Apa yang Sabrina katakan itu langsung membuat Lia kebingungan harus menjawab apa.
"Sabrina, jaga ucapan kamu jangan urusi urusan orang lain. Cepat kamu pesan makan buat kami,"
tegur Niko langsung.
"Kami? Maksud kamu apa Mas Niko?" tanya Sabrina yang merasa ada sesuatu yang mencurigakan.
"Kenapa kalo saya mau makan sama Lia sahabat putri saya," tegas Niko yang tidak berani Sabrina bantah lagi.
Sabrina tidak berani membantah lagi. Dia langsung keluar memesankan makanan untuk mereka berdua, kesal itu yang
Sabrina rasakan saat ini dengan Lia namun dia tidak berani banyak protes karena Nayra sendiri yang menugaskan Lia
mengawasi ayahnya dan Nayra tidak pernah menyukai dirinya, meskipun Sabrina sudah berusaha menarik menarik perhatian Nayra
namun tetap gagal juga.
"Kamu jangan ambil pusing omongan Sabrina," ucap Niko
sembari memperhatikan wajah cantik sugar baby-nya. Dirinya memang sudah gila menyukai wanita seumuran putrinya bahkan
dirinya begitu sangat suka dengan sahabat putrinya ini.
" Lia takut."
"Jangan takut Baby aku bersamamu. aku akan melindungi kamu," tegas
Niko lagi sambil menyunggingkan senyuman.
Lia tidak tau harus berbuat apalagi, dia hanya bisa menganggukkan kepalanya, meski masih ada keraguan di dalam hatinya.
Sabrina membawakan makanan untuk mereka, tentu saja Sabrina sudah hapal dengan makanan favorit majikannya sekaligus
teman One night standnya.
"Terimakasih Tante," ucap Lia dengan sungkan.
"Iya," jawab Sabrina pendek.
"Lia, nanti kamu pulang sama saya. Nayra mengajak kita makan malam bersama di rumah," ujar Niko yang tentunya membuat
Sabrina tambah kesal. Dia saja tidak pernah pulang satu mobil dengan majikannya ini.
"Om, saya mau jenguk Dion dulu kasihan Mama tidak ada yang gantiin," tolak Lia dengan halus.
"Om sudah telpon Mama kamu, dia mengijinkan kamu menginap di rumah. Kebetulan Mama kamu juga tidak begitu capek karena
mereka berada di ruangan VVIP," tegas Niko lagi sehingga Lia tidak bisa menolak lagi.
"Baik Om!!!" jawab Lia pada akhirnya dan melanjutkan makanan mereka, Lia memang sangat kelaparan tenaganya habis
melayani laki-laki dewasa yang tak lain adalah ayah sahabatnya.
Sabrina merasa sang majikan begitu perhatian kepada Lia. Akan tetapi setelah dipikir sah-sah saja, karena Lia adalah sahabat
baik putri kesayangan Niko. Apalagi yang Sabrina dengar Nayra meminta ayahnya membiayai biaya rumah sakit adik Lia.
Mungkin Niko menganggapnya sama seperti putrinya, pikir Sabrina lagi.
Setelah menghabiskan makanannya Lia kembali kemeja kerjanya. Bram sudah menunggunya dan Bram tau apa yang terjadi dengan Lia di ruangan majikannya. Apalagi Lia terlihat begitu kelelahan. Bram tidak heran lagi, karena majikannya memang memiliki
hasrat yang tinggi dan juga seorang player, pastinya Lia yang polos akan kelelahan melayani nafsu besar sang majikan.
"Lia kalo kamu lelah kamu istirahat saja dulu," kata Bram dengan nada lirih yang tentunya hanya mereka berdua yang mendengar.
"Tidak pak, Lia masih kuat kok ngerjain tugas, toh juga hanya duduk saja," sahut Lia. Ini hari pertama dia bekerja tentu saja dia
tidak ingin dikatakan pemalas.
Sabrina dari tempat duduknya memperhatikan mereka berdua terlihat begitu akrab dan Bram begitu perhatian dengan Lia,
membuat Sabrina berfikir jika Bram menyukai Lia.
Sore harinya Lia pulang dengan Niko sesuai permintaan Nayra yang mengajaknya makan malam bersama. Sabrina gerah
melihat Niko begitu perhatian dengan sahabat putrinya. Belum ada satupun wanita yang pernah satu mobil dengan Niko. Mereka
kadang akan bertemu langsung di tempat dengan datang dengan kendaraan masing-masing. Apalagi Bram sekarang tidak ikut satu
mobil bersama Niko.
"Kenapa kamu diam saja Baby?" tanya Niko yang sedari tadi memperhatikan Lia.
"A_aku hanya_" Lia memilin sudut roknya.
"Takut hubungan kita akan terbongkar," tebak Niko dengan senyuman di wajahnya.
Lia hanya menganggukkan kepalanya. Satu tangan Niko terulur membelai rambut lembut Lia dan satu tangannya berada di
kemudi.
"Kamu jangan berfikir yang aneh-aneh. aku pasti akan melindungi kamu," janji Niko
walaupun dalam hatinya dia juga ragu. Niko takut Nayra tidak bisa menerima hubungan mereka.
Selama perjalanan pulang Lia lebih banyak terdiam memperhatikan jalan, begitu banyak beban di kepalanya, belum juga ketakutan yang menghantui dirinya.
"Deon, cepetlah sembuh. Kakak sudah tidak kuat seperti ini," ucapnya dalam batinnya.
Mereka sampai di sebuah rumah mewah milik Niko sendiri.
Lia sering menginap di rumah ini namun tidak pernah sekalipun dia melihat ayah sahabatnya. Nayra sering mengeluh jika ayahnya
jarang sekali pulang kerumahnya dan lebih senang menghabiskan waktu di apartemenya dengan teman wanitanya membuat Nayra
sering bertengkar dengan sang ayah.
Lia berjalan di belakang Niko, Lia yakin sedang ada tamu di rumah itu, terlihat ada mobil lain terparkir di pelantaran rumah
mewah itu.
"Niko...." sapa wanita itu dengan lembut. Wanita itu langsung menghampiri Niko lalu memeluknya. Lia hanya menundukkan kepalanya melihat pemandangan itu.
"Tante kenalin sahabat karibku. Lia kenalin ini calon istri untuk ayahku," seru Nayra dengan bahagia memperkenalkan calon
ibu barunya.
Niko merasa tidak enak,
"Kenalin Tante, saya Lia," sapa Lia dengan sopan tanpa berani menoleh kearah Niko.
"Niko kok bisa kamu barengan pulang sama Lia?" tanya Zara penasaran.
Niko melepaskan tangan Zara pada tubuhnya lalu melangkahkan masuk duduk di ruang tamu melepaskan Jasnya kemudian
tangannya mengendorkan dasinya
"Lia kerja di perusahaan ayah, tadi aku yang minta ayah ajak Liakerumah makan malam," Nayra yang menjelaskan kepada
Zara membuat Niko semakin tidak suka.
"Nayra, kamu tidak harus menjelaskan sesuatu kepada orang lain selain ayah" tegas Niko yang menunjukkan
ketidaksukaanya. Niko paling tidak suka wanita yang suka yang lebih mendominasi apalagi ingin menguasai.
"Iya Nayra, dengerin ayah kamu itu," mereka duduk berempat sambil makan malam disiapkan oleh pelayan. Lia hanya
menundukkan kepalanya hanya menjadi penonton yang baik interaksi mereka bertiga. Niko sepertinya menikmati candaan putrinya dengan Tante Zara. Tanpa Lia sadari Niko juga memperhatikannya dari tempat
duduknya.
Makan malam begini canggung bagi Lia. Apalagi Nayra yang terus menempel pada calon ibu tirinya. Lebih tepatnya wanita yang
dia inginkan untuk menggantikan posisi Mommynya.
Zara mengambilkan makanan untuk Niko dan Nayra, layaknya seperti nseorang istri. Zara hanya mempedulikan mereka berdua tanpa menawarkan apapun kepada Lia. Zara sepertinya tidak menyukai Lia.
"Lia kenapa kamu tidak makan," tegur Niko dari tempat duduknya
" Lea, kamu santai aja anggap gak ada daddy sama Tante Zara," ujar Nayra. Dia yakin sahabatnya ini canggung.
"I_iya Nay," sahut lea kemudian menyendok makanan yang ada di meja makan dia pindahkan ke piringnya. Zara hanya melirik, dia
kurang senang kalo sahabat putrinya ini ikut makan malam dengan mereka.
Malam semakin larut. Zara memutuskan untuk menginap di rumah itu.
"Tante tidur sama aku saja ya," pinta Nayra yang memang merindukan kasih sayang.
"Lia kamu gak masalah kan tidur sendiri," ujar Nayra.
"Gak masalah Nay," sahut Lia
"Kamu nanti tidur di kamar tamu saja," ucap Nayra lagi dan Lia menganggukan kepalanya.
Zara kecewa padahal niatnya menginap ingin tidur di kamar Niko tapi Nayra tidak peka sama sekali.
Niko menyunggikan senyuman, entah apa yang ada di otaknya saat ini, dia diam-diam melirik Lia
yang tengah sibuk dengan ponselnya yang sedang sibuk bertukar pesan dengan ibunya menanyakan kondisi adiknya.
Ada perasaan lega lega di hati Lia mendengar kabar Deon sudah sadar, kondisinya sudah semakin membaik. Kekuatan uang memang
kekuatan terbesar mendapatkan pelayanan terbaik.
Lia masuk kedalam kamar lalu mengunci pintu kamar dan melakukan ritual mandi terlebih dahulu. Sebenarnya Nayra sudah
meminjamkan pakaiannya karena dia tidak membawa pakaian ganti.
Apalagi dia sudah terbiasa memakai pakaian Nayra. Tubuh Nayra begitu lelah, begitu cepat dia masuk kedalam
mimpinya.
Niko memutar otaknya agar bisa masuk kekamar tamu, dia ingin sekali memeluk dan mencium sugar baby-nya yang selalu
memenuhi otaknya, kepolosan Lia yang berada di bawah kumkumannya membuat Niko ingin terus menikmati gadis itu.
Otak Niko dipenuhi adegan panas yang membuatnya gerah.
Zara mendekati Niko dia tau laki-laki ini tidak tahan godaan.
Zara naik keatas pangkuan Niko lalu melumat bibir Niko. Tubuh Zara sangat seksi, dua asetnya begitu besar sangat
berbeda dengan Lia, namun apa yang Zara punya tidak bisa membuat hasrat Niko seperti menginginkan tubuh Lia. Mereka
berciuman di ruang tamu yang gelap.
Lia terbangun karena kerongkongannya begitu kering, tidak ada air diatas nakas. Biasanya jika dia menginap
di rumah sahabatnya dia akan mengambil air di dapur dan membawanya kekamar.
Lia turun dari ranjang, dia ingin mengambil air ke dapur. Lia mencari saklar lampu terlebih dahulu agar dirinya bisa melihat
jalan menuju kearah dapur.
Lia menyalakan saklar lampu, matanya membesar melihat pemandangan antara tante Zara dan Niko hampir telanjang.
Niko dan Zara begitu terkejut melihat Lia. Lia dengan cepat mematikan lampunya lagi kemudian dengan langkah cepat
masuk kedalam kamarnya.