Hubungan Tanpa Status

1463 Words
Lia mendorong tubuh Rey dengan sekuat tenaganya, sehingga Tubuh harus mundur beberapa langkah dan terbentur dengan mobilnya yang parkir tepat dibelakangnya. "Lia, aku tidak rela putus sama kamu," ujar Rey yang begitu masih mencintai Lia. Rey terpaksa melampiaskan kebutuhannya kepada wanita lain karena Lia tidak mau melakukannya. Itulah alasan Rey menjalin hubungan dengan wanita lain. "Dasar laki-laki egois. Aku tidak peduli kamu terima apa gak yang penting kita putus. Ini karena kesalahan kamu," tegas Lia dengan tatapan tajamnya menatap Rey. "Aku akan berusaha dapetin kamu lagi. Aku tidak akan pernah rela kamu dengan laki-laki lain," sahut Rey dengan lantang. "Urus saja diri kamu jangan urus hidupku lagi, sampai kapanpun aku gak akan pernah balikan sama kamu," tegas Lia lagi lalu membalikan badannya. Kesal, marah itu yang Lia rasakan saat ini. Setelah menghianati begitu gampangnya meminta maaf. Siapa hati wanita yang tidak sakit. "Lia buktikan omonganku. Aku akan memilikimu," teriak Rey lalu mengebrak mobilnya. Padahal dia mengira Lia mau balikan sama dia, tapi sayang semuanya meleset. Lia malas banget berurusan dengan Rey lagi. Sekarang dia lebih fokus dengan keluarganya terutama kesembuhan sang adik. "Lia dari tadi ponsel kamu bunyi tu," ucap ibunya melihat putrinya sudah kembali. "Lo Rey mana?" tanya ibunya. "Sudah pulang Bu," Lia meraih tasnya mengecek siapa yang menghubunginya. Puluhan panggilan masuk keponselnya. Wajah Lia tiba-tiba berubah melihat siapa pemilik nomor itu. Itu nomer milik Niko dan ada satu pesan masuk kedalam ponselnya. ~aku tunggu kamu di apartemen~ Siapa Lia?" tanya ibunya. "Temenku di cafe Bu. Aku kemarin lupa bawa surat pengunduran diri," sahut Lia mencari alasan. "Bu, Lea pergi dulu urus ini," ucap Lia lagi. "Lia makan dulu nasi kuningnya baru pergi," perintah sang ibu. Lia anak yang penurut tentu saja dia menuruti apa yang ibunya katakan. Lia meletakkan ponselnya lalu mencuci tangannya ke wastafel. Dengan cepat Lia makan nasi kuning yang dia beli depan rumah sakit. "Lia, kalo kamu capek istirahat saja dirumah bukanya kamu besok harus kerja lagi. Jangan kecewakan pak Niko sama Nayra kamu harus rajin bekerja, kita banyak punya hutang sama mereka," nasehat ibunya yang tidak tau apa-apa. Sebagai ibu yang baik pasti akan menasehati putrinya. "Baik Bu," jawab Lia kemudian meraih tas selempangnya. "Deon, kakak pergi dulu ya. Kamu jangan sedih kamu harus semangat," kata Lia kemudian mengecup pipi adiknya lalu beralih kepada ibunya mencium tangan sang ibu. "Bu, Lia jalan dulu,"ucapnya. "Kamu hati-hati dijalan." ** Sementara di dalam apartemen Niko duduk di sofa depan televisi dia begitu marah melihat tubuh Lia dipeluk laki-laki yang ternyata mantan kekasih Lia. "Mereka putus karena laki-laki itu kepergok tidur dengan wanita lain beberapa jam sebelum bertemu dengan anda di Club milik Mami Tina," Bram memberikan laporan yang majikannya minta. Ini pertama kalinya majikannya mencari tau tentang wanita, biasanya sang majikannya begitu cuek. "Berapa lama hubungan mereka?" tanya Niko dengan nada dingin. "Hampir setahun tuan," jawab Bram yang berdiri tidak jauh dari tempat majikannya duduk. "Anak itu bernama Rey. Putra dari salah satu rival anda tuan," lapor Bram lagi. Niko mengerutkan keningnya. "Putra dari Revaldo Ginting," ucap Bram melanjutkan kembali. "Jadi dia putranya Revaldo?" Niko memastikannya lagi. "Iya tuan," jawab Bram dengan yakin. "Menarik...." Bel pintu berbunyi, mereka tau siapa yang datang karena apartemen ini khusus tempat Niko dan Lia bertemu. Tanpa di perintah pun Bram sudah tau apa yang harus dia lakukan. Bram melangkahkan kakinya menuju kearah pintu membuka pintu untuk Lia CLEKKK "Pak Bram," sapa Lia agak canggung dia merasa seperti seorang wanita nakal datang menemui pria ke apartemen. "Tuan sudah menunggu di dalam," kata Bram sembari tersenyum. Lia langsung masuk kedalam apartemen mengikuti Bram menemui majikan mereka. Niko terlihat dengan pakaian santainya sambil memangku sebuah laptop di pangkuannya. "Bram tinggalkan kami," titah Niko tegas tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Baik tuan," Bram langsung meninggalkan mereka berdua. Lia menundukkan kepalanya dia takut akan kena marah karena kejadian kemarin malam. "Kenapa kamu tidak marah kejadian kemarin ?" ucap Niko terdengar santai. "M_maaf Lia mengganggu," ucapnya pelan dan lirih tepatnya takut. Lia menundukkan kepalanya. "aku mau jawaban dari pertanyaan tadi," suara Niko terdengar tegas. Niko meletakan laptopnya diatas meja. Lalu berdiri menghampiri Lia. "Lia tidak berhak untuk marah karena kita hanya_" Lia ragu melanjutkan kata-katanya. Niko sudah berdiri begitu dekat dengan Lia hampir tidak ada jarak. "Karena hubungan kita tanpa status," sambung Niko Lia menganggukan kepalanya tetap menundukkan kepalanya. "Maaf kejadian kemarin baby" Niko langsung memeluk tubuh Lia membawa gadisnya kedalam pelukannya dia tidak bisa marah dengan gadisnya. "Kemarin kepala aku pusing, karena sebelumnya minum dengan Zara," imbuhnya lagi.Niko tidak berbohong justru kemarin Lia yang menyelamatkannya dari Zara yang sudah mencampur minumannya dengan obat perangsang. Niko begitu tersiksa bersyukur didalam kamarnya di memiliki obat penetralnya. Jika kemarin ada kesempatan pasti Niko sudah menemui Lia untuk menyalurkannya. "Maksudnya Kemaren lagi mabuk," tanya Lia dengan polosnya. "Tidak Baby, minuman itu isi obat perangsang," jelas Niko lagi. "Kenapa kamu gak angkat telpon aku tadi dan gak kirim pesan sama aku mau pergi kerumah sakit." "Gak enak gangguan ," sahut Lia "maaf kita akhiri saja hubungan ini. Lia takut Nayra mengetahui tentang kita. Lia janji akan kerja keras bayar hutang Lia sama kamu. Lia juga gak ingin menghancurkan mimpi Nayra," ucap Lia "Tidak Lia, aku gak akan putusin kamu," tegasnya. "Lea jawab jujur apa kamu masih mencintai mantan kekasihmu itu?" tanya Niko Lia keluar dari pelukan Niko memberanikan diri menatap pria dewasa itu. "Maksudnya Rey," tanya Lia "Iya. aku tadi melihat dia memelukmu baby dan aku tidak suka itu," tegasnya diikuti anggukan kepalanya. Bisa jelaskan masalah tadi sama aku," tuntut Niko sambil menggiring Lia duduk dipangkuannya. "Dia tadi hanya mau balikan dan minta maaf karena sudah selingkuh dariku," jelas Lia jujur. "Jadi kamu jawab apa baby?" tanya Niko menatap wajah cantik sahabat putrinya itu. "Lia gak trima," sahut Lia. Hati Niko yang tadi panas menjadi sedikit reda. Niko langsung menarik tengkuk Lia dan menautkan bibirnya. Niko sudah memikirkan Lia dari kemarin. Lumatan Niko semakin beringas, nafsunya begitu cepat naik jika sedang bersama Lia. Dengan cepat Niko sudah menanggalkan seluruh pakaiannya dan pakaian Lia. Dia sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Miliknya sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi. "Aughhhhhh " pekik Lia begitu lidah panas Niko mulai bermain dengan salah satu puncak kembarnya. Posisi Lia yang berada di pangkuan Niko tentu saja langsung disuguhi pemandangan indah dihadapannya. Niko terus menggilir puncak kembar Lia yang begitu membuatnya begitu berhasrat. "Baby kamu coba diatas dulu," pinta Niko yang sudah menunggu Adiknya memasuki liang sempit milik Lia Lia mencengram bahu Niko Masih terasa perih. Milik Niko sangat besar, namun Rasa perih itu mulai menghilang digantikan rasa nikmat yang ditimbulkan oleh permainan mereka berdua. Niko memegangi pinggang Lia. Lia terus bergerak naik turun atas arahan Niko. Tidak hanya cukup gaya itu. Niko meminta Lia belakangin sedikit membungkuk lalu Niko menuntut miliknya melakukan penyatuan dari belakang. "Oughhh ," desah Lia sembari mencengkram sofa. Niko terus berpacu dengan tenaga kudanya sambil memeluk pinggang Lia dari belakang. "Milikmu sempit banget baby. Enak sekali aku suka," puji Niko yang terus berpacu sampai Niko bosan dengan gaya itu. Sudah hampir sejam Niko berpacu. Niko mengendong tubuh Lia dan meletakkannya diatas meja makan lalu menuntut miliknya lagi memasuki inti Lia yang sedari tadi sudah lembab. Niko begitu kecanduan. Suara desahan Lia semakin membuat hasratnya naik. Niko menautkan bibir mereka lagi, kembali memompa Lia di bawah sana, kaki Lia melingkar pada pinggang Niko. Setelah tiga puluh dua menit akhirnya badai kenikmatan menghampiri dirinya. Erangan gagah Niko begitu jelas terdengar ketika cairan hangat keluar dari tubuhnya membasahi liang kenikmatan babynya. Setelah menuntaskan percintaan mereka, kedua insan yang sangat jauh perbedaannya itu membersihkan tubuh mereka. "Capek?" tanya Niko penuh perhatian. "Iya ," jawab Lia jujur. "Kita makan dulu habis tu kita istirahat. Besok kamu gak usah kekantor, besok aku seharian ada meeting di luar jadi kamu istirahat di apartemen," ucap Niko Lia menemani Niko seharian di apartemennya. Niko memang pekerjaan keras terlihat jelas disaat hari libur pun Niko tetap bekerja dari rumah. Kegiatan di apartemen tidak hanya sek saja, tapi mereka lebih terlihat sebagai pasangan suami istri dimana Lia menyiapkan makanan untuk Niko. Bahan makanan di kulkas begitu banyak karena Niko tau gadis kecilnya ini begitu pintar memasak. Malam hari kegiatan panas kembali berlanjut lagi beberapa ronde sampai mereka berdua kelelahan dan tidur terlelap. Keesokan harinya Niko melakukan kegiatan seperti biasanya dan sudah rapi pagi-pagi sekali, sarapan sudah tersaji di meja makan. "setelah pulang dari sekolah, Lia kerumah sakit ya," ucap Lia meminta ijin. "Iya baby, tapi malemnya kamu balik ke apartemen temenin aku lagi," sahut Niko "Baik ," selama ibu dirumah sakit Lia bisa menginap di apartemen Niko Setelah Niko meninggalkan apartemen, Lia pergi kekamar mandi. Disini sudah ada pakaian yang Niko siapkan. Lia keluar dari apartemen menuju ke lobby apartemen dengan langkah yang santai. "Lia kok kamu ada di sini," suara Nayra terdengar sudah dihadapanya, Lia begitu terkejut. Nayra sedang bersama Zara. Lia terlihat panik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD