Dua belas

1857 Words
Masih ada hari esok "Kenapa pake acara foto juga? Kan saya udah bilang sebelumnya, saya mau sesederhana mungkin.” “Cuma foto keluarga Rin, buat kenang-kenangan. Salahnya di mana? Kalau gak mau foto sama fotografer ya sudah gak pa apa. Kita foto pakai handphone mas aja, gimana?" Rini pun segera melangkah keluar kamar mendahului suaminya. Segera Budi menyusul dibelakangnya dengan membuang napas kasarnya. “Pengantinnya bisa merapat dikit dong, kan udah sah! Jangan lupa senyum ya dua-duanya!” Arahan sang fotografer dengan sedikit candaan, tapi malah enggak lucu. “Oke. Tangan Mas nya bisa ya di pinggang Mbak nya, saling tatap ya matanya tangan Mbak nya bisa langsung di kalungin tuh ke leher Mas nya. Jangan kaku, lemesin dikit. Oke ini bagus banget, yang satu cantik yang satunya lagi ganteng.” “Apanya yang ganteng, udah tua jugak kayak bapak-bapak. Mbakku yang malang!” Gerutu Mayang dalam hati, dia begitu sedih melihat kakaknya menikah dengan pria yang menurutnya sudah sepuh. Sementara yang menjadi objek foto benar-benar terlihat kikuk, tampak canggung. Namun Budi sangat menikmati saat-saat seperti ini. Kapan lagi dia bisa memeluk, merangkul serta mencium kening istrinya walau hanya sesaat. Dia juga tak lupa meminta sang fotografer untuk mengambil gambar melalui ponsel pribadinya. Sesi foto pun selesai. Pamit “Huhu...” Isak tangis Mayang pun pecah ketika Rini dan dirinya saling peluk untuk melepas keberangkatan kakaknya yang akan di boyong oleh suaminya ke kediaman Budi. Begitu pun sebaliknya. “Astaga, Mayang... Segitunya kamu nangis. Mbakmu itu mau pergi berumah tangga bukan mau pergi perang!” ucap Bayu. "Kamu tuh tau apa Mas!” Balas Mayang dengan tangisnya yang sesenggukan. Rini pun bergantian memeluk Ibu dan Bapaknya sambil menyeka air mata harunya dan berpamitan dengan keduanya. “Sering-sering telpon ibuk ya, Rin! Jangan lupa shalat. Kalau suamimu gak sibuk, ya pulang berkunjung ke sini, Ya Bud!” ucap Tuti pada kedua pengantin baru itu. “Tolong jagain anak bapak ya Bud!” Tambah Anto pada menantunya itu. “Iya, Pak, kami pamit dulu!” Sahut Budi sambil mencium punggung tangan kedua mertuanya. “Kami pamit ya Tut.. Untuk beberapa hari ini mungkin aku, Arman dan Rehani bakal nginep di rumah mereka. Biar anakmu ga merasa sepi karena jauhan sama kalian.” Ice pun bergantian bersalaman dengan yang anggota keluarga menantunya itu. Kemudian memasuki mobil. Mereka pun memilih jalur darat dan menggunakan sebuah mobil untuk berangkat ke kediaman Budi. Seharusnya akan lebih cepat sampai jika menggunakan jalur udara, tapi apalah daya di karenakan Rini yang takut lantaran tak pernah menaiki pesawat, jadilah mereka hanya menggunakan mobil. Di dalam mobil duduk Agus di belakang kemudi, sebenarnya dia adalah asisten pribadinya Budi di perusahaan yang kini di kelola Budi, tapi terkadang dia juga di jadikan sopir dadakan di saat-saat urgent. Di sebelah kursi pengemudi ada Anton, di sisi tengah ada Ice dan Rehani sedangkan pengantin baru mendapat bagian kursi di paling belakang. “Mas pasangin ya!” Tawar budi untuk memasangkan seat belt untuk Rini, dia pun bergegas memasangkannya untuk sang istri sambil sesekali mengamati wajah istrinya. Anggukan kecil tampak ringan dari Rini. “hmm..” dehem Rini dengan singkat. Mobil pun melaju perlahan lalu pergi meninggalkan kediaman orang tua Rini. Selama di perjalanan kedua pengantin baru itu pun tampak hening, sesekali Budi mencuri kesempatan untuk meraih jari jemari Rini. Sekedar ingin berpegangan tangan, karena kini Rini telah resmi menjadi istrinya. Tapi dengan sigap Rini segera mengurai sentuhan tangan Budi. Ia memundurkan tangannya lalu berkilah memainkan ponselnya. “Aku ngerti Rin, kamu pasti masih canggung..!” gumamnya dalam hati. Budi pun tak mempermasalahkan sikap Rini yang menolak sentuhan tangannya. Dia menganggap ini sebuah kewajaran. Setelah beberapa jam akhirnya mereka pun tiba di kediaman Budi. Sebelumnya Budi sudah memberi tahu Atun, asisten rumah tangga yang berada di rumahnya bahwa mereka akan segera tiba. Ketika mobil yang mereka tumpangi sudah berada di depan pagar rumah yang menjulang lumayan tinggi, seorang pria betubuh kurus tampak mendorong membuka besi pagar rumah tersebut. Dia pun menyapa sopir yang menurunkan kaca depan mobil. “Pak..” sapanya sembari sedikit menundukkan kepalanya. Sang sopir pun balik menyapa pria tersebut. Penumpang mobil tersebut pun turun satu persatu. Atun pun segera menghampiri mereka ingin mengetahui seperti apa rupa majikan barunya itu. “Rin, ini Atun, yang bantu-bantu mas di sini!” “Salam kenal Buk, Saya Atun!” Atun pun tampak antusias, senyumnya tak lepas menatap Rini. “Ini Uus, suaminya Atun!” Uus pun menganggukkan kepalanya yang mengarah ke Rini. “Hmm... Saya Rini," ucapnya membalas sapaan keduanya. “Kalau butuh sesuatu, kamu bisa minta tolong ke mereka jangan sungkan!” Rini hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian Budi menuntunnya masuk ke dalam rumah dan langsung menaiki tangga menunjuk ke arah lantai dua. “Koper kamu, sini biar Mas yang bawa!”. Rini pun menyerahkan sebuah koper miliknya yang dia bawa dari rumah orang tuanya. “Koper kamu... Cuma ini?” ucap Budi lagi. Dan lagi Rini hanya menjawab dengan anggukan. “hmm... ya sudah nanti pas kita ada waktu, kita belanja beli baju kamu ya, Rin!” ujarnya pada Rini dengan senyuman lembut. “Engg...Gak usah, Ini juga sudah cukup.” Ia masih menjawab dengan kepala menunduk. “Kamu gak usah sungkan, Rin, sudah kewajiban mas buat menuhin kebutuhan kamu. Sekarang kamu ini sudah jadi istrinya Mas, artinya kamu ini tanggung jawabnya Mas." Deg... Rini pun tercengang, ia seolah lupa dengan ijab kabul yang baru beberapa jam lalu di ikrarkan. Ia masih menganggap lelaki ini adalah anak sahabat sahabat kedua orang tuanya. Masih seperti sebelum menikah. "Kamarnya dimana?” Rini segera to the point, Ia ingin sekali rebahan dan tak ingin berbasa basi lagi dengan pria ini. “Sebelah kanan dari sisi tangga sementara di pake Bapak sama Ibuk, Rehani di sebelah sini..!” Budi masih terus menjelaskan sambil menunjuk tiap-tiap kamar. “Dan yang ini kamar kamar nya Mas, kamar kita!” Senyum sumringah Budi pun keluar sambil menuntun Rini menjajaki kamar mereka. "Apa... Apa maksudnya dengan kamar kita? Astaga Rin, kamu lupa Dia itu suamimu..! Dan yang namanya suami istri itu yah satu kamar!" Rutuk Rini menyesali kebodohannya, ia sama sekali tak memikirkan jika setelah menikah akan berada sekamar dengan pria yang di sebut bapak-bapak oleh Mayang. Yang terpikirkan pada saat ia menerima pinangan pria itu adalah membalas kebaikan dari keluarganya dan sebagai bentuk baktinya kepada kedua orang tuanya. hanya itu yang di pikirnya. “Kamu bisa susun pakaian kamu di lemari ini, lemari ini emang Mas sediain buat kamu!” decak Budi sambil mengurai senyumnya. Dia benar- benar merasa bahagia setelah menikah dengan Rini, tak bosan-bosan baginya menatap wajah cantik istrinya itu. Di dalam kamar. Mereka yang tiba di rumah itu pun memang sudah berada pada malam hari, tepatnya pukul 09.00 dan sebelumnya sudah singgah lebih dulu di restoran untuk mengisi lambung. Budi yang berganti pijamanya di dalam kamar mandi hendak keluar memutar gagang pintu kamar mandi. Namun sebelumnya dia sedikit membuka dua buah kancing pijamanya yang berjejer kebawah. “Hmm.. gak masalah terbuka sedikit! Malah lebih bagus, lebih keliat siapnya!” decaknya dalam hati sambil senyum-senyum tidak jelas. Lalu melangkah keluar dari bilik pemandian. Ketika Budi sudah melangkah keluar dari kamar mandi, alangkah terkejut dan kecewa dirinya sebagai lelaki yang normalnya ingin belah duren di malam pertama. "Haaa.. masa iya Rini udah tidur. Perasaan tadi, bukannya Rini lagi nyisir." batinnya sambil melihat ke tengah ranjang. Di tengah ranjang ternyata sudah berbaris dua guling sekaligus. Seolah bak jadi dinding pemisah. Tampak pula Rini berada di salah satu bagian sisi kiri ranjang memunggungi dua guling tersebut. Budi yang melihat keadaan ini pun hanya bisa menuntun tubuhnya ke ranjang. Dia sandarkan tubuhnya di punggung ranjang dan membuang napas kasarnya. Sesekali dia menoleh. Menatap punggung istrinya dalam diam. Setelah menunggu beberapa saat, yang di lakukan Budi hanya berdiam. Berharap sang istri terjaga dan memulai malam pengantin yang sejatinya lumrah bagi pasangan yang baru menyandang status halal. Namun penantiannya yang penuh harap berbuah pahit. Nyatanya Rini benar-benar tidak bangun sama sekali bahkan tidak sedikitpun bergerak mengganti posisi tidurnya. Budi pun mengurungkan niatnya. "Masih ada hari esok Bud, sabarrrr,"- Gumamnya dalam hati. Dia berpikir pasti istrinya kini benar-benar lelah karena perjalanan yang lumayan jauh menuju kediaman mereka. Subuh Seperti biasa, Rini tetap terbangun di subuh hari dan menunaikan kewajibannya sebagai muslim. Meskipun terbangun dalam keadaan yang kurang baik karena nyaris semalaman ia terjaga sepanjang malam. Meski matanya memejam namun tak sepenuhnya, nyatanya itu hanya untuk meyakinkan orang yang tidur di sebelahnya. Rini pun keluar dari kamar kemudian menuju dapur. Terlihat Atun tengah berkutat dengan pekerjaanya. Pagi ini Atun akan menyiapkan sarapan yang jumlah porsinya lebih banyak dari hari-hari biasanya. Kemudian Rini berinisiatif untuk ikut dengan kesibukan Atun. “Mbak Atun, selamat pagi.” sapanya dengan senyum tipis. “Pagi Buk, Ibuk udah bangun?” Atun tampak terkejut dengan kehadiran Rini yang sudah berada di dapur sepagi ini. Apalagi penampilan Rini terlihat lelah dengan kantung mata yang menghitam. “Saya bantu ya, Mbak? Mau masak apa?” “Gak usah, Buk! Biar Atun aja. Ibuk istirahat aja di kamar. Masak iya manten baru, jam segini udah bangun?” Atun benar-benar lancang dengan mulutnya yang tidak ada rem bahkan lupa dengan siapa dia bicara. Deg... Jantung Rini seolah berhenti mendengar ucapan Atun. Ia mengerti, kemana tujuan perkataan Atun itu. “Gak pa apa, Mbak Atun. Di rumah juga biasanya bangun jam segini. Mbak, mau bikin sarapan apa?” tanyanya lagi pada Atun. “Sebenarnya Atun juga bingung mau masak apa. Secara Bapak juga jarang sarapan di rumah.” “Oh..” hanya kata oh dari mulut Rini. “Kalau nasi, ada gak Mbak Atun?” “Ada buk, banyak!” ucapnya sambil membuka rice cooker. Di dalam kamar setelah setengah jam kemudian, Budi pun terbangun. Dia tampak belum sadar sepenuhnya dari alam tidurnya. Tapi ingatannya masih tajam dengan sosok yang sejak tadi malam tidur di sampingnya. Matanya mencari ke semua penjuru kamar. Namun sosok yang di carinya tak kunjung terlihat. Dia pun turun dari ranjang yang berukuran king size menuju ke kamar mandi. Kemudian mengetuk pintunya. “Rin..!” panggilnya dengan satu tangannya mengetuk pintu kamar mandi. Tak terdengar sahutan. Hingga beberapa kali mengulangi panggilan namun tetap nihil. Dia pun kemudian memutar gagang pintu tersebut untuk memastikan. Di lihatnya kedalam, ternyata kosong tak mendapati Rini. Tak lama kemudian Budi langsung bergegas keluar kamar dan menapaki kakinya untuk turun dari lantai dua rumahnya. Dan ketika di tengah-tengah anak tangga dia mendengar sekilas suara yang dia pastikan itu adalah sosok yang sejak tadi di carinya. Suara itu berasal dari dapur rumahnya dan ada suara Atun juga. Setelah yakin bahwa Rini ada di dapur, dia pun kembali naik ke lantai dua kembali ke kamarnya untuk mandi dan membersihkan dirinya. Tak lama setelah melakukan ritual mandinya, Budi pun turun dan langsung menuju ruang makan. Semuanya sudah duduk di depan meja makan ada Arman, Ice juga Rehani. Dan kemudian Rini pun datang dari arah dapur memegang cangkir teh yang akan ia sajikan untuk semua yang duduk di hadapan meja makan. “Duduk di situ Rin, di sebelah Budi!” Titah Ice pada menantunya. Budi pun segera berinisiatif mendorong mundur kursi makan untuk di duduki istrinya. Dan yang menerima titah pun segera mematuhinya. Sementara yang lain memulai sarapannya bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD