Tujuh

1258 Words
Satu minggu kemudian. Ruang makan adalah tempat berkumpulnya semua anggota keluarga Budi. Pagi itu juga menjadi salah satu saksi kabar bahagia untuk keluarga Budi. Drrrttt ... drrrrt. Terdengar notifikasi dari gawai seorang wanita paruh baya. Dari layar pipih milik Ice terlihat sebuah nama yang melakukan panggilan. Ice segera mengusap ke atas layar ponselnya. "Halo, assalamualaikum. Ada apa, Tut?" "Wa alaikumsalam. Alhamdulillah, kita bakal jadi besan, Ce. Rini setuju dan nerima lamaran dari keluargamu." Ice yang mendapat kabar masih belum percaya. "Kamu serius ini kan, Tut? Enggak bercanda 'kan?" "Aku serius, Rini sendiri kok yang ngomong sama aku, habis subuh tadi!" "Alhamdulillah, Terimakasih ya, Tut." "Jangan sama aku bilang terima kasihnya, tapi sama Rini . Dia yang di lamar." "Yah, sama kamu juga, Tut. Kalau kamu enggak kasih izin, mana bisa kami melamar putrimu!" Setelah memutuskan sambungan selulernya, riuh di dalam seantero rumah keluarga Budi pun terjadi, apalagi jika bukan karena kabar yang barusan Ice terima dari sahabatnya sekaligus calon besannya. "Wah, akhirnya Mas Budi bakalan sold out juga ya, Buk!" ucap Anti istrinya Heri. Ia merupakan anak kedua dari Ice dan Arman. Sementara Rehani yang juga berada di ruang makan keluarga juga ikut andil bersuara, "Ini juga berkat Ibuk, Mbak. Iya kali, Mas Budi mau langsung gercep ngelamar Mbak Rini. Mana pake acara sok-sok mengamatin lagi, udah kayak ala-ala detektif, padahal dari lahir juga udah kenal, udah sayang, iya 'kan, Buk?" "Iya, betul. Tapi rasa sayangnya waktu masih kecil 'kan berbeda. Sekarang sudah besar, sudah dewasa. Hhuuh ... Ibuk masih enggak nyangka bakal jadi besan sama temen Ibuk sendiri. Apalagi kalau inget Masmu itu dulu pernah minta Rini dibawa pulang ke rumah. Lantaran belum punya adik perempuan. Masmu bilang, Rini itu cantik, dia mau Adik yang kayak punya Buk Tuti," ucap Ice meniru Budi kecil sambil mengingat masa lalu. "Mas Budi enggak bisa bawa pulang Rini sebagai Adik, tapi malah di boyong jadi Istri." Tawa mereka bertiga pun lepas seketika yang masih berada di kursi depan meja makan. Sementara Arman dan anak lelakinya sudah memulai aktivitasnya sehari-hari. Biasanya Anti dan Rehani sering ribut perihal masalah sepele. Entah itu berdebat masalah rutinitas keseharian atau masalah-masalah kecil lainnya. Namun, bukan berarti keributan diantara mereka memicu kebencian sesama, tetapi justru sebaliknya. Jika salah satu tidak terlihat, maka akan saling mencari-cari keberadaan yang lainnya. Sangking semangatnya mereka bertiga membahas terkait perihal lamaran, tak satupun diantara mereka yang ingat kepada tokoh utama yang sejak tadi mereka bicarakan. Mereka malah sibuk sendiri, membahas bagaimana acara lamaran hingga resepsi yang kelak akan di gelar. Sementara sang empu yang bakal jadi pengantin pria belum mengetahui. Bukan Ice namanya jika tidak heboh perihal apapun. Tentang hal sepele saja bisa dibahas panjang kali lebar. Apalagi ini perihal anak sulungnya yang selalu digelari istilah Bujang Lapuk, bisa tujuh hari tujuh malam dia akan membahasnya. Di tambah lagi anak bungsu dan menantu perempuannya yang jelas sefrekuensi dengannya, bisa makin tambah pembahasan seputar pernikahan anak sulungnya. Ketika malam menjelang, seluruh anggota keluarga Budi yang tinggal di rumah orang tuanya pun berkumpul di ruang keluarga yang memang juga sudah menjadi rutinitas di dalam keluarga tersebut. Apabila selesai makan malam akan berkumpul bersama, entah itu menyaksikan tontonan televisi bersama atau sekedar mengobrol. Di tengah-tengah obrolan mereka yang sudah pasti masih menjadi topik utama adalah perihal lamaran yang diterima pihak Rini. Entah mengapa Arman, selaku bapaknya Budi malah menjadi orang yang ingat dengan tokoh utama. Seharusnya Ice lah yang harus ingat, karena dia orang yang pertama menerima kabar bahagia ini. "Pasti Budi senang sekali dengar kabar ini, iya 'kan, Buk? Penasaran aku, bagaimana ya responnya Budi? Mukanya dia juga bagaimana ya, pas dia tahu kalau Rini nerima lamarannya," ucap bapaknya Budi membayangkan wajah sang anak. "Apalagi dia itu sempet enggak yakin, dia pikir Rini itu sudah ada pacarnya. Dan perihal teman lelaki yang sering datang ke rumah Anto, dia pikir itu pacarnya Rini. Ternyata anak kita diam-diam jadi detektif. Pantes aja selalu semangat nganterin kita ke sana. Kalau kita enggak minta dia buat nyupirin kita, dia malah dengan senang hati nawarin diri. Rupa-rupanya ada udang di balik bakwan," sambung Arman lagi. Lain hal Arman yang menertawai gelagat anak sulungnya yang baru ia ketahui, Ice sendiri malah berteriak mengagetkan orang yang ada di sekitarnya. "Astaghfirullah ...." "Ibuk kenapa?" tanya heran Rehani yang terkejut dengan suara ibunya. Di susul pula Randi cucu tertua pasangan Ice dan Arman yang sama terkejutnya. "Iya, nenek kenapa? Nenek sakit?" "Astaghfirullah, kenapa ... kenapa aku sampe lupa ya Allah." Ice semakin membuat heran orang yang di sekitar. "Ibuk lupa matiin kompor?" tanya Anti yang bergegas beranjak dari duduknya. "Biar Anti lihat dulu, Buk." Alis Anti pun mengkerut. Ia berpikir hal-hal yang di takutinya terjadi. "Bukan .. ibuk engggak ada nyalain kompor!" ucap Ice menghentikan gerakan Anti. Kemudian Heri anak keduanya pun bertanya heran. "Terus, Ibuk kenapa? jangan bikin orang takut, Buk!" Ice yang sudah membuat kepanikan masih menatap satu persatu dari mereka yang ada di ruang keluarga. "Masmu ...." ucap Ice menjeda ucapannya, ia menatap anak keduanya. "Mas Budi, memangnya kenapa, Buk?" tanya Heri lagi yang masih heran. "Budi? Memangnya dia kenapa?" Suami Ice juga ingin tahu perihal apa mengenai putra sulungnya. "Dia belum tahu kalau Rini nerima lamarannya!" jawab Ice dengan perasaan yang campur aduk. "Hhaaah ...?" Seluruh orang yang ada di ruang keluarga itu pun sepontan merespon dengan sikap yang sama dan mata mendelik ke arah Ibuk. "Kamu ini gimana sih? Masa iya lupa? Yang mau kawin itu Budi, kok malah Budi belum tahu!" decak Arman kesal melihat sang istri. "Tau nih Ibuk. Iya kali Mas Budi yang mau kawin, malah belum tahu! Terus, kemarin malah udah ngebahas perihal resepsi. Yang mau Ibuk dudukin di pelaminan, siapaaa? Enggak mungkin Bapak, iya kaaann ...?" Rehani juga ikut menimpali ucapan bapaknya. "Sembarangan kamu kalau ngomong, Re. Memangnya, kamu mau bapakmu kawin lagi sama Rini?" Ice yang diprotes malah memprotes balik ucapan Rehanj. "Idih ... Mbak Rini juga kali mana mau sama Bapak. Ada yang seger mana mungkin mau sama yang kisut!" Rehani terkikik menertawai bapaknya. "Uda-udah, kok malah bahas yang enggak perlu!" Heri angkat bicara sebagai penengah dan melanjutkan ucapannya. "Kok bisa sih, Ibuk malah kelupaan sama Mas Budi, yang bakal kita antar jadi manten ke sana 'kan, Mas Budi, Buk?" "Maaf, Ibuk lupa. Habisnya mereka berdua nih, malah ngajak ngobrol Ibuk dan bahas perihal seragaman yang mau di pake!" Tunjuk Ibu ke arah Anti dan Rehani yang tetap tak mau disalahkan. "Lah Ibuk yang lupa, malah nyalahin aku! yang ada tuh, Mbak Anti yang bahas baju seragaman!" "Ish ... kamu kok nyalahin Mbak, perasaan kamu juga ikut semangat. Malah kamu juga bilang, seragamannya warna hijau sage!" Keduanya malah berdebat, hingga Arman bersuara jadi penengah. "Udah-udah, kalian kok malah ribut! Yang mau jadi manten juga belum tahu. Kalian malah sibuk mikirin seragaman. Kamu juga, Buk! Bisa-bisanya lupa ngasih tau Budi. Udah sekarang kamu kabari dia!" "Lebih baik besok aja Pak, Buk! Ini udah malam, takutnya Mas Budi malah enggak bisa tidur kepikiran saking senengnya, gimana?" Rehani memberi saran yang paham akan sifat kakak tertuanya. "Iya juga, Buk!" Kali ini Anti sepaham dengan Adik ipar perempuannya. "Ini udah malam, barangkali Mas Budi udah tidur juga, iya 'kan Mas?" sambung Anti lagi meminta persetujuan dengan sang suami. "Iya, Buk. Besok aja!" ucap Heri yang sependapat dengan istri. Ice yang paling bersalah dalam hal ini pun akhirnya setuju dengan saran anak serta menantunya. "Iya, besok aja Ibuk ngabarin Masmu. Sekarang kita tidur aja yuk, Pak! kita ke kamar, Ibuk ngantuk!" Semua yang ada di ruang keluarga pun akhirnya kembali ke kamar masing-masing. Keesokan paginya Ice sendiri yang memberi kabar bahagia kepada Budi lewat seluler.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD