Lima

1281 Words
Selesai mencabut ubi yang di tanam Anto, Budi dan keluarganya dihidangi menu makan siang yang sudah di persiapkan oleh Tuti yang dibantu salah satu putrinya. Menu makanan sederhana seperti sayur ayam, ikan goreng dan sambal terasi menjadi santapan siang mereka kala itu, juga ada kerupuk dan tempe goreng sebagai tambahannya. Budi yang memiliki riwayat anti makanan super pedas, memilih tidak terlalu banyak menikmati sambal terasi yang menurunya bisa menghasilkan banyak peluh dari tubuhnya. Duduk bersila bersama di atas lantai yang beralas tikar plastik dengan corak bunga, benar-benar dapat memberi Budi ruang untuk menatap sosok yang duduk tepat bersebrangan dari posisi duduknya. Ditatap wajah itu dengan hati yang berdebar, senyumnya yang lepas dengan tutur kata yang seadanya, semakin membuat Budi tak merasa bosan mengamatinya dalam diam. “Ehem ... ehem ...." Budi melirik sumber suara yang ia tahu dari mana asalnya. Diliriknya sepintas Rehani yang tersenyum penuh sindiran. “Kenyangin Bud makannya. Tambah lagi, nih masih banyak,” ucap Pak Anto menawarkan. “Iya, Pak," jawabk Budi sekenanya. “Mas Budi nya sih udah kenyang Pak, dari tadi juga!" Rehani berucap dengan senyum sindirnya. 'kamu jangan macem-macem ya Han, jangan bikin onar.' Itulah pesan teks yang Budi kirim kepada Rehani, setelah menyelesaikan kegiatan makannya agar Rehani berhenti mengoceh. Di sela makan siang mereka, Ice pun bertanya pada Rini, "Weekend Rin, enggak jalan-jalan keluar?" "Enggak, Buk. Mau istirahat." "Usahamu gimana Bud?" tanya Bu Tuti yang duduk bersila di samping putri sulungnya. "Alhamdulillah, Buk. Lancar." "Di sana cuma sendiri?" "Enggak, ada Atun," jawab Budi sambil tersenyum. Sementara, Bu Tuti mengulang nama yang disebut dengan alis berkerut, "Atun?" "Iya, Atun. Dia yang bantu-bantu Budi di sana." "Ohh, jadi si Atun sekertaris kamu?" "Bukan Tut. Atun itu yang bantuin rumahnya Budi beres-beres rumah. asisten rumah tanggalah lebih tepatnya." "Ooh cuma berdua?" "Bertiga sama suaminya," sahut Arman. "Ohh, ada suaminya?" Bapak Rini turut menimpali. "Suaminya buruh salah satu pabrik di Tangerang," jawab Budi menjelaskan. Begitulah obrolan mereka di tengah makan siang. Sebelum sore menjelang Budi beserta keluarganya mampir ke beberapa rumah sanak saudara yang ada di seputaran kediaman Tuti. * Rencana ibuk Satu minggu kemudian... Drrrrrttt..drrrrttt "Eh, Mas mu nelpon nih, Re. Ibu angkat dulu telpon dari Masmu." "hemm ... angkat Buk, kali aja penting." "Haloo ...." "Halo Buk, assalamualaikum." "Waalaikumsalam, Bud. Hemm ... ada apa Bud?" "Ibuk, sehat?" "Alhamdulillah, Ibuk sehat." "Alhamdulillah. syukur Ibuk sehat, Bapak, gimana Buk?" "Ya, gitu, sehat juga. Ada apa?" "Maaf Buk, minggu ini Budi enggak bisa nganterin Ibuk sama Bapak ke rumah Buk Tuti, minggu ini kalau enggak ada halangan, Budi mau ke Sumatra Buk, mau ngecek kebun sawit yang di sana!" "Yah, Ibuk jadi enggak bisa ketemu Rini dong Bud!" "Yah, sama dong Buk." Mata Ice dan Rehani saling tatap mendengar jawaban yang sepontan dari Budi. Ice memang sengaja memperbesar volumenya ketika panggilan suara berlangsung. Senyum satu tujuan pun keluar dari bibir mereka berdua. "Kamu barusan bilang apa, Bud? enggak jelas." '"Euumm ...." "Halo, Bud, kamu denger enggak?" Ice tersenyum bersama Rehani dan memastikan jawaban dari putranya. "Jadi Ibuk cuma mau ketemunya sama Rini ? sama anak sendiri, enggak? kangennya cuma sama Rini aja, sama anak sendiri, enggak kangen?" "Kamu sendiri gimana, kangen gak sama Rini?" tanya Ice yang berharap sulungnya menjawab sepontan seperti tadi. "Budi kangennya sama Ibuk, tapi Ibuk malah kangen sama anak orang." "Kamu kok jadi cemburu gitu sama Rini, Bud. Ibuk 'kan sudah menganggap dia seperti anak Ibuk juga, seperti anak sendiri, lupa kamu? kalau dulu kepingin punya Adik yang kayak Rini, pengen kamu bawa pulang. Hemm ...?" "Bukan cemburu sama Rini, Buk. Tapi kok kesannya lebih sayang sama Rini, dari pada sama Budi, yang udah jelas-jelas anak sendiri." "Kok kamu ngomongnya kayak gitu sih Bud, Ibuk kok sekarang ini malah ngarep loh, Bud, kalau kamunya masih kepingin bawa Rini pulang kayak dulu." "Kita kan udah punya Rehani Buk, enggak mungkin juga Ibuk nambah anak lagi, pantesnya itu Ibuk nambah cucu!" "Nah, itu kamu tau, Bud. Kamu dong yang nambahim cucu buat Ibuk sama Bapak. Hihi ...." Ice menahan tawanya. "Udah dulu ya Buk. Budi mau makan siang dulu, udah laper. Asaalamualaikum." sambungan pun terputus. "Kayaknya Mas mu tau deh Re, arah bicara Ibuk ke mana!" "Ya, bagus dong Buk. Kalau Mas Budi tau, jadi enggak susah lagi buat ngejalani rencana Ibuk." "Kalau iya Masmu setuju, kalau dia nolak lagi kayak kemarin-kemarin gimana, Re?" "Kalau menurut aku sih, kayaknya enggak Buk." "Kamu kok terlalu yakin." "Yah, harus yakin dong Buk. Lagian Ibuk tuh enggak ngeliat sih gimana mukanya Mas Budi, pas aku mergoki dia senyum-senyum ngeliatin photonya Mbak Rini. Aku juga yakin Buk, kalau photonya Mbak Rini, ngambilnya curi-curi tanpa sepengetahuan Mbak Rini. Hehe ... lucu juga Buk, kalau inget-inget itu." drrt ... drrtt ... Selanjutnya, suara getaran kali ini adalah notifikasi dari gawai Rehani, mereka berdua saling menatap setelah membaca pesan teks yang masuk. 'Re, kamu bilang apa sama Ibuk? kamu jangan bicara macem-macem sama Ibuk, kalau masi mau dapat jatah bulanan dari Mas.' ** Di Minggu selanjutnya, Budi pun kembali ke rumah orang tuanya. Sudah menjadi rutinitasnya setiap minggu jika tidak ada jadwal pekerjaan di luar kota, seperti biasa Budi dengan sukarela menawarkan diri menjadi supir untuk kedua orang tuanya, mengantar dan berkunjung ke rumah dua sahabatnya. Namun, kali ini berbeda, bukan hanya sekedar berkunjung. Lebih tepat menjalankan rencana Ice. Sebelum kedatangan mereka esok hari ke rumah Rini, malamnya Ice mulai terang-terangan menanyakan perihal Budi yang menyukai Rini. Tentunya hanya ada Budi dan Ice yang membahas perihal itu. "Kalau kamu setuju, kita langsung lamar saja, gimana?" "Jangan buru-buru, Buk! kali aja, ada pacarnya, kalau Dia gak bersedia, juga jangan di paksa!" Ice mengangguk paham, "Iya, Ibuk ngerti! tapi, kalau memang belum punya pacar, gimana, Bud? langsung kita lamar, ya?" "Gak usah terburu-buru, Buk!" "Ya, udah, terserah kamu aja, Ibuk dukung apapun keputusanmu. tapi kalau besok kita tahu Rininya memang belum punya pacar, kamu musti ngikut sama rencana Ibuk!" Budi pun setuju perihal rencana Ibunya. "Iya, Buk, kalau memang Rini belum punya pacar, besok langsung aja kita bilang, kalau kita mau lamar dia." Esoknya mereka pun pergi ke rumah sahabat orang tua Budi. Seperti biasa, Bu Tuti menyambut mereka dengan ramah tamahnya. "Sehat, Ce? Silakan masuk!" "Alhamdulillah, aku sehat, kamu sendiri?" "Seperti yang kamu lihat, aku sehat, tapi itu ...," ucapnya menggantung. "Tapi, apa?" "Rini. Dia lagi sakit!" imbuhnya lagi. "Rininya sakit apa Buk?" tanya Budi yang melibatkan diri di sela percakapan dua wanita baya dengan rasa khawatir. "Demam," "Sudah dbawa berobat?" tanya Ice lagi. "Sudah, tadi disuntik juga sama Buk Bidan!" Untuk hari ini Budi tak bisa melihat senyumnya, padahal diperjalanan sudah terbayang rasa bahagia jika ia bertemu Rini. Sempat merasa khawatir karena mendengar keadaannya yang tak sehat. Namun, kembali Budi kendalikan diri yang gusar. Tak lama kemudian, Bayu Adik pertama Rini pun muncul dan memang diakui didikan Tuti kepada anak-anaknya sangatlah baik dan sopan memperlakukan mereka selaku tamu di rumahnya, kecuali Mayang anak bungsu Tuti. Sikap awalnya tidak ada yang berbeda dengan sikap kedua saudaranya, Namun, semenjak Budi beserta keluarga mengutarakan niat ingin mempersunting kakak tertuanya, ia pun mulai menunjukkan sikap gelagat ketidaksukaannya, terutama pada Budi. "Mana kelengkengnya, Bay?" tanya Tuti pada Bayu yang baru saja pulang entah dari mana. Sementara yang di tanya malah mengeluh. "Owalah Buk. Aku udah keliling tadi, di Pasar Pekan, nggak ada Buk!" Bu Tuti pun ikut mengeluh prihatin. "Kasihan Mbakmu, padahal lagi kepingin makan itu. Ya sudah. Kalau enggak ada, kembaliin uangnya sama Mbakmu!" "Iya, ini juga mau di kembaliin, takut banget Ibuk, duitnya lewong!" ucapnya yang kemudian menyapa Budi, "Baru sampai, Mas?" "Eumm, iya. Bay." "Sehat, Mas?" Bayu juga menanyakan kabar Budi dan keluarga. Kemudian berlalu masuk ke rumah. Rencana yang sebelumnya sudah di susun Ice pun harus di tunda karena kondisi Rini yang sedang sakit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD