Bram mengantar Lia langsung menemui manager personalia. Lia merasa tidak nyaman dengan tatapan semua orang yang
langsung tertuju pada dirinya. Dengan cepat proses penandatanganan kontrak Lia sudah selesai. Bram mengajak Lia pergi
meninggalkan bagian personalia menuju ke lantai atas di mana ruangannya berada.
Sepanjang perjalanan Lia begitu takjub dengan kemewahan kantor milik ayah sahabatnya. Lia tidak pernah menyangka akan bekerja
di tempat ini.
Ting...
Pintu lift terbuka lebar, Lia mengikuti Bram menuju keruangannya. Ruangan yang sangat luas dan ada dua meja satu meja untuk Bram dan satu meja untuk sekretaris pimpinan.
"Kamu temannya Nayra ya?"sapa seorang wanita cantik dan seksi.
"Iya Tante,"sahut Lia.
"Saya sekretaris pribadi Papanya Nayra. panggil saja saya Tante Sabrina,"ucapnya dengan ramah.
Tentu saja Sabrina sangat ramah karena sudah tau identitas Lia sahabat karib laki-laki yang sedang
dia kejar. Mungkin gadis ini bisa membantunya.
"Saya Lia Tante," sahut Lia dengan senyuman ramah di bibirnya.
"Lia akan bekerjasama mulai sekarang di sini membantu pekerjaanku,"sela Bram dingin.
"Selamat bergabung ya Lia. Oya nanti pas makan siang, kita makan bareng ya,"ajak Sabrina.
"Iya Tante,"sahut Lia sedikit canggung.
Bram yang sudah hapal sifat Sabrina sudah bisa menebak apa maunya wanita itu.
"Lia kamu ikut saya,"ajak Bram langsung kemeja kerjanya mereka duduk berhadapan. Bram malas
berurusan dengan sekretaris plus-plus itu.
"Lia tolong bantu saya mengetik semua laporan ini," pinta Bram langsung memberikan pekerjaan
kepada Lia sebaga juru ketik
Lia melakukan pekerjaan yang diberikan oleh Bram. Lia begitu lincah memainkan laptop. Lia
juga anak yang cerdas dan juga cantik membuat Bram begitu senang bekerja dengannya. Hanya
sayang gadis cantik dihadapanya ini adalah milik majikannya.
Niko yang kali ini tidak ditemani oleh Bram karena Bram ditugaskan mengurus Lia. Niko dengan gagah
melewati ruangan mereka menuju keruangannya. Niko sempat melirik Lia yang sedang duduk menunggu dirinya mengerjakan
tugas yang sedang diberikan oleh Bram.
Niko masuk kedalam ruangannya diikuti oleh Bram dan tentu saja dengan Sabrina.
"Mas, kamu mau aku buatin kopi "tawar Sabrina. Sabrina akan memanggil Niko dengan sebutan itu jika hanya ada mereka bertiga
saja.
Niko menjadi risih dengan sebutan itu tidak seperti biasanya
"Sabrina, panggil aku dengan sebutan Pak. Lia sahabat putriku takutnya putriku muncul tiba-tiba di kantor ini," dalih Niko
"Kok gitu sih Mas,"protes Sabrina.
"Sabrina kamu tau kan aku tidak suka dibantah,"tegas Niko
Bram ingin menertawakan expresi wajah Sabrina namun dia tahan takut mendapatkan semprotan dari majikannya. Bagaimanapun
Sabrina adalah salah satu teman ranjang sang majikan yang tentunya lebih memiliki power lebih dari pada dirinya yang hanya
sekedar seorang asisten.
Sabrina memilih menganggukkan kepalanya, tidak mungkin dia menentang keinginan Niko yang artinya dia akan kehilangan
pekerjaannya tambahannya yang jauh lebih banyak menghasilkan dari pekerjaannya menjadi sekretaris.
Menjadi partner ranjang Niko untuk sekali show setara dengan gajinya sebulan. Tentu saja Sabrina tidak ingin kehilangan itu.
Berbeda dengan pemikiran Bram.
Bram yakin alasan utama bosnya ini adalah Lia, gadis muda itu, gadis yang menarik perhatian majikannya selama beberapa hari.
"Bram minta Lia bikinkan saya kopi," titah Niko.
"Mas kenapa harus gadis itu, bukankah itu pekerjaan aku," protes Sabrina lagi. Niko hanya menoleh dengan tatapan tidak
suka kepada Sabrina.
"Kenapa kamu diam Bram?" suara Niko terdengar lagi.
"Baik Tuan," jawab Bram dengan cepat. Kemudian keluar dari ruangan majikannya.
Betapa terkejutnya Bram melihat Nayra sudah berada di kantornya dan duduk di mejanya bersama
Lia. Sepertinya putri majikannya ini akan sering datang kekantor ini, pikirnya.
"Lia, tolong kamu buatkan Tuan Kopi," ucap Bram sambil tersenyum.
"Kopi tanpa gula kan pak Bram,?" sahut Lia.
Nayra memutar wajahnya dari layar ponselnya.
"Kok kamu tau Nay, kopi kesukaan ayahku?" Bram dan Lia terkejut dengan pertanyaan Nayra. Lia jelas saja
tau karena dia sudah menghabiskan waktu dua hari ini dengan ayah sahabat karibnya.
Lia menjadi ketakutan bagaimana jika sahabatnya tau kalau dirinya adalah kekasih ayahnya.
"Nay, bukankah orang yang sudah berumur menghindari gula," Lia dengan cepat mencari alasan agar
temannya tidak menaruh curiga.
"Iya kamu benar juga Lia," ucap Nayra pada akhirnya membuat Lia lebih tenang.
"Pak Bram dimana tempat bikin kopinya?" tanya Lia
"Diruang Tuan semua tersedia khusus untuk tuan," ucap Bram.
"Biar saya antar kamu," lanjut Bram lagi.
"Aku ikut," seru Nayra mengikuti Bram.
CLEKKK
Nayra terlihat tidak suka melihat sekretaris ayahnya yang dia dengar gosipnya sekretaris plus-plus sang
ayah. Niko mengerutkan keningnya melihat putrinya. Sabrina tersenyum ramah namun tidak dihiraukan oleh Nayra.
"Sayang, emang kamu gak ada kerjaan ya?"
"Sahabatku kerja disini Tentu saja aku kesini. Emang ayah terganggu ya," sahutnya ketus.
"Sayang ini tempat bekerja bukan tempat bermain-main," ujar Niko
"Aku tau ini tempat kerja, tapi ayah juga gunakan tempat bermain juga kan," sindir Nayra
bertepatan dengan Lia datang membawa kopi dengan Bram yang tadi menunjukkan dapur khusus
diruangan majikannya yang berada di dalam kamar tempat istirahat sang majikan.
"ayah kira aku anak SD apa yang tidak tau kegiatan ayah," imbuhnya lagi.
Apa yang Nayra katanya benar adanya, kadang Niko menggunakan ruangan kerjanya melepas hasrat
jika dia sedang stres dan malas mencari hotel toh kamar yang berada di ruangan ini sama fasilitasnya dengan hotel bintang
Lima.
"Nayra berhenti ngomong yang aneh-aneh," elak Niko yang menyadari adanya Lia.
"Aku gak ngomong yang aneh-aneh semua kenyataan. Bahkan sekretaris ayah juga salah satu partner ayah" ucapnya lagi.
Dengan gugup Lia meletakkan kopi di meja Niko
"Om kopinya," kata Lia tanpa melihat kearah Niko
"Lia pokoknya mulai hari ini kamu harus awasi ayah-ku yang Casanova ini. Kalo ada yang aneh-aneh kamu lapor sama aku.
Kamu tau sendirikan jika aku sudah memiliki calon untuk ayahku," ucapnya yang membuat Lia menelan salivanya dan
meringis dalam hatinya. Wajah Lia tiba-tiba pucat pasi seperti orang yang ketakutan.
Bram menyadari expresi Lia.
Pasti Lia takut jika sahabatnya mengetahui hubungan mereka.
Berbeda dengan Niko yang terlihat lebih santai mendengar ocehan putrinya.
"Lia kamu kenapa kok wajah kamu pucat sih?" tanya Nayra
sewaktu menoleh kearah sahabatnya.
"A_aku..."
"Mungkin Lia capek Nona Nayra. Tadi Lia cerita kemarin dia menungguin adiknya dirumah sakit," jawab Bram dengan cepat
membantu Lia.
Niko begitu ingin rasanya memeluk gadis kesayangannya guna menenangkan gadis itu tapi sayang tidak bisa dia lakukan takut
putrinya akan mengetahui hubungan mereka.
Niko sendiri belum memahami perasaan yang dia rasakan kepada Lia. Yang jelas saat ini dia begitu menginginkan gadis itu selalu
berada didekatnya dan juga berada di ranjangnya. Mungkin dirinya sudah gila menginginkan sahabat putrinya sendiri.