Setelah Niko meninggalkan
apartemen, Lia pergi kekamar
mandi. Disini sudah ada pakaian
yang Niko siapkan. Lia keluar dari
apartemen menuju ke lobby
apartemen dengan langkah yang
santai.
"Lia kok kamu ada di sini," suara
Nayra terdengar sudah
dihadapanya, Lia begitu terkejut.
Nayra sedang bersama Zara. Lia
terlihat panik.
"A_aku." Lia begitu gugup,
wajahnya mulai pusat pasi.
"Lia, maaf kamu sudah lama
menunggu," ucap Bram yang
berjalan melangkah kearah Lia.
"Lho, kak Bram kenapa bisa ada di
apartemen ini?" tanya Nayra
penasaran.
"Bukankah Anda tau kalo
pekerjaan saya tidak hanya di
kantor saja, kebetulan saya ada
urusan disini meminta Lia datang
sebentar karena saya butuh
bantuan Lia," ucap Bram dengan
santainya.
"Kak Bram sekarang ayah
dimana. Apa ayah ada disini
juga?" tanya Nayra.
"Tuan sudah ada dikantor,"
sahutnya dengan senyuman di
bibirnya.
Zara terus memperhatikan wajah
Lia yang begitu pucat, terlihat ada
sesuatu yang disembunyikan gadis
itu. Itu yang berada di otak Zara
saat ini.
"Lia kenapa wajahmu pucat kayak
gitu, kayak habis kepergok aja,"
kata Zara terus memperhatikan
Lia
"Gimana gak pucat, dia terlalu
lelah urus keluarganya. Jadi hari
ini Tuan Niko memberikan satu
hari untuk beristirahat," sela
Bram. Dia tau Lia tidak begitu
pandai berbohong. Gadis ini begitu
polos dan kepolosannya membuat
majikannya begitu tertarik.
Nayra mendekati sahabatnya dia
begitu bahagia karena hari ini bisa
bermain dengan sahabatnya.
ayah begitu pengertian.
"Lia, kita sekolah habis tu aku
mau curhat sama kamu."
" Nona Nayra. Lia dapat ijin tidak
masuk kerja untuk istirahat bukan
untuk bermain itu artinya sama
saja dong. Mendingan Lia bekerja," sela Bram.
"Kamu jadi asisten saja sok ngatur
anak bos," sahut Zara dengan
kasar.
"Tante..."
Dengan cepat Nayra menyela
Bram bukan hanya sekedar
asisten ayahnya sudah anggap
Bram adiknya. Jadi mencari
masalah sama Bram artinya
mencari masalah dengan ayahnya.
"Kenapa Nayra?" tanya Zara.
"Lia sepertinya kamu ikut saya.
Daripada kamu diajak main sama
Nona sebaiknya kamu bantu saya,"
Lia terkejut dengan keputusan
asisten Niko
"Ikut saya sekarang," pintanya.
"Kak Bram kok," Nayra terlihat
tidak senang.
"Sepertinya Nona lagi ada urusan
sama Nyonya Zara. Jadi silahkan
lanjutkan saja.
Lia meringis, padahal dia hari ini
senang habis kesekolahlangsung
kerumah sakit, kebetulan kondisi
adiknya sudah membaik dan sudah
boleh pulang beberapa hari lagi.
"Nay, Maaf aku gak bisa nemeni
kamu, nanti kita chat aja," Lia merasa tidak enak
"Gak pa-pa Lia, nanti aku chat
kamu. Kita ketemuan dirumahku
aja. Nanti aku jemput kamu," kata
Nayra.
"Nona Nayra, Nyonya Zara saya
duluan," ucap Bram dengan sopan.
Zara, terlihat jelas tidak menyukai
asisten dia berdecak sangat
sombong menurutnya. Lia
mengikuti Bram menuju kearah
mobil. Lia guguk didepan
disamping Bram yang duduk
dibelakang pengemudi.
"Pak Bram makasi sudah bantu
Lia," ucap Lia tidak enak.
"lia, kenapa ponselmu tidak aktif.
Saya sudah berkali-kali telpon
kamu. Tadi pas antar tuan saya
lihat mobil Non Nayra masuk
keapartemen. Tuan terpaksa naik
taksi online ke kantor, beliau
begitu mengkhawatirkan kamu,"
ujar Bram. Hati Lia menjadi
terharu baru kali ini dia merasa
ada yang begitu
mengkhawatirkannya.
"Maaf, tadi saya blom sempet liat
ponsel," sahut lia
"Kamu harus berhati-hati,
sepertinya Nyonya Zara menaruh
curiga sama kamu. Mulai hari ini
apartemen ini sudah tidak aman
lagi. Nanti tuan akan hubungi
kamu dimana tempat kalian
bertemu selanjutnya," ucap Bram
lagi.
Lia juga merasa Tante Zara
sepertinya tidak mempercayai
alasan yang Bram kasi. Berbeda
dengan Nayra. Semakin takut itu
yang Lia rasakan sekarang ini.
Bram melaju mobilnya
meninggalkan apartemen itu.
"Nayra kenapa kamu tahan Tante
mau marahi asisten sombong
tadi?" tanya Zara tidak senang.
Mereka sambil berjalan menuju ke
unit kerabatnya Zara.
"Tante, cari masalah sama Kak
Bram artinya cari masalah sama
ayah. Kak Bram bukan hanya
asisten ayah saja tapi sudah
dianggap adik sama ayah. Aku
saja gak berani cari masalah sama
Kak Bram," jelas Nayra.
"Tapi gak bisa gitu dong. Kamu
kan putrinya posisi kamu lebih
tinggi," sahut Zara semakin tidak
senang.
"Tante kita bahas yang lain ya.
Pokoknya aku gak mau pancing
kemarahan ayah, serem banget
kalo sudah marah kayak penghuni
kuburan," Nayra bergelidik ngeri
kalo bahas masalah ayahnya kalo
sudah marah
Zara berdecih pelan. Dia malas
juga bicarain asisten songong itu.
Daripada buat Niko marah
mendingan cari cara lain lagi agar
bisa bawa duda tampan dan kaya
itu ke atas ranjang.
Bram tidak mengantar Lia
Ke sekolahnya. Terpaksa lea hari
ini diajak kerja takut jika Nayra
mengajak Lia keluar takut nanti
Lia tidak bisa menjawab
pertanyaan sahabatnya terlebih
pertanyaan nenek sihir sihir itu.
Bram tidak menyukai Zara sama
sekali, dia begitu heran kenapa
Nayra menginginkan wanita itu
menjadi ibu sambungnya.
Bram mengantar Lia kerumahnya
berganti pakaian terlebih dahulu.
Dengan cepat Lia mengganti
pakaiannya dia tau hari ini jadwal
Niko begitu padat.
"Kita kemana ?" tanya Lia
setelah jalan yang Mereka ambil
bukan menuju kearah kantor.
"Hotel," jawab Bram singkat.
"Hotel?"
"Iya hotel tempat tuan ketemu
dengan klien dan tempat tuan
menginap selama dua hari," jelas
Bram.
"Menginap?"
"Iya, nanti tuan akan menginap di
hotel ini. Besok pagi-pagi mereka
ada meeting penting," jelas Bram
lagi dengan tetap konsentrasi
dengan jalan.
Lia tidak mengajukan pertanyaan
lagi. Mobil mereka memasuki
sebuah hotel mewah dan sangat
terkenal di kota itu. Bram
mengajak Lia masuk kedalam
hotel. Banyak pasangan mata yang
memperhatikan mereka berdua,
terlihat seperti sugar baby. Karena
perbedaan umurnya dengan Bram
juga terpaut jauh.
"Lia kamu tunggu di sini saja.
Nanti kalo kamu mau makan pesan
saja," ucap Bram.
"Tapi pak Bram kenapa saya
tinggal disini, bukankah saya ikut
kerja?" tanya Lia kebingungan.
"Tapi tuan ingin anda menunggu
beliau disini," sahut Bram lagi. Dia
harus mencari bosnya yang tadi
berangkat dengan taxi online.
Terpaksa Sabrina yang menemani
majikannya bertemu Klien demi
menyelamatkan Lia
Lia hanya bisa menatap Bram
yang keluar begitu tergesa-gesa.
Lia mendudukkan tubuhnya
diatas ranjang. Berfikir apa yang
akan terjadi kedepannya. Biasanya
hidupnya bahagia walaupun dia
hanya bekerja di cafe tapi sekarang
hidupnya malah tidak nyaman, dia
harus banyak berbohong dan itu
luar dari kebiasaannya selama ini.
Bram menuju keruang meeting,
dia langsung mendekati
majikannya yang tengah
berbincang seseorang yang hendak
mengajukan kerja sama dengan
perusahaan mereka.
Bram menundukkan tubuhnya,
"Lia sudah dikamar," bisik Bram.
Setelah itu dia berdiri tegak di
samping sang majikan. Meeting
berjalan hingga siang hari,
waktunya mereka makan siang di
restoran hotel tempat mereka
menginap.
"Pak Niko, gimana kalo nanti
malam kita bersenang-senang ke Club," laki-laki itu.
"Kalian bisa ke Club biar Sabrina
yang temani. Maaf saya ada janji
dengan seseorang," tolak Niko yang
lebih tertarik dengan tubuh kekasih-nya.
"Tapi pak," protes Sabrina yang
tentunya tidak mau pergi tanpa
Niko. Males aja menemani laki-laki
botak dan perut buncit.
"Itu tugasmu," tegas Niko tanpa
peduli protesan dari mulut
Sabrina, Niko meninggalkan
mereka, menuju kekamar dimana
Lia sudah menunggunya.
Lia dan Bram meningalkan
Sabrina yang terlihat marah, Bram
tertawa dalam hatinya. Bos dan
asistennya itu berjalan
berdampingan menuju kamar yang
akan mereka tempati.
"Bagaimana tadi?" tanya Niko.
"Nona Nayra percaya tidak dengan
Nyonya Zara," jawab Bram.
"Wanita itu sudah cuci otaknya
Nayra bahkan sambil putriku
membenci ibu kandungnya
sendiri," ucap Niko kesal.
"Saya hanya takut jika hubungan
ini terbongkar, posisi Nona Lia akan sangat sulit," Bram
menunjukkan kekawatirannya
yang tidak biasa dia lakukan.
Niko tiba-tiba menghentikan
langkahnya, Bram tentu saja ikut
menghentikan langkahnya. Bram
begitu kebingungan apa yang
terjadi dengan majikannya. Niko
menatap tajam kearahnya.
Tepatnya tatapan ingin
mengulitinya.
"Bram kamu menyukai Lia?"
tanya Niko penuh selidik,
tatapannya sangat tajam membuat