EPISODE 15 BERTEMU DIRGA DAN MANTAN ISTRINYA

1006 Words
Acha dan Miko terkejut mendapati keberadaan Nirmala di sana. Keduanya saling pandang dan Miko menggelengkan kepalanya. "Tante Nirmala kok di sini?" tanya Acha. "Iya, tadi sekalian jalan-jalan. Acha apa kabar?" tanya Nirmala. "Acha baik. Tante sendiri?" "Tante baik juga. Kalian kok bisa barengan? Pacaran, ya?" goda Nirmala. Miko tersenyum. "Iya, Tante. Jangan bilang-bilang orang tua Miko, ya!" jawabnya. "Santai aja sama Tante. Nggak akan bocor kemana-mana. Ngomong-ngomong, kalian udah pesen makan?" tanya Nirmala lagi. Keduanya menggelengkan kepala karena memang mereka juga belum memesan makan. "Belum, Tante," jawab Acha. "Tante boleh di sini 'kan? Meja lain udah penuh," ujar Nirmala. Acha menatap ke penjuru restoran. Tempat itu memang ramai dan sudah tidak ada lagi meja kosong yang tersisa. Dengan terpaksa, Acha mengijinkan Nirmala bergabung. Ketiganya memesan menu yang sama. Namun, Nirmala memesan dua menu ekstra, hingga membuat Acha dan Miko saling pandang. "Tante sendirian 'kan? Kenapa pesen dua menu?" tanya Miko dengan ragu. Ia takut hal tersebut akan menyinggung perasaan Nirmala. Di luar dugaan, Nirmala justru tersenyum dan terkekeh. "Tante nggak sendirian loh, ada temennya. Dia lagi ... ah, itu dia," ujar Nirmala. Acha menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Nirmala dan terkejut mendapati Dirga sedang berjalan ke arah mereka. Tak jauh berbeda dengan Acha, Dirga juga sama terkejutnya. "Om Dirga?" kata Acha dengan mimik wajah tak biasa. "Acha, kamu ---" "Aku tidak sengaja bertemu dengan mereka berdua. Lagipula, sudah tidak ada lagi meja kosong di restoran ini. Tidak masalah jika kita bergabung bersama mereka, bukan?" sahut Nirmala. Baik Acha maupun Dirga, tidak ada yang menyahuti perkataan dari Nirmala itu. Hanya Miko yang tampak tak keberatan dengan ucapan Nirmala. *** Keadaan menjadi sangat canggung di meja nomor sembilan. Acha hanya diam sembari memainkan ponselnya, begitu juga dengan Dirga. Sementara Miko dan Nirmala, mereka sesekali bergurau. "Saya tidak sengaja bertemu Nirmala," tulis Dirga dalam pesan singkat yang terkirim pada istrinya. Acha yang mendapatkan pesan itu hanya mendengus. Lalu, ia menatap Dirga dan tersenyum sinis. "Mana mungkin? Nggak kreatif banget kalau bohong," batin Acha. Melihat Acha tak menanggapi pesannya, membuat Dirga kembali mengirimkan pesan. "Jangan cemburu! Hubungan saya dan Nirmala sudah berakhir sejak dia melahirkan Diora. Sekarang yang menjadi fokus saya hanya kamu dan Diora," tulisnya lagi. Acha tak berniat menanggapi pesan itu. Ia hanya membacanya dan memberikan emoticon pada baris pesan Dirga. Hal tersebut membuat suaminya tampak frustasi. Dirga kemudian menggebrak meja tanpa sadar, membuat Miko dan Nirmala terlonjak dengan kaget. "Kenapa, Dirga?" tanya Nirmala dengan wajah kaget. Dirga mendadak salah tingkah. Ia tersenyum dengan kaku dan melirik Acha yang tampak menahan tawa. "Itu ... tadi, ada lalat terbang di sini." "Hah?" "Iya, Mala. Tadi, saya lihat lalat. Jadi gebrak meja tanpa sadar," kata Dirga, mencari alasan. "Oh, baiklah. Aku nggak nyangka kalau di restoran sekeren ini bisa ada lalat. Mereka pasti kurang menjaga kebersihan." Dirga tersenyum kaku. "Iya, mungkin." "Miko nggak nyangka kalau hubungan kalian masih baik-baik aja setelah cerai. Apa kira-kira ada kesempatan buat rujuk?" celetuk Miko. Mata Dirga membola. Ia menggelengkan kepalanya dengan panik. "Nggak. Nggak ada niatan bagi kami untuk rujuk," jawabnya dengan cepat. "Oh ya? Sayang sekali. Padahal, kalian kelihatan cocok," sahut Acha, sengaja mengintimidasi Dirga. "Masa sih? Menurut Acha, kami masih cocok?" tanya Nirmala. "Acha benar. Kalian kelihatan masih cocok," sahut Miko. Nirmala tampak memerah malu. Ia tersipu dengan perkataan Miko. "Doakan saja ada jalan. Tante juga maunya rujuk lagi," kata Nirmala dengan terang-terangan. Dirga mengepalkan tangannya di atas meja. Hal tersebut dapat dilihat dengan jelas oleh Acha. Raut wajahnya yang juga berubah, membuat Acha mengerti jika Dirga tidak nyaman dengan pembahasan ini. "Mala, kita sudah membicarakan ini. Apa yang kamu akhiri tujuh tahun lalu, tidak akan pernah bisa dirajut kembali," kata Dirga dengan tegas. "Tapi, setidaknya untuk Diora. Anak kita tumbuh tanpa seorang ibu di sampingnya, Dirga!" "Itu karena kamu mengejar karir. Kamu lebih mementingkan kontrak itu dibandingkan anak kamu sendiri. Jadi, jangan bawa Diora sebagai alasan," geram Dirga. Acha kemudian teringat tentang pembicaraannya bersama dengan Diora beberapa saat yang lalu. Dari nada bicara anak kecil itu, tampak rasa tidak suka terhadap ibunya. Mungkinkah itu bukan sesuatu yang dianggapnya sebagai perkataan anak-anak saja? "Aku menyesal. Makanya itu aku masih meluangkan waktu untuk Diora saat kembali ke Indonesia. Aku menjemputnya saat dapat jatah libur, Dirga." Pembahasan perasaan orang-orang dewasa itu membuat Miko menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia melirik pada Acha yang juga menatapnya. "Um ... maaf. Sepertinya Acha tidak nyaman dengan pembahasan ini. Apakah kita bisa membahas hal yang lain?" sela Miko di antara perdebatan mereka. Dirga menatap istrinya. Acha terlihat sangat tidak nyaman dengan pembahasan mereka. Ia pun mengatakan kata maaf tanpa suara. "Acha mau pulang aja. Udah kenyang," kata Acha yang kemudian berdiri dari tempatnya. Miko melongo, begitu juga dengan Nirmala. Ramen milik Acha bahkan baru disentuh sedikit. "Dia kenapa?" tanya Nirmala. "Nggak tau," jawab Miko. Dirga kemudian juga berdiri. "Saya juga pamit. Ada urusan di luar," katanya yang kemudian segera keluar dari restoran dan mengejar istrinya. Acha tampak berjalan cepat. Dirga segera meraih tangannya dan membuat langkah Acha terhenti. "Saya bisa jelaskan ini, Acha," kata Dirga. "Mau jelasin apa?" tanya Acha. "Tentang pertemuan saya dan Nirmala. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Saya ---" "Acha nggak pengen dengar apapun. Lagipula, nggak penting juga," jawab Acha dengan cepat. "Bukan begitu, Acha. Saya benar-benar tidak ada hubungan dengan Nirmala. Kami tidak sengaja bertemu karena ternyata Nirmala merupakan perwakilan agensi iklan yang akan bekerja sama dengan perusahaan." "Om. Acha nggak mau dengar apa-apa. Lagipula kenapa juga harus dijelaskan? Acha merasa nggak berhak buat dengar penjelasan itu," kata Acha dengan nada sindiran. "Kamu berhak, Acha. Kamu berhak karena kamu istri saya. Tolong, percayalah! Saya nggak ada apa-apa." Acha hanya menanggapi ucapan dari Dirga dengan mengangkat kedua bahunya. Ia tak bisa berkomentar lebih lanjut mengenai pertemuan Dirga dengan mantan istrinya. Ia sendiri merasa bersalah karena pergi bersama dengan Miko. "Udahlah! Nggak usah berlarut-larut bahas ini. Mending, Om temenin Acha belanja aja. Banyak kebutuhan Acha yang harus dibeli," kata Acha kemudian. Dirga mendadak gemas dengan istrinya. Bagaimana mood gadis ini bisa berubah dalam waktu singkat? Benar-benar perempuan luar biasa. "Boleh." "Om yang bayar, ya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD