Sepuluh

1699 Words
Terserah Rini masih menggenggam gawainya yang sudah mulai usang kerana usia , dirinya kembali bimbang antara ragu atau yakin dengan lamaran yamg sudah di iyakan olehnya sendiri. Pikirannya pun keliling entah kemana-mana. Padahal, tepat di hari ini keluarga calon suaminya juga tengah berada di perjalanan menuju kediamannya. Sesuai kesepakatan, minggu ini kedua keluarga akan bertemu membahas kembali perihal lamaran juga pernikahan. Drrrt...drrrt Tiba-tiba selulernya berdering, sebuah notif membuyarkan lamunan Rini yang gundah, ia masih menimbang akan memberi tahu atau tidak perihal lamarannya pada Revan. Ita, sebuah nama yang di tampilkan dari panggilan selulernya. Sungguh dirinya berharap nama Revanlah yang tampil dari notif gawainya, namun tak sesuai keinginan malah sahabatnya. Rini pun segera mengusap atas layar selulernya. “Halo,” jawab Rini. Dan di seberang sana pun balik menjawab. “Rin... malam ini datang ya kerumah, kita ngumpul!” seru Ita di seberang panggilan. Sementara yang menjadi lawan bicara panggilan seluler itu masih diam tak merespon. “Rin...” panggil Ita mengulangi. “Eung... Iya,” balasnya. “Kamu, kenapa Rin? Sakit? Daritadi aku ngomong Cuma diem aja!” cecarnya, namun yang menjadi lawan bicara masih tak merespon. “Rin..” panggilnya lagi. “I..i..iya Ta, ada apa?” balasnya bertanya perihal yang sudah di jelaskan Ita. “Ntar malem, ngumpul ya di rumahku,” Ita pun menjelaskan kembali. “Aku enggak bisa, maaf ya,” jawabnya langsung menolak ajakan sahabatnya. “Loh, kok enggak bisa? Revan, kan udah balik. Daripada kamu di rumah, nahan kangen sama Revan, mending ngumpul bareng deh ama kita-kita yak!” “Eumm, enggak bisa, Ta.. maaf.” “Loh, kenapa kok enggak bisa, Rin?” mana mungkin Rini mengatakan pada Ita bahwa sore ini, rumahnya akan kedatangan keluarga calon suaminya. Meski dirinya sudah mengenal Ita cukup lama, nyatanya Rini merasa belum siap akan sebuah fakta tentang dirinya yang barangkali saja tidak lama lagi akan segera menikah. “Eum... di rumah ada acara, Ta!” jawabnya sekena. “Acara..?” tanya Ita yang beo. “Iya, sore ini mungkin sampai malam acaranya belum selesai.” Sementara Ita malah protes. “Ada acara di rumah kamu? Aku enggak di undang Rin, kenapa?” “Cuma acara kumpul keluarga, iya.. acara keluarga,” jawabnya yang tak sepenuhnya bohong. Memang hanya akan ada keluarganya dan keluarga Budi yang hadir untuk membahas lebih lanjut membahas perihal lamaran. Syukurnya Ita tak bertanya perihal apa keluarganya berkumpul. “Oh, aku pikir acara apa. Kok tumben aku enggak di undang. Rupanya Cuma acara keluarga. Ya udah, kalau gitu, ntar deh aku bilang sama yang lain juga. Kalau kamu enggak bisa ikut gabung sama kita-kita.” “Iya, aku minta maaf ya, Ta. Bilang sama yang lain juga,” pintanya. “Sama Revan, bilang juga gak?” godanya pada Rini. Dan jleg... rasanya jantung Rini berdebar kala Ita mengucap nama itu. “Ta, udah dulu ya, aku mau siap-siap,” padahal dirinya hanya mengalihkan untuk memutus panggilan seluler dengan sahabatnya itu.Tak lama berselang pintu kamar Rini terbuka, Rini mendongak, melihat ke arah pintu ternyata ada Ibu yang masuk. Dirinya pun urung memberi tahu perihal lamaran ini pada Revan. Tuti yang memasuki kamar putri sulungnya menatap tanya pada anaknya. “Kamu kok belum siap-siap Rin?” “Rini baru siap kok Buk,” jawabnya sekena. “Siap apa, nih lihat,” tunjuknya ke arah Rini. Sementara Rini malah menjawab enteng. “Siap nelpon Buk, sama Ita.” “Bukan, bukan itu yang Ibuk maksud. Nih..lihat kamu belum dandan, bentar lagi loh itu calon suamimu sampek. Masak setelanmu begini aja, Rin!” jika pada umumnya perempuan yang akan menyambut kedatangan calon suami dengan sukacita, alih-alih berdandan semaksimal mungkin atau menggunakan dress terbaik, beda halnya dengan Rini. Dirinya hanya mengenakan setelan kulot di padu blouse berlengan sesiku. Pantas saja jika Tuti ngedumel mendapati tampilan Rini yang sesimpel itu. Bahkan style nya lebih cocok di kena untuk makan warung bakso. “Memangnya salah ya, Buk. Kalau Rini begini doang, kan malah bagus sederhana, ndak usah norak toh Buk!” alasannya memakai kata sederhana padahal dirinya tak ada semangat menjalani ini. Belum lagi selesai bimbangnya perihal ingin atau tidak memberitahukan lamarannya kepada Revan, sekarang malah di tambah lagi Ibunya ngedumel membahas penampilannya. “Bukan mau menyalahkan, tapi Rin maunya kamu itu ya mbok dandan gitu lho. Ini kok malah teleponan sama,”- belum sempat Tuti menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba suara dari luar terdengar ucapan salam. Ya, sudah bisa di pastikan jika itu sahabat sekaligus calon besannya Tuti. “Waaalaikumsalam, tuh kamu denger, Budi sama keluarganya udah dateng,” ucap Ice yang langsung merubah mimik wajahnya, senyumnya pun mengembang. “Ya udah, kalau gitu kamu siap-siap dulu. Ibu mau temui mereka,” titahnya sambil mengusap lengan Rini dan berlalu meninggalkan kamar Rini *** Di ruang tamu sudah ada Budi beserta keluarga yang sudah lebih dulu di sambut oleh Surianto, bapaknya Rini. Sudah pasti bisa di tebak senangnya seperti apa perasaan kedua orang tua Rini yang mendapat lamaran dari orang yang tak lain adalah sahabat mereka dari sejak jaman sekolahan. Mereka pun duduk di sofa ruang tamu yang belum lama di beli oleh Rini. Jika biasanya Budi yang menjadi sopir untuk kedua orang tuanya, kali ini dirinya lebih memilih menjadi penumpang dan Aguslah yang mengambil peran menjadi sopir untuk mereka semua. Bukan karena apa, Budi begitu gugup bahkan sebelum berangkat ke rumah Rini, dirinya bahkan berkali-kali bertanya kepada adik bungsunya mengenai penampilannya. Budi yang biasanya mengenakan kemeja kebesarannya dengan ujung bagian baju yang di selip ke dalam celana. Kali ini dirinya tampak mengenakan baju batik berlengan panjang, tapi tidak dengan ujung baju yang di selipkan ke dalam seperti biasa. Budi pun tampak sedikit resah entah karena saking bahagia sebab lamarannya di terima oleh Rini atau entah karena sudah tak sabar ingin melihat Rini. Hal ini tentu tak luput dari pandangan Rehani. “Mas...” panggil Rehani pelan pada kakak sulungnya. Sementara yang di panggil malah celingukan, matanya mencari-cari. Rehani pun sedikit menyenggol paha Budi yang kebetulan memang duduk tepat di sebelahnya. Dan yang di senggol baru sadar, menoleh ke arah Rehani. “ Hemm.. apa Han?” “Jangan celingak-celinguk begitu, kayak apa gitu kesannya.” padahal mereka bukan kali pertama datang kesana, tapi entah mengapa kedua kakak beradik itu malah terkesan seperti baru pertama kali menginjakkan kaki mereka. Tuti pun menyuruh Mayang memanggil Rini yang ia tahu masih berada di dalam kamar. Setelahnya Mayang pun kembali menghampiri ibunya.“Buk, Mbak Rini enggak ada,” ucapnya yang juga di dengar oleh Budi. “Loh, tadi Mbakmu ada di kamar kok!” Tuti pun heran mengernyitkan alis, pikirnya kemana pergi anaknya. Sementara Budi yang mendengar ucapan Mayang, entah mengapa pikirannya seketika semakin bertambah kacau merasa resah memikirkan ucapan Mayang. Di tengah keresahannya, tiba-tiba bibirnya membentuk sebuah sudut. Senyumnya pun seketika meredam keresahan yang sedari tadi menyelimuti dirinya ketika sosok yang di carinya muncul dari arah dapur membawa nampan dengan beberapa gelas diatasnya. Rini pun berjalan ke arah mereka yang sedari tadi memang datang untuk niatan dirinya. “Kamu bilang Mbakmu pergi, lah ini!” Tunjuk Tuti ke arah Rini, sementara Mayang yang jadi lawan bicara pun tak mau kalah berucap. “Tadi emang aku enggak ngelihat Mbak Rini di kamar.” Sementara Budi sedikitpun tak mengedipkan matanya setelah Rini juga ikut duduk di antara mereka. Pandangannya sunģguh tak lepas dari Rini. Sementara Rini sendiri hanya menunduk tak bergeming. Rehani yang begitu peka dengan keadaan Budi segera menyenggol pelan lengan Budi dengan sikutnya. “Mas..” cebiknya sambil menyikut kembali. Sementara yang di senggol hanya berdehem. “Mas..” panggilnya lagi. Kali ini yang di sikut menoleh. “Apa sih,” lirihnya merasa di terganggu. “Kondisiin tu matanya, enggak malu ih, bucin.” Sementara Ice yang duduk bersebrangan melihat keanehan dari dua orang yang terlihat berdebat, namun entah apa yang di debat pun dirinya tak tahu. Biasanya Ice, akan secara terang-terangan menegur dua orang anaknya ini dengan garang. Tapi kali ini dirinya harus sedikit menahan kegarangannya, bukan apa, kali ini dia datang bukan untuk sekedar berkunjung ke rumah sahabatnya. Melainkan untuk perihal lamaran putra sulungnya. Dan Ice hanya bisa mengode dua orangnya ini lewat matanya yang sedikit mendelik. Arman selaku bapak dari Budi pun mulai membuka suara, untuk mulai membahas lamaran. “Gimana perihal lamarannya Rin, kamu benar setuju? Sebelumnya kami sudah dapat kabar dari Ibumu, tapi kami juga harus memastikan dari kamunya langsung.” Rini pun menatap ke arah dua orangtuanya, sebuah senyuman pastinya yang dirinya lihat. Dia pun mengangguk setuju meng-iyakan. “Terus kapan nih kira-kira mau akadnya?” Ice pun buka suara bertanya. Budi dengan semangat empat lima nya menjawab. “Lebih cepat lebih bagus, Buk!” “Kamu ini, enggak sabaran banget!” cebik Arman pada putra sulungnya. Sementara Rehani yang duduk tepat di sebelah Budi, langsung reflek menyikut lengannya dengan bibir manyun dan Budi hanya menghela napas menanggapi sikut adiknya. “Yang Ibu tanya itu Rini, malah kamu yang jawab,” ucap Ice menimpali sang suami. Tuti selaku calon mertua Budi malah sedikit membela ucapan putra sahabatnya. “Tapi Ce, Rini juga nikahnya bakal sama nak Budi, ya wajar kalau Budi juga ikut ngejawab. Kelihatan banget ya Ibunya Rini ini demen kalau Budi nikah sama anaknya. “Gimana, Rin?” ucap Ice seolah mengulang pertanyaan yang sama. “Eumm...” Kembali Rini menatap dua orang tuanya, jarinya pun terlihat menggulung-gulung ujung blousenya. Seolah menunggu jawaban dua orangtuanya, padahal pertanyaan singkat itu hanya butuh jawaban darinya. “Kamu maunya kapan, hemm,” tanya Tuti pada Rini yang menatap ke arahnya. “Terserah, Buk!” “Loh, kok terserah. Yang mau nikahan kan kamu, Rin.” “Lah itu, Ibuk tau yang mau nikah itu,” gumamnya dalam hati. “Terserah Ibuk aja,” jawabnya sekena. Bukan kah dari awal semua yang nentuin bukan Rini, tapi mereka. Wajar saja jika Rini cuma menjawab sekedar. “Bagaimana kalau kita tunggu sampai surat kelengkapan nikahannya selesai di urus? Sambil kita nyiapin tuh keperluan-keperluan yang lain. Oh iya Rin, kamu mau nya di gedung mana untuk acaranya?” Seantusias ini calon mertuanya dengan pernikahan ini pikirnya, sementara dirinya sendiri malah tak memikirkan hal itu sama sekali. “Gimana Rin?” tanya Ice kembali memastikan persetujuan Rini. Sementara Rini meng iyakan. “Eum.. ya udah terserah Ibuk aja, tapi...” bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD