EPISODE 07 PERDEBATAN KEKASIH

1061 Words
Acha sangat terkejut dengan keberadaan Miko di dalam ruang perawatan itu. Ia tak menyangka jika kekasihnya sudah berada di sana. Tadi, Miko mengatakan bahwa dirinya akan bertanding basket lebih dahulu. "Miko, kamu di sini?" tanya Dirga. "Iya. Miko datang bersama Mama dan Papa. Kalian kenapa bisa datang bersamaan?" Acha seketika kelimpungan mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Miko. Gadis itu melirik pada Dirga yang kelihatan acuh saja. "Itu ... sebenarnya ---" "Mobil Om mogok di kampus. Jadi, Om minta bantuan Acha untuk antar Om menjemput Diora. Sekalian, kami ke sini," jawab Dirga dengan cepat. "Oh, gitu. Miko kira, kalian ada apa-apa," jawab Miko. "Memangnya kenapa kalau mereka ada apa-apa? Om kamu memang sudah seharusnya mencari istri lagi. Dia sudah menjadi duda selama 7 tahun loh," sahut mama Miko yang duduk di sofa. "Ya emang sih, Ma. Om Dirga sudah seharusnya mencari pasangan hidup. Tapi, bukan sama Acha juga," jawab Miko dengan menatap mamanya tak suka. Mama Miko kemudian berdiri, menghampiri putranya. "Kenapa? Apa kamu suka sama dia? Jangan bilang kalau dia pacar kamu!" Miko gelagapan. Ia menatap Acha yang tampak tersenyum dengan miris. Sudah berpacaran selama 2 tahun lamanya. Akan tetapi, hubungan mereka berdua masih belum diketahui oleh kedua orang tua Miko sendiri. "Nggak gitu, Mbak. Acha ini mahasiswi Dirga juga. Mereka berdua bahkan dulu satu SMA. Mereka berteman sejak lama." Jawaban dari Dirga, membuat Miko menghela nafas dengan lega. "Iya, Ma. Miko nggak ada hubungan apa-apa kok sama dia," jawab Miko kemudian. "Bagus kalau memang kayak gitu. Fokus kamu sekarang itu belajar dengan giat, supaya kamu bisa meneruskan nama keluarga," ucap mama Miko. Dirga melirik pada istri kecilnya. Melihat Acha yang hanya terdiam dengan senyum miris yang tersungging di bibir pun mengerti akan perasaannya. Ia meraih pinggang Acha dan berkata, "Kayaknya Acha lebih cocok sama Dirga daripada sama Miko. Iya 'kan, Mbak?" Perlakuan dari Dirga tentu saja membuat Miko dan Acha mendadak melebarkan mata mereka. Acha menoleh pada Dirga dan menatap ke arah Miko secara bergantian. Akan tetapi, tidak adanya reaksi yang berarti dari Miko, membuatnya kecewa. "Bener. Om keliatan cocok sama Acha. Kenapa kalian nggak pacaran aja?" ujar Miko dengan bod*h. "Emang dia mau sama Dirga?" sahut mama Miko. "Lagian, siapa yang bisa menolak pesona dari seorang Dirga Hermawan? Dia tampan, mapan dan tentunya memiliki hati yang sangat baik. Jadi, Acha pasti mau," kekeh Miko. Acha mengepalkan tangannya dengan kesal. Apakah setidak ingin itu Miko memperjuangkan hubungan mereka dengan mengakuinya? Ia melengos dan menatap Dirga. "Om, Acha mau ke kantin dulu. Acha lapar," ucap Acha yang kemudian keluar dari ruangan. Miko yang melihat sorot kecewa dari kekasihnya pun bergegas mengikuti Acha. *** Setelah dua muda-mudi itu keluar. Dirga mendekati ranjang ibunya. Ia menoleh pada Mona, kakak perempuannya dan bertanya, "Ibu habis minum obat?" Mona mengangguk. "Ibu minum obat sekitar satu jam yang lalu. Mungkin, sebentar lagi dia akan bangun." "Oh ya, di mana Mas Anang?" tanya Dirga yang tak melihat keberadaan suami kakaknya itu. "Mas Anang dan Riyan sedang ke ruang dokter. Mereka ingin tahu lebih jelas tentang kondisi Ibu," jawab Mona. "Mas Riyan juga di sini?" tanya Dirga. "Riyan kembali dari Singapura setelah mendapat telepon dari rumah sakit. Dokter Anton menghubungi kami semua," jawab Mona lagi. "Dirga. Ibu bilang, kamu sudah menikah?" tanya Mona. Dirga terkejut mendapatkan pertanyaan itu. "Mbak tahu dari Ibu?" tanyanya. "Hm. Ibu memberi tahu tadi. Apa ... gadis tadi itu istrimu?" Pertanyaan dari Mona pun teralihkan dengan pintu yang tiba-tiba terbuka. Dua orang laki-laki dewasa masuk dengan wajah yang sama-sama berbinar. "Mas Anang, Mas Riyan," sapa Dirga. "Hai, Dirga. Baru sampai?" tanya Anang, suami Mona. "Lumayan," jawab Dirga singkat. "Kami tadi berpapasan dengan Miko di lorong. Dia bersama gadis, cantik sekali," kata Anang. "Syukurlah kalau Mas tadi bertemu. Dia istrinya Dirga. Iya 'kan Dirga?" sahut Mona. "Aku tadi belum jawab apa-apa, Mbak," keluh Dirga. Mona terkekeh. "Kamu itu jaim sekali. Mbak tahu kalau dia istri kamu. Kamu nggak akan mungkin bisa meluk perempuan kalau bukan pasangan," kata Mona. "Oh, jadi itu gadis yang tadi diceritain Ibu. Cantik juga," kekeh Riyan, kakak kedua Dirga. "Dia mahasiswinya Dirga, Yan." Mendengar jawaban kakaknya, Riyan terdiam. Ia kemudian menatap Dirga dengan seksama. "Dia mahasiswi kamu?" tanya Riyan dengan tampang serius. "Iya. Dia mahasiswi Dirga, Mas," jawab Dirga. "Itu berarti dia satu kampus dengan Miko?" tanya Anang. Dirga dan Mona menganggukkan kepalanya kompak. "Dia teman SMA Miko juga," kata Mona. "Dirga. Istrimu masih sangat kecil jika dia teman Miko. Apa tidak masalah menikahi gadis sepertinya? Dia masih memiliki jiwa yang bebas," ujar Anang. Dirga kemudian menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan sang istri. Kakak dan ipar Dirga juga tidak menyangka bahwa kisahnya seperti itu. Mereka sama-sama tak menyangka. "Orang tuanya sangat materialistis. Aryo dan Tania sejak dulu memang seperti itu," ucap Mona. "Dirga. Mas hanya bisa memberikan saran sedikit karena pernikahan kalian bahkan sudah berlangsung. Lebih baik, rahasiakan dulu pernikahan kalian dari orang-orang di kampus untuk menghindari berita yang tidak-tidak. Takutnya, status kalian justru akan mengganggu istrimu," kata Anang. "Dirga juga berencana merahasiakan ini sampai pernikahan kami disahkan. Sementara pernikahan siri, semuanya akan berjalan seperti sebelumnya saat di kampus," jawab Dirga. "Mbak setuju aja. Asalkan, dia tetap memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri ketika di rumah. Sekaligus menjadi ibu yang baik untuk Diora juga," ucap Mona. *** Berbeda dengan pembahasan orang-orang dewasa yang saat ini berada di dalam ruang perawatan, Acha dan Miko justru bertengkar. "Tadi Om Dirga udah bilang kalau kami memang pulang bersama. Kenapa sih, Miko?" sentak Acha. "Kalian sampai gandengan tangan gitu sama dia pas masuk ke ruangan nenek gue. Jangan pikir kalau adegan itu nggak terlihat di mata gue," jawab Miko dengan nada suara yang tak kalah tinggi. "Terus kenapa? Misal gue sama dia emang bener-bener ada hubungan, lo mau apa? Lo mau akui hubungan kita di depan orang tua lo? Nggak 'kan? Miko, Please! Gue lagi nggak pengen debat. Gue cukup sesak ngeliat pacar gue nggak mau ngakuin gue di depan orang tuanya," ucap Acha. Miko terdiam mendengar perkataan Acha. Rasa bersalah seketika menusuk di dalam hatinya. Selama ini, dirinya memang tak berani mengenalkan aja kepada orang tuanya. "Dua tahun, Miko. Gue udah nungguin dua tahun. Bahkan, temen-temen gue juga nggak tau kalau kita pacaran. Karena apa? Karena lo takut ketahuan! Gue capek backstreet kayak gini." "Sayang. Setidaknya Om Dirga tahu kalau kita pacaran 'kan? Ini cuma soal waktu. Tunggu sampai kita wisuda, baru gue kasih tau semua orang tentang hubungan kita," kata Miko.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD