Bab 2. Terpaksa Menerima

1633 Words
Adora Citra Anggareksa atau yang akhirnya disapa Acha. Ia tak menyangka akan dijodohkan dengan laki-laki yang tak lain adalah tetangganya sendiri. “Hah?! Tetangga? Kamu yang bener aja, Dirga,” kata Bu Endah. Dirga mengangguk, kemudian menatap Acha, “Dia juga mahasiswi di kampus tempat Dirga mengajar.” “Bagus dong! Ini kebetulan yang luar biasa. Kalian bisa semakin akrab karena sudah saling mengenal,” kata Aryo. Acha menggelengkan kepalanya, “Pa! Nggak bisa gitu. Acha nggak setuju dengan perjodohan ini,” tolak Acha. “Loh, kenapa? Kenapa kamu nggak setuju, Nak?” tanya Bu Endah yang tampak keberatan dengan jawaban Acha. “Ma, Pa. Acha mohon! Acha masih ingin menikmati indahnya masa lajang. Acha nggak mau dijodohkan kayak gini. Apalagi, sama Om Dirga yang jelas-jelas duda.” Acha tampak memelas, menatap penuh permohonan pada kedua orang tuanya. “Acha nggak mau nikah, apalagi sama duda. Acha masih punya masa depan, Ma,” ujar Acha. “Nggak bisa. Saya sudah menggelontorkan dana yang besar untuk perusahaan orang tua kamu. Mau tidak mau, kamu harus menerima perjodohan ini. Lagi pula, apa masalahnya jika anak saya ini duda?!” Bu Endah tampak murka, menatap Acha dengan tatapan mengintimidasi. Ia tak rela jika uang yang dia keluarkan akan berakhir sia-sia. “Nek, mohon maaf sebelumnya. Kedua orang tua saya tidak membicarakan perjodohan ini sebelumnya. Tidak ada persetujuan dari saya atau---” “Acha! Hentikan omong kosong kamu. Kita sudah membicarakan ini minggu lalu dan kamu sudah setuju,” potong Aryo. Acha terkesiap. Ia hendak menjawab, akan tetapi sebuah cubitan dilayangkan Tania ke pinggangnya. “Bu Endah. Perjodohan ini akan tetap terjadi. Mungkin, Acha hanya terkejut saja karena ternyata dia dijodohkan dengan tetangganya sendiri. Anda tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja,” kata Tania. Acha menatap nanar pada kedua orang tuanya. “Kalian egois!” Acha berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan VIP itu tanpa kata. Rasa kecewa terhadap kedua orang tuanya yang mengambil keputusan sepihak mengenai perjodohan antara dirinya dan juga Dirga, benar terasa seperti menusuk pada jantung. “Papa sama Mama jahat,” ucap Acha sembari terisak. Acha berjalan keluar dari restoran mewah itu sembari mengusap air matanya sesekali. Hingga tiba di depan restoran, Acha langsung menaiki taksi yang kebetulan ada di sana. Menangis tersedu, Acha tak lagi bisa berkata. Sejak kecil, kedua orang tuanya memang selalu egois dan tak pernah memikirkan perasaannya sama sekali. “Kenapa?! Kenapa Mama dan Papa selalu egois seperti ini? Mereka nggak pernah mikirin perasaan aku. Apapun yang mereka katakan, semuanya menjadi keputusan final!” ujar Acha sembari menangis. ** Sementara di sisi lain, Dirga mengikuti taksi yang ditumpangi Acha. Ia tak bisa membiarkan gadis itu pergi sendiri. Hingga kemudian, taksi Acha berhenti di sebuah taman. Dirga sejenak membiarkan Acha berjalan sendiri. Acha terlihat menangis dan mengusap air matanya. Dirga merasa kasihan dengan apa yang gadis itu rasakan. ** “Nek, Nenek liat Acha dari surga? Acha sedih, Nek. Mama sama Papa lagi-lagi bersikap semaunya,” kata Acha, seolah sedang berbicara kepada neneknya yang telah lama tiada, sembari menatap langit. “Nek, seharusnya Nenek nggak tinggalin Acha seorang diri. Setelah Nenek pergi, Acha makin kesepian.” Tersedu meratapi ketidakadilan, ponsel Acha tiba-tiba berdering. Sebuah panggilan