Bab 3. Pernikahan Mendadak

1585 Words
Acha turun dari mobil Dirga, setelah kesepakatan bersama, mengenai pertunangan mereka. Ia berjalan masuk ke dalam rumah sambil menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Mengembuskan napas dengan kasar, Acha tak menyangka jika ia akan bertunangan dengan tetangganya. Terlebih lagi, saat ini Acha masih memiliki seorang kekasih. “Apa yang akan aku katakan pada Miko, jika dia tahu bahwa aku sudah menjadi tunangan orang?” gumam Acha. “Dia pasti kecewa,” sambungnya. Sesampainya ia di dalam kamar, Acha menghempas tubuhnya di atas ranjang. Tas yang tadi ia bawa, sudah dilemparkan ke sembarang arah. Hatinya benar-benar bimbang. Ia ingin menolak perjodohan ini. Akan tetapi, dia benar-benar tak kuasa jika harus menolak keinginan kedua orang tuanya. Terlebih lagi dengan ancaman yang sudah diberikan Aryo dan Tania. Hanya kedua orang tuanya saja yang saat ini dimiliki oleh Acha. Jika mereka tak lagi mau menganggapnya sebagai seorang anak, lantas bagaimana dirinya akan menjalani hidup? “Cincin yang manis, tapi tidak dengan kisahnya.” Acha memejamkan matanya sejenak. Hingga tanpa gadis itu sadari, rasa kantuk mulai menyerang. Ia pun terlelap tanpa sadar. ** Mendengar suara keributan di luar kamarnya, Acha perlahan membuka mata. Ia bangun dari posisi berbaring, sambil mengucek mata. Ia melirik ke arah jam dan terkejut ketika mendapati bahwa sekarang masih tengah malam. Saat itu, Bi Sari masuk ke dalam kamar dengan wajah panik. “Non, cepat bangun! Kita harus pergi sekarang juga,” ujarnya. “Kenapa, Bi? Ada masalah apa ini? Kenapa Bibi panik banget kayak gitu?” Melihat asisten rumah tangganya tampak panik, Acha jadi bertanya-tanya. “Kita ke rumah sakit sekarang juga. Nyonya Tania baru saja telepon dan mengabarkan kalau beliau berada di rumah sakit. Nyonya juga meminta saya untuk mengajak Anda,” kata Bi Sari. “Kenapa? Ada apa dengan Mama? Apa terjadi kecelakaan?” tanya Acha. “Saya tidak tahu, Non. Nyonya hanya mengatakan itu saja. Kita harus cepat karena Nyonya juga mengatakan bahwa waktunya tidak lama,” ucap Bi Sari. Acha semakin panik mendengar perkataan itu. Ia segera menyambar tas yang tergeletak di lantai dan bergegas keluar. Sesampainya di depan rumah, sopir mamanya ternyata sudah menunggu. Ia bersama Bi Sari pun bergegas ke rumah sakit. ** Selama perjalanan menuju ke rumah sakit, rasa cemas menghantui perasaan Acha. Meskipun Aryo dan Tania tidak sepeduli itu terhadap dirinya, Acha tetap saja khawatir dengan kondisi kedua orang tuanya. Sampai 30 menit kemudian, mobil pun tiba di rumah sakit. “Kita ke mana sekarang?” tanya Acha pada sopir kedua orang tuanya. “Non Acha bisa langsung ke ruangan VIP, lantai 3, nomor 3. Di sana kedua orang tua Anda berada,” jawab sopir itu. Acha segera masuk dengan setengah berlari, menuju ruangan yang telah disebutkan, diikuti dengan Bi Sari di belakangnya. Tanpa mengetuk pintu, Acha segera membuka ruangan yang dituju. Napasnya tersengal dengan d**a kembang kempis. Namun, saat setelahnya, Acha tertegun melihat wanita tua yang berbaring di atas pembaringan. Ia kemudian menoleh pada Tania yang tampak duduk di sebelah pembaringan Bu Endah. “Ma, ada apa ini?” tanya Acha dengan pelan. “Syukurlah kamu segera datang. Kami semua sudah menunggu sejak tadi,” kata Aryo, menyambut kedatangan putrinya. Acha berjalan mendekati Tania. “Mama baik-baik aja?” tanyanya. “Mama baik-baik aja. Tapi ... kamu bisa lihat sendiri,” ujar Tania sembari melirik ke arah Bu Endah. Wanita tua itu tampak pucat. Alat bantu pernapasan pun terpasang di hidungnya. Detektor jantung juga demikian. Acha bisa menebak, ini bukan sesuatu yang baik. “Ma, ada apa sebenarnya?” tanya Acha dengan bingung. “Setelah kamu pergi dari restoran, kesehatan Bu Endah tiba-tiba menurun. Beliau mengeluh sesak napas dan akhirnya tak sadarkan diri.” Acha hanya diam, menyimak penjelasan Aryo. “Kami berniat mengantarkan Bu Endah ke rumah. Akan tetapi, ketika dalam perjalanan tadi, Bu Endah mengalami kejang-kejang. Kami panik dan langsung membawa beliau ke rumah sakit,” jelas Aryo. “Papa kok nggak telpon Om Dirga?” tanya Acha. “Ponsel Mama lowbat, begitu juga dengan ponsel Papa. Jadi, kami langsung bawa ke rumah sakit. Setelah menunggu hasil pemeriksaan, barulah Papa menghubungi Dirga untuk ke sini,” jawab Aryo. “Kondisinya memang seperti ini. Kamu tau, ini semua gara-gara kamu. Andai kamu tidak menolak dengan kasar seperti itu,” sahut Tania. “Bu Endah terpukul karena kamu menolak keinginan beliau untuk perjodohan itu. Beliau kecewa sehingga penyakit jantung dan darah tingginya kambuh,” sambungnya. “Tante, seperti yang tadi sudah saya jelaskan. Acha menerima perjodohan ini. Lihat! Saya dan dia sudah memakai cincin pertunangan itu,” sahut Dirga yang sejak tadi berada di sudut ruangan. Acha kemudian menganggukkan kepalanya. “Iya, Ma. Itu benar,” ujar Acha. “Itu kabar yang bagus. Kami senang mendengarnya. Mungkin, Bu Endah terlalu banyak berpikir dan jadi negatif thinking. Papa tahu, kamu anak yang berbakti,” balas Aryo. “Terus, kenapa Acha juga harus ke sini? Acha ---“ “Karena Bu Endah ingin kamu dan Dirga menikah saat ini juga,” sahut Tania. Dirga yang ada di sudut ruangan pun hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Sementara Acha, ia menggelengkan kepalanya. “Nggak bisa, Ma. Acha ... Acha nggak mau menikah sama Om Dirga!” jawab Acha. Jawaban Acha yang mengandung penolakan itu membuat Bu Endah kembali mengalami kejang-kejang. ** Semua orang yang sebelumnya berada di ruangan tersebut pun diminta untuk keluar, sementara dokter memeriksa kondisi dari pasien. Acha terduduk di kursi tunggu sembari menangis. “Cukup, Ma! Jangan memaksaku untuk menikah. Acha punya kehidupan yang gak bisa dikekang,” ujar Acha dengan memelas. “Dasar bodoh! Lihat! Karena perbuatanmu, Bu Endah kembali drop,” maki Aryo. “Acha benar-benar nggak bisa. Acha ... Acha mohon, Ma, Pa. Acha nggak bisa,” ujar Acha lagi, dengan air mata yang berderai. Kondisi Bu Endah yang semakin memburuk dan desakan Aryo untuk menikah dengan Dirga pun membuat Acha terpaksa menurutinya. Balutan kebaya modern berwarna putih, membuatnya tampak ayu. Akan tetapi, wajahnya sama sekali tidak menampilkan rona bahagia. Ruang rawat inap tersebut sudah disulap menjadi tempat akad dalam waktu beberapa jam saja. Kini, Dirga dan Acha sudah duduk berdampingan, menghadap seorang penghulu yang siap menikahkan mereka pagi ini. “Mempelai wanita, kenapa tidak berhenti menangis? Apakah ini sebuah keterpaksaan?” tanya penghulu saat melihat Acha tak kunjung menghentikan tangisnya. Acha meringis kala cubitan mendarat di pinggangnya. Tania tampak melotot dan menyela Acha yang hendak bersuara. “Maaf, Pak Penghulu. Putri saya sedikit kecewa. Sebenarnya, pernikahan