Mantuku
Sarapan kali ini benar-benar terasa berbeda bagi Budi, bukan hanya karena ini kali pertama baginya menyantap sarapan bersama sang istri, tapi juga karena makanan yang di cernanya.
“Aum..aum.. kok rasanya agak beda ya Tun? Enggak kayak biasa,” ucapnya dengan mulut masih mengunyah. Sementara Rehani yang sefrekuensi dengannya juga ikut menimpali.
“Iya nih, beda. Enggak kayak biasanya kan Mas?” Lalu Atun pun heran dan melihat ke arah Rini yang juga mulai menyantap sarapannya. Raut wajah Rini juga sedikit cemas mendengar ucapan Budi beserta adik iparnya.
Bu Ice pun ikut angkat bicara sambil menyentong makanan untuk dia pindahkan ke piring yang dia guna. “Beda apanya sih, lah kalau cuma nasi goreng yang kurang garam, si Atun udah biasa masaknya begitu. Itu bukan hal yang beda, udah biasa!” kebetulan menu sarapan yang sedang mereka santap pagi ini adalah nasi goreng, dengan beberapa telur mata sapi juga ada irisan timun dan kerupuk sebagai pendamping. Memang harus diakui Atun memang kalau masak sering terasa hambar, alias kurang garam. Tapi memang dasarnya Atun adalah orang yang berkuping gajah, ia sama sekali tak pernah menghiraukan apalagi terganggu dengan segala bentuk protes maupun saran dari majikan beserta keluarga.
“Ihh,, Ibuk kalau ngomong suka bener.” Tuh kan apa aku bilang si Atun ini memang punya kuping gajah, sudah di protes terang-terangan juga enggak bakal dihiraukan.
“Eh, tunggu dulu,,,” ucap Ibuk gantung tapi masih mengunyah makanannya dan tak lama berucap kembali. “Ini bener loh yang kalian bilang!”
“Iya, beda kan Buk. Enggak kayak biasa,” ucap Budi lagi. Sementara Bapak Budi tidak ikut nimbrung berkomentar, dirinya pun cukup menikmati sarapannya bahkan sudah nambah.
“Kalau tiap hari kamu masaknya enak begini, sudah pasti saya gak bakal ngeluarin biaya tambahan buat beli sarapan, alias bisa lebih ngirit!” timpal Budi pada Atun. Memang selama ini Budi jarang makan di rumah, meski Atun sudah mempersiapkan segala jenis menu untuk dirinya, tetap saja terkadang tidak sesuai dengan selera lidahnya.
“Yah si Bapak, jarang-jarang makan di rumah, sekalinya makan terus muji makanannya enak tapi bukan buatan Atun,” ucapnya sambil memanyunkan bibir. Tak jarang memang masakan yang Atun siapkan untuk sang Majikan bukan berakhir ke dalam mulut, tapi malah lebih sering berakhir ke tempat pembuangan. Ya itu tadi, mungkin karena rasanya yang kurang pas di lidah sang Majikan.
“Maksud kamu apa Tun? Kok bukan kamu yang masak?” heran Budi tapi masih lahap dengan kunyahannya.
“Iya deh, mentang- mentang istrinya Bapak yang masak di bilang enak, kalau masakan Atun aja di anggurin.”
“Maksud Mbak Atun, Mbak Rini yang masak bikin sarapan?” tanya Rehani pada Atun. Sementara Atun segera mengiyakan.
Tak lama Budi pun langsung tersedak, padahal tadi dirinya sangat menikmati santapannya bahkan juga ikut menambah porsi ke piringnya. Ia begitu tersedak hingga seluruh wajahnya memerah. Seharusnya Rini yang wajahnya memerah karena di puji. Tapi sejauh ini si mantu Buk Ice wajahnya malah kelihatan biasa saja, setelah sebelumnya sempat ada rasa cemas.
Karena Rini yang ada tepat di sebelah Budi, dirinya pun reflek menyodorkan gelas berisi air minum pada lelaki yang kini tengah mengatur napas dari tersedaknya.
Tak lama Buk Ice pun berseru. “Pantesan rasanya beda enggak kayak biasa, ini beneran enak, rupanya mantuku yang masak!” Sementara Budi sudah lebih tenang dari sebelumnya. Dirinya tersedak sebab terkejut serta malu, karena telah memuji orang yang salah.
“Terima kasih ya Rin,” ucap Budi setelah meneguk air minum yang di berikan Rini padanya. Rini pun hanya mengangguk.
“Oh iya Bud, nanti siang kita ajak Rini jalan-jalan ya, terserah mau ke Mall atau kemana gitu. Rini nya juga belum tau daerah sini, jadi sekalian kita semua barengan perginya.” Usulan Buk Ice pun diangguki Budi yang pandangannya menatap sendu ke arah Rini.
Bu Ice pun lagi-lagi berbicara meminta persetujuan pada Rini. “Enggak apa-apa ya Rin, kali ini kamu jalan-jalannya belum berduaan sama suamimu. Palingan besok atau lusa ibuk, Bapak, juga Rehani balik.”
‘Berdua?’ batin Rini dalam hati.
***
Siang menjelang sore, mereka berlima pun pergi ke pusat perbelanjaan di kawasan elit. Salah satu mal ternama yang kini tengah mereka kunjungi itu, tampak menjual segala perlengkapan, mulai dari baju, sepatu, tas serta produk furnitur dan juga kebutuhan ritel yang begitu komplit. Sesampainya mereka di tempat tersebut mereka pun menyambangi beberapa toko. Salah satu toko yang pertama kali mereka jajaki adalah sebuah toko sepatu, tentunya dengan berbagai merek yang sudah tak awam di kalangan atas.
Tampak Rehani yang begitu semangat ketika mendapati sepatu yang sesuai dengan seleranya. Ia pun menjajal sepatu dan memilah-milah lagi. Sementara Rini menyusuri tiap koridor yang kanan kirinya tertata rak-rak yang tersusun sepatu serta sandal hdengan rapi. Budi sendiri tampak mengekori tepat di belakang Rini. Dia begitu menikmati saat seperti ini, yang di pikirannya hanya berdua menyusuri tiap lorong di antara rak sepatu, ternyata di belakangnya menyusul pula salah satu pegawai toko yang sedang menjalankan tugasnya.
Di sela-sela langkah keduanya, tiba-tiba terdengar dering notifikasi seluler milik Budi. Dirinya pun pamit menjauh pada Rini setelah melihat siapa daftar nama panggilan yang ada di gawainya untuk menjawab panggilan. Sementara Rini masih menikmati pandangannya dengan beberapa koleksi sepatu yang tertata rapi di atas rak. Sesekali dirinya pula ikut menjajal sepatu yang menarik perhatiannya, tentu setelahnya Rini tak lupa dengan kebiasaannya melihat angka yang tertera di kertas kecil yang menempel. Alangkah terkejut Rini melihat deretan angka di kertas yang berukuran kecil, bahkan menganga hampir tak percaya.
'Ini harganya gila bener, enggak salah nih? Bahkan sisa gajiku juga bakal ludes cuma untuk beli sepatu doang, bagusnya sih bagus,' batinnya dan semenjak dirinya memutuskan menerima perjodohannya dengan Budi, dirinya pun di minta mertuanya untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja. Karena setelah menikah dirinya sudah pasti akan mengikuti sang suami yang tinggal dan menetap di daerah yang berbeda dari kediamannya.
Melihat Rini yang menjajal salah satu heels, karyawan yang sebelumnya berdiri di dekat dirinya pun memberi informasi seputar produk yang mereka jual. “Itu koleksi terbaru dari shop kita Bu, Ibunya pakai nomer berapa, ada varian warna juga,” ucap pekerja itu pada Rini dan langsung Rini menyengir, dia mengingat deretan angka yang bisa menghabiskan sisa gaji terakhirnya.
“Oh, ini saya cuma lihat-lihat aja kok. Maaf Mbak,, Mbak nya bisa tidak enggak usah ngikutin saya? Mending Mbak nya layanin pembeli yang lain deh, ntar kalau saya butuh bantuannya Mbak, Mbak nya saya panggil.” Rini bukan ingin mempersulit atau tidak suka dengan pekerja toko, hanya saja dirinya sangat merasa risih bila terus di ekori. Maklum saja, ini karena dirinya terbiasa membeli segala kebutuhannya di pedagang kaki lima yang tingkat pelayanannya jelas beda dengan sekelas pusat perbelanjaan yang saat ini dirinya tapaki.
Entah kenapa, setelah dirinya menatap pergi pekerja toko yang sedari tadi mengekorinya, tiba-tiba saja kepalanya terulur melihat arah pintu masuk toko. Matanya membola melihat arah itu dan dengan sigap Rini berjalan cepat mencari sesuatu yang sekiranya dapat menyembunyikan tubuhnya. Jantungnya pun seketika berpacu cepat, bahunya naik turun mengikuti irama napasnya. Darahnya berdesir dan entah sejak kapan bulir peluh di keningnya pun mulai terlihat. Salah satu tangannya pun membekap pelan bibirnya, sementara tangannya yang lain di letakkan di atas dadanya mencengkeram pakaian yang dirinya kena.
Sesekali Rini mendongak ke arah yang dia hindari dan sebuah etalase transparan yang di tempeli beberapa poster promosi menjadi pilihannya untuk menyembunyikan tubuhnya yang masih bisa terlihat, nyatanya etalase transparan itu cukup ampuh menjadi tempat sembunyi sementara.
'Revan,,,' batin Rini.
Itulah alasan yang menjadi penyebab dirinya kini berada di balik etalase transparan. Rini tak ingin keberadaan dirinya terlihat oleh Revan. Padahal dalam hati Rini, dirinya begitu merindu dengan sosok yang kini tengah di hindarinya.
Selain Revan, terlihat pula seorang gadis muda menggaet lengan Revan, jika di taksir mungkin usianya seumuran dengan dirinya. Ada rasa ingin tahu dalam hatinya, tapi mana mungkin Rini berani menampakkan wujudnya. Apalagi dirinya saat ini tidak seorang diri melainkan bersama Buk Ice beserta keluarga. Ada sedikit rasa sedih serta cemburu, juga dilema akan pertanyaan yang sama sekali tak mampu di utarakannya pada sosok yang tengah di amati dari balik etalase. Namun dirinya hanya bisa menahan segala perasaan yang berkecamuk di dadanya.
Tanpa Rini sadari, ada sosok pria yang sedari tadi memperhatikan gerak geriknya yang begitu jelas terlihat bersembunyi di balik etalase transparan dari sudut ruang toko sepatu. Pria itu begitu santai sembari memegang gawai dalam genggamannya memperhatikan semua gerak gerik Rini, juga sesekali melihat ke sumber arah pandangan mata Rini yang di yakininya menjadi alasan Rini berada di balik etalase. Segurat tanya pun berkecamuk di hatinya.
'Mengapa kamu harus bersembunyi darinya Rin, ada apa sebenarnya? Apa kamu lupa akan keberadaanku di sini? Mengapa kamu harus menghindarinya?' Pria itu adalah Budi, suami Rini Ayuningtyas. Budi hanya mampu bertanya dalam batinnya. Istrinya, Rini masih di lihatnya berdiri di balik etalase.
Bukan Budi tak mengetahui sosok yang menjadi arah pandang Rini. Sosok yang di yakini dirinya adalah kekasih Rini sebelum di nikahinya, namun terbantahkan dari ucapan Bayu, adik iparnya. Tapi dengan apa yang tengah di lihatnya kini, justru menimbulkan tanya di benaknya sendiri. Budi pun juga melihat sosok yang tengah di hindari istrinya tak hanya seorang diri, tapi juga bersama seorang wanita yang Budi sendiri juga tak mengenalinya. Lantas mengapa istrinya, Rini justru menghindari sosok tersebut?
bersambung...