masuk dari papanya, membuat ia mengambil napas dalam dan menghembuskannya kasar. Acha dengan malas pun mengangkat panggilan itu, “Kenapa lagi, Pa?” tanya Acha. “Papa nggak mau tahu, kamu harus terima pertunangan itu!” “Pa, udah deh! Nggak usah cari perkara! Kalau Acha bilang nggak mau ya nggak mau,” putus Acha. “Kalau kamu nggak mau menerima perjodohan ini, maka bersiaplah untuk angkat kaki dari rumah nenekmu. Rumah itu akan disita oleh pihak bank! Saat itu terjadi, jangan harap kami akan menganggapmu sebagai anak. Kamu mau hidup di jalan?” Aryo memutuskan telepon begitu saja, tanpa menunggu jawaban lain dari putrinya. Acha yang mendengar ucapan dari Aryo pun semakin menangis tersedu. Tiba-tiba, sebuah sapu tangan diulurkan oleh seseorang. Acha menoleh dan terkejut mendapati keberadaan Dirga. “Sudah! Jangan banyak menangis! Kamu nanti jadi jelek,” hibur Dirga. Acha menoleh sinis. “Ngapain Om di sini?” tanya Acha dengan ketus. “Lagi ngikutin kamu,” kata Dirga dengan santai. “Nggak ada kerjaan banget ngikutin orang!” tukas Acha. Dirga hanya terkekeh, lalu menatap lurus ke depan, seperti yang saat ini dilakukan oleh Acha. Beberapa saat, keduanya saling diam, tanpa ada pembicara. Acha kemudian membuka suara, “Om. Kenapa nggak kita tolak aja perjodohan ini?” Dirga menoleh cepat ke arah Acha. Menatap gadis mungil itu dengan penuh tanda tanya. “Acha masih muda. Belum ada pemikiran buat nikah cepat. Acha juga mau nikah sama orang yang Acha cintai. Nggak dijodohin kayak gini,” keluh Acha. “Saya nggak bisa,” jawab Dirga. Acha menoleh dengan terkejut dan bertanya, “Kenapa? Kenapa nggak bisa? Om tinggal bilang ‘nggak’ sama ibunya Om tadi.” “Saya punya alasan buat nggak menolak perjodohan ini. Jadi, kalau kamu mau menolak, tolak saja.” Mendengar ucapan Dirga, Acha menggelengkan kepalanya. Ia kemudian menunjukkan sebuah pesan yang dikirimkan oleh Tania. “Kalau aku nolak, mereka nggak akan mengakui aku sebagai anak,” ujar Acha. “Berarti kita sama. Kita sama-sama nggak bisa menolak permintaan orang tua. Jadi, mau gimana lagi?” tanya Dirga. Sejenak, Dirga menghela napas. “Saya memang seorang duda dan memiliki satu anak, seperti yang kamu tahu. Tapi, saya berjanji akan membahagiakan wanita yang dipilihkan oleh ibu,” sambungnya. Acha terdiam. Hatinya masih tak terima jika ia harus berjodoh dengan Dirga. Acha merupakan perawan tulen. Jadi, menurutnya sama sekali tidak adil Jika dia harus mendapatkan laki-laki bekas wanita lain. Kurang lebih seperti itulah penilaian Acha mengenai status yang saat ini disandang oleh Dirga. “Om. Kenapa kita nggak pura-pura jadi tunangan di depan orang tua kita. Selebihnya, kita tetap kayak biasanya aja,” ucap Acha, mencetuskan ide konyol dalam kepalanya. Dirga sontak menolak, “Saya nggak mau. Itu namanya berbohong. Apalagi, yang kita bohongi itu adalah orang tua. Saya nggak mau ketiban sial!” “Ya, buat sementara aja. Sampai Acha menemukan cara buat batalin pertunangan itu,” sahut Acha. “Nggak bisa, Acha. Ibu dan kedua orang tua kamu juga sudah mempersiapkan pernikahan kita. Aku dengar, pernikahan akan terjadi bulan depan. Jadi, sia-sia saja kamu menolak,” jawab Dirga. “Apa?! Ini nggak mungkin. Papa bilang, pernikahan nggak akan terjadi secepat itu. Mereka ... mereka bohong?” Dirga tak menjawab. Ia mengalihkan tatapannya ke arah lain. Sama halnya dengan Acha, ia sendiri tak kuasa menolak perjodohan itu. “Gimana kalau kita nikah kontrak aja?” tawar Acha. Dirga terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Acha. Tak pernah terbayangkan baginya jika pernikahan kedua yang akan dia lakoni adalah pernikahan kontrak. “Apa maksud kamu dengan nikah kontrak?” tanya Dirga. “Ya, nikah kontrak, Om. Pernikahan yang didasari dengan kontrak,” jawab Acha. “Terus?” “Om sama Acha bikin perjanjian sebelum menikah. Kita bikin kesepakatan tentang apa yang akan kita jalani di pernikahan itu nanti,” kata Acha kemudian. Dirga terdiam, memikirkan tawaran Acha untuk menikah kontrak. “Ca, pernikahan itu bukan perkara main-main. Pernikahan itu sesuatu yang sakral,” ujar Dirga. “Acha tahu. Pernikahan memang sesuatu yang sakral, tapi kita nggak beneran nikah ‘kan? Maksudnya, kita sama-sama nggak cinta dan Acha juga mau nikah sama orang yang Acha suka,” kukuh Acha. “Lalu, apa yang kamu mau dalam pernikahan itu?” tanya Dirga. “Kita menikah selama enam bulan. Setelah itu, kita cerai.” Dirga tentu saja langsung terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Acha. Enam bulan adalah waktu yang sangat singkat untuk sebuah pernikahan. “Nggak. Saya nggak setuju,” tolak Dirga. “Loh, kenapa?” tanya Acha. “Saya kan sudah bilang sama kamu kalau pernikahan itu bukan permainan. Pernikahan itu hubungan yang sakral,” jawab Dirga dengan tegas. “Acha tahu, Om. Acha mengerti, tapi kan Acha juga punya masa depan. Acha mau membina rumah tangga dengan bahagia dengan laki-laki yang aja mau.” “Maksudnya, kamu nggak akan punya masa depan kalau menikah sama saya?” Acha langsung gelagapan. “Bukan gitu maksudnya. Acha ... ah, gimana sih? Maksudnya itu ... Acha ... entahlah. Pusing,” katanya kemudian. Dirga kemudian mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Laki-laki itu meraih tangan Acha yang terasa sangat dingin, membuat pemiliknya menoleh. “Ibu saya sudah tua dan sakit-sakitan. Harapan terakhir beliau adalah melihat saya menikah,” kata Dirga. Acha mengerjapkan matanya dengan cepat. Sentuhan hangat dari Dirga membuat jantungnya berdetak dua kali lipat. Pipinya menghangat kala Dirga menatapnya dengan tatapan intens. “Saya pernah gagal dalam membina rumah tangga. Saya juga pernah gagal berhubungan setelahnya. Jadi, saya berpikir jika wanita pilihan ibu adalah yang terbaik. Namun, saya tidak membayangkan akan mendapatkan gadis muda, apalagi kamu, Acha. Saya hanya ingin memenuhi permintaan ibu,” sambung Dirga. “Lalu?” tanya Acha. “Apa kita tidak bisa mencoba hubungan ini terlebih dahulu? Jika dirasa kamu tidak suka, kita akhiri saja,” kata Dirga dengan lembut. “Om, tapi ....” Acha tidak jadi melanjutkan ucapannya. Ia terpikir akan sesuatu. “Nanti, kalau pernikahan ini terjadi dan kontrak pernikahan hanya enam bulan. Bukankah berarti aku akan menjadi janda juga setelahnya?” batin Acha. “Terus, misalnya aku jadi janda. Apakah ada laki-laki lajang yang mau?” sambungnya. “Bagaimana?” tanya Dirga. Acha menatap laki-laki itu. Ia kemudian menarik tangannya dari genggaman Dirga. “Oh, maaf,” kata Dirga yang baru menyadari apa yang tadi dia lakukan. “Om yakin kalau ini akan berhasil? Om tau 'kan kalau Acha punya pacar?" tanya Acha pada Dirga. “Ini hanya pertunangan. Kita rahasiakan hubungan kita dari orang-orang kampus. Setidaknya di hadapan orang tua, kita bertunangan. Demi ibu saya, Acha,” jawabnya. “Hanya pertunangan? Baiklah. Setidaknya sampai aku menemukan cara untuk membatalkan perjodohan ini,” batin Acha lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD