EPISODE 17 JAMUAN MAKAN MALAM

1009 Words
Melihat istrinya mulai mengeluarkan taring, Dirga segera mengambil tindakan dengan meredam amarah Acha. Laki-laki itu meminta pada anak dan istrinya untuk masuk ke dalam rumah. "Nggak bisa. Manusia modelan kayak gini harus ditertibkan cara bicaranya. Enak banget dia kalau ngomong kayak gitu tanpa memikirkan mental seorang anak. Dia tua, tapi nggak bisa dituakan." Acha tampak berapi-api. Terlebih, perkataan dari Marisa adalah sesuatu yang tidak bisa ditoleransi. Biarlah seseorang mengatakan apapun mengenai dirinya. Namun, dirinya tidak terima jika Diora menjadi sasaran. "Saya bukan ibu yang melahirkan Diora. Namun, saya tetap tidak terima jika Anda berkata seperti itu." "Acha, sudah! Lebih baik kamu masuk saja bersama Diora dan untuk Ibu, Anda bisa membawa tagihan rumah sakit beserta biaya perawatannya. Saya akan bertanggung jawab setelah memastikan jika ini memang ulah anak saya," kata Dirga dengan tegas. Marisa tak menjawab. Wanita itu menghentakkan kakinya dan kemudian meninggalkan rumah Dirga tanpa banyak bicara. *** Menghentakkan kakinya dan masuk ke dalam rumah Dirga, Acha kemudian duduk di sofa dan menatap Diora yang tampak terkekeh. "Kenapa kamu ketawa? Kamu pikir, tante lucu, begitu?" ucap Acha dengan kesal. Bukannya merasa takut, Diora justru semakin terkekeh. Kemarahan Acha seperti ini bukan mahal yang baru baginya. "Lagian, Mama lucu banget kalau marah-marah. Tante Risa sampai kejungkel kayak gitu," kata Diora. "Iya. Sakitnya nggak seberapa, tapi malunya bisa berbulan-bulan." Dirga menyelam pembicaraan diantara dua perempuan itu. "Kamu apain anaknya Ibu Marisa? Kenapa sampai marah-marah kayak gitu? Serius, kamu bikin dia patah tulang?" tanya Dirga dengan lembut. "Iya kayaknya. Joni itu ngeselin banget dan suka ngejekin Diora karena nggak punya ibu. Pa, kenapa kalian nggak kasih tahu sama orang-orang, kalau kalian sudah menikah? Diora kan capek diejekin mulu," protes gadis kecil itu. Dirga dan Acha kemudian saling tatap setelah mendengar ucapan dari Diora. Acha menggelengkan kepalanya pelan dan memberikan kode pada Dirga. Dia benar-benar belum siap jika pernikahan itu dipublikasikan dan berakhir dengan diketahui banyak orang. Dirga yang memahami perasaan Acha pun mengangguk. Ia menatap pada Diora dan berkata, "Nanti kalau sudah waktunya, pasti diumumkan. Sekarang, Diora jangan kasih tahu siapa-siapa. Yang penting, Diora sudah punya mama, meskipun cuma kita aja yang tahu." Diora mengubah posisi duduk menjadi tengkurap di atas sofa. Ia merajuk, mendengar perkataan papanya. "Nggak adil buat Diora kalau kayak gini. Orang-orang masih ngejekin kalau Diora nggak punya ibu." "Diora, bukan seperti itu maksudnya. Ini ... kamu masih belum memahami situasinya." *** Matahari sudah hampir tenggelam di peraduan. Acha sedang duduk bersantai di gazebo rumahnya sendiri. Sebuah pesan masuk, mengalihkan perhatiannya. "Nanti malam saya jemput. Kita ke rumah ibu," tulis Dirga dalam pesannya. Acha mendengus. "Nggak tau orang capek apa gimana, sih? Males banget mau keluar," dumel Acha. "Tidak perlu dandan cantik-cantik. Hanya menjenguk ibu saja," pesan Dirga lagi. Acha ingin mengumpat. "Ini orang benar-benar menyebalkan." Namun, meskipun berkata dengan penuh sumpah serapah, Acha tetap membalasnya dengan jawaban, "Iya." Acha kemudian teringat akan pertemuan tadi siang. Ia tak menyangka jika selama ini Nirmala dan Dirga masih saling berhubungan. Mereka bahkan saling bertemu di luaran sana. Mungkinkah masa lalu diantara keduanya masih belum selesai? Menggelengkan kepalanya pelan, Acha tidak seharusnya memikirkan hal itu. Bukankah bagus, jika mereka masih saling berhubungan? Acha punya kesempatan untuk mengakhiri pernikahan ini. "Meskipun sudah punya janji untuk saling menerima. Hati rasanya nggak rela, menjalani pernikahan yang nggak diinginkan." Acha berjalan masuk ke dalam rumah. Ia mendapati Diora kecil sudah ada di kolam ikan miliknya dan bermain bersama Bi Sari. Senyum Diora mengingatkan dirinya tentang masa lalu. "Sama seperti Diora, gue juga tumbuh tanpa orang tua. Mama dan papa, mereka sibuk dengan pekerjaan dan lebih memilih menetap di luar kota. Bedanya, Diora masih punya papa." Bayangan masa kecilnya teringat jelas di dalam ingatan. Ia yang tumbuh hanya ditemani oleh Bi Sari dan mendiang nenek, selalu merindukan belaian orang tuanya. "Ma, sini deh! Lihat ikan yang kepalanya benjol itu. Kata Bi Sari, mulutnya sama kayak Mama yang lagi marah," kata Diora. Anak kecil itu tergelak setelahnya. "Mana ada. Bibi, jangan ngomong yang kagak-kagak sama bocil satu ini. Dia suka ngaco, tau!" kesal Acha. "Yah, kan emang begitu faktanya, Non. Dulu pas Non Acha sebesar Non Diora gini, Non Acha suka manyun kayak itu ikan. Nggak bohong, beneran." Acha berjalan mendekati keduanya. "Bibi sok tau. Acha dari kecil udah cantik dan menawan. Mana ada kayak begitu," kilah Acha. "Nggak percaya Diora. Mama pasti kayak ikan benjol itu. Iya 'kan? Ngaku aja!" Kesal diejek oleh Diora, Acha menggelitiknya. Diora tertawa kencang dengan kejahilan ibu tirinya. Sementara Dirga yang sejak tadi mengawasi keduanya dari balkon kamar pun ikut tersenyum. Sejak pindah ke rumah itu, Diora jadi banyak tersenyum. *** Malam tiba, Acha sudah tampil cantik dengan gaun sederhana berwarna abu-abu miliknya dan semakin manis dengan bandana hitam polkadot yang menghiasi kepalanya . Tas selempang berwarna hitam itu ia tenteng, sembari memainkan ponsel. "Yuk, masuk! Kita berangkat sekarang saja, biar nggak kemalaman," ajak Dirga. Acha segera masuk ke dalam mobil. Di dalam, sudah ada Diora yang memainkan ponselnya. Anak itu juga tampak ayu dengan setelan jeans. "Kita mampir restoran dulu, ambil makanan kesukaan ibu. Nggak papa 'kan?" tanya Dirga. "Nggak papa. Lagian, Acha juga nggak bawa apa-apa." Mobil kemudian melaju, meninggalkan pekarangan rumah Acha. Sementara itu, seorang wanita tampak berdiri di ujung gang, memperhatikan Dirga dan Acha dari jarak aman. "Gosip hangat dan pembalasan dendam," kata wanita itu. Di sisi lain, keluarga Dirga sedang mempersiapkan kehadiran putra dan menantunya. Bu Endah yang baru kuar dari rumah sakit pun tak mau kalah. Wanita tua itu duduk di kursi roda dan mengatur para pelayan yang menata makanan di atas meja. "Ada apa, Nek? Kok ribut banget dari tadi," kata Miko yang baru saja turun dari kamarnya. "Om Dirga sama istrinya akan datang. Kamu nggak siap-siap? Tante baru kamu mau ke rumah loh," kata Bu Endah. "Masih calon, Nek. Lagian, kenapa harus siap-siap? Gini aja 'kan bisa." "Yang sopan aja sama tamu. Tampil yang baik gitu. Apalagi, ini kali pertama dia ke sini. Jadi, tinggalkan kesan yang baik," nasihat Bu Endah. "Emang kayak apa calon istri Om Dirga? Cantik apa nggak, Nek?" "Cantik dan masih muda. Dia satu kampus sama kamu. Namanya ---"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD