Dengan langkah ragu Lia melangkahkan kakinya masuki lobby hotel. Tadi siang, Mami Tina
sudah memberitahukannya ada seseorang yang mau membeli perawannya dan memberikan
alamat hotel dan nomer kamar hotel si pembeli.
"Kamar 501 dimana ya mbak?" tanya Lia pada petugas reception.
"Nona nanti naik kelantai lima,nanti kamarnya paling pojok," jelas petugas reception itu.
Lia datang masih menggunakan pakaian yang dia pakai tadi. Ingin rasanya berlari meninggalkan hotel
dan membatalkan semua ini. Tapi, itu sangat mustahil karena uang yang Mami Tina berikan sudah
habis untuk biaya perawatan adiknya di rumah sakit.
Lia melangkahkan kakinya menuju lift. Lia berdiri di depan pintu kamar tempat laki-laki yang
membelinya berada di dalam kamar itu. Lia terdiam beberapa detik, sebelum menekan bel pintu
kamar. Pintu dibuka dari dalam, seorang laki-laki tampan terlihat berdiri dihadapannya, laki-laki berkisar
30an tahun. Apa orang ini yang membelinya?
"Kamu sudah datang? Majikan saya sudah menunggu kamu di dalam," ucap laki-laki itu membuat
Lia langsung tersadar bukan laki-laki dihadapannya yang membelinya.
Lia kembali mengatur nafasnya mengikuti laki-laki itu masuk kedalam kamar.
"Tuan, pesanan anda sudah datang?" lapor laki-laki itu kepada seseorang yang sedang memunggungi
mereka berdua.
"Tinggalkan kami," titah laki-laki itu dengan suara beratnya seketika membuat tubuh Lia merinding, ketakutann
Lia menjadi bertambah takut. Apalagi ruangan itu minim pencahayaan hanya lampu tidur yang terlihat menyala.
"Baik Tuan." Laki-laki tadi langsung meninggalkan kamar, yang menyisakan mereka berdua saja.
Lia hanya menundukkan kepalanya.
"Saya dengar kamu memiliki hutang sama Tina sebesar 100 juta dengan jaminan dirimu sendiri,"
ucap laki-laki itu tanpa membalikkan badannya.
Laki-laki itu terlihat sedang menikmati pemandangan malam hari yang terpampang jelas terlihat
dari kaca jendela.
"Iya bener Om," jawab Lia terputus-putus. Terdengar jelas nada ketakutan pada jawaban gadisnya.
"Apa kamu tidak akan menyesalinya?" tanya laki-laki itu
"T- tidak Om," jawab Lia masih dengan nada yang terputus-putus.
Laki-laki itu membalikkan badannya, membuat Lia terkejut dengan sosok yang berdiri di hadapannya.
Sosok yang bertabrakan dengannya sewaktu diclub milik Mami Tina. Sosok yang begitu tampan membuat Lia
terkesima dengan pahatan maha karya yang hampir sempurna.
Laki-laki berkisar umur diatas kepala empat sangat dewasa.
Laki-laki dewasa itu mendekati Lia dan berdiri tepat dihadapan Lia membuat nafasnya tercekat.
"Saya akan membantumu mengeluarkanmu dari cengraman Tina, tetapi setelah ini kamu harus
berjanji tidak akan melakukan hal seperti ini lagi. Saya yakin kamu anak yang baik dan jika melihat
saya diluaran kita tidak akan saling mengenal lagi," ucap laki-laki itu
dan Lia menganggukan kepalanya tanda dia mengerti apa yang dimaksud laki-laki itu.
Laki-laki yang Lia tidak ketahui namanya itu langsung melumat bibir ranum Lia. Tangan laki-laki
itu berada di tengkuk lehernya menahan leher Lia. Lia yang baru pertama kali bibirnya
disentuh terlihat sangat kaku dan tidak bisa mengimbangi permainan kelas expert yang kini
sudah menguasai dirinya. Sedangkan tangan lain laki-laki itu membuka satu persatu kancing
kemeja yang Lia kenakan sampai kemeja itu berpindah kelantai.
Lia hampir kehabisan nafas,laki-laki dewasa itu menghentikan kegiatannya untuk sementara
sebelum melanjutkannya lagi menjelajahi setiap inci gadis polos dihadapannya.
Laki-laki dewasa itu mengendong tubuh gadis itu keatas ranjang lalu mengunci tubuh gadis itu. Lia
hanya terdiam tidak menunjukkan reaksi apapun. Air matanya ingin tumpah namun dia tahan. Dia
harus menyelesaikan tugasnya malam ini dan esok hari memulai kehidupan yang baru tentunya
bukan sebagai gadis perawan lagi karena malam ini perawannya sudah dia jual untuk laki-laki yang
tidak dia kenal namanya.
Air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya keluar juga ketika laki-laki dewasa itu memasuki dirinya.
Tangan Lia mencengkram lengan kokoh laki-laki itu. Rasa sakit yang begitu luar biasa menghampiri dirinya
saat ini
"Aku akan berusaha lembut," ucap parau laki-laki dewasa itu ditelinga Lia
Laki-laki dewasa itu kembali membungkam bibir Lia dan mengerakkan pinggulnya maju mundur sampai dia
mendapatkan pelepasanya. Malam ini malam yang melelahkan bagi Lia.
Laki-laki dewasa itu melakukanya tidak cukup sekali membuat tenaga Lia benar-benar terkuras.
Keesokan harinya Lia terbangun tanpa melihat siapapun dikamarnya. Laki-laki itu pergi
tanpa berpamitan. Dengan tertatih Lia menuju kekamar mandi membersihkan dirinya. Air mata
Lia terus mengalir keluar mengingat kejadian semalam.
Sekarang tidak ada yang bisa dia banggakan pada dirinya. Haruskah menyesal?
Lia menguatkan dirinya sendiri ini semua untuk adiknya. Lia kembali kekamar sepucuk surat
dan sebuah cek berada diatas nakas. Lia membaca pesan yang tertulis di secarik kertas.
"Urusanmu dengan Tina sudah selesai, jangan pernah kembali lagi ke club itu dan itu ada sedikit uang
untukmu." Lia melihat nominal yang tertera di cek pada cek itu 50 juta. Entah harus bersyukur atau bagaimana
tetapi laki-laki itu adalah dewa penolong baginya.
Suara ponsel Lia berdering lagi.
Lia melihat ibunya menghubungi dirinya,
"Lia, cepat kamu kerumah sakit, Suara ibunya sangatlah panik.
"Iya bu, aku kesana sekarang." Lia tanpa mempedulikan rasa sakit dibagian intinya berlari
dengan cepat meninggalkan hotel ,memberhentikan ojek yang kebetulan lewat sekitar hotel.
"Pak tolong antar saya kerumah sakit umum," pinta Lia. Dia yakin terjadi sesuatu dirumah sakit.
"Pak tolong lebih cepat."
"Ini juga sudah kecepatan maksimal neng," sahut tukang ojek itu.
Setelah memakan waktu sekitar empat puluh menit akhirnya Lia sampai di parkiran rumah sakit.
Setelah membayar ojek, Lia berlari sekencang-kencangnya menuju bangsal adiknya.
Terlihat ibunya tengah menangis dipelukan sahabatnya Nayra.
"Bu, apa yang terjadi?" tanya Lia.
"Dokter menemukan penggumpalan darah dikepala Deon dan harus segera dioperasi
dan biaya operasinya perkiraan 200 juta." Lia langsung lemas mendengar nominal yang disebutkan oleh
ibunya. Lia hanya memiliki uang 60 juta termasuk uang yang diberikan oleh Nayra.
Air mata Lia tidak bisa terbendung lagi. Bagaimana caranya lagi dia mencari uang sebanyak itu.
Dia tidak tega melihat adiknya yang baru berumur 12 tahun harus menderita.
"Bu, bagaimana dengan ayah?" tanya Lia.
"Ayahmu tidak memiliki uang kata istrinya. Bahkan ibu tidak diijinkan berbicara dengan ayahmu."
Lia hanya bisa terdiam memeluk tubuh ibunya. Lia tidak memiliki jalan keluar lagi. Haruskah pergi
ketempat Mami Tina Lagi.
Akankah mami Tina meminjamkanya uang lagi sedangkan dirinya tidak perawan lagi. Atau haruskah dirinya
menjadi salah satu anak buah mami Tina bekerja di clubnya.
Lia sangat kebingungan.
Tiba-tiba tangan Lia ditarik seseorang.
"Lia, kamu ikut aku sekarang," ajak Nayra.
"Kemana Nay?"
"Ketemu Ayahku," ajaknya langsung menarik tangan sahabatnya meningalkan ibunya yang tengah bersedih.
"Kita gak banyak punya waktu," ujar Nayra.
Nayra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Nayra yakin sekarang ayahnya pasti
berada di kantornya.
Nayra memarkir mobilnya sembarangan di depan loby kantor.
Tentunya tidak satupun dari staf yang berani menegurnya karena semua orang mengetaui dia adalah
putri tunggal pemilik perusahaan raksasa itu.
"ayah di mana?" tanya Nayra kepada sekretaris ayahnya dengan ketus.
"Nayra tumben kamu kekantor?" tanya sekretaris ayahnya dengan ramah.
Nayra malas meladeni sekretaris ayahnya yang dia tau memiliki hubungan khusus dengan ayahnya.
Nayra langsung menuju kantor ayahnya lalu membuka pintu ruang kerja ayahnya.
Tubuh Lia langsung membeku melihat sosok yang duduk di kursi kebesaranya dengan penuh
wibawa. Disebelahnya, ada seorang laki-laki yang Lia kenal. Lia langsung menundukan kepalanya
tidak berani menatap sosok laki-laki itu.
"Jadi laki-laki yang membeli perawanku adalah ayah Nayra sahabat karibku."