Setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkiran, Acha bergegas menuju kelasnya. Jam sudah menunjukkan pukul 08.00. Itu artinya, dosen sebentar lagi akan memasuki kelas.
“Gara-gara nganterin si bocil, gue jadi kesiangan. Hih! Pak Duda juga ngapain nyuruh gue nganterin anaknya segala,” gerutu Acha.
Hingga di lorong kampus, Acha menghentikan langkahnya kala menangkap pemandangan seseorang yang sedang bersandar pada pilar, sembari menunduk dan bersikedap d**a.
“Anjir!” umpat Acha dengan kesal. Ia segera berjalan menuju tempat di mana Dirga berada. Gadis itu menggulung lengan panjangnya sampai ke siku, lalu berkacak pinggang, siap meledakkan kekesalannya.
“Om Dirga!”
Mendengar seseorang memanggil namanya, Dirga berdiri dengan tegak dan langsung menghadap Acha yang sudah ada di hadapannya.
“Saya dari tadi nungguin kamu, Acha,” kata Dirga.
Acha merengut, memandang Dirga dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Om. Om udah di sini dari tadi? Terus, kenapa Om bilang kalau mau meeting? Om bohongin aku biar mau anterin Diora ke sekolah, gitu?” cerca Acha.
“Bisa-bisanya Om di sini, sementara Acha harus nganterin itu anak dugong,” sambungnya.
Dirga hanya diam, memperhatikan setiap perubahan wajah dan ekspresi gadis di hadapannya ini. Matanya yang melotot, bibir mungil yang terus mengomel, membuat Dirga merasa bahwa Acha sangat menggemaskan.
“Jawab dong! Diem aja lagi!”
“Ya saya mau jawab gimana? Kamu aja nggak ngasih saya kesempatan buat ngomong, kok!” jawab Dirga.
“Ya udah, ngomong sekarang!”
“Saya tuh tadi sebenarnya emang mau meeting. Tapi tiba-tiba di jalan, asisten saya memberi kabar kalau klien saya dari luar kota itu gagal datang. Mereka ada acara mendadak yang tidak bisa menunggu. Jadi, meetingnya dibatalkan.”
Penjelasan dari Dirga, tidaklah ditelan mentah-mentah oleh Acha. “ini pasti Cuma akal-akalan Om sama itu anak dugong 'kan? Kalian pasti sekongkol.”
“Saya nggak sekongkol sama Diora. Saya beneran, nggak bohong sama sekali,” kata Dirga.
Acha memandangi dosen tampan itu dengan saksama. Memeriksa, barangkali ada kebohongan yang tergambar dari raut wajah Dirga. Namun, sialnya. Apa yang dikatakan Dirga terlihat seperti kejujuran.
“Saya serius. Percaya sama saya,” kata Dirga, meyakinkan Acha sekali lagi.
Acha pun mengangguk, lalu melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Dirga di lorong tersebut.
**
Berada di kelas, Acha meletakkan tasnya di atas meja. Bersandar di kursi, ia memainkan ponsel. Sebuah pesan masuk membuat Acha mendengus, lalu mengabaikan pesan tersebut dan memilih untuk bermain permainan permen.
Lima belas menit kemudian, seorang mahasiswi menghampirinya. Menepuk pundak Acha dan membuat gadis itu terlonjak.
“Eh, apa?” tanya Acha dengan kaget.
“Lo dipanggil ke ruang dosen. Pak Arif nggak bisa hadir, jadi ada tugas lain,” kata gadis itu.
“Lah, kenapa bukan asistennya Pak Arif yang ke sini?” tanya Aca.
“Ya mana gue tau. Cuma itu yang diinformasikan sama Pak Arif. Tanya aja ke ruangan dosen. Tanyain juga, siapa dosen pengganti buat materi Pak Arif.”
Acha menolak, “lo aja yang ke sana! Gue mager,” katanya.
“Ya itu sih terserah. Cuma, kalau hari ini tugas itu nggak selesai, kita semua bakal dikasih nilai D. Lu tau kan, konsekuensinya?” kata teman Acha lagi.
Hal tersebut tentu saja membuat gadis berparas ayu itu mendengus kesal. Berdiri dengan terpaksa, Acha meninggalkan bangkunya dan berjalan keluar dari kelas.
“Gila apa? Nggak ngotak banget ini yang ngasih tugas. Dosen kan punya asisten, kenapa juga mesti ngerepotin gue yang mageran ini,” gerutu Acha.
Saat melewati kelas sebelah, Acha berpapasan dengan seorang mahasiswa. Membuat langkahnya terhenti ketika cowok tampan itu menghentikan langkahnya.
“Mau ke mana, Ca?” tanya Miko.
“Eh, Miko. Ini, gue mau ke ruangan dosen, ngambil tugas dari Pak Arif. Lo sendiri, mau ke mana?” tanya Aca.
“Mau ke kantin bentar, cari makan. Laper banget,” kekeh Miko.
Acha mengangguk, tersenyum malu-malu ketika ditatap dengan lekat oleh kapten basket itu.
“Mau temenin gue makan, nggak?” tanya Miko.
Seketika itu juga, tawaran dari Miko membuat Acha lupa akan tugasnya. Jika seharusnya Acha menggelengkan kepalanya karena masih ada tugas dari dosen, maka gadis itu justru mengangguk dengan semangat.
“Mau, dong. Ya kali, gue nolak. Mau lah,” kata Acha dengan antusias.
“Yakin mau ikut aja? Nggak mau ke sana?” tunjuk Miko pada ruang dosen yang berada di ujung.
Acha melirik tempat yang ditunjuk oleh crush-nya itu. Akan tetapi, tidak ada ingatan ruang dosen dalam otak kecilnya.
“Nggaklah. Mau ngapain juga ke sana. Ke kantin aja mendingan, berdua,” kata Acha dengan centil. Hal itu membuat Miko terkekeh, lalu mengacak rambut Acha dengan gemas.
Mereka berdua pun kemudian berjalan bersama menuju kantin untuk makan bersama, sesuai perkataan Miko.
Sementara di ruang dosen, Dirga sedang menata rambutnya dengan rapi, bersiap menyambut Acha yang dia yakini, sebentar lagi akan datang.
“Pak Johan. Saya sudah tampan atau belum?” tanya Dirga pada teman sesama dosen.
“Mana ada ceritanya Pak Dirga nggak tampan? Dari orok itu cetakannya udah sempurna. Perfect deh pokoknya,” puji Johan.
Dirga tentu saja senang dan semakin percaya diri. Ia duduk dengan harap-harap cemas, menanti kehadirannya Acha.
Namun, sepuluh menit menunggu, tidak ada tanda-tanda kedatangan Acha di ruangan dosen itu. Bahkan tiga puluh menit berlalu, Acha masih belum juga menampakkan batang hidungnya.
Ia kemudian menoleh ke penjuru ruangan. Tidak ada orang lain di dalam ruangan itu selain dirinya. Para dosen mungkin sudah memasuki kelas masing-masing.
“Ke mana sebenarnya dia? Kenapa belum datang juga?” monolog Dirga.
“Apa saya langsung ke kelas saja? Tapi, tunggu deh. Tunggu sepuluh menit lagi.”
Waktu terus berjalan dan sepuluh menit telah berlalu. Dirga mulai tak sabar karena Acha yang tak kunjung hadir pun bergegas menuju kelas, di mana para mahasiswanya sedang menunggu.
Begitu Dirga memasuki kelas, suasana yang semula ramai pun mendadak senyap. Semua orang terdiam di tempatnya dan Dirga memandang seluruh penjuru kelas.
Ia sama sekali tidak menemukan keberadaan Acha di sana. Kini, Dirga tahu alasan gadisnya tidak datang ke ruang dosen.
“Dia pasti membolos lagi!” geram Dirga dengan lirih.
“Selamat pagi, Semuanya.” Dirga menyapa para mahasiswa.
“Pagi, Pak!”
***
Di sisi lain, Acha tampak bersemu dengan setiap gombalan yang diberikan Miko kepadanya. Mereka bahkan tak ragu untuk saling menyuapi makanan masing-masing.
Akan tetapi, belum juga sesuap bakso mendarat dengan sempurna, sebuah tangan membekap mulut Acha dan menghalangi suapan Miko pada gadis itu.
“Sedang apa kamu di sini, Acha?” Suara berat yang maskulin, terdengar rendah di telinga Acha, membuat ia menelan silivanya dengan susah payah. Apalagi, aroma parfum ocean blue yang familiar di indra penciumannya itu terasa.
“Pak Dirga. Bapak sedang apa di sini?” tanya Miko yang terkejut dengan keberadaan Dirga di sana.
Mata Dirga menatap dengan tajam pada mahasiswa tampan itu. “Seharusnya saya yang bertanya kepada kalian. Apa yang sedang kamu dan Acha lakukan di sini?”
“Saya ajakin dia makan, Pak. Memang kenapa?” tanya Miko dengan polos.
“Acha seharusnya masih ada kelas. Tapi, kamu malah membawanya ke sini? Kamu mau, saya aduin ke papa kamu?”
Miko seketika menelan ludahnya dengan kasar. Ia tidak bisa melawan ucapan laki-laki di hadapannya ini. Selain dosen, Dirga adalah adik dari ayahnya.
Bisa-bisa, uang jajan miliknya akan dipangkas habis jika Dirga memberikan laporan yang tidak-tidak.
“N-nggak, Pak. S-saya kembali ke kelas sekarang!”
Tanpa memedulikan Acha, Miko lari dengan terbirit-b***t. Dia cukup takut dengan ancaman dari laki-laki itu. Jangan sampai karena keteledorannya yang tidak mematuhi aturan, membuat dirinya harus kehilangan uang jajan.
Sementara Acha yang ditinggalkan hanya berdua dengan Dirga, mendadak merasakan atmosfer di sekitarnya berubah panas. Ia menatap takut pada ayah dari Diora itu.
“O-om, Acha –“
“Saya minta kamu buat datang ke ruangan saya. Tapi, kamu malah berduaan sama laki-laki lain?”
Acha ternganga, “maksudnya?”
“Saya nggak suka kamu dekat-dekat sama Miko atau lelaki manapun!” kata Dirga dengan tegas.
“Hah?”
"Kamu jangan lupa soal hubungan kita. Kamu adalah tunangan saya, Acha!" ujar Dirga dengan tegas.
"Tapi, Acha sama ---"
“Jangan buat saya cemburu! Saya benci rasa itu!”
Setelah mengatakan kalimat terakhirnya, Dirga meninggalkan Acha dan melenggang keluar dari area kantin.
Meninggalkan Acha yang tampak cengo di tempatnya.
“Dia? Cemburu?”
“Hah, gimana?”
“Nggak! Gue pasti salah denger. Emang, dia siapa, bisa cemburu sama Miko?”
“But, telinga gue nggak b***k!”
Acha menggelengkan kepalanya pelan. “Dasar om-om! Pikirannya pasti udah ruwet karena kelamaan jadi duda.”
“Duda tua kesepian!” umpat Acha.