Bab 6. Menekankan Status Istri

1056 Words
Acha berjalan keluar dari ruang kelas. Ia bergegas menuju parkiran untuk mengambil mobil. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Miko sedang menunggunya di lorong. Acha tersenyum. Satu kebiasaan Miko yang tidak pernah berubah sejak dulu. Cowok itu selalu menunggunya di lorong saat Acha akan pulang. "Hai, Ca," sapa Miko setelah melihat kekasihnya berdiri di hadapan. "Lo pulang terlambat lagi? Ada tanding sama kampus sebelah?" tanya Acha. "Iya. Ada pertandingan sama anak-anak yang bulan depan di kirim tanding ke luar kota. Buat pemanasan aja," kata Miko. "Oh. Ya udah, gue balik dulu," ujar Acha. "Nanti pulang tanding, gue langsung ke rumah sakit. Mama bilang, nenek aku drop lagi, jadi mau jenguk sebentar," pamit Miko. Menjadi kebiasaan bagi sepasang kekasih itu untuk saling memberitahu aktivitas mereka. "Mau ditemenin nggak?" tanya Acha. "Lo nggak papa kalau ikut ke rumah sakit?" "Um, kayaknya ---" Belum Acha menjawab pertanyaan dari kekasihnya itu, ponsel Miko berdering. Miko tanpa ragu menjawab panggilan tersebut di hadapan Acha. Sementara itu, mata Acha tertuju pada sosok yang kini sedang bersandar di depan mobilnya. Mata gadis itu memicing kala Dirga tampak menggoyangkan ponselnya pada Acha. Gadis itu dengan tanggap melihat ponsel dan tahu jika Dirga mengirimnya pesan. Ia menghembuskan napas kasar dan bergumam, "Kenapa berasa kayak orang lagi selingkuh, padahal lagi sama pacar sendiri." "Apa, Ca?" Acha gelagapan mendengar pertanyaan dari Miko. Ia segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Nggak ada apa-apa. Tadi cuma liat orang lewat, bedaknya tebel banget," kilahnya Acha. Miko terkekeh. Tangan cowok itu terulur mengacak rambut kekasihnya. "Sorry, Ca. Nanti, gue mau ke rumah sakit barengan sama mama papa gue. Jadi, nggak bisa ngajak lo. Nggak papa 'kan?" tanya Miko dengan tidak enak hati. Acha tersenyum dan berkata, "Nggak papa kok. Santai aja. Lain kali aja ketemu sama nenek lo. Lagian, gue nggak mau putus hanya karena ketahuan nyokap sama bokap lo," jawab Acha. "Makasih karena selama ini lo udah ngertiin gue. Mama sama papa terlalu overprotektif kalau berhubungan sama pacaran. Mereka maunya gue jadi dokter dulu, baru boleh mikirin perempuan," kata Miko. "Iya. Selama dua tahun ini, hubungan kita baik-baik aja meskipun suka kucing-kucingan sama orang tua lo. So, gue nggak papa," jawab Acha. Ponsel gadis itu berdering. Sebuah panggilan dari Dirga membuatnya menoleh dengan sinis pada laki-laki itu. Namun, Dirga justru terkekeh. Miko yang dihampiri teman-temannya pun akhirnya pergi, begitu juga dengan Acha yang menghampiri Dirga di dekat mobilnya. Acha menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada siapapun yang melihat mereka. "Om ngapain di sini?" tanya Acha dengan sinis. "Lagi nungguin istri yang pacaran sama keponakan," sindir Dirga. "Dih! Nggak ada kerjaan banget," balas Acha. "Kamu tahu dong, kalau sekarang kamu itu istri saya? Jadi, kamu juga harusnya tahu kalau apa yang kamu lakuin tadi itu termasuk dalam kategori selingkuh!" "Enak aja! Ngobrol sama pacar sendiri dikatain selingkuh. Acha ---" "Pacar? Acha, kamu itu istri saja loh!" kata Dirga. Acha mendadak panik saat Dirga menyebutnya dengan sebutan istri. Ia reflek membungkam mulut suaminya itu sambil menoleh ke kanan dan kiri. "Kalo ngomong jangan kenceng-kenceng, Om!" bisik Acha dengan nada penuh penekanan. "Masuk ke mobil aja deh!" sambungnya. *** Di dalam mobil Acha, kedua manusia itu saling diam. Acha melirik Dirga berulang kali dengan mata tajam. Sementara Dirga sendiri menghela napas berulang kali. "Acha. Kita sekarang sudah menjadi suami istri. Apapun alasannya, entah kalian sudah berpacaran sepuluh tahun atau bahkan kalian sudah satu abad jadi pacar. Sekarang kamu istri saya, jadi saya berhak untuk meminta kamu untuk mengakhiri hubungan kalian," kata Dirga. "Nggak bisa, Om. Acha cinta sama Miko dan Om Dirga nggak bisa ngatur perasaan aku," jawab Acha. "Saya berhak, Acha. Saya suami kamu!" "Kita cuma nikah siri 'kan? Nikah dadakan yang nggak ada di catatan negara. Jadi, ceraikan Acha sekarang dan ... hubungan kita selesai," kata Acha dengan santai. "Kamu pikir pernikahan ini main-main? Meskipun pernikahan kita nggak ada di catatan negara, pernikahan kita ini sah, Acha!" "Buat Acha, ini cuma penipuan aja. Acha ---" "Berhenti bicara omong kosong. Kamu istri saya dan saya nggak akan biarin kamu berhubungan dengan orang lain, termasuk Miko," putus Dirga. "Om! Jangan egois dong! Acha ---" "Kenapa? Kamu nggak cinta sama saya? Itu bukan masalah besar. Saya akan tunggu sampai kamu jatuh cinta," potong Dirga. Acha hanya diam sembari menekuk wajahnya yang tampak kesal. Ia melirik Dirga yang terlihat sekali menahan emosi. Setelah dirasa ia bisa mengendalikan diri, Dirga menoleh pada istrinya dan berkata dengan pelan, "Kita jemput Diora dulu. Setelah itu, kita ke rumah sakit. Ibu nyariin menantunya." *** Mobil Acha membelah jalanan kota dan berhenti di gerbang sekolah Diora. Anak-anak SD itu berhamburan keluar dari kelas masing-masing, begitu juga dengan Diora yang tampak ceria. Dirga dan Acha turun dari mobil, membuat senyum gadis kecil itu semakin lebar. Dirga merentangkan kedua tangannya, menyambut sang putri yang langsung memeluknya tanpa ragu. "Gimana sekolahnya, Sayang? Aman?" tanya Dirga. "Aman dong. Apalagi, temen-temen nggak mengejek Diora. Diora sudah punya Mama sekarang," ujar Diora sembari melirik Acha. Dirga terkekeh gemas. "Iya. sekarang Diora punya Mama. Janji sama Papa kalau kamu nggak akan nakal sama Mama, ya? Nanti Mama nangis," ujarnya. "Itu karena Mama aja yang cengeng. Diora kan anak baik," ujar Diora yang kemudian memamerkan deretan giginya. "Oh iya. Ma, tadi bekalnya udah aku habisin. Tapi, kotak makannya pecah pas Diora mau cuci," kata Diora dengan tampang menyebalkan. "Apa? Diora! Bisa-bisanya kamu pecahin kotak makan kesayangan Tante. Itu kan ---" "Alah, nanti juga diganti sama Papa. Iya 'kan, Pa?" potong Diora. Gadis kecil itu dengan santainya masuk ke dalam mobil dan membanting pintu dengan kencang, tanpa memedulikan Acha yang kembang kempis mendengar kotak makannya pecah. "Sudah! Marahnya nanti lagi! Kita langsung ke rumah sakit aja, ya?" kata Dirga yang terkekeh dengan tingkah dia perempuan itu. Acha dan Diora memang seperti air dengan minyak. Tidak pernah akur sejak dulu. Ya, itu sudah menjadi pemandangan biasa baginya. "Anak dugong sialan!" gerutu Acha. *** Dirga dan Acha benar-benar berangkat ke rumah sakit setelah sebelumnya mengantar Diora pulang. Berjalan memasuki rumah sakit, Dirga menggandeng tangan istrinya. Acha terkesiap dan berusaha melepaskan tautan tangan mereka. Akan tetapi, Dirga menahannya. "Kita gandengan aja kalau masuk. Biar Ibu liat, kalau kita bahagia," kata Dirga. "Alah, modus," cibir Acha. "Sebentar saja, saya mohon. Kesehatan Ibu tidak boleh memburuk lagi," kata Dirga yang tidak mendapatkan sahutan dari Acha. Keduanya masuk ke dalam ruangan rawat inap. Seketika, tubuh keduanya mematung di tempat dengan mata Acha yang melebar. "Miko."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD