Lia tidak tau harus menjawab apa. Tetapi penawaran yang ditawarkan oleh ayah sahabatnya
begitu menggiurkan, apalagi adiknya membutuhkan biaya yang banyak, apalagi sekarang ibunya
sudah tidak bekerja lagi. Tetapi dia takut jika sahabatnya mengetahuinya.
Seakan Niko bisa membaca pikiran gadis polos itu, "Lia, kamu jangan takut pada Nayra, asalkan kita
bermain rapi Nayra pasti tidak akan mengetahuinya," Niko berusaha meyakinkan gadis polos
yang sudah mencuri perhatiannya sejak pertama kali bertemu di club malam itu.
Niko mengecup bibir ranum yang dari beberapa hari ini dia rindukan. "Jangan panggil om ya,
panggil Niko" pinta Niko kembali menarik tengkuk leher Lia lalu menautkan bibirnya dengan penuh
hasrat.
Lia yang minim pengalaman dibuat hampir kehabisan nafas dibuat oleh Niko. Niko terlalu
bersemangat. Mengetahui Lia hampir kehabisan nafas Niko melepaskan tautan bibir mereka.
"Kamu sudah makan baby," bisik Niko ditelinga Lia.
"Belum Pak Niko" jawab Lia dengan polosnya.
"Tapi nanti aku makannya di cafe tempat aku kerja," imbuhnya lagi.
Niko memang sudah mendengar banyak tentang Lia dari putrinya.
Niko mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.
"Mulai sekarang kamu keluar dari pekerjaanmu di cafe, nanti semua kebutuhanmu aku yang
tanggung, cukup kamu temani aku saja kapanpun aku perlu,"ucap Niko menyerahkan sebuah
blackcard kepada Lia.
"Apa maksudnya ini ?" tanya polos.
"Kamu bisa gunakan kartu ini untuk semua kebutuhanmu dan biaya sekolahmu. Kamu harus
belajar dengan tekun agar cepat menjadi sarjana," ucap Niko
menarik gadis polos itu duduk di pangkuannya
Kalimat Niko seketika membuat mata Lia berkaca-kaca, selama ini dia harus berjuang untuk biaya
kuliahnya sendiri, ayahnya tidak mau lagi mengurusi mereka sedangkan penghasilan ibunya
juga tidak terlalu tinggi cukup untuk bayar kontrakan dan makan dan mengurus adiknya yang masih
duduk di bangku SMP.
Penghasilan Lia di cafe cukup membantu ekonomi mereka.
"Maaf, aku gak bisa keluar dari pekerjaanku di cafe," tolak Lia.
Niko mengerutkan keningnya tanpa mengalihkan tatapannya pada wajah polos, "Bisa aku tau
alasannya?"
"klo aku tidak bekerja tapi punya uang bukannya itu aneh? Apalagi aku sudah biasa bekerja
jadi gak enak aja diem di rumah." Niko menyunggingkan senyuman, dia bangga melihat anak seumuran
Lia sudah berjuang keras untuk hidup disaat anak yang lain lebih memilih bermalas-malasan dan
bersenang-senang dengan anak seumuran mereka. Niko memikirkan sesuatu di otaknya.
"Gimana, kalau kamu bekerja di kantor aku jadi sekretaris aku aja."
"Gak mau,Aku kan gak punya skill jadi sekretaris," tolak Lia yang merasa posisi itu tidak cocok.
"Lalu kamu maunya di bagian apa?"
"Jadi Helper aja." Niko membulatkan matanya
Disaat orang berlomba-lomba menjadi sekretarisnya justru Lia menolaknya dan memilih
pekerjaan sebagai pesuruh, tentu saja Niko tidak akan menyetujuinya.
" aku gak setuju baby," tolak Niko tanpa berpikir panjang lagi.
"Klo gitu kamu bantu-bantu Bram saja," ucap Niko kemudian.
Niko sudah berfikir dengan keputusannya, kalau Lia dibawah Bram itu artinya dia bisa
mengawasi langsung kekasih kecilnya itu. Apalagi tidak akan ada yang curiga dengan hubungan
mereka.
Lia yang tidak mengerti maksud sesungguhnya hanya menganggukkan kepalanya menerima pekerjaan itu. Selain itu
dia bisa belajar langsung tanpa ada rasa canggung.
"Berarti Deal ya, nanti Bram yang urus semuanya," ucap Niko lalu mengangkat tubuh Lia. Refleks
Lia mengalungkan kedua tangannya di leher Niko.
Lia sendiri bingung dengan keputusannya ini benar atau tidak, namun dia merasa nyaman berada
didekat ayah sahabatnya.
Niko membawa Lia ke kamar pribadinya yang berada di apartemen itu dan merebahkan
tubuh Lia di atas ranjangnya yang besar
"Baby, bolehkah aku melakukannya lagi," pintanya dengan lembut dan juga sopan. Dia
ingin gadis polos itu nyaman terlebih dahulu.
"Kalau kamu belum siap aku gak paksa kok. aku hanya mau kita melakukannya lagi setelah kamu
siap sepenuhnya. Tapi biarkan aku memelukmu sampai Bram kirimin kita makan malam," Niko
langsung melingkarkan tangannya di perut rata Lia.
Niko melingkarkan tangannya. Niko bertanya kepada Lia seputar kehidupan pribadinya termasuk
perceraian orang tuanya. Tujuan Niko bertanya untuk mensingkronkan informasi yang dia dapat dengan bertanya
langsung kepada Lia.
Lia memeluk tubuh laki-laki dewasa itu. Dia begitu nyaman,apalagi ayah sahabatnya itu memperlakukan Lia dengan
lembut. Tanpa terasa malam semakin larut, Bram datang keapartemen majikannya membawa makanan untuk
majikanya dan Lia.
Bram ingin menata makanan di meja makan namun dilarang oleh Lia dan
Lia melakukannya sendiri. Lia begitu lincah melakukan pekerjaan seperti itu.
Niko merasa diurus oleh seorang istri ada rasa bahagia yang tidak bisa Niko ucapkan, dia merasa heran
kenapa gadis muda ini bisa membuatnya bahagia meskipun hanya menyiapkan makanan di meja makan.
Setelah makan malam Lia meminta ijin pulang, dia ingin mengantikan ibunya di rumah sakit menunggui adiknya.
Mesti tidak rela Niko terpaksa melepas kekasih kecilnya.
"Baby, biar Bram yang antar kamu kerumah sakit, tidak baik anak gadis malam sendirian di jalan,"
titah Niko yang dituruti oleh Lia.
"Terimakasih ."
"Bram, pastikan Lia selamat sampai di rumah sakit," titah Niko dengan penuh penekanan.
"Iya Tuan.." Niko mengecup bibir Lia dengan lembut sebelum Lia yang pergi meninggalkan apartemen Niko
diikuti oleh Bram.
Keesokan harinya Niko menemani putrinya sarapan di meja makan karena ada sesuatu yang ingin dia
bicarakan. Nayra sudah bersiap-siap dengan pakaian sekolahnya.
"Tumben banget ayah ada waktu sarapan dengan aku," sindir Nayra
kepada sang ayah yang jarang sekali memiliki waktu menemani dirinya.
"Sayang, kamu tau kan pekerjaan ayah sangat sibuk," kilah Niko
sambil menikmati sarapannya.
"Alasan aja. Tapi ayah selalu ada waktu nemenin pacar ayah yang gak jelas dengan antrean panjang,"
desis Nayra. Nayra mengetahui sepak terjang ayahnya di luaran sana yang terkenal dengan sebutan
casanova.
"ayah, kemarin memutuskan gimana kalau sahabatmu Lia bekerja di kantor ayah
bantu-bantu Bram kan lumayan untuk biaya sehari-hari," ucap Niko
yang langsung pada topik pembicaraan yang ingin dia katakan kepada putrinya.
Nayra menghentikan kegiatannya yang sedang mengolesi selai kesukaannya pada roti lalu
meletakkannya di piring.
"ayah, aku cinta kamu. Pokoknya ayahku yang paling baik di dunia," Nayra berhamburan memeluk
ayahnya, dia sangat bahagia dengan keputusan ayahnya memberikan pekerjaan kepada
sahabatnya, padahal Nayra belum menyampaikan niatnya itu.
"ayah, padahal aku ingin membicarakan itu dengan ayah. agar memberikan pekerjaan Lia
kerja di perusahaan ayah. Aku kasian klo dia kerja di cafe gajinya gak banyak dan pekerjaan Lia
juga berat."
"Sayang, bekerja itu semuanya berat tidak ada yang gampang, "tegur sang ayah dengan lembut.
"Setidaknya di perusahaan ayah Lia bisa belajar sekaligus bekerja dan gajinya juga gede cukuplah
untuk dia bayar sekolah dan menyambung hidup, sementara ibunya Lia tidak bekerja fokus
mengurus Deon yang lagi sakit," ujar Nayra.
"Kapan ayah Lia mulai bekerja?"
"Biar Bram yang urus semua, Lia kan di bawah pengawasan Bram,"
sahutnya santai agar tidak ketahuan jika dirinya ada maksud tertentu dibalik keputusannya.
Setelah selesai sarapan Nayra langsung mengabarkan berita bahagia ini kepada sahabatnya dan
juga ibu sahabatnya. Tentunya Nuri ibu Lia sangat bahagia
putrinya diterima kerja di perusahaan raksasa yang sangat terkenal akan kesejahteraan
pegawainya.
"Lia, kamu tidak boleh malas bekerja. Kamu harus mengikuti semua perintah atasanmu,"
nasehat ibunya.
"Baik Bu."
Setelah selesai dengan mata pelajarannya, Lia langsung menuju keperusahaan ayah sahabatnya.
Lia sudah mengundurkan diri bekerja di cafe, karena ditempat itu Lia bukan pegawai tetap hanya
pegawai part time.
Niko memberikan kebijakan khusus untuk Lia bekerja sambil kuliah. Niko melangkah kakinya
masuk ke lobby. Bram ternyata sudah menunggu kedatangannya.
Tentu saja perlakuan khusus untuk Lia menjadi pusat perhatian karyawan lain, pasalnya ini
pertama kalian asisten elit itu sampai menunggu langsung seseorang pegawai baru, terlebih
pegawai baru itu sangatlah muda.