EPISODE 14 JALAN-JALAN

1013 Words
Acha sudah menunggu lebih dari satu jam di parkiran kampus. Akan tetapi, Dirga tak kunjung muncul. Telepon dari Acha juga diabaikan saat beberapa kali gadis itu coba menghubungi. "Ke mana ini orang?" kesal Acha. Karena lelah menunggu Dirga yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Acha memutuskan untuk menghampiri laki-laki itu. Akan tetapi, Dirga tak ada di ruangannya. Acha yang terheran pun akhirnya bertanya pada salah satu dosen yang berada di dalam ruangan. "Permisi, Pak Anjar. Acha mau tanya, boleh 'kan?" tanya Acha. "Kalau kamu mau bertanya soal status saya. Mohon maaf, Acha! Saya sudah bertunangan," jawab Pak Anjar dengan percaya diri. Acha menggeleng cepat dan berkata, "Bapak percaya diri banget. Acha mau nanyain Pak Dirga aja. Kenapa nggak ada di tempat?" Helaan napas kecewa terdengar dari dosen muda itu. "Pak Dirga udah pergi dari dua jam yang lalu. Bapak lihat, Pak Dirga buru-buru, sih." Acha melotot. Jadi, Dirga sudah pulang lebih dulu? "Pak Dirga udah pulang duluan? Ya ampun. Kenapa tadi ngajakin pulang bareng, kalau ujung-ujungnya Acha ditinggal. Ngeselin banget!" "Ya mungkin karena ---" Pak Anjar tidak jadi meneruskan perkataannya, saat Acha pergi tanpa permisi. Laki-laki itu berdecak dengan kesal dan berkata, "Anak-anak sekarang emang suka gitu. Habis nanya, nggak tahu terima kasih!" *** Acha mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia merasa kesal dengan Dirga. Bisa-bisanya dia pergi setelah Acha menunggu sekian lama. "Tau gitu, nggak usah ngajakin pulang bareng 'kan? Nyusahin orang aja. Udah ditunggu juga," oceh Acha dengan kesal. "Enak aja main pergi tanpa ngomong. Setidaknya, dia bisa basa-basi sedikit atau ngasih tau," sambungnya. Hingga tiba di rumah, Acha terkejut melihat mobil yang sangat dikenalinya, sudah terparkir di halaman. "Dia ngapain?" batin Acha. Gadis itu membelokkan mobil dan memasukannya ke garasi. Tepat saat Acha keluar dari mobil, sosok tampan yang memakai hoodie abu-abu, sudah berdiri di belakang mobil. "Miko. Lo dateng kok nggak bilang dulu?" tanya Acha. Miko tersenyum dengan lembut. "Sengaja mau kasih kejutan buat pacar. Emang harus laporan dulu kalau mau jemput?" tanya Miko. Acha tersipu malu, mendengar perkataan cowok itu. "Mau ngajakin keluar?" tanyanya kemudian. "Iyalah. Lo pasti lupa sama janji kita Kamis kemarin." Acha seketika menepuk jidatnya pelan. Ia lupa dengan janji yang dibuat bersama Miko. "Gue bener-bener nggak ingat." Miko terkekeh dengan tangan terulur dan mengacak rambut Acha. Cowok itu berkata, "Udah nebak kalau lo lupa sama janjinya. Masuk sana! Siap-siap! Gue tunggu di mobil," ujar Miko. Acha mengangguk dan berjalan memasuki rumah, sementara Miko memasuki mobilnya. *** Keluar dengan sang pacar, Acha seolah lupa dengan statusnya saat ini. Kedua pemuda itu saling bergandeng tangan dan bertukar banyak cerita di dalam mobil. "Seneng banget kalau liat lo main basket dan menang. Bener-bener nggak ada lawan," puji Acha. "Bukan nggak ada lawan. Cuma belum ketemu sama yang sepadan aja. Selama ini, tim kita selalu menampilkan yang terbaik, supaya kampus nggak kecewa. Ya, semuanya bukan hal yang sia-sia. Perjuangan kita semua selalu membuahkan hasil," kekeh Miko. "Nggak. Lo terlalu merendah. Emang sekeren itu aja permainan kalian. Apalagi kaptennya," ujar Acha. "Kaptennya kenapa? Bikin jatuh cinta, ya?" Kerlingan genit dari Miko membuat Acha salah tingkah. Gadis itu mengangguk dengan malu-malu dan membuat kekasihnya gemas sendiri. "Kita udah dua tahun pacaran, tapi lo masih suka malu-malu. Pipinya merah gitu," goda Miko. "Ih, apaan, sih! Jangan gitu!" Satu jam lebih berkendaraan, mereka akhirnya tiba di sebuah pusat perbelanjaan. Acha dan Miko berjalan sembari bergandengan tangan. Keduanya tampak serasi, sehingga beberapa pasang mata memandangi dengan tatapan iri. Bagaimana tidak? Acha begitu cantik, sedangkan Miko juga sangat menawan. Mereka benar-benar membuat pasangan lain merasa iri dengan pesona keduanya. "Mau beli apa?" tanya Miko. "Nonton dulu nggak, sih? Habis nonton, baru belanja," ajak Acha. "Boleh," jawab Miko. Keduanya pun berjalan menuju tempat pembelian tiket. Sembari mengantri, Acha memutuskan untuk membeli popcorn terlebih dahulu. Namun, saat mengantri membeli camilan, seorang wanita menyerobot antreannya. Acha yang melihat itupun mendadak geram. "Mbak! Bisa nggak, sih, kalau beli itu ngantri dulu. Di belakang masih banyak orang," kesal Acha. Perempuan cantik itu menoleh dan menatap Acha dengan sinis. "Kalau saya nggak mau ngantri, kamu mau apa?" jawab perempuan itu. Acha mendengus kesal. "Berarti mbaknya ini orang yang norak banget. Kayak orang nggak pernah datang ke tempat beginian. Kenapa? Mbaknya dari pedalaman hutan, ya?" ejek Acha dengan sinis. Mata perempuan itu melebar, mendengar ejekan dari Acha. Ia tampak tak terima dan hendak mendorong Acha. Akan tetapi, Acha dengan cepat menghindar. "Nah loh. Keliatan banget kalau ini orang dari pedalaman. Nggak mau antri, ditegur nggak terima, lagi. Benar-benar mencerminkan bahwa kepribadiannya sangat kurang," ejek Acha, hingga membuat beberapa orang yang berdiri di belakangnya pun tertawa. Kesal dengan perkataan Acha dan malu dijadikan bahan tertawaan. Perempuan itu akhirnya pergi dengan menghentakkan heelsnya. *** Setelah membeli popcorn, Acha kembali ke tempat Miko. Keduanya kemudian masuk ke dalam bioskop. "Kita duduk di belakang aja," ujar Miko yang menunjuk pada bangku bagian belakang. Acha mengangguk setuju. Mereka kemudian berjalan melewati bangku yang lain dan duduk di belakang sendiri. Film di mulai, Acha tampak terhanyut dalam romansa menyedihkan dari film yang diputar. Hingga tanpa sengaja, matanya menangkap seseorang dalam gelapnya ruangan. "Itu kayak Om Dirga. Sama siapa dia?" "Apa?" Acha terkesiap dan langsung menoleh ke arah Miko. Ia menggelengkan kepalanya pelan dan menjawab, "Nggak ada. Kayak lihat orang yang gue kenal. Tapi, kayaknya bukan." Miko mengangguk. Keduanya kembali terfokus pada film. Hingga tanpa terasa, film akhirnya selesai. Orang-orang berhamburan keluar, begitu juga Acha. Ia yang masih saja penasaran dengan orang yang mirip Dirga itu pun berjalan cepat mendekati bangku tadi. Namun, sudah tidak ada siapapun di sana. "Kayaknya gue salah liat. Buat apa juga Om Dirga di sini? Dia nggak suka datang ke tempat-tempat beginian," monolog Acha. "Ayo!" ajak Miko. Keduanya kembali bergandeng tangan, keluar dari bioskop. "Cari makan dulu, ya? Laper," ajak Miko. "Boleh. Makan ramen, ya? Enak banget dimakan kalau lagi berduaan," kata Acha dengan manja. "Ayo!" Keduanya pun berjalan menuju restoran yang menjual menu tersebut. Acha menyukai momen seperti ini. Miko selalu mengikuti apapun yang diinginkan olehnya. Hingga saat mereka sudah duduk di tempat kosong, seorang wanita mendekati keduanya. "Hai, Miko," sapa wanita itu. Baik Miko maupun Acha terkejut, mendapati keberadaannya. "Tante Nirmala?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD