Marah campur Cemburu
Pagi-pagi Lia sudah
meninggalkan rumah Nayra
dimana penghuninya masih
tertidur karena hari ini hari libur,
akan tetapi Lia sudah mengirim
pesan untuk Nayra kalo dirinya
pergi ke rumah sakit. Tidak
mungkin Lia bermalas-malasan
seperti mereka.
Sebelum pergi Lia sudah
merapikan tempat tidur terlebih
dahulu dan menemui pelayan
terlebih dahulu berpamitan dan
menyampaikan pesan takutnya
Nayra tidak membuka ponselnya.
Lia memesan ojek online lewat
aplikasi dan menunggu di pos
satpam. Semua pekerja dirumah,
sudah mengenal Lia karena memang
Lia sering main kerumah ini.
"Lia kok pagi banget sudah pergi?" tanya satpam.
"Iya pak, Lia mau ke rumah sakit
dari kemarin belum ketemu ibu
sekalian gantiin ibu," sahut Lia
dengan ramahnya.
"Ya sudah, hati-hati di jalan. Bilang
sama ojeknya jangan
ngebut-ngebut," kata satpam yang
sudah berumur itu.
"Iya pak," sahut Lia
menyunggikan senyuman
ramahnya.
Tak lama ojek pun datang, Lia
menerima helm dari tukang ojek.
"Jangan ngebut-ngebut bawa
penumpang," peringat satpam itu
kepada tukang ojek yang terlihat
masih muda.
"Baik pak..." sahut tukang ojek itu.
Lia memberitahu alamat yang akan
dia tuju kepada tukang ojek itu.
Karena pagi jalan belum terlalu
macet, hanya ditempuh dengan
waktu 40 menit
Lia memberikan ongkos dan
mengembalikan helm. "Makasih
bang," ucap Lia lalu masuk ke
area rumah sakit.
Terlihat Deon sedang disuapi
bubur oleh ibunya, meski kakinya
mengalami patah tulang
setidaknya nyawanya masih bisa
diselamatkan.
" Kak Lia," panggil Deon melihat
kakaknya yang baru tiba.
Lia memeluk adiknya. Begitu
bahagia melihatnya.
"Kak, kaki aku patah aku cacat,"
ucapnya sedih.
"Deon kamu pasti bisa jalan lagi
tapi perlu proses ya. Kamu harus
semangat," Lia mengecup kening
adiknya menyemangati sang adik.
"Ibu, ini Lia beli nasi kuning di
depan?" kata Lia
"Lia, gimana makan malam
kemarin, pasti Nayra bahagia,"
ucap ibunya. Tentu saja Nayra
cerita ke ibu Lia akan makan
bersama calon Mama barunya
sekalian minta ijin untuk Lia
"Nayra sangat bahagia Bu," sahut
Lia
"Pak Niko ganteng pasti gak susah
cari perempuan tapi yang cocok
untuk Nayra itu yang gak
gampang," ujar sang ibu.
"Semoga Nayra bahagia dia berhak
mendapatkan kebahagiaan, dia
anak yang baik," imbuh ibunya
lagi.
Lia hanya menganggukkan
kepalanya. Didalam hatinya dia
merasa bersalah. Bagaimana jika
ibunya tau tentang hubungannya
dengan ayahnya Nayra. Lia
mengingat kembali apa yang dia
liat kemarin ada rasa yang tidak
nyaman tapi disadar akan
posisinya.
"Lia, kamu harus dukung sahabat kamu itu ya. Kita banyak hutang
budi sama Nayra. Coba klo gak ada
Nayra mana mungkin ayahnya
bantu kita," ucap Ibunya.
"Iya Bu," sahut Lia meski dalam
hatinya dia meringis.
"Dimana Lia?" tanya Niko
"Tadi pagi-pagi, Lia sudah pergi
ke rumah sakit yah. Dia chat aku
kita masih tidur," sahut Nayra
sambil meneguk susunya.
pas
"Gak sopan banget sahabatmu itu
Nay, masak perginya gak nunggu
tuan rumah bangun," seru Zara
sembari mengolesi selai di atas roti.
Zara begitu kesal dengan Lia,
karena Lia sudah mengganggu
kesenangannya tadi malam
padahal hampir saja dia dan Niko
menghabiskan malam panas.
Setelah Lia pergi Niko tidak mau
lagi melanjutkan permainan
mereka. Itu yang membuat Zara
semakin kesal dengan Lia.
Niko tidak menyukai komentar
Zara dia hendak menegur Zara tapi
putrinya yang duluan berbicara.
"Tante, adik Lia sedang dirawat di
rumah sakit dan dari kemarin Lia
tidak bertemu adik sama ibunya
karena aku meminta ayah
membawa Lia langsung ikut
makan malam. Aku ingin
membagikan kebahagiaanku sama
sahabatku itu dan mengenalkan
sama Tante," sahut Nayra. Tentu
saja Zara sekedar melupakan
kekesalannya dengan pernyataan
Nayra yang membuatnya senang.
"Nayra, ayah bukan anak kecil
yang butuh biro jodoh," tegas
Niko. Dia tidak ingin
memberi harapan palsu kepada
putrinya.
Kata-kata Niko langsung membuat
Zara tersinggung, namun tidak dia
tunjukkan.
"yah, sampai kapan sih ayah
akan menduda. Mommy saja
sudah menemukan kebahagiaan.
Apa ayah mau selamanya
bermain dengan wanita gak jelas
diluaran. Aku hanya mau Tante
Zara jadi ibu aku," Nayra langsung
marah tetapi Niko tidak
menanggapi putrinya. Niko
memikirkan hal Lia yang
memergokinya dengan Zara.
"Nayra, kita lagi sarapan ayah
tidak suka ada keributan," tegas
Niko lagi.
"Nayra sudah jangan dilanjutin
ya," sela Zara ketika Nayra ingin
menyahut.
Nayra langsung mendengar Zara.
Niko dengan cepat menghabiskan
makanannya langsung
meninggalkan meja makan.
Nayra ingin menghentikan sang
ayah tetapi diliat dari raut wajah
ayahnya Nayra langsung
mengurungkan niatnya.
Niko langsung masuk kedalam
kamarnya mengambil ponselnya
menghubungi nomer Lia.
Semakin marah ketika
panggilannya tidak diangkat.
Niko mencengkram kuat
ponselnya, dia mondar mandir di
kamarnya. Niko kembali
menghubungi Lia namun tidak
ada jawaban juga membuat Niko
menjadi kesal. Dia langsung
menuju kekamar mandi
membersihkan tubuhnya dan
mengganti pakaiannya dengan
cepat. Niko memakai pakaian
santai. Usianya sudah memasuki
43 tahun namun ketampanannya
tidak kalah dari anak kuliahan
bahkan dia terlihat lebih keren dari
model sekalipun. Niko sangat
pintar menjaga tubuhnya dan
kesehatannya.
"yah, mau kemana?" tegur Nayra
yang melihat ayahnya pergi dari
rumah. Kebetulan Nayra dan Zara
sedang duduk santai di ruang
keluarga dan melihat sang ayah
ingin meninggalkan rumah
"yah, Tante Zara sudah
meluangkan waktunya untuk kita
kenapa ayah malah mau keluar
rumah," imbuh Nayra sambil
merenggut.
"ayah ada urusan mendadak,"
sahutnya singkat tanpa
mempedulikan Zara yang tampak
kesal dengan perlakuan Niko,
namun dia tetap bertahan demi
mendapatkan laki-laki yang
menjadi idola banyak wanita itu,
selain tampan dia juga kaya yang
terpenting Nayra sangat
menyukainya nanti urusan Niko
nanti dipikirkan lagi.
"Nayra, ayah kamu itu pembisnis
jadi sudah biasa," ucap Zara
agar terlihat menjadi wanita pengertian
"Terimakasih sudah kasih
pengertian sama Nayra," ucap Niko
langsung meninggalkan mereka.
Nayra menghentakkan kakinya.
Berlari ke kamarnya begitu kesal
dengan ayahnya yang dia anggap
egois itu.
Sementara di rumah sakit Lia
dikejutkan dengan kedatangan
Rey, mantan kekasihnya. Ibu Lia
yang tidak paham ada masalah
dengan mereka tentunya besikap
ramah kepada Rey. Sedangkan
Lia malas banget bertemu dengan
Rey, laki-laki yang sudah
mengkhianatinya. Lia terlihat tidak
ramah namun Rey begitu
memahami kondisi ini.
"Tante saya mohon ijin mau bawa
Lia keluar ada sesuatu yang ingin
saya bicarakan dengan Lia," Rey
meminta ijin dengan sopan kepada
ibunya Lia yang tentunya
diijinkan oleh sang ibu.
Lia ingin menolak akan tetapi dia
merasa tidak enak dengan ibunya
apalagi adiknya baru sembuh
butuh ketenangan masa
pemulihannya.
"Katakan kamu mau apa lagi Rey?"
tanya Lia tanpa basa basi ketika
mereka sampai parkiran mobil.
"Kita bicara ditempat lain bukan
disini Lia," Rey hendak memegang
lengan Lia menuntutnya masuk
kedalam mobil namun dengan
cepat Lia menepis tangan
kekasihnya tepatnya mantan
kekasihnya setelah penghianatan
malam itu.
"Lia maaf kejadian malam itu, aku
tidak mau putus sama kamu. Aku
begitu mencintai kamu," Rey
langsung memeluk tubuh Lia.
Seseorang di dalam mobil
mencengkram kemudi melihat
Lia dipeluk oleh seorang laki-laki.
Aura dingin terlihat dari tatapan
laki-laki dewasa itu.
"Bram cari informasi siapa
laki-laki ini dan apa hubungannya
dengan Lia," titah Niko lewat
pesan dan mengirim gambar
laki-laki itu.
"Lia, kamu milikku sekarang tidak
akan aku biarkan laki-laki lain
menyentuh apa yang sudah jadi
milikku." tatapan Niko begitu
tajam.