akan dilakukan bulan depan dengan pesta mewah yang dia inginkan. Namun, kondisinya jadi seperti ini,” jawab Tania dengan cepat. Penghulu itu hanya mengangguk, lalu menatap pada Dirga. “Mempelai pria, sudah siap untuk ijab?” “Saya bersedia, Pak,” jawab Dirga dengan datar. “Baiklah kalau begitu . Saudara Dirga Hermawan, jabat tangan saya!” Dirga pun menjabat tangan penghulu tersebut. “Bismillah. Saudara Dirga Hermawan Bin Abdul Hermawanto almarhum, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan saudari Adora Citra Anggareksa binti Aryo Anggareksa, dengan maskawin uang tunai sebesar seratus juta rupiah, dibayar tunai!” “Saya terima nikah dan kawinnya Adora Citra Anggareksa dengan maskawin tersebut, dibayar tunai!” ucap Dirga dalam satu tarikan napas. “Bagaimana para saksi, sah?” tanya penghulu pada dua saksi pernikahan yang tak lain adalah sopir orang tua Acha dan satu saksi dari pihak Dirga. “Sah!” Air mata Acha semakin deras. Kini, ia telah resmi menyandang status sebagai seorang istri. Ia tak menyangka jika masa lajangnya benar-benar berakhir. Senyum cerah muncul di wajah Aryo dan Tania. Namun, sangat berbeda dengan kedua mempelai. Dirga menatap gadis yang kini sudah resmi menjadi istrinya. Ia mengeluarkan tangan untuk Acha. Dengan sangat terpaksa, Acha menerima uluran tersebut dan mengecup tangan suaminya ** Setelah sesi ijab kabul terlaksana, kini semua orang sedang duduk di kursi panjang, dalam ruang perawatan. Bu Endah yang menyaksikan putra bungsunya menikah hari ini, merasa jauh lebih lega. “Ibu senang, kamu akhirnya menikah, Dirga,” kata wanita itu dengan lirih. Dirga yang duduk di samping ibunya pun mengangguk. “Dirga sudah memenuhi permintaan Ibu untuk menikah. Sekarang, Ibu harus fokus pada kesembuhan Ibu sendiri.” Bu Endah mengangguk lemah dengan mata yang terus tertuju pada menantunya. “Acha anak yang baik. Dia pasti menjadi istri yang baik juga buat kamu, Dirga!” ** Sore hari tiba, Dirga yang baru saja keluar dari ruangan pun mendekati Acha yang sedang duduk di kursi tunggu. Gadis itu masih mengenakan kebaya tadi pagi, begitu juga dengan Dirga yang masih mengenakan kemeja putih miliknya. Mata Acha tampak lelah, membuat Dirga sedikit iba. Ia duduk di sebelah istrinya dan berkata, “Saya antar kamu pulang, ya? Supaya kamu bisa istirahat,” kata Dirga. “Hm. Aku bisa pulang sendiri,” jawab Acha dengan datar. “Saya sekalian pulang, mau ganti pakaian. Setelah itu, akan kembali ke sini lagi,” ujar Dirga. Acha tampak acuh. Ia tak memedulikan ucapan suaminya, membuat Dirga menghela napas. Ia kemudian menarik tangan Acha dan menggenggam jemari lembut itu. Acha mendadak salah tingkah, apalagi Dirga menatapnya dengan tatapan mata yang dalam. “Saya tahu, kamu pasti tidak bisa menerima pernikahan ini begitu saja. Namun, saya tidak akan membuat surat kontrak seperti yang kamu katakan kemarin. Jadi ... kita jalani pernikahan ini. Mungkin butuh waktu, tapi saya akan berusaha menjadi suami yang baik buat kamu,” kata Dirga. Acha menatap Dirga, lalu berkata, “Kita bicarakan nanti. Sekarang, Acha mau pulang dulu!” Dirga hanya menghela napas. Ia memaklumi Acha. Kondisinya memang masih tidak baik. Gadis belia sepertinya pasti belum siap menerima kondisi ini. “Acha. Saya berjanji untuk tidak menyentuh kamu, sebelum kamu mengijinkan saya sepenuhnya!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD