EPISODE 16 ACHA BADAS

1119 Words
Acha dan Dirga akhirnya memutuskan untuk pindah pusat perbelanjaan. Mereka tak ingin kedekatan keduanya diketahui Miko dan Nirmala yang masih berada di sana. Keduanya memasuki salah satu mall terbesar di kota Jakarta. "Mau beli apa?" tanya Dirga saat melihat Acha memasuki toko sepatu. "Beli sparepart motor," jawab Acha dengan sinis. "Yang namanya orang ke toko sepatu, ya beli sepatu, Om. Pakai banyak tanya," sambungnya. "Orang cuma nanya doang. Jangan sinis-sinis sama suami sendiri," kilah Dirga. "Nanya itu yang bermutu, gitu! Udah tau jawabannya, masih nanya," kesal Acha. "Ya udah, iya. Nggak perlu keluar taring. Cepet tua, nanti!" "Nanya nggak mutu," cibir Acha. Dirga hanya terkekeh melihat wajah kesal istri kecilnya itu. Acha tampak lucu dengan wajahnya yang seperti itu. Melihat deretan sepatu, Acha tampak tertarik dengan satu sepatu berwarna merah muda. Ia menoleh pada Dirga dan memberikan isyarat mata. Dirga yang melihat itupun tersenyum dan berkata, "Lihat dulu harganya. Uang kamu cukup atau tidak, buat beli itu?" Raut wajah Acha berubah datar, membuat Dirga menahan tawa. Terlebih, sepatu tersebut langsung diletakkan di tempat semula. Acha terlihat kecewa mendengar respon Dirga. Sementara bagi Dirga, Acha tampak menggemaskan. "Punya suami kok pelit amat. Emang, apa susahnya jadi orang yang peka? Masa iya, harus ---" Acha berhenti bicara saat sesuatu terasa menggenggam tangannya. Ia menoleh dan melihat Dirga yang menunjuk pada meja kasir. Di sana, sepatu yang tadi diinginkan olehnya sudah bertengger. "Nggak usah kebanyakan ngomel kayak nenek-nenek. Sepatu yang kamu mau, sudah ada di sana," ucap Dirga yang kemudian langsung membuat istri kecilnya itu tersenyum dengan lebar. Toko selanjutnya, Acha memilih beberapa buku. Diantaranya ada buku novel. Dirga hanya mengikuti Acha yang terus berjalan ke sana kemari. "Om. Sekalian beli buku gambar Diora, nggak? Kemarin Acha lihat, buku gambar Diora tinggal beberapa lembar," ujar Acha. "Oh, ya? Saya nggak memperhatikan buku Diora. Biasanya, dia akan bilang kalau ada beberapa keperluannya yang habis." Acha menganggukkan kepalanya. Ia lalu mengambil satu buku gambar yang tampak menarik di matanya. "Diora pasti menyukai buku ini," batin Acha dengan tersenyum sinis, bak ibu tiri Cinderella. Acha segera memasukkan buku gambar itu di tumpukan buku novel miliknya. Ia kemudian mengajak Dirga kembali berkeliling. *** Setelah berjalan-jalan dan membeli kebutuhan, Dirga dan Acha pun tiba di rumah. Dirga memarkirkan mobilnya di garasi. Tepat saat mobil terparkir, Diora baru saja pulang dari bermain. "Mama sama Papa dari mana?" tanya Diora. "Belanja beberapa barang. Kamu dari mana?" tanya Acha dengan tatapan menyelidik. Ia jadi terbiasa dengan panggilan yang disematkan oleh Diora untuknya. "Dari main. Ngapain juga di rumah sendirian kalau ---" Belum selesai Diora berkata, suara teriakan terdengar dari depan dan membuat tiga orang itu menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita dengan daster bunga-bunga berwarna biru muda itu berkacak pinggang sembari berteriak, "Diora! Keluar kamu!" Teriakan marah dari ibu-ibu itu membuat Acha dan Dirga saling tatap. Keduanya pun kompak menatap pada si kecil Diora yang tampak menunduk dan meremas jari-jarinya. "Anak tidak tahu diuntung. Keluar, Diora!" Teriakan itu kembali terdengar dan membuat Diora tampak semakin ketakutan. Dirga segera keluar menemui ibu-ibu itu, sementara Acha menerima Diora dan mengangkat dagunya yang tertunduk. "Kenapa, Diora?" *** Ibu-ibu itu terus saja berteriak sampai melihat Dirga yang berjalan mendekat ke arahnya. Berkacak pinggang dan melotot, ibu-ibu itu siap meledakkan amarahnya yang sudah berada di ubun-ubun. "Pak Dirga. Bagus kalau Anda di rumah. Mana anak Bapak yang nakalnya kayak jelmaan setan itu?" tanyanya dengan tidak sopan. "Ada apa ini, Bu? Kenapa Ibu marah-marah di depan rumah saya?" tanya Dirga dengan pelan. Meskipun anaknya disebut sebagai jelmaan setan, Dirga tidak langsung mengumpat balik, atas kata-kata tidak sopan dari wanita itu. Ia berkata dengan tenang, "Kita bisa bicara baik-baik dan tidak perlu teriak-teriak di depan rumah seperti ini." Ibu-ibu itu tampak langsung geram dan menunjuk Dirga seraya berkata, "Bicara baik-baik katamu? Pak Dirga. Anak Bapak udah bikin anak saya patah tulang dan ompong. Dia sampai harus dibawa ke dokter karena ulah dari Diora. Bapak bagaimana, sih? Bisa didik anak atau tidak?" "Sebentar, Bu. Kita bicarakan ini dengan kepala dingin saja. Mari, masuk dulu!" ajak Dirga yang masih mencoba untuk tetap sabar. "Nggak bisa. Suruh aja anak setan itu buat keluar. Saya mau ... ah, itu diam Diora, sini kamu!" Diora tampak berjalan di belakang Acha. Ia begitu ketakutan dan bersembunyi di belakang, sembari memegangi baju Acha. "Diora, sini, Nak!" panggil Dirga. "Ada apa sih, Bu? Teriak-teriak gitu. Kayak punya mulut sendiri aja," sahut Acha. Diora yang ditarik oleh Dirga pun segera ditahan. Ia melihat pada Dirga dan menggelengkan kepalanya pelan. Dirga yang paham, segera melepaskan Diora. "Bu. Tahu sopan santun 'kan? Orang waras kalau bertamu itu pakai permisi, bukan langsung menggonggong," kata Acha yang langsung membuat ibu-ibu daster biru itu melotot. "Kamu ngatain saya a*jing?" "Anda yang bilang sendiri," balas Acha. "Jangan kurang ajar kamu, ya. Saya nggak lagi cari masalah sama kamu!" "Oh, ya? Kalau gitu, silakan pergi dari sini!" usir Acha. "Nggak bisa. Saya harus balas Diora dengan setimpal, seperti apa yang dia lakukan sama anak saya. Diora juga harus merasakannya." Wanita itu bergerak cepat mendekati Diora dan hendak memukulnya. Namun, Acha dengan sigap langsung menjegal langkah perempuan itu hingga membuatnya tersungkur. Dirga ternganga melihat betapa bar-barnya Acha. "Kalau Ibu berani sentuh Diora satu helai rambut pun. Saya pastikan Anda akan menyesal," kata Acha. Marisa, berdiri dari posisi tengkurap. Ia menatap Acha dengan nyalang dan berkata, "Jangan kurang ajar kamu sama saya. Kamu tahu 'kan kalau saya ini orang paling kaya di komplek ini? Jangan macam-macam kamu!" ancamnya. "Lagipula, kenapa kamu belain anak haram ini? Udah anak haram, ditinggalin ibunya lagi," kata Marisa dengan sinis. Dirga mengepalkan tangannya dengan marah. Ia hendak membalas, tapi ditahan oleh Acha. "Biar Acha yang balas manusia lidah pisau ini," kata Acha. "Bu, dengar saya baik-baik. Nggak ada namanya anak haram di dunia ini. Ibu jangan asal bicara," sahut Dirga. "Emang kenyatannya begitu 'kan? Mantan istri kamu itu melahirkan setelah satu bulan pernikahan kalian. Dia aja pas ijab, perutnya udah gede gitu. Apa namanya kalau bukan anak haram?" Acha tak tahan. Ia melayangkan sebuah tamparan telak ke pipi Marisa. Napas Acha terengah, mendengar kalimat tak senonoh wanita itu, bahkan di depan anak kecil. "Berhenti bicara! Anda pikir, karena Anda kaya, Anda bisa berkata seenaknya pada kami? Bu, kalau Ibu bisa berkata demikian tentang orang lain. Lalu, Ibu sebut apa anak Ibu yang menghamili pacarnya dan menolak tanggung jawab? Ibu nggak lupa 'kan sama anak komplek sebelah? Remaja yang meninggal bunuh diri karena dipaksa ab*rsi sama pacarnya? Saya tahu kalau itu anak Ibu!" Wajah Marisa memucat. Ia menatap Acha dengan terkejut. Ia tak menyangka jika kasus anak pertamanya yang sudah ditutupi bisa bocor. "Ibu nggak usah cari perkara. Masalah pengobatan anak Ibu, biar kami yang tanggung. Tapi, jangan coba-coba Ibu ulangi ucapan tidak pantas tadi! Saya tidak akan tinggal diam."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD