Acha baru saja terbangun dari tidurnya. Suara berisik dari luar, membuat ia terbangun lebih awal. Acha bangun dan berjalan menuju balkon, siap memaki siapapun yang telah berani mengganggu tidurnya yang nyaman.
“Woy! Apaan sih, pagi-pagi udah berisik? Gangguin orang tidur tau nggak?!” teriak Acha pada tetangganya yang menyebalkan.
Terlihat, Dirga sedang menyiram tanaman, ditemani putrinya. Laki-laki itu mendongakkan kepala, melihat wajah Acha yang merenggut, lalu mengulas senyum tipis. Akan tetapi, berbeda dengan putrinya.
“Nenek lampir! Nggak usah teriak-teriak! Diora nggak b***k, ya!” balas anak kecil itu dengan menyebalkan.
Acha melotot disebut sebagai nenek lampir.
“Enak aja mulutnya kalo ngomong. Heh, bayi dugong! Suara kalian itu bikin telinga aku sakit, tahu nggak?!” jawab Acha dengan sewot.
“Salah sendiri. Udah siang, masih aja molor. Pantesan jadi perawan tua! Jodohnya udah dipatok ayam karena bangun kesiangan!”
Acha dibuat ternganga oleh ucapan Diora. Ia bahkan tak bisa menjawab kata-kata anak berusia tujuh tahun itu.
“Dasar perawan tua! Nenek lampir! Wlee!” ejek Diora.
Acha menghentakkan kakinya dengan kesal sambil menggerutu. Kemudian, ia meninggalkan balkon dan berjalan menuju kamar mandi.
***
Usai membersihkan diri, Acha berjalan keluar dari kamar. Menghela napas dan memandang sekeliling rumahnya yang tampak sangat sepi. Kemudian, ia berjalan menuruni anak tangga, sembari berkata, “Mama sama papa nggak datang.”
Seorang wanita setengah baya sedang menata sajian makan pagi ini. Ia menoleh ketika mendengar suara langkah kaki dan tersenyum. “Tadi ibuk denger suara ribut-ribut dari luar. Kenapa, Non?” tanya Bi Sari.
“Si anak dugong sama bapaknya, pagi-pagi udah ribut. Suaranya gangguin Acha tidur, Bi,” jawab Acha dengan kesal.
Bi Sari terkekeh, lalu menggelengkan kepalanya pelan. “Bukannya setiap Non Acha bangun kesiangan, Pak Dirga dan Non Diora selalu gitu, ya? Mereka layak buat disebut alarm,” ujarnya.
“Itu bapak sama anaknya tuh sebelas dua belas. Sama-sama ngeselin!” kesal Acha.
Bu Sari hanya menanggapi ucapan majikannya dengan tersenyum, lalu mempersilakan Acha untuk duduk.
“Non Acha mau makan sama apa?” tanya Bu Sari.
Acha melirik meja makan, menatap beberapa sajian makanan dengan sedikit malas.
“Cah kangkung aja sama telor.”
Bu Sari kemudian mengambilkan menu yang diinginkan oleh Acha. “Makan yang banyak, Non! Biar kuat menghadapi kenyataan hidup."
**
Acha menikmati sarapannya, sementara Bu Sari menyiapkan bekal untuk dibawa ke kampus. Hingga kemudian, tamu tak diundang pun datang dan langsung menyerobot kursi, hingga mengambil makan tanpa dipersilakan.
“Heh! Ngapain kalian? Bisa-bisanya masuk ke rumah orang tanpa permisi?” ketus Acha, menatap tajam pada dua tamu tak diundangnya.
“Pagi, Ca,” sapa Dirga dengan senyum lebar.
Acha menjawab dengan memutar bola matanya malas. “Masih pagi udah males banget, apalagi liatin tetangga kayak kalian,” kata Acha dengan nada sarkas.
Dirga hanya tersenyum, tak menanggapi ucapan pedas Acha. Sementara Diora memilih untuk menikmati sarapan yang disajikan.
“Ca, saya harus ke kantor dulu pagi ini. Minta tolong, anterin Diora ke sekolah, ya?” kata Dirga.
“Enak aja. Ogah! Dikira gue emaknya apa, suruh nganterin dia sekolah.” Acha membalas dengan ketus.
“Alah. Sejalan juga kan kampus situ, sama sekolah Diora. Nggak usah kebanyakan ngeles deh,” balas Diora dengan sewot.
“Diem nggak kamu!" sentak Acha.
“Bener kata Diora. Sekolah dia sama kampus kamu satu jalan. Jadi nggak harus muter buat nganterin dia sekolah,” kata Dirga dengan lembut.
“Kalau aku bilang ogah ya ogah. Apaan sih, maksa-maksa?!”
“Ayolah, Tante! Anterin Diora ke sekolah! Sekali ini aja,” kata Diora dengan memelas.
“Nggak mau! Berangkat aja sama bapak kamu! Lagian si Om ngapain sih nggak mau nganterin anaknya?”
“Saya harus meeting setengah jam lagi. Nggak ada waktu buat nganterin Diora.” Dirga berkata dengan wajah yang masih lembut.
“Nggak mau, Om! Diora itu ngeselin banget. Mulutnya juga pedes kayak cabe. Nggak mau, beneran! Pesanin ojek online aja deh! Nggak usah ngerepotin orang,” tolak Acha.
Diora meletakkan sendok dan garpunya dengan kasar, hingga menimbulkan bunyi denting. Ia kemudian menatap Acha dengan tajam, lalu pergi tanpa bicara.
Melihat anaknya pergi, Dirga bergegas menyusul putri kesayangannya. Meninggalkan Acha yang diam ditempat.
“Acha salah ngomong, ya?” tanya Acha. Bu Sari yang ada di sebelahnya pun mengangguk.
“Kasihan Non Diora. Dia masih terlalu kecil buat naik ojek online. Gimana kalau diculik?”
**
Di dalam mobil. Acha ingin sekali mengumpat. Berulangkali ia menggelengkan kepalanya pelan.
“Diora! Kamu bisa diem nggak?! Tante pusing dengerin ocehan kamu dari tadi!” kesal Acha.
“Apaan sih! Diora kan lagi curhat sama Tante. Dengerin aja, napa?!”
“Ya kamu ngomongnya nggak ada jeda. Bisa gila lama-lama, kalau Tante dengerin situ!”
Diora terkekeh mendengar omelan Acha. “Sekali aja deh, Tante. Biarin Diora manggil Tante pake sebutan mama. Biar temen-temen Diora nggak ngejekin Diora mulu,” kata Diora dengan memelas.
“Dih, ogah! Mimpi buruk buat Tante kalau punya anak modelan kamu! Udah bagus nih, Tante tebengin. Jadi, jangan banyak mau. Diem aja baik-baik di situ, nggak usah banyak minta!”
Diora menundukkan kepala setelah mendengar perkataan Acha. Ia tak lagi banyak tingkah dan memilih untuk diam seribu bahasa, hingga mobil Acha tiba di kawasan sekolah Diora.
Begitu mobil berhenti, Diora langsung turun begitu saja. Meninggalkan Acha tanpa berpamitan atau mengucapkan terima kasih karena sudah diberikan tumpangan.
Begitu turun, Diora langsung dihampiri kedua temannya. Mereka tampak berbincang dan sesekali Diora menoleh ke arah mobil. Acha yang penasaran pun menurunkan kaca mobilnya.
“Katanya kamu bakal berangkat bareng mama kamu. Mana? Kamu bohong kan?” ucap salah seorang teman Diora.
“Iya. Kamu bohong. Kamu kan nggak punya mama. Mama kamu ninggalin kamu karena kamu nakal. Iya kan?” jawab temannya yang lain.
Mendengar perbincangan itu, Acha mendadak sesak. Hatinya mendadak nyeri mendengar hinaan teman Diora untuk gadis kecil itu.
“Diora nggak punya mama!” ejek teman Diora sembari tertawa.
“Kalian bisa diam nggak?! Aku punya mama kok. Aku punya! Dia nggak ninggalin aku karena aku nakal. Aku punya mama!” teriak Diora dengan suara parau. Hatinya pasti terasa nyeri, mendengar ejekan teman-temannya.
“Diora, Sayang?”
Anak-anak kecil itu sontak menoleh dan Diora terkejut mendapati Acha berdiri di belakangnya.
“Kamu lupa membawa bekalnya. Tadi kan Mama udah siapin bekal buat kamu makan pas jam istirahat,” kata Acha sembari membungkukkan badannya. Ia memberikan bekal miliknya pada Diora. Tentu saja hal tersebut membuat gadis kecil itu tersenyum.
“Terimakasih, Mama!” kata Diora sembari tersenyum lebar. Ada tatapan mata yang menyebalkan bagi Acha dari sorot mata anak kecil itu.
“Sama-sama, Sayang. Mama berangkat dulu, ya?! Baik-baik di sekolah dan jangan bertengkar. Nanti, mama minta papa buat jemput kamu,” kata Acha.
Diora tentu saja kegirangan. “Papa jemputnya bareng Mama ya, nanti! Diora mau jalan-jalan bareng, setelah pulang sekolah.”
Ingin sekali rasanya Acha memaki anak kecil ini. Dia benar-benar memanfaatkan keadaan. Namun, ia hanya bisa tersenyum kaku dan mengangguk, “baiklah. Jadi anak baik dan belajar yang giat. Semangat!”
“Semangat!”
Acha mengulurkan tangannya untuk Diora. Gadis kecil itu dengan tanggap mencium tangan Acha. Senyum girang terlihat di wajah Diora. Tak seperti tadi ketika kedua temannya melayangkan ejekan.
Setelahnya, Acha kembali masuk ke dalam mobil dan meninggalkan lingkungan sekolah Diora.
Tanpa ia sadari, Diora bersama dua temannya tadi tertawa dan berpelukan dengan riang.
“Terimakasih, Guys! Akhirnya aku punya mama, berkat kalian!”
Benar-benar BOCIL KEMATIAN!