Dirga sedang menyuapi ibunya. Terlihat wajah bahagia dari wanita tua itu.
"Alhamdulillah kalau kalian sudah bertemu istrinya Dirga. Ibu nggak perlu memperkenalkannya," ucap Bu Endah.
"Dia cantik dan sepertinya juga baik, seperti yang tadi Ibu katakan," ujar Mona.
"Tentu saja. Pilihan Ibu memang tidak pernah salah. Buktinya, kamu dan Anang masih langgeng sampai sekarang. Bahkan, anak kalian saja sudah siap menikah," kekeh Bu Endah.
Di antara perbincangan orang-orang dewasa itu, pintu ruangan terbuka. Acha masuk ke dalam ruangan dengan sedikit gugup.
"Loh, Acha sendirian? Di mana Miko?" tanya Mona.
"Um ... itu, Tante. Miko pergi duluan karena dapat telepon dari pelatihnya," jawab Acha dengan gugup.
Mona yang melihat adik iparnya tampak tidak nyaman pun perlahan berjalan mendekat dan merangkul tubuh kecil Acha tanpa ragu.
"Jangan gugup kayak gitu. Kita sekarang keluarga, jadi jangan sungkan," ujar Mona dengan tersenyum manis. Wajah tulus tampak tergambar dari ekspresi wanita itu.
"Iya, Tante," jawab Acha.
"Jangan panggil tante dong. Saya ini kakak ipar kamu, masa dipanggil tante," kekeh Mona. "Panggil mbak aja, sama kayak Dirga manggil saya," sambungnya.
Acha kemudian melihat Dirga. Saat suaminya itu mengangguk, barulah Acha menjawab, "Iya, Mbak."
Mona mengajak Acha untuk duduk di sofa. Mereka berdua duduk berdampingan.
"Saya dengar, kamu tetangganya Dirga?" celetuk Mona.
"Iya, Mbak. Rumah kami sebelahan," jawab Acha.
"Berarti kamu udah kenal sama Diora?"
"Kenal dong. Mereka sering main bareng, kata Diora," sahut Bu Endah.
"Oh ya? Diora itu sulit beradaptasi dengan lingkungan baru. Jadi, kayaknya dia sudah cocok sama kamu. Nggak perlu adaptasi lagi," balas Mona.
"Itulah kenapa Ibu ngotot mau menjodohkan mereka berdua. Sudah berapa perempuan yang Ibu coba dekatkan dengan Dirga? Nyatanya, mereka nggak ada yang tahan sama Diora," ujar Bu Endah.
"Iyalah. Diora aja kayak setan," batin Acha. Ia teringat akan gadis kecil itu. Putri Dirga yang setiap hari selalu mengganggu dirinya. Tiada satu hari pun yang dijalani oleh Acha tanpa kejahilan darinya.
"Besok Mbak sama Mas Anang mau kembali lagi ke Kalimantan. Cuti kami cuma dua hari sampai besok siang. Jadi, saya titip Ibu sama kalian berdua, Acha, Dirga," ujar Mona.
"Kok cepet banget, Mbak?" tanya Dirga.
"Iya. Besok kami sudah harus kembali, begitu juga dengan Riyan. Dia akan kembali ke Singapura. Ibu nggak papa 'kan kalau kami kembali? Lagipula, Riyan juga akan mengurus semua keperluan Ibu sebelum berobat ke sana nanti."
"Nggak papa. Kalian punya pekerjaan masing-masing. Lagipula, Ibu akan baik-baik saja setelah ini. Dirga sudah mengabulkan permintaan Ibu," jawab Bu Endah. "Setelah ini, Ibu bisa berobat dengan tenang tanpa memikirkan Dirga dan Diora," sambungnya.
"Nenek akan ke Singapura?" tanya Acha.
"Iya, Nak. Ibu akan ke Singapura. Riyan meminta Ibu untuk ikut bersamanya di sana sambil berobat," jawab Bu Endah.
Acha menganggukkan kepalanya mengerti. "Semoga Nenek cepat sembuh, ya."
"Ibu akan semakin cepat sembuh kalau kalian juga cepat memberikan cucu."
***
Dirga dan Acha sudah berada di dalam mobil. Sejak tadi, Acha memalingkan wajahnya ke arah jendela, sementara Dirga terus tersenyum.
"Saran dari Ibu boleh dicoba, kalau kamu mau, Acha," goda Dirga.
"Nggak!"
"Kenapa? Itu bukan ide yang buruk loh. Kami akan sangat berterimakasih sama kamu kalau memang Ibu bisa sembuh setelah dapat cucu baru," kekeh Dirga.
"Om, udah deh! Acha lagi bete tau," kesal Acha.
"Ya udah, iya. Tapi, kalau misalnya lain kali kamu mau mewujudkan permintaan Ibu, saya sudah siap," kata Dirga.
"Om! Ngeselin banget sih!" teriak Acha dengan kesal.
Dirga terpingkal saat melihat Acha yang menatapnya dengan wajah memerah malu. Gadis itu tampak semakin menggemaskan dengan wajahnya yang seperti udang rebus.
Tangan Dirga terulur mengusap puncak kepala istrinya. Namun, Acha menepis tangan itu dengan kesal, sembari berkata, "Jangan pegang-pegang!"
"Setelah ini, saya antar kamu pulang. Mobilnya saya pake dulu ke kantor, ya?" ucap Dirga.
"Loh, kenapa? Kan ---"
"Mobil saya di kampus, kalau kamu lupa," potong Dirga.
"Lagian, siapa suruh mobilnya ditinggal di kampus. Nyusahin aja," sewot Acha.
Dirga hanya tersenyum, tak berniat membalas ucapan istri kecilnya itu. Ia kemudian menyalakan mobil dan menjalankannya, menuju rumah.
***
Setibanya di rumah, Acha bergegas menuju kamar. Mobilnya benar-benar dibawa oleh Dirga ke kantor. Ia tak bisa melarang. Lagipula, Dirga juga tak akan menggadaikan mobilnya, bukan?
Berjalan menaiki anak tangga, Acha mendengar suara-suara tak asing dari kamarnya. Ia berjalan semakin cepat dan terkejut ketika mendapati kamarnya sudah berantakan.
Ia menoleh ke segala penjuru ruangan. Matanya menangkap sosok kecil yang bersembunyi di bawah meja rias.
"Diora. Sedang apa kamu di kamar Tante, hah?" teriak Acha dengan lantang.
Diora yang bersembunyi di bawah meja pun tertawa cekikikan, melihat Acha yang tampaknya marah.
Acha mengepalkan tangannya dengan kesal. Seluruh kamar benar-benar seperti kapal pecah. Pakaiannya yang berada di keranjang baju kotor juga menjadi sasaran anak duda itu.
Ia berjalan cepat menuju tempat di mana Diora sedang bersembunyi. Ia segera menarik anak nakal itu keluar dari tempat persembunyiannya.
"Diora! Apa-apaan kamu ini, hah? Kenapa kamu buat kamar Tante jadi berantakan? Siapa yang izinkan kamu masuk ke kamarku?" sentak Acha.
Tubuh kecil Diora bergetar ketakutan. Ia tak menyangka jika kelakuannya akan membuat Acha semarah itu.
"Jawab, Diora! Jangan diam saja!" sentak Acha lagi.
Diora tak menjawab. Ia hanya terisak lirih.
Acha tertegun melihat Diora yang seperti takut. Ia kemudian menghela napas dan melepaskan cengkeramannya pada tangan kecil Diora.
Acha berjalan keluar dan memanggil Bu Sari untuk membersihkan kamar. Sementara Acha sendiri, ia berjalan menuju kamar lain untuk membersihkan diri.
***
Setelah selesai membersihkan diri, Acha berjalan menuju kamarnya. Sudah lebih dari setengah jam. Seharusnya kamar sudah kembali rapi.
Ketika melewati meja makan, Acha mendapati kotak makan yang tadi pagi ia berikan untuk Diora. Kotak makan yang katanya pecah itu ternyata masih utuh dan tidak tergores sama sekali.
"Dia bohong," gumam Acha.
Acha kembali berjalan menuju kamar.
Begitu sampai, kamarnya sudah terlihat seperti semula. Bu Sari yang baru saja memasukkan beberapa pakaian kembali ke keranjang pun menunjuk ke arah ranjang.
Acha menoleh ke arah yang di tunjuk dan mendapati Diora terlelap di atas ranjangnya.
"Dia sudah tidur? Cepat sekali," batin Acha.
Ia berjalan mendekati ranjang dan kembali tertegun kala melihat sisa air mata gadis kecil itu di bantal. Isakan lirih yang terdengar membuat Acha yakin jika Diora baru saja menangis.
***
Malam harinya, Dirga memarkirkan mobil Acha di garasi. Ia berjalan masuk ke rumah istrinya itu. Namun, tidak ada tanda-tanda Acha atau Diora di sana.
"Pak Dirga. Nyariin Non Diora?" tanya Bu Sari yang tiba-tiba datang, entah dari mana.
"Iya. Tadi siang Diora bilang kalau dia di sini," jawab Dirga.
"Iya, Pak. Non Diora di sini dari pulang sekolah tadi."
"Acha ke mana, Bi?"
"Non Acha di atas. Mereka di kamar. Pak Dirga langsung aja ke sana. Sekalian kasih tau kalau makan malam sudah siap. Saya tungguin dari tadi, mereka nggak ada turun," ujar Bi Sari.
Dirga menganggukkan kepala dan kemudian berjalan menaiki anak tangga untuk sampai di kamar Acha.
Begitu masuk, Dirga disuguhi pemandangan indah kala Acha dan Diora saling memeluk saat tidur. Pemandangan langka yang ia dapatkan.
"Diora sepertinya bahagia bersama Acha," ucap laki-laki itu.
Dirga kemudian berjalan mendekati ranjang dan melepaskan sepatunya. Ia kemudian ikut merebahkan tubuhnya di atas ranjang, di belakang Acha.
"Begini rasanya tidur satu ranjang sama istri," kekeh Dirga. Ia kemudian memeluk lembut tubuh istrinya dari belakang.
Namun, Acha tiba-tiba tersentak saat merasakan tangan seseorang menimpa dirinya. Ia reflek terbangun dan duduk, sehingga Diora juga terkejut dengan gerakan tiba-tiba darinya.
"Mama kenapa?" tanya Diora.
Acha yang linglung kemudian menyadari jika ada Dirga yang ikut bersama mereka di atas ranjang.
"Om ngapain di sini?" tanya Acha dengan sikap waspada.
"Tidur," jawab Dirga dengan santai.
"Ya ngapain tidur di sini. Kita bukan muhrim!" teriak Acha dengan lantang.
"Acha. Bukan muhrim dari mana? Kita suami istri loh!"
.