"Sebentar ya, aku tinggal ke dalam dulu Ce," ucap Tuti, lalu Ice menatap ke arah Budi.
Budi paham maksud dari tatapan ibunya. Budi lalu beranjak dari duduknya, kemudian menuju kendaraan yang terparkir sedia kala di halaman rumah sahabat orang tuanya. Tepat di belakangnya ternyata Rehani juga mengikutinya.
"Mas, aku ikut ya."
Budi menjawab dengan anggukan.
Kendaraan melaju dan berhenti di sebuah minimarket indoapril yang berada tak begitu jauh dari kediaman Tuti. Di dalam minimarket, Budi pun menemukan yang sangat ingin di cicipi oleh Rini, yakni buah kelengkeng.
"Tambahin buah yang lain juga Mas, jeruk gitu atau apalah. Kalau orang sakit 'kan mau makan yang seger-seger, Mas!" Saran Rehani pun diterima, lalu menuju kasir dan kembali ke rumah Tuti.
Setelah Budi dan Rehani tiba di rumah Tuti, beliau pun heran dan bertanya, "Kalian habis dari mana?"
"Ini Buk."
Budi menyerahkan buah yang tadi ia beli beli pada Tuti.
"Loh kok ...." Tuti berucap heran.
"Buat Rini, tadi katanya pengen buah ini 'kan?" jawab Budi sembari menatap ibunya.
"Tapi, ini ada jeruk juga."
"Iya Buk, sekalian buat Rini."
"Ini berapa duit, Bud?"
"Gak usah Buk, saya memang beli itu buat Rini."
Tuti pun terlihat sungkan.
"Aku boleh lihat Rini, Tut?" Ice hendak ikut masuk bersama sahabatnya yang sudah pasti mengizinkan melihat keadaan putrinya.
"Ya, boleh. Nih, kamu aja yang langsung kasih ke Rini!" seru Tuti sembari tersenyum menyerahkan buah di tangannya.
"Aku ikut masuk juga ya, Buk, lihat Mbak Rini?" tanya Rehani pula.
Ia segera menyusul ibunya melangkah ke dalam.
Kini hanya ada Budi dan bapaknya serta suami Tuti yang berada di teras.
***
Di dalam kamar Rini.
"Kelengkengnya manis, Buk. Oh iya Buk ... ini berapa duit?"
"Kamu ini kayak sama orang lain aja. Ini yang beliin Budi, bukan Ibuk. Kamu gak usah mikirin berapa duit!"
"Tapi ini banyak loh Buk, Rini jadi gak enak sama Mas Budi."
"Gak pa-apa, lagian cuma buah aja, kamu gak perlu merasa gak enak!"
"Iya, nih, Mbak Rini, kayak sama orang lain aja!"
"Terimakasih ya, Buk."
"Jangan sama Ibuk bilang terima kasihnya!"
"Iya Mbak. Yang beli bukan Ibuk tapi Mas Budi."
"Kalau begitu, tolong sampein ke Mas Budi, terima kasih."
"Hemm ...."
Tak lama berselang Ibu dan adiknya Bjdi pun kembali ke teras.
Ice juga menyampaikan apa yang menjadi perbincangan dalam kamar Rini. Budi yang mendengar hanya tersenyum.
Di minggu berikutnya, Budi beserta keluarganya yang sudah menjadi tamu rutin di kediaman Rini pun kembali berkunjung.
Tentu dengan niat melamar Rini yang sudah direncanakan di awal seperti Minggu lalu dan sempat gagal karena Rini yang sedang sakit. Namun, sebelumnya Budi juga ingin memastikan, apakah Rini sudah memiliki pacar atau belum?
Beruntungnya Budi ketika keluarga Rini begitu menyambut niat baiknya. Ia juga sempat bertanya pada Bayu, Adik lelaki Rini mengenai siapa sosok pria yang dulu sering dilihat Budi bersama Rini, bahkan ketika Rini masih bersekolah.
Entah hal apa yang mendorong Budi untuk bertanya lebih dalam mengenai hal itu pada Bayu. Budi juga mengakui jika berbicara dengan Bayu justru membuatnya lebih yakin dengan segala ucapannya.
"Setau aku ya, itu cuma teman sekolahnya Mbak Rini, Mas. Lagian kalau dia pacarnya Mbak Rini, dia pasti rutinlah Mas datang ke sini. lagipula, dia juga gak pernah tuh, datang ke sini sendirian. Kalau ke sini selalu barengan sama teman-temannya Mbak Rini yang lain!" ujar Bayu menjelaskan.
"Apa yang kamu bilang memang ada benarnya, tapi enggak nutup kemungkinan juga kalau dia itu pacarnya Mbakmu, iya 'kan?"
Lawan bicara Budi kala itu masih teguh dengan pendapatnya.
"Aku gak yakin Mas, apalagi aku juga pernah gak sengaja denger kalau ...."
Alis Budi pun mengernyit menunggu ucapan Bayu.
"Kalau apa, Bay?"
"Aku gak sengaja Mas, waktu itu denger obrolan Mbak Rini sama Mbak Ita."
"Ita?" tanya Budi mengulang nama yang diucapkan Bayu.
"Ita siapa Bay?"
"Itu, Mbak Ita. Dulu temen satu sekolahan juga sama Mbak Rini."
Bayu pun menerangkan bahwa dirinya pernah tanpa sengaja mendengar percakapan antara dua sahabat itu 'Rini dan Ita'. Ia mendengar bahwa saat ini pria yang menurut Budi adalah pacar Rini, sampai saat ini belum pernah menyatakan cinta secara gamblang. Itu artinya Rini tak terikat hubungan apapun dengan laki-laki itu.
Budi pun semakin yakin dengan niatnya untuk melamar Rini dan ingin menjadikannya istri. Mengenai perasaan Rini terhadapnya, ia rasa tidak akan sulit bagi Rini untuk menerimanya.
Apalagi mereka sudah lama mengenal satu sama lain. Bukan hanya Budi yang yakin dengan rencana ini, tetapi juga semua orang yang ada di sana saat itupun tampak antusias dengan niat Budi. Kecuali Mayang dan Rini.
Rini kala itu sedang berada di luar rumah. Ia sedang pergi bersama teman-temannya dan pria yang semula sempat dikira adalah kekasihnya. Sedangkan Mayang, Budi sendiri tidak tahu persis apa yang tengah gadis remaja itu pikirkan.
Karena sejak Budi mengatakan niatnya untuk mempersunting kakaknya, gadis belia itu hanya diam tanpa ada berucap, dan sesekali menatap. Tanpa Budi tahu sedikitpun apa arti tatapan itu terhadapnya.
Kedua orang tua Budi maupun orang tua Rini begitu antusias membicarakan perihal lamaran yang tengah ditujukan kepada putri sulung mereka. Rona bahagia pun turut terpancar pada kedua orang tua Rini.
Mereka dengan senang hati jika menjadi besan dari sahabatnya. Mereka juga mengatakan tidak khawatir jika melepas putri sulungnya jika menikah dengan Budi yang notabennya sudah dikenal lama.
Namun, Budi tetap menyerahkan keputusan mutlak kepada Rini. Jika Rini bersedia, dengan senang hati akan ia segerakan niat baiknya untuk menikah. Apabila Rini menolak maka Budi akan berbesar hati menerima segala kuputusannya, meski hal itu sama sekali tak diharapkannya.
"Tapi Buk, sebelumnya harus Rini sendiri yang memutuskan, bersedia atau tidaknya dia menerima lamaran ini. Saya juga, gak mau maksa dia, andai dia punya pilihannya sendiri," ucap Budi ketika sudah menyampaikan niatnya melamar Rini.
Sementara Bapak Rini juga sepaham dengannya.
"Iya, kita tunggu saja Rini pulang, nanti bisa langsung tanya sama Rini."
Budi pun mengangguk setuju dengan bapaknya Rini.
"Tapi, setau aku sih, Rini memang belum punya pacar."
"Kita tanya aja langsung sama Rini, mudah-mudahan aja memang belum punya pacar. Iya, kan Bud?" Ice turut menimpali perkataan sahabatnya.
Budi kembali setuju dengan anggukan kepala.
"Kamu gak percaya sama aku, Ce?" tanya Tuti memastikan.
"Bukan, bukan aku gak percaya, ada baiknya memang kita langsung tanyakan sama Rini. kalaupun memang tidak ada, yah, siapa tau dia ... Eum ...."
"Siapa tau dia apa?" tanya Tuti penasaran sebab mendengar ucapan Ice yang belum selesai.
"Udahlah, kita tunggu aja Rininya pulang. Daripada kita ngeduga-duga."
Budi paham betul maksud ucapan ibunya yang terhenti. Sebelumnya ia sudah mengatakan kepada Ibu dan bapaknya mengenai ucapan Bayu yang pernah mendengar tanpa sengaja percakapan Rini dengan sahabatnya. Ice pun mengerti akan situasi ini. Bisa jadi antara Rini dan pria yang sering mereka lihat adalah pacar Rini, dan kemungkinan bisa pula sebaliknya. Mengenai hal itu, hanya dapat di pastikan jika Rini sendiri yang mengucapkannya.
Setelah beberapa lama membahas perihal niat baik Budi, akhirnya sosok yang menjadi tokoh utama dalam percakapan mereka pun hadir. Rini tampak memasuki rumah bersama ibunya setelah teman-temannya yang pergi bersamanya pulang meninggalkan kediaman.
Senyum Budi pun tak lepas menatap sosok yang begitu ia kagumi. Apalagi dengan senyumnya yang begitu manis dengan penampilannya yang sederhana justru cenderung mudah memikat hati seorang pria normal seperti Budi..
Wajah Rini yang begitu manis menurut Budi begitu membuatnya terpana akan dirinya. Tak hanya memiliki paras yang begitu mengagumkan, bentuk tubuh yang proporsional meski dengan tubuh yang tidak begitu tinggi, tetap terlihat sempurna di mata Budi.
Bagian tubuh yang menonjol di bagian depan dan belakang juga menjadi daya pikat untuk lelaki normal seperti dirinya.
Sedari tadi yang ditunggu pun akhirnya mengetahui akan niat Budi yang ingin melamar, ingin mempersuntingnya, menjadikannya kekasih halal di dunia dan menuju jannahNya kelak.
Alih-alih berharap akan mendapat tanggapan yang antusias dari orang yang hendak dilamar, karena begitu tingginya rasa percaya diri Budi sebab sudah lama saling kenal. Ternyata tanggapannya sungguh tak sesuai dari harapan Budi.
Sebelumnya, Rini juga sempat mengatakan bahwa dirinya tak memiiki pacar. Dengan kerendahannya mengatakan bahwa tak ada yang mau dengannya.
Wajah yang selalu riang serta ceplas ceplos dalam menjawab ucapan lawan bicara, kini Budi melihat raut wajah itu berubah.
Setelah mendengar niatnya yang ingin mempersuntingnya, sikap Rini tak seperti biasa yang begitu bersemangat. Senyumnya yang biasa tampak begitu manis, seketika hilang menatap dirinya.
Budi pun menyadari perubahan mimik wajahnya. Meski sesekali ia tersenyum, Budi paham arti senyumnya yang sudah pasti hanya di pasang untuk menghargai keberadaan Budi serta keluarga.
Begitu pula dengan Budi, ia tetap memasang senyum tipisnya. Meski ia juga tak tahu bagaimana kedepannya? Bagaimana perihal lamaran, entah Rini menerima atau menolak?
Yang pasti hanya Rini dan Sang Pencipta yang tahu akan seperti apa akhir dari niat baik Budi.
Esok malamnya, Budi beserta keluarga dan tentunya keluarga Rini juga berencana makan malam di luar. Entah itu restoran atau lesehan sejenisnya. Tentu ini juga sebuah ide dari Ice.
Di sepanjang perjalanan menuju tempat makan, lesehan menjadi pilihan kami, tetapi menurut Budi Ibunya lah yang lebih tepat memilih tempat itu.
Budi dan lainnya pun setuju. Betapa Rehani berhasil membuat Budi juga Rini menjadi begitu canggung satu sama lain karena bualannya yang seolah selalu menjadi wakil dari perasaan Budi.
Hati Budi selalu bergetar kala Rini juga memergokinya yang selalu mencuri pandang wajahnya. Bersyukurnya Budi bisa mengatasi getaran hatinya. Meski terasa jelas detak jantungnya jadi berdetak lebih kecang.
Sepulang mereka dari makan malam, mereka pun kembali ke kediaman Rini. Betapa senangnya hati Budi ketika Rini kesulitan melepas sabuk pengaman yang dikena. Budi pun membantu melepas sabuk yang sulit dilepas dari tubuh Rini. Entah mengapa jantung Budi kembali berdetak kencang ketika tubuhnya condong ke arah Rini, rasanya jantung Budi seperti mau keluar dari tempatnya.
Setelah berhasil melepas sabuk pengaman yang melilit tubuh Rini, ia pun berniat bicara empat mata dengan Rini.
Budi dan Rini pun duduk berdua di saung yang ada di pelataran.
Sebelum memulai pembicaraan, dari teras rumah Rini, masih terdengar ocehan Rehani yang memang benar kenyataannya.
Kembali jantung Budi serasa mau lepas saat memastikan ocehan Rehani. Budi memastikan keadaan mereka berdua memang duduk saling berdekatan. Mengetahui hal itu, Rini segera inisiatif menjauh darinya.
Kalau saja Rehani tidak mengoceh, mungkin saja jarak mereka akan terus saling dekat. Apalagi, kala itu Rini sama sekali tak terlihat menatap Budi. Dia hanya sibuk memainkan gawainya. Hingga Budi memulai pembicaraan yang sudah sedari kemarin di bahas, yakni mengenai niat Budi yang ingin melamarnya.
Budi pun memastikan pada Rini untuk memikirkan ulang niatnya. Pastinya, Budi sangat berharap keputusan Rini sesuai dengan keinginannya. Namun, ia juga akan terima dan berbesar hati andai kata Rini menolak.
Sejak malam itu, Budi dan lainnya pun menunggu, menunggu jawaban Rini perihal niat baik itu.
Hingga kabar yang ditunggu-tunggu pun kian terdengar seminggu setelah kembalinya Budi ke kediamannya.
Semula Budi berharap mendengar langsung dari Rini mengenai keputusannya, tetapi tidak, ia justru mendengar kabar itu dari ibunya.