Niko dari kursi kebesarannya juga terlihat begitu terkejut melihat putrinya datang dengan gadis yang dia perawani kemarin malam. Bersyukur putrinya tidak menyadari espresi wajah.
" Nayra kenapa pagi pagi sudah membuat ulah ?" tanya ayahnya dengan nada lembut kepada putri kesayangannya.
" Ayah aku butuh 200 juta " ucapnya dengan enteng, lalu mendekati sang ayah dan duduk dipangkuan ayahnya dengan manja. Sedangkan
Lia masih tertunduk tidak berani mengangkat kepalanya. Niko hanya melirik sebentar kearah Lia. kemudian fokus kembali kepada putrinya.
" kenapa kamu membutuhkan uang sebanyak itu sayang? " tanya Niko kepada putri kesayangannya.
" Oya, Perkenalkan ayah itu sahabat karibku dia yang selalu menemaniku dan menjaga ku selama ini. adiknya kecelakaan sebelumnya
sudah dioperasi menghabiskan biaya seratus juta, sekarang butuh biaya dua ratus juta lagi karena ada gumpalan darah dikepalanya
dan harus segera dioperasi " jelas Nayra kepada ayahnya.
Mata Niko berahli menatap wajah cantik sahabat putrinya yang masih tertunduk.
" jadi ini alasan gadis ini melakukan semua ini " Niko berbicara dalam hati
Untuk beberapa detik ruangan itu menjadi hening.
" Bram "
" iya, Tuan "
" Kamu pergi ke rumah sakit urus semua biaya administrasinya" Perintah Niko membuat Lia dan Nayra terkejut.
" BAik Tuan"
Kemudian Bram sang assisten meninggalkan ruangan majikannya, melirik kearah Lia yang masih tertunduk. Ada rasa kasian dihati Niko
melihat gadis polos itu.
" Terimakasih Ayah " Nayra langsung memeluk ayahnya dengan perasaan bahagia.
Dari tempat duduknya Niko masih mengamati sahabat putrinya.sambil memeluk Nayra.
Lia memberanikan diri mengangkat kepalanya sehingga pandangan mereka bertemu beberapa detik. kemudian Lia menundukkan
kepalanya lagi.
DEngan gembira Nayra turun dari pangkuan ayahnya lalu memeluk sahabatnya.
" thu kan, apa kataku, semua masalahmu jadi beres. sekarang kamu bilang dimana kamu pinjam uang seratus juta itu, nanti biar
Ayah ku yang melunasi semuanya " ucap NAyra dengan bangga.
" tidak usah Nay, Nanti aku akan cicil semuanya" tolak Lia dengan cepat. Karena semua masalah itu sudah beres dengan Lia
membayar perawannya.
Niko yang mendengar itu tersenyum kecut. Hatinya kini bercampur aduk. Dia merasa bersalah kepada gadis muda itu.
Terlebih sekarang Niko mengetahui gadis yang dia beli perawannya adalah sahabat karib putri tercintanya.
Bagaimana jika putrinya tau? Niko tidak bisa membayangkan kemarahan putrinya. Tetapi disisi lain, Niko
sangat menyukai permainan kemarin. Ternyata b******a dengan gadis yang dia perawani berbeda
dengan para wanita yang memiliki skill yang hebat dalam urusan ranjang.
"Lia, kalo kamu ada kendala kamu bilang saja sama aku. Aku akan meminta ayahku mengurus
semuanya," ucap Nayra sembari menepuk dadanya.
" Om terimakasih atas bantuannya," ucap Lia
"Lia, ayahku ini anggap saja ayahmu juga. Kitakan sudah kayak saudara jadi aku tidak keberatan
membagi ayahku sama kamu," ucap Nayra lagi.
Niko dan Lia sama-sama menelan salivanya mendengar kalimat Nayra.
"Kami kemarin sudah saling berbagi Nay," ucap Niko dalam hati sembari menatap gadis polos itu.
Terlihat jelas gadis polos itu juga merasa tidak nyaman.
Nayra mengajak Lia meninggalkan ruangan ayahnya menuju kearah mobilnya yang terparkir.
"Nay, aku gak tau harus bilang apa sama kamu," Mata Lia berkaca-kaca.
"Asisssss!! Aku juga kaget begitu gampangnya ayah mau mengeluarkan uang padahal aku
sudah mau banyak drama tadi."
"Maksudmu ayahmu pelit." Nayra menonjok jidat Lia,
"ayahku bukan pelit tapi perhitungan. Mungkin hari ini dia lagi seneng, kalo gak, akan sangat
susah di rayu." Nayra melaju kendaraannya keluar dari perusahaan ayahnya menuju kerumah sakit tempat adiknya
dirawat. Perjalanan cukup lama mereka tempuh apalagi jalanan sudah mulai macet.
Lia menjadi lebih lega mendengar semua biaya rumah sakit sudah diurus oleh asisten ayahnya Nayra.
Lia masih berfikir apa yang terjadi selanjutnya, apa yang harus dia lakukan untuk membayar
hutangnya yang begitu banyak kepada ayah sahabatnya.
"Lia, aku denger kamu sama Rey sudah putus ya?!" tanya Nayra dengan santai.
"Iya...! Aku lupa cerita sama kamu, habis kepalaku pusing banget ngurus biaya rumah sakit adikku.
Aku juga sudah lupa dengan kejadian itu."
"Gak nyangka ya, Rey begitu tega sama kamu. Kamu gak usah sedih masih banyak laki-laki yang jauh
lebih baik dari dia," hibur Nayra yang tidak ingin temannya terus mengingat laki-laki b******k itu lagi.
Ting.
Sebuah pesan masuk keponsel Lia. Yang membuat Lia membelalakan matanya melihat nama sipengirim pesan.
~Temui saya besok malam diapartemen saya. Besok saya kirim lokasinya ~ Niko.
"Kok kaget gitu sih? Emang siapa yang kirim pesan?" tanya Nayra penasaran setelah melihat ekspresi
sahabatnya.
"Ibu... Aku cuma kaget kalo ada uang tindakan yang diambil juga ,cepet banget," sahut Lia
berbohong, tidak mungkin dia bilang itu pesan dari ayahnya.
"Sekarang kamu tinggal berdoa saja, semoga Deon cepat sembuh."
"Amin."
Nuri, ibunya Lia memeluk Nayra ketika melihat gadis itu datang. Dia merasa begitu banyak hutang
budi kepada Nayra dan ayahnya. Kalau tidak ada mereka tidak tau apa yang mesti mereka lakukan
untuk mencari biaya pengobatan Deon lagi.
Bram yang masih ada ditempat itu hanya bisa memperhatikan mereka terutama gadis polos yang
diperawani oleh majikannya. Bram berfikir bagaimana perasaan gadis polos itu setelah mengetahui kalo
laki-laki yang mengambil mahkotanya adalah ayah sahabatnya sendiri.
Lia sudah memesan ojek online bersiap-siap menuju ke lokasi yang dikirim oleh ayah sahabatnya.
Tidak mungkin Lia tidak datang karena dia memiliki hutang kepadanya, selain itu Lia juga
penasaran apa yang ingin ayah sahabatnya bicarakan dengan dirinya.
Lia menekan bel pintu, tak lama kemudian pintu terbuka, kali ini yang langsung membukakan pintu
adalah Niko sendiri.
Lia mengikuti langkah laki-laki dewasa itu masuk kedalam apartemen. Setelah dipersiapkan
duduk Lia duduk dengan sopan.
Niko duduk dihadapan Gadis yang sangat berbeda daripada yang lain, padahal beberapa hari yang lalu
mereka pernah membagi ranjang.
"Masih sakit?" tanya Niko terus memperhatikan gadis polos yang duduk dihadapannya.
"Saya sehat Om," sahut Lia dengan sopan.
Niko menyunggikan senyuman di bibirnya.
Niko yakin seratus persen Lia tidak mengerti maksud pertanyaannya.
"Maksud saya apa yang kita lakukan kemarin kamu masih merasakan sakit," ucap Niko
memperjelas pertanyaannya.
Lia akhirnya mengerti maksud pertanyaan itu seketika wajahnya berubah menjadi merah karena
malu lalu menjawab dengan anggukan kepalanya. Memang masih terasa perih.
"Lia, apa kamu membenci saya atas tindakan yang saya lakukan kemarin malam?" tanya Niko tanpa
mengalihkan pandangannya dari wajah polos Lia.
"Tidak Om, saya tidak menyalakan om, justru saya berterima kasih om sudah membebaskan saya dari
perjanjian dengan Mami Tina," sahut Lia dengan lembut.
Lia memberanikan diri menatap wajah laki-laki dewasa dihadapannya yang selama ini
digosipkan sebagai casanova.
Pandangan mereka bertemu beberapa detik kemudian Lia mengalihkan pandangannya kearah lain.
Niko beranjak dari tempat duduknya berpindah duduk disamping Lia. Niko membelai lembut rambut Lia membuat
jantung Lia berdebar. Perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
"Lia, Saya akan bertanggungjawab atas semua biaya rumah sakit adikmu dan menjamin kehidupan ibumu dan
juga kamu. Asal kamu mau menjadi kekasihku," ucapnya sembari membelai wajah polos Lia
Lia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Apa yang mesti dia jawab, namun penawaran yang
diberikan oleh ayah sahabatnya begitu menggiurkan karena Lia memang membutuhkan uang untuk biaya adiknya.
Lia kebingungan atas tawaran itu. Disisi lain Bagaimana jika sahabatnya mengetahuinya.