Atun ada salah?
Kediaman Budi
Pagi itu, Budi tengah bersiap untuk pergi ke tempat kerjanya. Walau usaha yang di milikinya belum mencapai tingkat sukses seperti para crazy rich, Namun usahanya bisa di katakan lumayan berjalan lancar dan menghasilkan cukup pundi-pundi rupiah. Perusahaan advertising yang di rintisnya sejak beberapa tahun silam nyatanya cukup berkembang, terlebih lagi Budi termasuk pengusahawan yang cukup pandai dalam menggaet para kliennya.
Beberapa brand ternama bahkan sudah mulai mempercayakan kinerja perusahaan yang di pimpin olehnya. Sebagai pemilik dari perusahaan yang memiliki cukup banyak karyawan, sudah wajar jika ia memiliki sikap tegas dan wibawa serta terkadang terkesan dingin di hadapan karyawannya. Memiliki wajah yang tampan, postur tubuh yang ideal, serta punya cukup banyak uang, nyatanya tak mengubah gelar yang di raihnya secara percuma di usia matangnya.
'Bujang lapuk', adalah gelar yang sering di sematkan padanya. Bukan karena dia pemilih, atau memiliki kriteria khusus dalam perihal mencari pasangan. Tapi di karenakan sebuah trauma di masa lalu yang membuatnya menjadi begitu berhati-hati untuk menempatkan hati agar tidak salah dan mengalami kejadian serupa. Pengalaman di khianati oleh orang yang sangat di cintai sungguh membuatnya terpuruk, sempat frustasi dan hampir tak ingin merasakan indahnya jatuh cinta lagi.
Kehidupannya yang berada di tempat berbeda dari kedua orang tuanya, mungkin juga salah satu penyebab dirinya dengan mudah di khianati sang kekasih.
Budi yang kala itu menjalani percintaan jarak jauh, nayatanya begitu mampu menjaga kesetiaanya. Meski perusahaan yang di kelolanya jelas-jelas sering berhubungan dengan wanita-wanita cantik, entah itu sekelas model, selebriti atau selebgram, tetap dirinya mampu menjaga pendiriannya dengan hanya mencintai satu wanita. Bukan ia tak mampu, bahkan cukup mampu bagi dirinya. Hanya saja dia adalah tipe lelaki yang benar-benar menjunjung nilai kesetiaan dalam cinta.
Tapi kesetiaan yang selama ini di jaga, malah hancur dan hilang oleh sebuah pengkhianatan.
Namun, sosok Rini mengubah segalanya. Rasa percaya diri yang pernah hilang seketika kembali. Cinta di hatinya pun bersemi kembali, wajah suram berganti berseri.
***
Di depan wastapel dapur kediaman Budi, ada Atun yang tengah berkutat mengerjakan kesibukannya. Atun adalah asisten rumah tangga yang di pekerjakan sudah hampir tujuh tahun lamanya. Bahkan, Atun sudah sangat paham dengan tabiat sang majikan.
Jangankan untuk tersenyum, berbicara pun hanya mengenai hal-hal yang penting saja. Atun sudah sangat mengerti jelas silsilah kehidupan majikannya beserta keluarga besarnya.
Sebelumnya, ibu kandung Atun, mbok Jumi sudah terlebih dahulu bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah orang tua majikannya. Dan kini sudah tidak bekerja lagi dikarenakan usianya yang sudah tak memungkinkannya untuk bekerja lagi.
Dan Atun mendapat tawaran yang serupa. Tapi, tidak untuk bekerja di kediaman Ice dan Arman, melainkan di rumah anak sulung mereka. Atun pun menyetujuinya sebab suaminya juga bekerja di salah satu pabrik yang ada di kota itu. Kota yang sama dengan tempat kediaman anak sulung Ice dan Arman tinggal.
Selain mendapat gaji untuk tambahan pemasukan rumah tangganya juga sekaligus dapat menghemat biaya untuk menyewa rumah karena status mereka sebagai perantau. Namun untuk perihal keturunan, Atun belum memilikinya. Meskipun sudah bertahun-tahun menikah dengan Uus suaminya.
Atun yang sedari tadi sibuk dengan rutinitasnya, sesekali mendongak ke arah majikannya yang tengah duduk di depan meja makan. Ia melihat majikannya itu tampak berbeda, tidak seperti biasanya. Kala itu Atun melihat sang majikan yang juga tengah menjawab telepon selulernya dengan raut wajah yang sumringah menampilkan senyum tipis.
Tak lama setelah sang majikan selesai dengan panggilan selulernya, terdengar pula panggilan yang di tuju untuk dirinya. "Tun...” Panggilnya.
Dan yang di panggil pun sontak menjawab. “Iya, Pak.”
“Kamu kesini bentar, saya mau ngomong.”
Atun pun menghentikan rutinitasnya di hadapan wastapel dan menghampiri majikannya.
“Duduk, Tun!” titahnya yang di ikuti gerakan Atun menarik kursi depan meja makan lalu mendudukkan diri.
“Ada apa ya, Pak? Atun, ada salah?” tanya Atun yang sedikit bingung melihat ekspresi tak biasa sang majikan.
“Tun, saya akan menikah!”
Sementara yang jadi lawan bicara malah menjawab dengan balik bertanya. Memang sudah menjadi tabiat Atun selama bertahun-tahun bekerja di rumah itu, ia akan selalu merasa ingin tahu alias 'kepo' dengan segala urusan majikannya tersebut.
Hal itu juga bukan tanpa alasan, mengingat nyonya besarnyalah yang memintanya untuk bersikap demikian. Meminta agar mengamati setiap pergerakan putra sulungnya, yang bilamana jika mendapati sesuatu hal yang tak biasa agar melapor kepadanya.
Mengenai hal itu, bukanlah sangat tidak mungkin diketahui oleh Budi. Dan andai orang lain yang menjadi majikan Atun, alih-alih akan marah dan mungkin akan langsung memecat pekerja yang seperti itu. Namun, tidak sama halnya dengan Budi, majikan Atun itu hanya membiarkan asisten rumah tangganya itu bekerja sama dengan ibunya untuk memantau setiap gerakannya.
Selama itu tidak berlebihan dan masih dalam batas normal, itu tak jadi masalah baginya.
“Akh... serius, Pak? Siapa cewek yang beruntung itu, Pak? Kira-kira orangnya kekgimana, Pak. Atun musti tau nih, Pak. Kan, bakal jadi majikannya Atun!" Atun dengan antusias bertanya siapa calon majikan perempuannya kelak. Dan Budi pun dengan penuh semangat menjelaskan detil kepribadian Rini yang dia tahu...
“Rini...”
“Rini? Ooh... jadi nama calon istri Bapak Buk Rini?” Atun pun antusias mendengar ucapan Budi selanjutnya, juga sambil menyalurkan rasa keponya.
"Pasti.. Ibuk itu orangnya cantik, iya kan, Pak? Sudah berapa lama Pak, kenal sama Ibuk, oh ya Pak, orangnya enggak sama kayak Buk Manda kan, Pak? Maaf ya Pak, kalau boleh jujur, Atun kurang seneng kalau sama Buk Manda. Eumm.. maaf Pak, dia itu angkuh!” Begitulah Atun, sudah menjadi tabiatnya akan untuk bertanya hal-hal yang ingin di ketahui tanpa ada rasa sungkan sedikitpun pada sang majikan. Hal ini juga terkadang membuat jengah sang majikan tetapi juga terkadang menjadi sebuah hiburan tersendiri bagi Budi.
“Enggak, dia sangat berbeda. Tidak seperti Manda. Dia supel, ceplas ceplos, juga sederhana,” terangnya sambil membayangkan Rini, senyumnya pun ikut memantul seiring dengan ucapannya.
“Kalau gitu, enggak cantik dong Pak? Kok Bapak mau?” ucap Atun yang sempat membuat sang majikan menoleh sekilas.
“Siapa bilang enggak cantik? Cantik kok!” belanya dengan kagum. Malah cantik sekali, dia juga manis!” masih dengan senyum membayangkan wajah Rini.
“Yaelah Pak... tadi kan Bapak sendiri yang bilang. Kalau Buk Rini beda dengan Buk Manda. Baru juga di bilang Pak, masa sih udah lupa!” terkadang memang Atun ini sedikit lemot, tapi cukup sedikit menghibur dengan kelemotannya.
Budi pun menjelaskan lagi pada sang asisten rumah tangganya, walau waktu keberangkatannya menuju tempat kerja sedikit tersita, ia pun senang hati meladeni pertanyaan yang bejibun dari Atun.
“Maksud saya itu Tun...Rini itu enggak seperti Manda, bukan berarti dia itu enggak cantik. Tapi lebih ke sifat dan sikapnya. Kalau kamu bilang Manda itu angkuh, beda dengan Rini. Dia supel, ramah, sederhana. Dia juga enggak matre dan itu yang paling saya suka.”
“Ooh, bilang dong Pak daritadi! Atun kan jadi mikir, kok Bapak mau kalau enggak cantik. Oh iya Pak, kalau Atun boleh tau, udah berapa lama Bapak kenal sama Ibuk? Atun bukan mau ikut campur ya Pak, Cuma... Atun khawatir, dan jangan sampai Bapak mengalami hal yang kayak dulu-dulu!” Nyatanya Atun memang sudah ikut campur dengan semua pertanyaan keponya, tapi ada segi positif yang di tampilkan Atun. Atun juga tak ingin majikannya ini mengalami hal pahit di masa lalunya Budi. Karena jangka waktu bekerja Atun yang sudah cukup lama, tak khayal ia pun mengetahui kejadian pahit yang di alami majikannnya.
“Sudah dari sejak dia lahir, saya sudah kenal sama dia,” jelasnya yang bikin Atun melongo.
“Dari lahir?” makin heran dengan alis kerutnya.
Sementara yang di tanya malah jawab singkat. “Iya.”
“Maksudnya gimana Pak, Atun enggak ngerti!”
“Dia itu, anaknya teman Bapak sama Ibuk, yang sering di kunjungin kalau pas weekend!”
“Ooh..” hanya oh, entah paham entah tidak.
“Kita enggak pacaran, saya rasa juga enggak perlu pacaran, udah kenal dari dulu!” ucapnya sekilas melihat Atun.
“Dijodohin, gitu Pak maksudnya?”
“Enggak juga, saya yang suka, yah... langsung lamar. Alhamdulillah tadi baru dapat kabar, kalau lamaran saya di terima.”
“Alhamdulillah, pantesan aja Bapak daritadi Atun lihat senyum-senyum, rupanya karena ini.”
“Saya mau berangkat Tun, jangan lupa tutup & kunci pagarnya.”
“Iya, Pak.”
bersambung...