Lia mendorong tubuh Rey dengan
sekuat tenaganya, sehingga Tubuh
harus mundur beberapa langkah
dan terbentur dengan mobilnya
yang parkir tepat dibelakangnya.
"Lia, aku tidak rela putus sama
kamu," ujar Rey yang begitu
masih mencintai Lia. Rey
terpaksa melampiaskan
kebutuhannya kepada wanita lain
karena Lia tidak mau
melakukannya. Itulah alasan Rey
menjalin hubungan dengan wanita
lain.
"Dasar laki-laki egois. Aku tidak
peduli kamu terima apa gak yang
penting kita putus. Ini karena
kesalahan kamu," tegas Lia
dengan tatapan tajamnya menatap
Rey.
"Aku akan berusaha dapetin kamu
lagi. Aku tidak akan pernah rela
kamu dengan laki-laki lain," sahut
Rey dengan lantang.
"Urus saja diri kamu jangan urus
hidupku lagi, sampai kapanpun
aku gak akan pernah balikan sama
kamu," tegas Lia lagi lalu
membalikan badannya. Kesal,
marah itu yang Lia rasakan saat
ini. Setelah menghianati begitu
gampangnya meminta maaf. Siapa
hati wanita yang tidak sakit.
"Lia buktikan omonganku. Aku
akan memilikimu," teriak Rey lalu
mengebrak mobilnya. Padahal dia
mengira Lia mau balikan sama
dia, tapi sayang semuanya meleset.
Lia malas banget berurusan
dengan Rey lagi. Sekarang dia
lebih fokus dengan keluarganya
terutama kesembuhan sang adik.
"Lia dari tadi ponsel kamu bunyi
tu," ucap ibunya melihat putrinya
sudah kembali.
"Lo Rey mana?" tanya ibunya.
"Sudah pulang Bu," Lia meraih
tasnya mengecek siapa yang
menghubunginya. Puluhan
panggilan masuk keponselnya.
Wajah Lia tiba-tiba berubah
melihat siapa pemilik nomor itu.
Itu nomer milik Niko dan
ada satu pesan masuk kedalam
ponselnya.
~aku tunggu kamu di
apartemen~
Siapa Lia?" tanya ibunya.
"Temenku di cafe Bu. Aku kemarin
lupa bawa surat pengunduran
diri," sahut Lia mencari alasan.
"Bu, Lea pergi dulu urus ini," ucap
Lia lagi.
"Lia makan dulu nasi kuningnya
baru pergi," perintah sang ibu.
Lia anak yang penurut tentu saja
dia menuruti apa yang ibunya
katakan. Lia meletakkan
ponselnya lalu mencuci tangannya
ke wastafel. Dengan cepat Lia
makan nasi kuning yang dia beli
depan rumah sakit.
"Lia, kalo kamu capek istirahat
saja dirumah bukanya kamu besok
harus kerja lagi. Jangan kecewakan
pak Niko sama Nayra kamu harus
rajin bekerja, kita banyak punya
hutang sama mereka," nasehat
ibunya yang tidak tau apa-apa.
Sebagai ibu yang baik pasti akan
menasehati putrinya.
"Baik Bu," jawab Lia kemudian
meraih tas selempangnya.
"Deon, kakak pergi dulu ya. Kamu
jangan sedih kamu harus
semangat," kata Lia kemudian
mengecup pipi adiknya lalu beralih
kepada ibunya mencium tangan
sang ibu.
"Bu, Lia jalan dulu,"ucapnya.
"Kamu hati-hati dijalan."
**
Sementara di dalam apartemen
Niko duduk di sofa depan televisi
dia begitu marah melihat tubuh
Lia dipeluk laki-laki yang ternyata
mantan kekasih Lia.
"Mereka putus karena laki-laki itu
kepergok tidur dengan wanita lain
beberapa jam sebelum bertemu
dengan anda di Club milik Mami
Tina," Bram memberikan laporan
yang majikannya minta. Ini
pertama kalinya majikannya
mencari tau tentang wanita,
biasanya sang majikannya begitu
cuek.
"Berapa lama hubungan mereka?"
tanya Niko dengan nada dingin.
"Hampir setahun tuan," jawab
Bram yang berdiri tidak jauh dari
tempat majikannya duduk.
"Anak itu bernama Rey. Putra dari
salah satu rival anda tuan," lapor Bram lagi.
Niko mengerutkan keningnya.
"Putra dari Revaldo Ginting," ucap
Bram melanjutkan kembali.
"Jadi dia putranya Revaldo?" Niko
memastikannya lagi.
"Iya tuan," jawab Bram dengan
yakin.
"Menarik...."
Bel pintu berbunyi, mereka tau
siapa yang datang karena
apartemen ini khusus tempat Niko
dan Lia bertemu.
Tanpa di perintah pun Bram sudah
tau apa yang harus dia lakukan.
Bram melangkahkan kakinya
menuju kearah pintu membuka
pintu untuk Lia
CLEKKK
"Pak Bram," sapa Lia agak
canggung dia merasa seperti
seorang wanita nakal datang
menemui pria ke apartemen.
"Tuan sudah menunggu di dalam,"
kata Bram sembari tersenyum.
Lia langsung masuk kedalam
apartemen mengikuti Bram
menemui majikan mereka. Niko
terlihat dengan pakaian santainya
sambil memangku sebuah laptop
di pangkuannya.
"Bram tinggalkan kami," titah Niko
tegas tanpa mengalihkan
pandangannya dari layar.
"Baik tuan," Bram langsung
meninggalkan mereka berdua.
Lia menundukkan kepalanya dia
takut akan kena marah karena
kejadian kemarin malam.
"Kenapa kamu tidak marah
kejadian kemarin ?" ucap Niko
terdengar santai.
"M_maaf Lia mengganggu,"
ucapnya pelan dan lirih tepatnya
takut. Lia menundukkan
kepalanya.
"aku mau jawaban dari
pertanyaan tadi," suara Niko
terdengar tegas. Niko meletakan
laptopnya diatas meja. Lalu berdiri
menghampiri Lia.
"Lia tidak berhak untuk marah
karena kita hanya_" Lia ragu
melanjutkan kata-katanya.
Niko sudah berdiri begitu dekat dengan Lia hampir tidak ada jarak.
"Karena hubungan kita tanpa
status," sambung Niko
Lia menganggukan kepalanya
tetap menundukkan kepalanya.
"Maaf kejadian kemarin baby" Niko
langsung memeluk tubuh Lia
membawa gadisnya kedalam
pelukannya dia tidak bisa marah
dengan gadisnya.
"Kemarin kepala aku pusing,
karena sebelumnya minum
dengan Zara," imbuhnya lagi.Niko
tidak berbohong justru kemarin
Lia yang menyelamatkannya dari
Zara yang sudah mencampur
minumannya dengan obat
perangsang.
Niko begitu tersiksa bersyukur
didalam kamarnya di memiliki
obat penetralnya. Jika kemarin ada
kesempatan pasti Niko sudah
menemui Lia untuk
menyalurkannya.
"Maksudnya Kemaren lagi
mabuk," tanya Lia dengan
polosnya.
"Tidak Baby, minuman itu isi obat
perangsang," jelas Niko lagi.
"Kenapa kamu gak angkat telpon
aku tadi dan gak kirim pesan
sama aku mau pergi kerumah
sakit."
"Gak enak gangguan ," sahut
Lia
"maaf kita akhiri saja
hubungan ini. Lia takut Nayra
mengetahui tentang kita. Lia janji
akan kerja keras bayar hutang Lia
sama kamu. Lia juga gak ingin
menghancurkan mimpi Nayra,"
ucap Lia
"Tidak Lia, aku gak akan
putusin kamu," tegasnya.
"Lea jawab jujur apa kamu masih
mencintai mantan kekasihmu itu?"
tanya Niko
Lia keluar dari pelukan Niko
memberanikan diri menatap pria
dewasa itu.
"Maksudnya Rey," tanya Lia
"Iya. aku tadi melihat dia
memelukmu baby dan aku tidak
suka itu," tegasnya diikuti
anggukan kepalanya.
Bisa jelaskan masalah tadi sama
aku," tuntut Niko sambil
menggiring Lia duduk
dipangkuannya.
"Dia tadi hanya mau balikan dan
minta maaf karena sudah
selingkuh dariku," jelas Lia jujur.
"Jadi kamu jawab apa baby?" tanya
Niko menatap wajah cantik sahabat
putrinya itu.
"Lia gak trima," sahut Lia. Hati
Niko yang tadi panas menjadi
sedikit reda.
Niko langsung menarik tengkuk
Lia dan menautkan bibirnya. Niko
sudah memikirkan Lia dari
kemarin. Lumatan Niko semakin
beringas, nafsunya begitu cepat
naik jika sedang bersama Lia.
Dengan cepat Niko sudah
menanggalkan seluruh pakaiannya
dan pakaian Lia. Dia sudah tidak
bisa menahan dirinya lagi.
Miliknya sudah tidak bisa di ajak
kompromi lagi.
"Aughhhhhh " pekik Lia
begitu lidah panas Niko mulai
bermain dengan salah satu puncak
kembarnya. Posisi Lia yang
berada di pangkuan Niko tentu
saja langsung disuguhi
pemandangan indah
dihadapannya. Niko terus
menggilir puncak kembar Lia
yang begitu membuatnya begitu
berhasrat.
"Baby kamu coba diatas dulu,"
pinta Niko yang sudah menunggu
Adiknya memasuki liang sempit
milik Lia
Lia mencengram bahu Niko
Masih terasa perih. Milik Niko
sangat besar, namun Rasa perih itu
mulai menghilang digantikan rasa
nikmat yang ditimbulkan oleh
permainan mereka berdua. Niko
memegangi pinggang Lia. Lia
terus bergerak naik turun atas
arahan Niko. Tidak hanya cukup
gaya itu. Niko meminta Lia
belakangin sedikit membungkuk
lalu Niko menuntut miliknya
melakukan penyatuan dari
belakang.
"Oughhh ," desah Lia
sembari mencengkram sofa. Niko
terus berpacu dengan tenaga
kudanya sambil memeluk
pinggang Lia dari belakang.
"Milikmu sempit banget baby.
Enak sekali aku suka," puji Niko
yang terus berpacu sampai
Niko bosan dengan gaya itu.
Sudah hampir sejam Niko
berpacu. Niko mengendong tubuh
Lia dan meletakkannya diatas
meja makan lalu menuntut
miliknya lagi memasuki inti Lia
yang sedari tadi sudah lembab.
Niko begitu kecanduan.
Suara desahan Lia semakin
membuat hasratnya naik. Niko
menautkan bibir mereka lagi,
kembali memompa Lia di bawah
sana, kaki Lia melingkar pada
pinggang Niko. Setelah tiga puluh dua menit akhirnya badai
kenikmatan menghampiri dirinya.
Erangan gagah Niko begitu jelas
terdengar ketika cairan hangat
keluar dari tubuhnya membasahi
liang kenikmatan babynya.
Setelah menuntaskan percintaan
mereka, kedua insan yang sangat
jauh perbedaannya itu
membersihkan tubuh mereka.
"Capek?" tanya Niko penuh
perhatian.
"Iya ," jawab Lia jujur.
"Kita makan dulu habis tu kita
istirahat. Besok kamu gak usah
kekantor, besok aku seharian
ada meeting di luar jadi kamu
istirahat di apartemen," ucap
Niko
Lia menemani Niko seharian di
apartemennya. Niko memang
pekerjaan keras terlihat jelas disaat
hari libur pun Niko tetap bekerja
dari rumah.
Kegiatan di apartemen tidak hanya
sek saja, tapi mereka lebih terlihat
sebagai pasangan suami istri
dimana Lia menyiapkan makanan
untuk Niko. Bahan makanan di
kulkas begitu banyak karena Niko
tau gadis kecilnya ini begitu pintar
memasak.
Malam hari kegiatan panas
kembali berlanjut lagi beberapa
ronde sampai mereka berdua
kelelahan dan tidur terlelap.
Keesokan harinya Niko melakukan
kegiatan seperti biasanya dan
sudah rapi pagi-pagi sekali,
sarapan sudah tersaji di meja
makan.
"setelah pulang dari sekolah, Lia
kerumah sakit ya," ucap Lia
meminta ijin.
"Iya baby, tapi malemnya kamu
balik ke apartemen temenin aku
lagi," sahut Niko
"Baik ,"
selama ibu dirumah sakit
Lia bisa menginap di apartemen
Niko
Setelah Niko meninggalkan
apartemen, Lia pergi kekamar
mandi. Disini sudah ada pakaian
yang Niko siapkan. Lia keluar dari
apartemen menuju ke lobby
apartemen dengan langkah yang
santai.
"Lia kok kamu ada di sini," suara
Nayra terdengar sudah
dihadapanya, Lia begitu terkejut.
Nayra sedang bersama Zara. Lia
terlihat panik.