Acha memukul kepalanya sendiri. Bagaimana bisa diam melupakan fakta penting bahwa saat ini Dirga adalah suaminya.
"Kita suami istri, Acha. Kita sudah muhrim," terang Dirga.
"Acha kaget dan belum terbiasa dengan pernikahan kita. Jadi, Acha minta maaf," ujar Acha. "Lagian, ngapain Om tidur di situ," sambungnya.
"Tidur sama istri sendiri, masa nggak boleh?"
"Emang kalau suami istri harus tidur sekamar? Om kan bisa tidur di rumah sendiri," balas Acha tak mau kalah.
Dirga menghembuskan napas dengan pelan. Menghadapi remaja seperti Acha memang memerlukan kesabaran seluas samudra.
"Nggak! Kita harus sekamar!"
Diora yang melihat perdebatan antara dua orang dewasa itu memilih untuk turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar.
Sementara itu, Acha membelalakkan matanya, mendengar ucapan dari Dirga.
"Nggak bisa gitu dong. Acha nggak mau tidur satu kamar! Acha mau tidur di kamar yang terpisah aja atau mungkin, kita tidur di rumah masing-masing."
"Kenapa seperti itu?" tanya Dirga.
"Ya karena kita nggak nikah secara sah. Gimana kalau nanti kita digerebek sama warga?"
"Tinggal tunjukin aja video pernikahan kita di rumah sakit. Mas ada simpan video yang direkam papa kamu," jawab Dirga.
Acha seketika terdiam, tak bisa menjawab ucapan dari suaminya.
"Meskipun rumah kita dekat. Itu nggak jadi alasan buat kita tidur terpisah. Pokoknya Mas nggak mau," ucap Dirga yang kemudian langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Pintu kemudian kembali terbuka dan si kecil Diora tampak menyembulkan kepalanya.
"Mama, Papa. Kata Bi Sari, makanan sudah siap. Kalian kalau masih mau pacaran, Diora mau makan dulu. Apa boleh?" tanya Diora.
"Tunggu, Sayang. Papa sama Mama mau bersih-bersih dulu. Kamu juga, mandi aja duluan," sahut Dirga.
"Eh! Om mau mandi di mana?" tanya Acha saat lihat Dirga turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
"Di kamar mandi lah. Masa iya di dapur. Apa mungkin kamu mau lihat Mas mandi di sini?" goda Dirga.
Acha seketika melemparkan bantal pada suaminya itu. "Om kok m*sum," keluh Acha.
"M*sum sama istri sendiri, masa nggak boleh?" goda Dirga lagi.
"Apa itu m*sum?"
Suara kecil dari Diora membuat sepasang suami istri itu kompak menoleh. Mereka langsung salah tingkah setelah menyadari bahwa sejak tadi Diora masih ada di sana.
"Nggak ada. Sudah, sana pergi! Mandi dulu di kamar tamu," ucap Acha.
Wajahnya memerah karena malu. Ia lalu berjalan menuju pintu dan mendorong Diora untuk keluar. Acha kemudian menutup pintu dan menguncinya dengan cepat.
"Huh ... nggak enak banget ada orang lain di rumah. Berbagi kamar, berbagi makan dan berbagi kamar mandi. Kenapa juga mereka ... tunggu. Apa tadi? Berbagi kamar mandi?"
Acha membelalakkan matanya dan langsung berlari menuju kamar mandi. Ia tak bisa membiarkan Dirga melihat barang-barang pribadi miliknya yang biasa tergantung di belakang pintu.
Namun, belum juga Acha masuk dengan sempurna. Ia sudah dikejutkan dengan tingkah Dirga yang menenteng benda berharga miliknya.
"Size dalam*n kamu lumayan juga," kekeh Dirga dengan tatapan menyebalkan.
"Om Dirga! Apa-apaan sih?!" pekik Acha.
Ia berusaha menyambar kacamata kain miliknya itu. Akan tetapi, Dirga justru meninggikannya.
"Om. Balikin nggak?!"
"Nggak ah." Dirga menjawab sembari menghindar tangan Acha yang berusaha meraih benda yang ada di tangannya itu.
"Om. Jangan lancang ambil barang punya Acha. Lagian, kenapa di ambil sih?" kesal gadis itu.
"Saya nemu di lantai. Kamu aja yang ceroboh!"
Acha terus berusaha meraih itu dengan memegang lengan Dirga. Akan tetapi, lantai yang sedikit basah, membuatnya tergelincir dan tak sengaja menarik kemeja Dirga hingga semua kancingnya terlepas. Tak tanggung-tanggung. Baju itu bahkan juga sedikit sobek.
Dirga mundur ke belakang dan terduduk di atas kloset lantaran Acha yang tak seimbang. Sementara itu, Acha yang berpegangan pada suaminya pun ikut terjatuh dengan lutut menyentuh lantai.
"Aduh, dengkul gue," rintih Acha.
"Acha," panggil Dirga.
"Diem dulu. Dengkul Acha sakit, Om."
"Singkirkan tangan kamu, Acha!" ucap Dirga dengan suara tertahan.
"Lepasin dulu ini," ucap Acha dengan satu tangan menyentuh dengkul dan satu tangan memegang sesuatu yang dia kira lengan Dirga.
Matanya terfokus pada sedikit darah di lututnya. "Liat, Om! Ini sakit banget. Dia tergores sampe berdarah gini," ucap Acha tanpa melihat Dirga.
"Kamu tahu? Kalau tangan kamu masih ada di situ, ini yang berdarah bukan cuma lutut aja," ujar Dirga lagi.
"Memangnya apa yang ---"
Acha menghentikan ucapannya saat ia menatap Dirga yang memejamkan matanya. Tangan laki-laki itu diletakkan di atas kepala.
Fokusnya kemudian teralih pada sesuatu yang ia remas berulangkali dan ... "Argh!"
Acha seketika berteriak dengan kencang setelah menyadari bahwa yang dia genggam adalah sesuatu yang menurutnya cukup berbahaya.
"Kacamata kain kamu di situ, Acha. Yang kamu remas ini masa depan saya," geram Dirga.
Acha melirik pada kacamata kain yang terjatuh di lantai. Matanya kemudian bergerak dengan panik dan saat itu juga, Acha melarikan diri dari kamar mandi, meninggal Dirga yang berteriak dengan frustasi.
"Mas laki-laki normal, Acha!"
***
Setelah kejadian awkward di dalam kamar mandi tadi. Tidak ada pembicaraan sama sekali antara Acha dan Dirga. Keduanya sama-sama terdiam dengan mata yang beberapa kali saling lirik.
Acha cukup malu dengan kejadian tadi. Bisa-bisanya dia salah sentuh, apalagi meremasnya. Ini benar-benar memalukan.
"Non Diora," panggil Bi Sari pada Diora yang sedang makan.
"Apa, Bi?"
"Nanti Non Diora tidur di kamar tamu mau nggak? Ditemenin sama Bibi," bujuk Bi Sari.
"Nggak mau ah. Diora mau tidur sama Mama sama Papa," jawab Diora.
Bi Sari tampak berpikir hingga kemudian membisikkan sesuatu pada anak kecil itu. "Gimana? Mau nggak?" tanya Bi Sari.
"Bibi janji?"
"Janji. Pokoknya, Non Diora tidur sama Bibi di kamar tamu. Oke?"
"Oke, Bi."
Bi Sari menatap dua majikannya dengan kerlingan nakal. Ia kemudian menggiring Diora menuju kamar dengan sepiring makanan di tangannya.
"Non sama Pak Dirga nggak perlu khawatir. Malam ini, Non Diora ada di tangan Bibi. Silakan menikmati malam panjang yang penuh erangan," kekeh Bi Sari yang langsung melarikan diri.
Sementara Acha, ia tak berani menatap Dirga. Kejadian tadi saja seperti merobek wajahnya. Apalagi sekarang dengan tingkah Bi Sari.
Dirga sendiri merasa hawa mendadak panas. Ia berdehem dan mengambil minum, lalu menenggaknya.
Acha berpikir, apakah mungkin Dirga akan meminta haknya sebagai suami, malam ini?
Lama mereka saling terdiam, hingga kemudian Dirga buka suara. "Kamu tidur duluan aja. Saya mau ke rumah dulu, ambil beberapa kerjaan," ucap Dirga dengan wajah datar.
Laki-laki itu kemudian berdiri dan berjalan keluar. Akan tetapi, langkahnya terhenti oleh suara Acha. "Apa Om akan meminta hak itu malam ini?"