bc

Prologue of Love

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
HE
age gap
arranged marriage
submissive
doctor
sweet
bxg
bold
city
like
intro-logo
Blurb

Amartya Halim atau Metha, adalah seorang gadis berusia 21 tahun yang baru saja lulus kuliah dan berusaha membangun bisnis Event Organizer bersama para sahabatnya. Bisnis yang ia bangun perlahan mulai menunjukkan hasil signifikan, di samping kisah cintanya yang indah bersama seorang seniman jalanan yang sudah bersamanya selama 4 tahun.Di tengah usahanya membangun bisnis dan impian akan masa depan cintanya, ia harus dihadapkan dengan penyakit sang Ayah dan permintaan terakhirnya untuk menikahi seorang lelaki pilihan keluarga yang tidak pernah ia sukai. Akankah Metha menuruti keinginan terakhir sang Ayah dan mengorbankan cintanya? atau ia akan berjuang mempertahankan cinta yang sudah selama ini bersamanya? Lalu bagaimana dengan bisnis Metha yang mulai menghadapi pasang surut dan terancam bangkrut?

chap-preview
Free preview
01
"Rangga, aku mau bicara sebentar." Ucap Metha. Jemari Indahnya menarik lembut lengan gagah berotot milik kekasih hatinya sedikit menjauh dari keriuhan galeri lukis milik sang lelaki. "Ada apa? kamu mau bawa aku kemana sih?" Tanya Rangga penasaran ketika Metha terus menariknya lebih jauh lagi.Ia tak kunjung menjawab ketika lelaki tersebut terus bertanya tanpa henti. "Metha, kita mau kemana? kenapa kamu diam aja aku tanya?" Rangga sedikit kesal dengan sikap Metha yang menurutnya ajaib itu. Tapi ia berusaha menahan emosinya agar gadis tersebut enggak berbalik memarahinya. Metha tetap tak bergeming. Wajah cantik dengan senyuman indah yang selalu ia tunjukkan dihadapan kekasihnya itu sekarang tak terlihat. Hanya ada wajah yang serius tanpa senyuman sembari berjalan lebih cepat menarik lengan pujaan hati yang telah bersama dirinya selama bertahun-tahun. Tak sampai 5 menit, mereka tiba di sebuah taman luas nan sejuk di kota Bandung ini. Taman tersebut nampak begitu sepi, hanya terlihat beberapa orang yang berlalu lalang disekitarnya. Metha menghentikan langkahnya di tempat tersebut. Rangga yang begitu kebingungan berbalik menarik lengan gadis tersebut dan memutar ke hadapannya. "Kamu mau bicara apa? penting banget ya? gak biasanya kamu begini.." kedua telapak kekar itu meraih wajah ayu si gadis dan membelai kedua belah pipinya dengan lembut. Sesaat Metha terbuai menikmati belaian itu lalu tersadar dengan tujuannya menarik Rangga kemari. "Sayang, Ada apa? kamu kelihatan murung. Cerita sama aku.." Ucap Rangga dengan begitu lembut dan memanjakan. "Rangga, aku tuh gak mau bilang hal ini sebenarnya. Tapi.." Metha menghentikan ucapannya. Wajahnya begitu pucat, matanya memerah dengan ekspresi yang sulit ditebak. Bulir air mata sudah mengembang di pelupuk mata dan siap terjatuh. Rangga begitu panik dengan keadaan Metha. Ia sudah berpikiran buruk, takut terjadi sesuatu akan kekasihnya. "Tapi apa, Sayang?" Metha menarik napas panjang, air matanya terjatuh begitu cepat membuat pemuda di hadapannya semakin cemas dan panik. "Kamu tolong bicara sama aku!" Seperti mulai hilang kesabaran, Rangga mulai mengguncang pundak Metha yang sejak tadi ia pegang erat. "Sepertinya..Sepertinya..aku..hubungan kita..harus berakhir, ga!" *DEG!* terasa seperti disambar petir, begitulah perasaan Rangga sekarang. Kekasih yang selama ini berjanji takkan meninggalkannya justru meminta untuk pergi. "Kamu ngomong apa, Metha? Kenapa? Kenapa kamu minta udahan? apa aku bikin salah sama kamu? Tolong bilang, aku bakal perbaikin sikap aku. Kamu gak suka aku ngerokok? oke aku bakal berenti ngerokok. Kamu gak suka aku sering minum minuman keras? oke aku bakal berenti, Sayang. Yang penting kamu gak ninggalin aku..." Rangga berusaha keras menahan air matanya. Metha hanya terdiam, tangisannya sudah terlanjur tertumpahkan sejak awal. "Kamu enggak salah apa-apa, Rangga. Kamu sosok yang terbaik untukku. Tapi, Orang tuaku sudah terlanjur menjodohkanku dengan orang lain pilihan Papa.." Rangga ternganga mendengar ucapan Metha. Ia merasa hidupnya sudah hancur saat itu juga. "Dijodohkan?" Ucap Rangga meyakinkan. Metha mengangguk pelan. Wajahnya tertunduk, matanya nanar bersemu memerah, pandangannya terasa hampa. "Enggak, Metha. Enggak. Kamu milikku dan selamanya tetep milikku! Kamu gak boleh pergi dengan siapapun!" Rangga begitu marah. Pemuda itu tak terima diputuskan begitu saja. "Tapi aku butuh kepastian darimu, dan kamu enggak pernah bisa kasih kepastian itu. Aku capek terus nungguin kamu, sampai kapan?? Cukup, Kita harus berakhir sampai disini aja, Rangga. Aku enggak bisa terus sama kamu.." Metha baru saja hendak pergi jika saja Rangga tak berhasil menahan kepergiannya. Pria tampan itu terduduk lesu di rerumputan sembari menggenggam erat tangan gadis pujaannya. Wajahnya menengadah, menatap pemandangan Indah yang terpampang jelas di hadapannya. "Kumohon, jangan tinggalkan aku. Aku enggak punya siapa-siapa lagi yang bisa kupercaya selain kau dan Ibuku.." Pemuda itu memohon dengan tatapan nanar. Ekspresinya terlihat begitu memilukan. Ada rasa iba menghampiri hati Metha melihat pria pengisi relung hatinya bersikap seperti ini. Rangga sosok yang begitu jujur dan polos, apa yang ia katakan begitu tulus. Metha tahu pasti akan hal itu. "Apa alasanku harus tetap bertahan sama kamu?" Metha kini berkacak pinggang. Terkesan mengintimidasi, itulah ekspresi yang sekarang ia tunjukkan pada pria yang tengah berlutut di depannya. "Aku tahu aku miskin, cuma pelukis jalanan, enggak punya apa-apa, kuliah pun mengandalkan beasiswa. Tapi aku punya mimpi yang pengen kurajut sama kamu selamanya.."Rangga tertunduk lesu." Kumohon jangan pergi.." dikecupnya berulang kali punggung tangan sang gadis yang sejak tadi tidak dilepas. Bukannya merasa iba, Metha justru tersenyum jahil melihat sang kekasih yang begitu putus asa.Iapun jongkok lalu menatap geli pada Rangga. "Bagaimana rasanya?" Tanyanya iseng. Rangga yang semula terpukul seketika makin kebingungan dengan sikap Metha yang berubah drastis. "Maksudnya?" Rangga enggak mengerti ucapan Metha. "Iya. Bagaimana rasanya aku kerjain?" "Jadi kamu cuma ngerjain aku??" Ujar Rangga kesal. Metha terbahak-bahak melihat ekspresi Rangga yang menurutnya begitu lucu usai ia kerjai. Ia hanya berniat jahil terhadap pasangannya karna ini adalah anniversary hubungan mereka yang ke 4 tahun. Metha memang memiliki sifat ceria, jahil dan suka bercanda, berbeda dengan Rangga yang terlalu polos dan mudah dijahili olehnya. "Kamu jahil banget, ya. Nyebelin tau gak!" Omel Rangga. "Hahaha, biarin. Abis kamu polos banget sih, aku jadi suka aja isengin kamu.." Ia pun mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Setangkai mawar merah dan sebuah kotak kecil berwarna biru muda Metha serahkan pada Rangga. "Happy anniversary yang ke 4 tahun ya, sayang.."Pemuda itu terdiam, tak menyangka Metha masih mengingat tanggal jadian mereka. "Ya Tuhan, aku lupa. Maaf sayang.." Rangga enggak mengingat hari ini adalah anniversary mereka ke 4 tahun. Metha sedikit kesal, namun ia memahami bagaimana kesibukan sang kekasih di galerinya. "Gapapa, itu kado dari aku.." "Ini apa?" "Buka aja.." Rangga kemudian membuka bingkisan koda berukuran kecil yang Metha beri untuknya. "Jam tangan??" Pemuda itu kaget melihat isi dari hadiah yang Gadisnya beri. Sebuah jam tangan merk ternama yang harganya terbilang mahal. "Iya, itu jam tangan yang kamu incar sejak dulu kan.." Metha merangkul lengan Rangga dengan erat. "Tapi ini mahal, jangan bilang kamu minta sama Papamu.." "Enggak, ini uang aku kok.." Dikecupnya berkali-kali lengan berotot itu dengan lembut. Rangga melepas pelukan Metha dan berbalik memeluknya dengan erat. "Terima kasih, sayang. Maaf aku enggak enggak sempat menyiapkan hadiah. Happy anniversary, ya.." Rangga mencium dahi Metha cukup lama. "Kamu selalu ada untukku aja sudah mnjadi kado terindah.." Keduanya saling mengeratkan dekapan dan tersenyum bahagia.Sejenak mereka terdiam, memejamkan mata sembari kenikmati pelukan hangat yang enggan dilepaskan. "Tolong jangan diulangi lagi kek tadi, ya.." Ucap Rangga. "Ehmm??" "Iya, aku enggak suka kamu minta putus seperti tadi.Kamu tahu aku enggak bisa kalau enggak ada kamu.." Metha hanya terdiam, menikmati setiap detik yang bisa ia habiskan bersama sang kekasih. Ia tahu Rangga begitu tulus padanya, bisa ia pastikan hal itu. Sebab, Rangga belum pernah menjalin hubungan percintaan selain dengannya, iapun tidak memiliki banyak teman lawan jenis. Terlebih, sang Papa sudah meninggalkan ia, Ibu dan adiknya sejak lama. "Kenapa kamu sayang banget sama aku?" Tanya Metha. Rangga menggeleng. "Entahlah, yang kutahu kamu milikku dan selamanya akan menjadi milikku. Aku gak tau gimana jadinya hidupku kalau kamu bersama orang lain." "Aku juga enggak pernah terpikir untuk bersama orang lain selain kamu. Aku cuma pengen sama kamu selamanya.." "Kamu janji, ya. Jangan pernah ninggalin aku. Ibuku sudah terlanjur jatuh hati padamu.." Rangga menarik mesra hidung mancung Metha, membuatnya menggeliat manja. "Enggak bakal. Bahkan biarpun seluruh dunia menentang, Aku akan tetap maju bersamamu.." "Meskipun Ibumu enggak pernah menyukaiku?" Ujar Rangga bertanya, membuat raut wajah Metha berubah drastis. "Kenapa kamu bahas itu lagi sih?" Metha melepas pelukan Rangga dan berbalik memunggunginya. "Tapi faktanya begitu. Dari dulu ibumu memang enggak pernah suka sama aku. Kamu ingat kan bagaimana sikapnya saat berpapasan denganku di Braga beberapa waktu lalu?" Tukas pria berambut gondrong itu jujur. "Kamu sendiri bagaimana? enggak pernah berusaha buat mengambil hati ibuku.." "Gimana aku bisa mengambil hatinya sementara dia selalu memasang tembok besar kalo aku berada di sekitarnya.." "Itu karna kamu enggak pernah memulai terlebih dahulu, Papaku bisa kenal kamu karna aku yang mendekatkan kalian. Sementara aku? Aku harus berjuang dulu buat deketin Ibumu sampe beliau menerimaku. Apa kamu juga ngelakuin hal sama ke keluarga aku?" Rangga tersenyap. Ia tahu memang dirinya sulit sekali memulai mendekati keluarga Halim. Keluarga Halim adalah keluarga terpandang, pemilik RS Albert Halim, RS swasta besar di Bandung. Sementara Rangga berasal dari keluarga sederhana. Ibunya hanya bekerja sebagai penjual kue di pasar, adiknya masih sekolah dan sesekali membantu Ibunya, sementara Rangga sendiri hanyalah seorang seniman lukis serabutan yang pendapatannya enggak seberapa. "Cukup. Udah berapa kali kita ributin yang sama berulang-ulang seperti ini. Aku capek!" Metha menangis di pelukan Rangga. "Maafin aku, maaf. Aku janji enggak akan bahas hal ini lagi. Maafkan aku, ya.." Rangga mendekap erat sang kekasih. Ia sadar, entah keberapa kalinya mereka selalu meributkan hal ini. Hal dimana Ny. Tiffany Halim, Mama dari Amartya Halim alias Metha enggak pernah mampu menerima keberadaan Rangga disamping putri kesayangannya. "Kamu juga harus berjuang mendekati orang tuaku sebelum mereka menyerahkanku pada orang lain.." "Enggak akan kubiarin kamu pergi dengan orang lain, kamu harus sama aku terus gimana caranya!" Ujar Rangga.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
14.9K
bc

TERNODA

read
199.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
69.9K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook