Bram begitu terkejut, mana
mungkin dia begitu lancang berani
menaruh hati dengan wanita milik
majikannya. Itu namanya cari mati
bangunin macam tidur.
"Tidak tuan, mana saya berani?"
jawab Bram.
"Awas saja kalo kamu berani punya
niat saja, akan saya buat juniormu
mati selamanya," tegas Niko
dengan penuh ancaman, lalu
melanjutkan langkahnya menuju
ke kamar yang sudah di pesan
untuknya.
Bram meringis, majikannya ini
tidak pernah main-main dengan
ucapannya. Sepertinya dia harus
menjauhi Lia. Bram tidak
menampik Lia memang gadis
yang sangat cantik, auranya juga
polos. Bram mengikuti langkah
majikannya sampai di pintu
kamar.
"Kamu istirahat saja, nanti kalo
saya butuh kamu saya telpon
kamu," tidak Niko sebelum
membuka pintunya masuk
kedalam kamar.
Terlihat Lia tertidur di atas sofa
dengan remote TV di tangannya.
Lia tertidur di tonton oleh layar
besar itu. Niko berjongkok sembari
mengamati wajah polos Lia, gadis
semuda ini sudah menanggung
beban yang begitu besar. Ada rasa
bersalah dalam hati Niko sudah
menghancurkan hidup gadis muda
ini. Niko begitu tertarik sejak
pertemuan pertamanya dengan
Lia yang ternyata sahabat karib
putrinya.
Niko mengangkat tubuh mungil
Lia, memindahkan keatas ranjang
besar. Lia yang begitu pulas tidak
menyadarinya, Niko menarik
selimut menyelimuti tubuh Lia.
Niko mengambil ponselnya,
mencari nomer Bram.
~Carikan pakaian ganti untuk
Lia~
Baik tuan
Niko menaruh ponselnya diatas
nakas.
Kemudian membuka jasnya dan
pakaiannya yang lain hingga
menyisakan boxernya saja.
Partnermu lagi tidur jangan
diganggu dulu," Niko
menggosok-gosok juniornya yang
sudah berdiri tegak.
Hari masih siang hari, tapi Niko
begitu menginginkan Lia.
Padahal kemarin 24 jam Lia
menemaninya dan mereka terus
melakukannya berkali-kali. Niko
tidak pernah bosan dengan tubuh
ini, biasanya jika dengan wanita
lain paling tiga kali dia sudah
bosan sangat berbeda dengan Lia.
Niko menyibakkan selimut, lalu
masuk kedalam selimut memeluk
pinggang Lia dari belakang. Lia
tidak terganggu sedikitpun.
Mungkin karena Lia begitu
kelelahan. Niko terus mencium
Aroma sampo di rambut Lia,
sampai dia juga ikut memejamkan
matanya.
Ting Tong.
Suara bel pintu mengganggu tidur
Niko. Entah jam berapa sekarang,
dia baru ingat jika dia meminta
Bram mencari baju ganti dan baju
tidur untuk Lia. Niko ingin Lia
menginap bersamanya.
Niko turun dari ranjang
mengenakan bathrobe untuk
menutupi tubuhnya, sambil
mengingat tali bathrobe, Niko
melangkah kakinya menuju pintu.
CLEKKK
Tubuh Niko terdorong sehingga
mundur beberapa langkah, Bibir
Niko langsung dilumat dengan
ganas oleh wanita itu. Niko
langsung mendorongnya.
" Apa yang kamu lakukan Sabrina,"
bentak Niko dengan marahnya.
Matanya menatap tajam
sekretarisnya.
"Aku rindu kamu Mas," ucap
Sabrina dengan manjanya
mengalungkan kedua tangannya di
leher Niko
"Berani sekali kamu," bentaknya
lagi langsung Niko mendorong
Sabrina.
"Kenapa Mas menolak aku,
biasanya kamu begitu menyukai
permainanku," Sabrina mencoba
menjaga kelembutannya. Dia
memang merindukan permainan
Niko yang begitu beringas di
ranjang.
"Saya bosan dan kamu tau jika
saya memakai wanita tidak lebih
dari tiga kali," sahut Niko cuek.
Lia yang berada didalam selimut
ternyata sudah terbangun dia tidak
berani keluar dari dalam takut
ketahuan. Lia tau pemilik suara
itu yang tak lain adalah Sabrina.
Lia tersenyum miris kenapa
hidupnya kacau seperti ini.
Biasanya dia tidak pernah setakut
ini, hidupnya seakan terus
dihantui rasa bersalah.
Sabrina melihat ada seseorang
diatas ranjang, amarah bercampur
cemburu menutup akal sehatnya.
Dengan cepat dia melangkah
mendekati tempat tidur dia ingin
tau siapa wanita yang membuat
Niko mencampakkannya.
"Dasar p*****r," maki Sabrina.
Niko dengan cepat menarik Sabrina
menjauh dari ranjang agar
identitas Lia tidak terbongkar.
"Berani sekali kamu ingin
menyentuh wanitaku," bentak Niko
melempar wanita itu keluar dari
kamar, Sabrina tersungkur
kelantai.
Bram yang baru kembali dari
mencarikan apa yang diminta
majikannya cukup terkejut melihat
sang majikan begitu murka kepada
Sabrina. Sabrina berdiri lagi.
"Kamu tidak bisa mempermainkan
ku seperti ini mas. Awas saja
wanita itu tidak akan aku biarkan
memilikimu juga," ancam Sabrina
dengan beraninya, menatap tajam
kearah Niko.
"Coba saja kalo kamu berani. Akan
aku pastikan kamu dan
keluargamu tidak akan bisa
bertahan di kota ini," Niko balik
mengancam Sabrina.
"Mas, Apa istimewanya dia sampai
kamu begitu membelanya Mas?"
tanyanya begitu berani.
"Itu bukan urusanmu, apalagi aku
tidak pernah menjanjikan sebuah
hubungan sama kamu. Mulai detik
ini kamu bukan sekretarisku lagi,"
tegas Niko.
Bram hanya berdiri ditempatnya
menunggu perintah dari
majikannya, mana mungkin Bram
berani menganggu urusan sang
majikan dengan partner
ranjangnya.
"Bram, bawa singkirkan wanita
ini," titah Niko dengan marah.
"Baik tuan," Bram menyerahkan
paper bag kepada majikannya.
"Sabrina ikut aku."
"Gak mau," tolak Sabrina kasar
namun Bram tidak peduli dia
menarik Sabrina yang terus
berontak minta dilepaskan.
Niko menutup pintunya. Kalo tidak
ada Lia didalam, pasti dia sudah
membanting pintunya.
Niko mendengar tangis dari balik
selimut, Niko mendekatinya, tubuh
meringkuk Lia bergetar hebat
karena takut.
"Baby..."
Niko menyibakkan selimutnya.
Langsung naik keatas ranjang
berbaring langsung memeluk Lia
dari belakang.
"Baby, kamu takut ya," Niko
semakin mempererat pelukannya.
Lia belum bisa tenang masih
terus menangis, Niko membalikan
tubuh Lia memeluknya dari
depan.
"Ko, tolong lepasin Lia. Lia
takut," pintanya dengang tangis
sesegukan.
Jangan pernah bilang putus lagi
Baby. Sampai kapanpun aku
tidak akan melakukan itu. Aku
sayang sama kamu aku janji
akan selalu melindungi kamu,"
ucap Niko terus membelai rambut
Lia yang tergerai.
"Niko aku janji akan balikin
hutang. Lia akan kerja banting
tulang agar bisa lunasi semua
hutang Lia, tolong lepaskan Lia.
Lia takut jika hubungan ini
terbongkar," pintanya lagi
"Tidak Baby, maaf kali ini aku
egois. aku sayang sama kamu.
Apapun akan aku lakukan untuk
melindungi kamu," Niko menolak
melakukan apa yang Lia minta.
"Kenapa kamu tidak mau lepasin
aku?"
Karena aku Cinta sama kamu,
sejak pertama melihatmu di Club
itu aku minta Bram mencari tau
urusanmu sama Tina," jelas
Niko.
"aku gak akan biarkan siapapun
deketin kamu baby. Kamu hanya
milik aku seorang."
Sabrina terus berteriak, sepertinya
urat malunya sudah putus. Bram
mencari Sabrina menjauh dari
pintu kamar.
"Bram lepaskan aku," teriaknya
namun Bram terus menariknya
membawanya kedalam lift menuju
ke lobby hotel.
"Bram aku akan membalas kalian
semua," ancam Sabrina penuh
kemarahan.
"Terserah..." tantang Bram
langsung meninggalkan wanita itu.
Bram memang tidak menyukai
Sabrina yang sombong itu.
Sabrina tidak terima dengan
perlakuan Niko, dia harus
menghancurkan hubungan Niko dengan wanita itu.
Sabrina mengambil ponselnya, lalu
menghubungi seseorang.
Nayra yang sedang dalam
perjalanan pulang dari shopping
bersama Zara mendapatkan telpon
dari nomer yang tidak di kenal.
Pertama Nayra mengabaikannya
namun nomor itu terus
menghubunginya.
"Halo..."
"ayahmu sedang berada dihotel
bersama seorang wanita," ucap
wanita itu, bahkan wanita yang
menelponnya memberikan nomer
kamarnya dan wanita si penelepon
mematikan ponselnya.
"Haloo.."
"Haloo.."
"Siapa Nayra," tanya Zara sedang
menyetir mobilnya.
"Gak kenal Tante katanya ayah
sama seorang wanita di hotel,"
ucap Nayra.
"Wanita, ayah kamu?" Zara
terbakar api cemburu.
"Iya..." jawab Nayra tidak enak.
"Nayra kita kesana. Tante pingin
tau wanita itu. Kamu juga pasti
ingin tau kan," ujar Zara.
Nayra sebenarnya malas, karena
dia sudah mendengar bagaimana
tingkat laku ayahnya diluaran
sana.
"Tante paling itu salah satu teman one
night stand ayah" sahut Nayra
santai.
"Kita kesana. Masak kamu suka
liat Tante diperlukan seperti ini
sama ayah kamu. Klo gitu Tante
gak mau lagi kamu jodohin
sama ayah kamu," tegas Zara
memanfaatkan rasa sayangnya
Nayra terhadap dirinya.
Nayra menganggukkan kepalanya.
Zara langsung tancap gas menuju
hotel yang dimaksud dengan
kecepatan tinggi.
Mereka sampai di hotel itu sekitar
tiga puluh menit, mereka langsung
menuju kekamar tersebut. Nayra
yang menunjukkan identitasnya
bahwa dia anak penghuni kamar
itu tentu saja staf disana
memberikan ijin bahkan
membantunya dengan senang hati.
Bram sedang tidak berjaga didepan
pintu karena Niko memintanya
menyelesaikan tugas yang dia
berikan untuk meeting esok hari.
CLEKKK
Nayra membelalakkan matanya
begitu juga dengan Zara melihat
Niko sedang memeluk wanita yang
mereka kenal, kondisi mereka
terlihat habis melakukan adegan
ranjang.
"ayah, Liaa," teriak Nayra