Marah Campur Cemburu

1124 Words
Marah campur Cemburu Pagi-pagi Lia sudah meninggalkan rumah Nayra dimana penghuninya masih tertidur karena hari ini hari libur, akan tetapi Lia sudah mengirim pesan untuk Nayra kalo dirinya pergi ke rumah sakit. Tidak mungkin Lia bermalas-malasan seperti mereka. Sebelum pergi Lia sudah merapikan tempat tidur terlebih dahulu dan menemui pelayan terlebih dahulu berpamitan dan menyampaikan pesan takutnya Nayra tidak membuka ponselnya. Lia memesan ojek online lewat aplikasi dan menunggu di pos satpam. Semua pekerja dirumah, sudah mengenal Lia karena memang Lia sering main kerumah ini. "Lia kok pagi banget sudah pergi?" tanya satpam. "Iya pak, Lia mau ke rumah sakit dari kemarin belum ketemu ibu sekalian gantiin ibu," sahut Lia dengan ramahnya. "Ya sudah, hati-hati di jalan. Bilang sama ojeknya jangan ngebut-ngebut," kata satpam yang sudah berumur itu. "Iya pak," sahut Lia menyunggikan senyuman ramahnya. Tak lama ojek pun datang, Lia menerima helm dari tukang ojek. "Jangan ngebut-ngebut bawa penumpang," peringat satpam itu kepada tukang ojek yang terlihat masih muda. "Baik pak..." sahut tukang ojek itu. Lia memberitahu alamat yang akan dia tuju kepada tukang ojek itu. Karena pagi jalan belum terlalu macet, hanya ditempuh dengan waktu 40 menit Lia memberikan ongkos dan mengembalikan helm. "Makasih bang," ucap Lia lalu masuk ke area rumah sakit. Terlihat Deon sedang disuapi bubur oleh ibunya, meski kakinya mengalami patah tulang setidaknya nyawanya masih bisa diselamatkan. " Kak Lia," panggil Deon melihat kakaknya yang baru tiba. Lia memeluk adiknya. Begitu bahagia melihatnya. "Kak, kaki aku patah aku cacat," ucapnya sedih. "Deon kamu pasti bisa jalan lagi tapi perlu proses ya. Kamu harus semangat," Lia mengecup kening adiknya menyemangati sang adik. "Ibu, ini Lia beli nasi kuning di depan?" kata Lia "Lia, gimana makan malam kemarin, pasti Nayra bahagia," ucap ibunya. Tentu saja Nayra cerita ke ibu Lia akan makan bersama calon Mama barunya sekalian minta ijin untuk Lia "Nayra sangat bahagia Bu," sahut Lia "Pak Niko ganteng pasti gak susah cari perempuan tapi yang cocok untuk Nayra itu yang gak gampang," ujar sang ibu. "Semoga Nayra bahagia dia berhak mendapatkan kebahagiaan, dia anak yang baik," imbuh ibunya lagi. Lia hanya menganggukkan kepalanya. Didalam hatinya dia merasa bersalah. Bagaimana jika ibunya tau tentang hubungannya dengan ayahnya Nayra. Lia mengingat kembali apa yang dia liat kemarin ada rasa yang tidak nyaman tapi disadar akan posisinya. "Lia, kamu harus dukung sahabat kamu itu ya. Kita banyak hutang budi sama Nayra. Coba klo gak ada Nayra mana mungkin ayahnya bantu kita," ucap Ibunya. "Iya Bu," sahut Lia meski dalam hatinya dia meringis. "Dimana Lia?" tanya Niko "Tadi pagi-pagi, Lia sudah pergi ke rumah sakit yah. Dia chat aku kita masih tidur," sahut Nayra sambil meneguk susunya. pas "Gak sopan banget sahabatmu itu Nay, masak perginya gak nunggu tuan rumah bangun," seru Zara sembari mengolesi selai di atas roti. Zara begitu kesal dengan Lia, karena Lia sudah mengganggu kesenangannya tadi malam padahal hampir saja dia dan Niko menghabiskan malam panas. Setelah Lia pergi Niko tidak mau lagi melanjutkan permainan mereka. Itu yang membuat Zara semakin kesal dengan Lia. Niko tidak menyukai komentar Zara dia hendak menegur Zara tapi putrinya yang duluan berbicara. "Tante, adik Lia sedang dirawat di rumah sakit dan dari kemarin Lia tidak bertemu adik sama ibunya karena aku meminta ayah membawa Lia langsung ikut makan malam. Aku ingin membagikan kebahagiaanku sama sahabatku itu dan mengenalkan sama Tante," sahut Nayra. Tentu saja Zara sekedar melupakan kekesalannya dengan pernyataan Nayra yang membuatnya senang. "Nayra, ayah bukan anak kecil yang butuh biro jodoh," tegas Niko. Dia tidak ingin memberi harapan palsu kepada putrinya. Kata-kata Niko langsung membuat Zara tersinggung, namun tidak dia tunjukkan. "yah, sampai kapan sih ayah akan menduda. Mommy saja sudah menemukan kebahagiaan. Apa ayah mau selamanya bermain dengan wanita gak jelas diluaran. Aku hanya mau Tante Zara jadi ibu aku," Nayra langsung marah tetapi Niko tidak menanggapi putrinya. Niko memikirkan hal Lia yang memergokinya dengan Zara. "Nayra, kita lagi sarapan ayah tidak suka ada keributan," tegas Niko lagi. "Nayra sudah jangan dilanjutin ya," sela Zara ketika Nayra ingin menyahut. Nayra langsung mendengar Zara. Niko dengan cepat menghabiskan makanannya langsung meninggalkan meja makan. Nayra ingin menghentikan sang ayah tetapi diliat dari raut wajah ayahnya Nayra langsung mengurungkan niatnya. Niko langsung masuk kedalam kamarnya mengambil ponselnya menghubungi nomer Lia. Semakin marah ketika panggilannya tidak diangkat. Niko mencengkram kuat ponselnya, dia mondar mandir di kamarnya. Niko kembali menghubungi Lia namun tidak ada jawaban juga membuat Niko menjadi kesal. Dia langsung menuju kekamar mandi membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya dengan cepat. Niko memakai pakaian santai. Usianya sudah memasuki 43 tahun namun ketampanannya tidak kalah dari anak kuliahan bahkan dia terlihat lebih keren dari model sekalipun. Niko sangat pintar menjaga tubuhnya dan kesehatannya. "yah, mau kemana?" tegur Nayra yang melihat ayahnya pergi dari rumah. Kebetulan Nayra dan Zara sedang duduk santai di ruang keluarga dan melihat sang ayah ingin meninggalkan rumah "yah, Tante Zara sudah meluangkan waktunya untuk kita kenapa ayah malah mau keluar rumah," imbuh Nayra sambil merenggut. "ayah ada urusan mendadak," sahutnya singkat tanpa mempedulikan Zara yang tampak kesal dengan perlakuan Niko, namun dia tetap bertahan demi mendapatkan laki-laki yang menjadi idola banyak wanita itu, selain tampan dia juga kaya yang terpenting Nayra sangat menyukainya nanti urusan Niko nanti dipikirkan lagi. "Nayra, ayah kamu itu pembisnis jadi sudah biasa," ucap Zara agar terlihat menjadi wanita pengertian "Terimakasih sudah kasih pengertian sama Nayra," ucap Niko langsung meninggalkan mereka. Nayra menghentakkan kakinya. Berlari ke kamarnya begitu kesal dengan ayahnya yang dia anggap egois itu. Sementara di rumah sakit Lia dikejutkan dengan kedatangan Rey, mantan kekasihnya. Ibu Lia yang tidak paham ada masalah dengan mereka tentunya besikap ramah kepada Rey. Sedangkan Lia malas banget bertemu dengan Rey, laki-laki yang sudah mengkhianatinya. Lia terlihat tidak ramah namun Rey begitu memahami kondisi ini. "Tante saya mohon ijin mau bawa Lia keluar ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Lia," Rey meminta ijin dengan sopan kepada ibunya Lia yang tentunya diijinkan oleh sang ibu. Lia ingin menolak akan tetapi dia merasa tidak enak dengan ibunya apalagi adiknya baru sembuh butuh ketenangan masa pemulihannya. "Katakan kamu mau apa lagi Rey?" tanya Lia tanpa basa basi ketika mereka sampai parkiran mobil. "Kita bicara ditempat lain bukan disini Lia," Rey hendak memegang lengan Lia menuntutnya masuk kedalam mobil namun dengan cepat Lia menepis tangan kekasihnya tepatnya mantan kekasihnya setelah penghianatan malam itu. "Lia maaf kejadian malam itu, aku tidak mau putus sama kamu. Aku begitu mencintai kamu," Rey langsung memeluk tubuh Lia. Seseorang di dalam mobil mencengkram kemudi melihat Lia dipeluk oleh seorang laki-laki. Aura dingin terlihat dari tatapan laki-laki dewasa itu. "Bram cari informasi siapa laki-laki ini dan apa hubungannya dengan Lia," titah Niko lewat pesan dan mengirim gambar laki-laki itu. "Lia, kamu milikku sekarang tidak akan aku biarkan laki-laki lain menyentuh apa yang sudah jadi milikku." tatapan Niko begitu tajam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD