Sembilan

1542 Words
Bapak-bapak “Mbak.. Mayang boleh masuk gak?” Izinnya sebelum masuk ke kamar sang kakak. “Biasanya juga langsung nyelonong, tumben kamu izin!” sahut Rini yang ada di kamarnya. Sementara yang minta izin langsung masuk dan duduk bersisian tepat di samping Rini di tepian ranjang. “Mbak,” panggilnya. Hanya deheman yang di jawab Rini, ia juga menatap gawai yang sedari tadi di genggam. “Mbak,” panggilnya lagi. Yang di panggil menoleh. “Apa sih, May? Dari tadi cuma manggil mbak, mbak mulu!” Kesalnya. “Mbak serius mau nikah sama Bapak Bapak itu?” Rini menoleh heran. “Bapak- bapak?” alisnya pun mengkerut. “Iya.. Bapak-bapak itu!” “Bapak siapa? “ “Yah, Mbak, siapa lagi kalau bukan yang ngelamar Mbak kemaren?” belum juga nikah dan punya anak, Mayang malah sudah ngasih gelar tambahan untuk Budi. “Ooh.. itu anaknya Bu Ice! Dia belum punya anak, belum juga nikah, May. Kok kamu bilang Bapak-Bapak,” ucapnya dengan enteng. “Tapi, Mbak dia kan emang kayak Bapak-bapak. Mbak gak lihat gayanya tuh, kalau datang ke sini selalu pakai kemeja. Mana di masukin lagi, persis kayak Bapak kita!” Bukan tanpa alasan Mayang berucap, memang nyatanya Budi selalu mengenakan kemeja kebesarannya, jika tengah menemani Bapak Ibunya berkunjung ke rumah dua sahabatnya. Rupa-rupanya hal ini tak luput dari pandangannya. Bukan karena Budi tak pandai begaya, menurutnya style seperti itu akan berkesan lebih sopan ketimbang mengenakan kaos oblong atau sejenisnya. Tapi mirisnya di mata Mayang style itu malah terlihat seperti Bapaknya. Sementara yang jadi lawan bicara cuma menghela napas. “Mbak..” panggilnya lagi. “Apa?” “Mayang serius Mbak. Mbak beneran mau nikah sama Bapak-Bapak itu?” masih dengan pertanyaan yang sama. “Emangnya kenapa May, apa bisa mbak nolak?” yang di tanya malah balik tanya. “Mbak ini gimana sih? Yah tinggal tolak aja, kalau Mbak nikah sama Bapak-Bapak itu, trus Mas Revan gimana? Itu namanya Mbak enggak setia, ngekhianatin Mas Revan!” ucap Mayang seperti sudah pengalaman, padahal dia sendiri masih jomblo. Sementara Rini menjawab pelan sambil nunduk. “Enggak ada yang mbak khianatin!” Mayang malah heran. “Enggak khianat gimana Mbak?” Alisnya mengkerut heran. “Ya enggak May!” Mayang semakin bingung. “Loh, Mbak sama Mas Revan kan pacaran. Kalau Mbak nikah sama orang lain, itu namanya apa kalau bukan berkhianat, Mbak enggak setia,” ucapnya lagi. Wajar jika Mayang berkata demikian, yang dirinya tahu kakak sulungnya ini tengah dekat dengan Revan yang kini sedang melanjutkan studinya di kota lain dari tempat tinggal mereka. Bahkan dia juga sering menjadi tumbal jika kakaknya pulang terlambat. Apalagi kalau bukan jadi pekerja cuci piring di rumah menggantikan tugas sang kakak yang ia ketahui jika tengah berkencan dengan Revan. Bukan ngedumel atau apa, Mayang justru akan dengan senang hati menggantikan sang kakak mengerjakan tugas rumah yang seharusnya di kerjakan Rini. Asalkan ada imbalan tak masalah baginya. Cokelat silverking, bakso, atau makanan kesukaan lainnya akan di terima oleh Mayang jika sang kakak pulang terlambat dan tak bisa mengerjakan jatah cuci piring di rumah. Akh, lebih tepatnya memang sang kakak paling tidak suka mendapat jatah cuci piring, ia lebih suka mengerjakan tugas rumah yang lain, asal bukan cuci piring. Mayang yang notabennya masih berstatus pelajar dengan uang jajan seadanya, malah semakin memanfaatkan situasi ini untuk memeras kakaknya. Selain coklat atau makanan favoritnya terkadang dirinya meminta di belikan baju atau vocher kuota internet yang sudah pasti menjadi tagihan bulanan di setiap tanggal gajian kakaknya. Bukan Rini tak mau memberinya cuma-cuma pada Mayang, bukan pula ia tak sayang pada adik bungsunya. Hanya saja, Rini ingin memberi pengajaran bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang di inginkan tidaklah mudah hanya dengan menengadahkan tangan ke atas, tapi harus dengan sebuah jerih payah. “ Mbak sama Revan cuma sahabatan, gak ada istilah gak setia,” jelasnya lagi pada Mayang. Sementara Mayang makin Bingung. “Jadi... Mbak sama Mas Revan itu,,," ucap Mayang menggantung. “Iya... Mbak sama Revan gak pacaran!” Rini pun menjelaskan bahwa Revan hingga saat ini tak pernah menyatakan perasaan cinta padanya. Mayang dengan tenang menjadi pendengar yang budiman, kemudian menyuarakan idenya. “Tapi, Mbak kan bisa tanya langsung sama Mas Revan gimana perasaannya sama Mbak?” “Enggak bisa gitu May, Mbak ini perempuan. Masa iya, mbak yang bertanya duluan. Kalau iya, Revan punya perasaan sama Mbak, kalau enggak mbak kan malu!” Jelas Rini masih ingat dengan ucapan Revan ketika terakhir kali bertemu dengan pria itu. Bagaimana mungkin Rini akan berpikir jika Revan memiliki rasa yang sama dengannya, jika terang-terangan Revan bilang dirinya tak pernah merasa di gombali. “Terus, Mbak mau nikah sama Bapak-Bapak itu?” berkali-kali Mayang mengatai Budi. Jelas ia kurang setuju dengan perjodohan antara kakaknya dengan pria yang selalu di sebut bapak-bapak. Padahal, Mayang belum tahu saja bentuk asli di balik kemeja kebesaran yang selalu di kena Budi. Apalagi kalau Budi sudah pakai jas kantorannya, jangan di tanya lah penampilan anaknya Bu Ice ini. Yang Mayang tahu hanya perbedaan umur sepuluh tahun antara kakaknya dengan bapak-bapak itu. Mendengar pertanyaan Mayang, Rini pun berdehem dengan anggukan kepalanya. “Kenapa Mbak mau nikah sama bapak-bapak itu, dia udah tua Mbak. Mbak bisa nolak perjodohan ini. Mbak punya hak buat nolak,” ucapnya yang seperti orang yang sangat pengalaman. “Enggak bisa, May. Mbak gak bisa nolak. Bu Ice sama keluarganya itu baik banget sama keluarga kita. Kamu enggak tau, kan. Dulu Bu Ice itu, sering nolongin keluarga kita!” Rini pun mulai bercerita pada Mayang, begitu banyak pertolongan yang di terima keluarganya. Bahkan sampai urusan pendidikan pun keluarga Bu Ice punya andil dalam hidup Rini. Rini pun jadi ingat kembali dan bercerita jika pria yang di gadang akan jadi suaminya pernah memberikan tabungannya di masa kecil, sebuah wadah berbentuk gembok warna hitam berisi uang di terima secara cuma-cuma. "Ini celengannya Mas, kamu bongkar terus ambil duitnya buat daftar sekolah, kalau Ibuk enggak ada duit, pakai ini. Jangan sampai tahun ini enggak daftar sekolah lagi ya, Rin." sekilas ucapan itu terngiang di telinga Rini. Ya. itu adalah ucapan Budi kecil, Budi yang menyayangi layaknya seorang adik. Tapi kini malah akan mempersuntingnya. “Jadi... maksud Mbak, mau nikah sama Bapak-Bapak itu karena Mbak mau balas budi?” Rini menggangguk tanpa melihat lawan bicaranya. “Enggak musti nikah sama Bapak-Bapak itu juga Mbak, kalau mau balas budi. Atau gini deh, berapa emang uang celengannya Bapak-Bapak itu yang pernah Mbak pakai, Mbak kan udah kerja, udah punya duit, kembaliin deh tu duitnya," terangnya dengan santai. “Tapi, mbak udah kadung nerima. Gimana dong May?” lirihnya lagi. “Lagian kalau mbak nolak lamaran dari Bu Ice, alasannya apa? Mbak sendiri juga enggak punya calon. Terus kalau mau mulangin uangnya anak Bu Ice, gak mungkin selempeng itu May. Bukan perkara uang, tapi lebih keinget sama kebaikannya Bu Ice!” “Trus gimana dong, Mbak? Mbak, enggak usah nikah sama Bapak-Bapak itu, batalin aja Mbak!” Rini yang di beri saran malah bikin kaget Mayang. “Trus kalau bukan mbak yang nikah sama anak Bu Ice, siapa? Siapa yang mau ngegantiin mbak? Kamu?” “Hhhaaahh... iii... e-enggak! Mayang enggak mau, lagian Mayang masih sekolah. Tetiba Mayang merasa ngeri dengan ucapan kakaknya. Sedang yang di lamar adalah kakaknya saja dia tak setuju, apalagi jika dia yang di lamar, sudah pasti dirinya tolak mentah-mentah. Melihat tanggapan Mayang yang begitu toa, Rini pun segera membungkan mulut adiknya dengan tangannya sambil mendongak ke arah pintu kamar. “kamu jangan keras-keras ngomongnya May, nanti kalau Ibuk denger omongan kita gimana?” “Ya biarin aja Mbak, karuan Ibuk tau, biar Mbak gak perlu nikah sama tu Bapak-Bapak!” Rini sendiri entah mengapa meski dirinya amat cinta dengan Revan, tapi tetap saja tak bisa menolak keinginan Bu Ice untuk menjadikannya menantu. Rini bukan seperti kacang yang lupa akan kulit, dirinya masih sangat mengingat segala kebaikan dari calon mertua sekaligus sahabat orang tuanya. Meski hati dan ucapannya saling bertolak belakang, lantas ia bisa apa. Keputusannya untuk menerima lamaran Budi pun bukan serta merta tanpa pertimbangan, setiap pertiga malamnya Rini tak lupa meminta petunjuk pada Sang Ciptanya, sebelum ia memberikan kabar bahagia pastinya untuk Budi dan keluarga. Entah mengapa, meski hati selalu berpihak pada Revan tapi selalu pentunjuk mengarah kepada Budi, yang notabennya sudah di anggap Rini seperti saudara laki-lakinya. Selain hal itu, ia juga tak ingin mengecewakan orang tuanya juga Bu Ice yang pasti sangat berharap akan menjadi besan dari sahabatnya. Dasarnya Rini memang anak yang penurut pada orang tuanya, maka ia juga tak ingin di anggap anak yang tak tau bakti. Pernikahan yang akan terjadi ini justru di anggap Rini sebagai bakti pada kedua orang tuanya juga sebagai bentuk untuk membalas kebaikan-kebaikan yang pernah dirinya dapat beserta keluarga dari Bu Ice. Tanpa berpikir akan seperti apa pernikahan yang di jalaninya kelak, biarlah pikirnya. Asal kedua orang tuanya bahagia, juga menurutnya akan lunas lah segala kebaikan dari Bu Ice jika dirinya menikah dengan Budi. Hingga hari dimana kedua keluarga itu bertemu kembali untuk membicarakan seperti apa kelak acara pernikahan yang akan di gelar, Rini masih saja mengalami gundah hati. Ia sejenak berpikir, apakah dirinya perlu mengatakan hal ini pada Revan atau tidak. Jika Rini mengatakan ini pada Revan takutnya dirinya sendiri pula yang akan goyah, mengingat dirinya akan menikah tapi bukan dengan Revan sang pujaan hati melainkan Budi.. bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD