera memanaskannya.
Acha kembali teringat pada wajah kecewa Dirga tadi. Apakah Dirga semarah itu dengan pertanyaan yang dia ajukan?
"Non Acha?"
Acha terlonjak kaget saat tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya. Ia menoleh dan mendapati keberadaan Bi Sari.
"Bibi ngagetin aja tau nggak," kesal Acha.
"Abisnya Non Acha bengong mulu dari tadi. Ada masalah?" tanya Bi Sari.
Acha menggeleng. "Nggak ada, Bi. Bibi kenapa bangun jam segini?" tanya Acha.
"Bibi ke kamar mandi tadi. Terus liat orang di dapur. Jadi, Bibi ke sini. Pak Dirga mana?" tanya Bi Sari lagi.
"Om Dirga pulang dari tadi. Dia belum kembali," jawab Acha.
"Apa kalian bertengkar?" tanya Bi Sari.
Acha menggelengkan kepalanya pelan. Ia berkata, "Kami nggak bertengkar. Katanya Om Dirga pulang mau ambil kerjaan."
"Non. Non Acha pasti belum siap 'kan, tiba-tiba jadi istri? Apalagi, sama Pak Dirga yang jelas-jelas pernah gagal dalam rumah tangga. Namun, menurut Bibi, ada baiknya Non Acha menerima Pak Dirga. Dia laki-laki yang baik," nasihat Bi Sari.
Acha mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia menatap pada asisten rumah tangganya itu dan menjawab, "Acha masih belum tahu harus bersikap seperti apa. Acha belum bisa menerima pernikahan ini."
"Nggak papa, Non. Bibi mengerti. Pelan-pelan saja sambil saling mengenal. Saya yakin, Pak Dirga adalah pilihan terbaik buat Non Acha."
***
Pagi hari, Acha sudah bersiap menuju kampus. Ia sarapan seorang diri lantara Bi Sari yang mengantar Diora ke sekolah, sekalian ke pasar. Sejak semalam, Dirga benar-benar tidak kembali ke rumahnya.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Acha keluar dari rumah. Ia melihat Dirga sedang memasukkan beberapa barang ke dalam mobilnya.
"Tumben dia nggak nyapa?" batin Acha. Tidak biasanya Dirga diam saja saat melihatnya. Di hari sebelum ini, Dirga selalu ramah dan menyapanya setiap kali bertemu.
"Dia sibuk kali, sampai nggak liat ada orang cantik di sini," kekeh Acha.
Acha terus memperhatikan Dirga yang langsung masuk ke dalam mobil dan menjalankannya, meskipun beberapa saat lalu, mereka saling bertatap.
"Dia beneran marah?" tanya Acha pada dirinya sendiri. Gadis itu hanya bisa menggaruk tengkuknya dan berjalan menuju mobil.
***
Setibanya di kampus, Acha bergegas menuju kelas. Ia berpapasan dengan temannya dan berjalan bersama.
"Gue kemarin nggak masuk gara-gara nyokap yang tiba-tiba ngajakin piknik," ucap Naura, sahabat Acha sejak SMA.
"Tumben keluarga lo piknik gitu? Biasanya juga diem aja di rumah," tanya Acha yang sedikit heran.
"Nyokap gue kemarin ulang tahun. Jadi, kita semua diajakin jalan-jalan. Kapan lagi bisa staycation bareng keluarga."
Acha kemudian memperhatikan sesuatu di leher temannya. Sepertinya memar, tapi bentuknya kecil. Ia yang heran pun langsung bertanya, "Leher lo kenapa, Nau?"
"Leher gue kenapa? Nggak kenapa-kenapa," jawab Naura.
"Ih, liat dulu deh. Itu tuh merah gitu," kata Acha yang kemudian mengeluarkan cermin kecil dari dalam tasnya.
Mata Naura terbelalak. Ia terkejut dengan apa yang ditemukan Acha. Dengan panik gadis itu mengusapnya.
"Lo habis digigit vampir apa gimana sih?" tanya Acha.
"Nggak kok. Ini cuma kena nyamuk aja," jawab Naura dengan mengalihkan tatapannya ke arah lain. Hal ini tentu saja mengundang pertanyaan dari Acha. Namun, ia tak mau menanyakan lebih lanjut.
Di ujung lorong, Acha melihat Miko menunggunya seperti biasa. Ia mengajak Naura untuk mendekat.
"Hai, Miko," sapa Acha.
"Hai, Ca. Sorry kemarin gue pulang duluan. Anak-anak nggak bisa nunggu," kekeh Miko dengan mata melirik pada Naura.
"Kenapa lo liatin Naura kayak gitu? Aneh ya, dia?" ucap Acha.
Miko tertawa kaku. "Iya, dia aneh," jawab Miko.
"Iya nih. Liat deh! Lehernya dia merah-merah gitu, mana lebih dari satu. Masa iya digigit nyamuk bisa memar? Itu tuh kayak dihisap kuat gitu loh," ucap Acha.
Miko dan Naura saling lirik. Mereka mendadak salah tingkah.
"Eh, gue langsung ke kelas ya? Ada janji sama temen tadi," ucap Miko yang langsung pergi begitu saja.
Acha dan Naura kembali berjalan. Akan tetapi sebelum sampai di kelas, Acha melihat Dirga baru saja memasuki ruangannya.
"Dia acuh banget," keluh Acha dalam hati.
"Eh, Ca. Lo denger kabar nggak?" tanya Naura.
Acha menggeleng. "Kabar apa?"
"Lo tuh kebiasaan banget nggak buka grub w******p. Ada kabar hangat yang bikin banyak mahasiswi kampus kita patah hati," ujar Naura.
"Nggak sempet liat, soalnya tadi buru-buru. Kabar apa emangnya?" tanya Acha.
"Kabar kalau sebentar lagi Pak Dirga mau nikah. Katanya mereka udah tunangan," ucap Naura.
Acha tiba-tiba tersedak udara. Ia tentu saja terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Naura itu.
"Lo tahu berita tadi dari mana?" tanya Acha.
"Kemarin ada yang liat Pak Dirga di rumah sakit sama perempuan itu. Mereka gandengan tangan."