Tidak Nyaman

1205 Words
Setelah Niko meninggalkan apartemen, Lia pergi kekamar mandi. Disini sudah ada pakaian yang Niko siapkan. Lia keluar dari apartemen menuju ke lobby apartemen dengan langkah yang santai. "Lia kok kamu ada di sini," suara Nayra terdengar sudah dihadapanya, Lia begitu terkejut. Nayra sedang bersama Zara. Lia terlihat panik. "A_aku." Lia begitu gugup, wajahnya mulai pusat pasi. "Lia, maaf kamu sudah lama menunggu," ucap Bram yang berjalan melangkah kearah Lia. "Lho, kak Bram kenapa bisa ada di apartemen ini?" tanya Nayra penasaran. "Bukankah Anda tau kalo pekerjaan saya tidak hanya di kantor saja, kebetulan saya ada urusan disini meminta Lia datang sebentar karena saya butuh bantuan Lia," ucap Bram dengan santainya. "Kak Bram sekarang ayah dimana. Apa ayah ada disini juga?" tanya Nayra. "Tuan sudah ada dikantor," sahutnya dengan senyuman di bibirnya. Zara terus memperhatikan wajah Lia yang begitu pucat, terlihat ada sesuatu yang disembunyikan gadis itu. Itu yang berada di otak Zara saat ini. "Lia kenapa wajahmu pucat kayak gitu, kayak habis kepergok aja," kata Zara terus memperhatikan Lia "Gimana gak pucat, dia terlalu lelah urus keluarganya. Jadi hari ini Tuan Niko memberikan satu hari untuk beristirahat," sela Bram. Dia tau Lia tidak begitu pandai berbohong. Gadis ini begitu polos dan kepolosannya membuat majikannya begitu tertarik. Nayra mendekati sahabatnya dia begitu bahagia karena hari ini bisa bermain dengan sahabatnya. ayah begitu pengertian. "Lia, kita sekolah habis tu aku mau curhat sama kamu." " Nona Nayra. Lia dapat ijin tidak masuk kerja untuk istirahat bukan untuk bermain itu artinya sama saja dong. Mendingan Lia bekerja," sela Bram. "Kamu jadi asisten saja sok ngatur anak bos," sahut Zara dengan kasar. "Tante..." Dengan cepat Nayra menyela Bram bukan hanya sekedar asisten ayahnya sudah anggap Bram adiknya. Jadi mencari masalah sama Bram artinya mencari masalah dengan ayahnya. "Kenapa Nayra?" tanya Zara. "Lia sepertinya kamu ikut saya. Daripada kamu diajak main sama Nona sebaiknya kamu bantu saya," Lia terkejut dengan keputusan asisten Niko "Ikut saya sekarang," pintanya. "Kak Bram kok," Nayra terlihat tidak senang. "Sepertinya Nona lagi ada urusan sama Nyonya Zara. Jadi silahkan lanjutkan saja. Lia meringis, padahal dia hari ini senang habis kesekolahlangsung kerumah sakit, kebetulan kondisi adiknya sudah membaik dan sudah boleh pulang beberapa hari lagi. "Nay, Maaf aku gak bisa nemeni kamu, nanti kita chat aja," Lia merasa tidak enak "Gak pa-pa Lia, nanti aku chat kamu. Kita ketemuan dirumahku aja. Nanti aku jemput kamu," kata Nayra. "Nona Nayra, Nyonya Zara saya duluan," ucap Bram dengan sopan. Zara, terlihat jelas tidak menyukai asisten dia berdecak sangat sombong menurutnya. Lia mengikuti Bram menuju kearah mobil. Lia guguk didepan disamping Bram yang duduk dibelakang pengemudi. "Pak Bram makasi sudah bantu Lia," ucap Lia tidak enak. "lia, kenapa ponselmu tidak aktif. Saya sudah berkali-kali telpon kamu. Tadi pas antar tuan saya lihat mobil Non Nayra masuk keapartemen. Tuan terpaksa naik taksi online ke kantor, beliau begitu mengkhawatirkan kamu," ujar Bram. Hati Lia menjadi terharu baru kali ini dia merasa ada yang begitu mengkhawatirkannya. "Maaf, tadi saya blom sempet liat ponsel," sahut lia "Kamu harus berhati-hati, sepertinya Nyonya Zara menaruh curiga sama kamu. Mulai hari ini apartemen ini sudah tidak aman lagi. Nanti tuan akan hubungi kamu dimana tempat kalian bertemu selanjutnya," ucap Bram lagi. Lia juga merasa Tante Zara sepertinya tidak mempercayai alasan yang Bram kasi. Berbeda dengan Nayra. Semakin takut itu yang Lia rasakan sekarang ini. Bram melaju mobilnya meninggalkan apartemen itu. "Nayra kenapa kamu tahan Tante mau marahi asisten sombong tadi?" tanya Zara tidak senang. Mereka sambil berjalan menuju ke unit kerabatnya Zara. "Tante, cari masalah sama Kak Bram artinya cari masalah sama ayah. Kak Bram bukan hanya asisten ayah saja tapi sudah dianggap adik sama ayah. Aku saja gak berani cari masalah sama Kak Bram," jelas Nayra. "Tapi gak bisa gitu dong. Kamu kan putrinya posisi kamu lebih tinggi," sahut Zara semakin tidak senang. "Tante kita bahas yang lain ya. Pokoknya aku gak mau pancing kemarahan ayah, serem banget kalo sudah marah kayak penghuni kuburan," Nayra bergelidik ngeri kalo bahas masalah ayahnya kalo sudah marah Zara berdecih pelan. Dia malas juga bicarain asisten songong itu. Daripada buat Niko marah mendingan cari cara lain lagi agar bisa bawa duda tampan dan kaya itu ke atas ranjang. Bram tidak mengantar Lia Ke sekolahnya. Terpaksa lea hari ini diajak kerja takut jika Nayra mengajak Lia keluar takut nanti Lia tidak bisa menjawab pertanyaan sahabatnya terlebih pertanyaan nenek sihir sihir itu. Bram tidak menyukai Zara sama sekali, dia begitu heran kenapa Nayra menginginkan wanita itu menjadi ibu sambungnya. Bram mengantar Lia kerumahnya berganti pakaian terlebih dahulu. Dengan cepat Lia mengganti pakaiannya dia tau hari ini jadwal Niko begitu padat. "Kita kemana ?" tanya Lia setelah jalan yang Mereka ambil bukan menuju kearah kantor. "Hotel," jawab Bram singkat. "Hotel?" "Iya hotel tempat tuan ketemu dengan klien dan tempat tuan menginap selama dua hari," jelas Bram. "Menginap?" "Iya, nanti tuan akan menginap di hotel ini. Besok pagi-pagi mereka ada meeting penting," jelas Bram lagi dengan tetap konsentrasi dengan jalan. Lia tidak mengajukan pertanyaan lagi. Mobil mereka memasuki sebuah hotel mewah dan sangat terkenal di kota itu. Bram mengajak Lia masuk kedalam hotel. Banyak pasangan mata yang memperhatikan mereka berdua, terlihat seperti sugar baby. Karena perbedaan umurnya dengan Bram juga terpaut jauh. "Lia kamu tunggu di sini saja. Nanti kalo kamu mau makan pesan saja," ucap Bram. "Tapi pak Bram kenapa saya tinggal disini, bukankah saya ikut kerja?" tanya Lia kebingungan. "Tapi tuan ingin anda menunggu beliau disini," sahut Bram lagi. Dia harus mencari bosnya yang tadi berangkat dengan taxi online. Terpaksa Sabrina yang menemani majikannya bertemu Klien demi menyelamatkan Lia Lia hanya bisa menatap Bram yang keluar begitu tergesa-gesa. Lia mendudukkan tubuhnya diatas ranjang. Berfikir apa yang akan terjadi kedepannya. Biasanya hidupnya bahagia walaupun dia hanya bekerja di cafe tapi sekarang hidupnya malah tidak nyaman, dia harus banyak berbohong dan itu luar dari kebiasaannya selama ini. Bram menuju keruang meeting, dia langsung mendekati majikannya yang tengah berbincang seseorang yang hendak mengajukan kerja sama dengan perusahaan mereka. Bram menundukkan tubuhnya, "Lia sudah dikamar," bisik Bram. Setelah itu dia berdiri tegak di samping sang majikan. Meeting berjalan hingga siang hari, waktunya mereka makan siang di restoran hotel tempat mereka menginap. "Pak Niko, gimana kalo nanti malam kita bersenang-senang ke Club," laki-laki itu. "Kalian bisa ke Club biar Sabrina yang temani. Maaf saya ada janji dengan seseorang," tolak Niko yang lebih tertarik dengan tubuh kekasih-nya. "Tapi pak," protes Sabrina yang tentunya tidak mau pergi tanpa Niko. Males aja menemani laki-laki botak dan perut buncit. "Itu tugasmu," tegas Niko tanpa peduli protesan dari mulut Sabrina, Niko meninggalkan mereka, menuju kekamar dimana Lia sudah menunggunya. Lia dan Bram meningalkan Sabrina yang terlihat marah, Bram tertawa dalam hatinya. Bos dan asistennya itu berjalan berdampingan menuju kamar yang akan mereka tempati. "Bagaimana tadi?" tanya Niko. "Nona Nayra percaya tidak dengan Nyonya Zara," jawab Bram. "Wanita itu sudah cuci otaknya Nayra bahkan sambil putriku membenci ibu kandungnya sendiri," ucap Niko kesal. "Saya hanya takut jika hubungan ini terbongkar, posisi Nona Lia akan sangat sulit," Bram menunjukkan kekawatirannya yang tidak biasa dia lakukan. Niko tiba-tiba menghentikan langkahnya, Bram tentu saja ikut menghentikan langkahnya. Bram begitu kebingungan apa yang terjadi dengan majikannya. Niko menatap tajam kearahnya. Tepatnya tatapan ingin mengulitinya. "Bram kamu menyukai Lia?" tanya Niko penuh selidik, tatapannya sangat tajam membuat
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD