Kekacauan

1250 Words
Bram begitu terkejut, mana mungkin dia begitu lancang berani menaruh hati dengan wanita milik majikannya. Itu namanya cari mati bangunin macam tidur. "Tidak tuan, mana saya berani?" jawab Bram. "Awas saja kalo kamu berani punya niat saja, akan saya buat juniormu mati selamanya," tegas Niko dengan penuh ancaman, lalu melanjutkan langkahnya menuju ke kamar yang sudah di pesan untuknya. Bram meringis, majikannya ini tidak pernah main-main dengan ucapannya. Sepertinya dia harus menjauhi Lia. Bram tidak menampik Lia memang gadis yang sangat cantik, auranya juga polos. Bram mengikuti langkah majikannya sampai di pintu kamar. "Kamu istirahat saja, nanti kalo saya butuh kamu saya telpon kamu," tidak Niko sebelum membuka pintunya masuk kedalam kamar. Terlihat Lia tertidur di atas sofa dengan remote TV di tangannya. Lia tertidur di tonton oleh layar besar itu. Niko berjongkok sembari mengamati wajah polos Lia, gadis semuda ini sudah menanggung beban yang begitu besar. Ada rasa bersalah dalam hati Niko sudah menghancurkan hidup gadis muda ini. Niko begitu tertarik sejak pertemuan pertamanya dengan Lia yang ternyata sahabat karib putrinya. Niko mengangkat tubuh mungil Lia, memindahkan keatas ranjang besar. Lia yang begitu pulas tidak menyadarinya, Niko menarik selimut menyelimuti tubuh Lia. Niko mengambil ponselnya, mencari nomer Bram. ~Carikan pakaian ganti untuk Lia~ Baik tuan Niko menaruh ponselnya diatas nakas. Kemudian membuka jasnya dan pakaiannya yang lain hingga menyisakan boxernya saja. Partnermu lagi tidur jangan diganggu dulu," Niko menggosok-gosok juniornya yang sudah berdiri tegak. Hari masih siang hari, tapi Niko begitu menginginkan Lia. Padahal kemarin 24 jam Lia menemaninya dan mereka terus melakukannya berkali-kali. Niko tidak pernah bosan dengan tubuh ini, biasanya jika dengan wanita lain paling tiga kali dia sudah bosan sangat berbeda dengan Lia. Niko menyibakkan selimut, lalu masuk kedalam selimut memeluk pinggang Lia dari belakang. Lia tidak terganggu sedikitpun. Mungkin karena Lia begitu kelelahan. Niko terus mencium Aroma sampo di rambut Lia, sampai dia juga ikut memejamkan matanya. Ting Tong. Suara bel pintu mengganggu tidur Niko. Entah jam berapa sekarang, dia baru ingat jika dia meminta Bram mencari baju ganti dan baju tidur untuk Lia. Niko ingin Lia menginap bersamanya. Niko turun dari ranjang mengenakan bathrobe untuk menutupi tubuhnya, sambil mengingat tali bathrobe, Niko melangkah kakinya menuju pintu. CLEKKK Tubuh Niko terdorong sehingga mundur beberapa langkah, Bibir Niko langsung dilumat dengan ganas oleh wanita itu. Niko langsung mendorongnya. " Apa yang kamu lakukan Sabrina," bentak Niko dengan marahnya. Matanya menatap tajam sekretarisnya. "Aku rindu kamu Mas," ucap Sabrina dengan manjanya mengalungkan kedua tangannya di leher Niko "Berani sekali kamu," bentaknya lagi langsung Niko mendorong Sabrina. "Kenapa Mas menolak aku, biasanya kamu begitu menyukai permainanku," Sabrina mencoba menjaga kelembutannya. Dia memang merindukan permainan Niko yang begitu beringas di ranjang. "Saya bosan dan kamu tau jika saya memakai wanita tidak lebih dari tiga kali," sahut Niko cuek. Lia yang berada didalam selimut ternyata sudah terbangun dia tidak berani keluar dari dalam takut ketahuan. Lia tau pemilik suara itu yang tak lain adalah Sabrina. Lia tersenyum miris kenapa hidupnya kacau seperti ini. Biasanya dia tidak pernah setakut ini, hidupnya seakan terus dihantui rasa bersalah. Sabrina melihat ada seseorang diatas ranjang, amarah bercampur cemburu menutup akal sehatnya. Dengan cepat dia melangkah mendekati tempat tidur dia ingin tau siapa wanita yang membuat Niko mencampakkannya. "Dasar p*****r," maki Sabrina. Niko dengan cepat menarik Sabrina menjauh dari ranjang agar identitas Lia tidak terbongkar. "Berani sekali kamu ingin menyentuh wanitaku," bentak Niko melempar wanita itu keluar dari kamar, Sabrina tersungkur kelantai. Bram yang baru kembali dari mencarikan apa yang diminta majikannya cukup terkejut melihat sang majikan begitu murka kepada Sabrina. Sabrina berdiri lagi. "Kamu tidak bisa mempermainkan ku seperti ini mas. Awas saja wanita itu tidak akan aku biarkan memilikimu juga," ancam Sabrina dengan beraninya, menatap tajam kearah Niko. "Coba saja kalo kamu berani. Akan aku pastikan kamu dan keluargamu tidak akan bisa bertahan di kota ini," Niko balik mengancam Sabrina. "Mas, Apa istimewanya dia sampai kamu begitu membelanya Mas?" tanyanya begitu berani. "Itu bukan urusanmu, apalagi aku tidak pernah menjanjikan sebuah hubungan sama kamu. Mulai detik ini kamu bukan sekretarisku lagi," tegas Niko. Bram hanya berdiri ditempatnya menunggu perintah dari majikannya, mana mungkin Bram berani menganggu urusan sang majikan dengan partner ranjangnya. "Bram, bawa singkirkan wanita ini," titah Niko dengan marah. "Baik tuan," Bram menyerahkan paper bag kepada majikannya. "Sabrina ikut aku." "Gak mau," tolak Sabrina kasar namun Bram tidak peduli dia menarik Sabrina yang terus berontak minta dilepaskan. Niko menutup pintunya. Kalo tidak ada Lia didalam, pasti dia sudah membanting pintunya. Niko mendengar tangis dari balik selimut, Niko mendekatinya, tubuh meringkuk Lia bergetar hebat karena takut. "Baby..." Niko menyibakkan selimutnya. Langsung naik keatas ranjang berbaring langsung memeluk Lia dari belakang. "Baby, kamu takut ya," Niko semakin mempererat pelukannya. Lia belum bisa tenang masih terus menangis, Niko membalikan tubuh Lia memeluknya dari depan. "Ko, tolong lepasin Lia. Lia takut," pintanya dengang tangis sesegukan. Jangan pernah bilang putus lagi Baby. Sampai kapanpun aku tidak akan melakukan itu. Aku sayang sama kamu aku janji akan selalu melindungi kamu," ucap Niko terus membelai rambut Lia yang tergerai. "Niko aku janji akan balikin hutang. Lia akan kerja banting tulang agar bisa lunasi semua hutang Lia, tolong lepaskan Lia. Lia takut jika hubungan ini terbongkar," pintanya lagi "Tidak Baby, maaf kali ini aku egois. aku sayang sama kamu. Apapun akan aku lakukan untuk melindungi kamu," Niko menolak melakukan apa yang Lia minta. "Kenapa kamu tidak mau lepasin aku?" Karena aku Cinta sama kamu, sejak pertama melihatmu di Club itu aku minta Bram mencari tau urusanmu sama Tina," jelas Niko. "aku gak akan biarkan siapapun deketin kamu baby. Kamu hanya milik aku seorang." Sabrina terus berteriak, sepertinya urat malunya sudah putus. Bram mencari Sabrina menjauh dari pintu kamar. "Bram lepaskan aku," teriaknya namun Bram terus menariknya membawanya kedalam lift menuju ke lobby hotel. "Bram aku akan membalas kalian semua," ancam Sabrina penuh kemarahan. "Terserah..." tantang Bram langsung meninggalkan wanita itu. Bram memang tidak menyukai Sabrina yang sombong itu. Sabrina tidak terima dengan perlakuan Niko, dia harus menghancurkan hubungan Niko dengan wanita itu. Sabrina mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang. Nayra yang sedang dalam perjalanan pulang dari shopping bersama Zara mendapatkan telpon dari nomer yang tidak di kenal. Pertama Nayra mengabaikannya namun nomor itu terus menghubunginya. "Halo..." "ayahmu sedang berada dihotel bersama seorang wanita," ucap wanita itu, bahkan wanita yang menelponnya memberikan nomer kamarnya dan wanita si penelepon mematikan ponselnya. "Haloo.." "Haloo.." "Siapa Nayra," tanya Zara sedang menyetir mobilnya. "Gak kenal Tante katanya ayah sama seorang wanita di hotel," ucap Nayra. "Wanita, ayah kamu?" Zara terbakar api cemburu. "Iya..." jawab Nayra tidak enak. "Nayra kita kesana. Tante pingin tau wanita itu. Kamu juga pasti ingin tau kan," ujar Zara. Nayra sebenarnya malas, karena dia sudah mendengar bagaimana tingkat laku ayahnya diluaran sana. "Tante paling itu salah satu teman one night stand ayah" sahut Nayra santai. "Kita kesana. Masak kamu suka liat Tante diperlukan seperti ini sama ayah kamu. Klo gitu Tante gak mau lagi kamu jodohin sama ayah kamu," tegas Zara memanfaatkan rasa sayangnya Nayra terhadap dirinya. Nayra menganggukkan kepalanya. Zara langsung tancap gas menuju hotel yang dimaksud dengan kecepatan tinggi. Mereka sampai di hotel itu sekitar tiga puluh menit, mereka langsung menuju kekamar tersebut. Nayra yang menunjukkan identitasnya bahwa dia anak penghuni kamar itu tentu saja staf disana memberikan ijin bahkan membantunya dengan senang hati. Bram sedang tidak berjaga didepan pintu karena Niko memintanya menyelesaikan tugas yang dia berikan untuk meeting esok hari. CLEKKK Nayra membelalakkan matanya begitu juga dengan Zara melihat Niko sedang memeluk wanita yang mereka kenal, kondisi mereka terlihat habis melakukan adegan ranjang. "ayah, Liaa," teriak Nayra
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD