Pasangan Serasi

1623 Words
“Ana.” Alex mempererat pelukannya sampai membuat Ana Syok. Sontak Ana langsung menepis pelukan Alex. “Pak Alex tidak apa-apa? Apa yang Bapak lakukan?” “Ah, Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu terkejut.” “Bapak semakin hari semakin berbahaya. Apa Bapak psikopat?” “Jangan mulai. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu.” “Saya merasa ini tindakan pelecehan.” “Kenapa aku harus melecehkanmu? Iya aku minta maaf karena sikapku tadi.” “Silakan masuk. Mau minum apa?” “Kopi saja.” “Baik, tunggu sebentar.” Setelah mereka berdebat kecil karena sikap Alex yang mengejutkan, Ana mempersilakan Alex masuk. Entah kenapa, Ana merasakan kesedihan yang dirasakan Alex saat dia memeluknya. “Apa kau tidak bosan tinggal sendirian di rumah semegah ini?” “Aku tidak sendirian, ada Thomas yang menemaniku. Tapi, sekarang dia sedang dirawat di klinik.” “Thomas? Kau bilang kau sedang tidak kencan dengan siapa-siapa.” “Kucingku. Lagian, kenapa kalau saya sedang berkencan atau tidak?” “Tidak apa-apa.” Rumah Ana yang bertema minimalis modern membuat antara ruang dapur dan ruang tamu tidak terlalu memiliki sekat. Jadi walaupun mereka beda ruang, mereka tetap masih bisa mengobrol dan mendengar satu sama lain. Selesai membuat kopi untuk mereka berdua, Ana kemudian menuju ruang tamu tempat Alex duduk. “Silakan kopinya. Jadi ada perlu apa Bapak kesini?” “Panggil Alex saja kalau di luar kantor.” “Baiklah. Apa yang membuat kamu sedih?” “Bagaimana kau bisa tahu kalau aku sedang sedih?” “Pelukan Anda yang meringkih seperti bayi, apalagi kalau tidak sedih? “ “Jangan dibahas lagi.“ “Sikap spontan Anda memang selalu membahayakan.” “Kau sudah makan? Aku mau mengajakmu makan di luar.” “Apa kau sedang mengajakku berkencan?” tanya Ana agak meledek. “Siapa yang mengajakmu berkencan? Kita akan ketemu klien.” Alex menjawab dengan sikap dingin. Sikapnya langsung berubah berbalik dari awal bertemu tadi. “Apa? Di hari minggu? Ini hari libur, Pak.” “Kau baru saja diangkat sebagai sekretaris tapi sudah mengeluh?” “Wah, kau memang punya kepribadian Aneh. Sepersekian detik sudah menjadi menyebalkan lagi.” “Bersiaplah. Aku tunggu di mobil.” Alex menghabiskan kopinya, kemudian keluar rumah Ana dan menuju mobil. “Jadi kita mau pergi kemana?” tanya Ana yang sudah duduk disamping Alex. Tanpa sengaja, baju yang dikenakan Ana senada dengan warna baju Alex. Ana menggunakan pakaian semi formal, blazer biru langit, jeans dan inner warna broken white dan high heel warna nude senada dengan tas jinjingnya. Begitu juga Alex yang menggunakan kaos berkerah warna biru langit, jeans warna nude dan sepatu sport putih. “Bertemu sahabat lamaku, dia punya perusahaan di Jerman. Kita akan membicarakan bisnis. Aku mengajakmu, supaya kau nanti bisa mencatat hal-hal penting yang bisa menguntungkan perusahaan kita dari obrolan nanti.” “Baik, Pak.” Setelah 20 menit perjalanan, mereka sampai di sebuah restoran yang cukup mewah. Sahabat Alex yang memilih tempat itu. Namanya adalah Melanie. Dia sahabat Alex sejak SMA dan sekarang tinggal di Jerman memimpin cabang perusahaan orang tuanya. Mereka sampai sekarang sering bertukar pikiran tentang kemajuan perusahaan mereka. Melanie adalah gadis cantik idaman para pria. Alex dan Melanie dulu pernah menjalani hubungan beberapa bulan, lalu hubungan mereka berdua kandas karena kesibukan masing-masing dan sikap kompetitif dari mereka berdua. “Kita sudah sampai. Lebih baik kita masuk dulu. Sepertinya Melanie belum datang.” “Baik, Pak.” “Kita duduk di sebelah sana saja. Sepertinya itu tempat paling nyaman.” “Baik, Pak.” “Makanan di sini sangat enak, cocok sekali di lidahku. Aku dan Melanie selalu meluangkan waktu untuk makan di sini.” “Iya, Pak.” Alex daritadi bercerita dengan antusias soal restoran dan sahabat yang akan ditemuinya. Beberapa detik kemudian, dia menyadari bahwa ada yang aneh dari respon Ana. “Kau kenapa?” “Iya, Pak?” “Apa kau tidak ada kata lain lagi? daritadi responmu hanya baik Pak, iya Pak.” “Lalu saya harus jawab bagaimana?” tanya Ana bingung. “Apa gitu,” “Saya mohon maaf, jujur perut saya sangat lapar, karena belum sarapan tadi,” jawab Ana sambil memegangi perutnya. Tak lama kemudian, makanan yang mereka pesan sudah tiba. Alex mempersilakan Ana untuk menyantap makanannya terlebih dahulu agar dia tidak semakin kelaparan. Baru beberapa suap, orang yang dinantikan pun tiba. Ana terperangah melihat Melanie yang begitu mempesona, mulai dari fisiknya, cara dia berjalan, bahasa tubuhnya dan gaya berpakaiannya. Membuatnya sedikit menciut membandingkan dirinya dengan Melanie. “Halo Alex. Apa kabar?” sapa Melanie dengan antusias. “Hai, Melanie. Kabarku baik, kamu sendiri bagaimana?” sapa Alex dengan menjabat tangan dan mereka cium pipi kanan dan cium pipi kiri tanda mereka sangat akrab. Ana yang melihat pemandangan itu agak sedikit kikuk dan merasa canggung karena berada diantara mereka. “Hai. Aku Melanie. Kamu sangat cantik,“ sapa Melanie dan menjulurkan tangannya ke Ana untuk berjabat tangan. Melanie menjabat tangan Ana cukup lama, dia memandangi mata Ana sambil mengingat-ingat sesuatu. Lalu dia melirik Alex sepersekian detik. “Terima kasih. Anda lebih cantik. Perkenalkan nama saya Anastashia, sekretaris Pak Alex.” “Sekretaris? Aku kira kamu pacar Alex, “ tanya Melanie terkejut. “Mana mungkin aku membawa pacar untuk urusan bisnis. kau seperti baru mengenalku saja.” “Hm. Kau masih saja kaku seperti dulu.” Ana hanya tersenyum melihat percakapan mereka berdua. Rasa canggungnya masih belum hilang, entah kenapa dia merasa dirinya yang selalu percaya diri menghadapi apapun, kini kepercayaan dirinya serasa berkurang ketika berhadapan dengan Melanie. Melihat Melanie dan Alex yang asyik mengobrol membuat dia merasa iri. Mereka berdua seperti pasangan yang serasi, pasangan yang sama-sama memimpin perusahaan besar dan mempunyai karir yang cemerlang. Entah kapan dia bisa seperti itu suatu saat ketika dia bertemu dengan pangerannya nanti. “Ana,” panggil Melanie. Ana yang melamun memandang mereka berdua, seperti tidak mendengar ada yang memanggilnya daritadi. “Anastashia,” panggil Melanie kembali. “Iya, Bu Melanie? Maaf. Bagaimana, Bu?” Ana yang menyadari karena Melanie memanggilnya daritadi pun meminta maaf. “Haha, jangan panggil aku Bu. Panggil Melanie saja. Hm, aku harap kamu bisa sabar menghadapi Alex dan Marcel. Mereka bisa sangat keras kepala dan membuatmu pusing. Aku harap kamu melakukan tugasmu dengan sebaik-baiknya. Kau juga bisa menolak mereka jika mereka memberikan tugas di luar tugasmu, haha.” Melanie menjelaskan panjang lebar tentang sifat Alex dan Marcel saat bekerja. Ana yang mendengar itu, hanya tersenyum. “Siap, Bu.” “Aku tidak bisa lama Alex. Mungkin lain waktu bisa kita bicarakan lagi soal kerjasama ini.” Melanie kemudian pamit ke Alex dan Ana. “Akan aku antar ke depan.” Alex menawarkan Melanie untuk mengantarnya ke parkiran mobil. “Baiklah.” Mereka berdua pergi menuju tempat parkir mobil dan meninggalkan Ana sendiri di kursinya. Sementara Ana sibuk dengan ipad-nya membuat laporan hasil pembicaraan Alex dan Melanie. Dia semakin kagum dengan sosok Melanie yang masih muda, cantik tapi sudah bisa mengembangkan perusahaan sebesar itu di Jerman. “Apa dia wanita yang kau temui di klub itu?” “Kenapa kau tanya begitu?” “Caramu memandangnya dan bahasa tubuhmu sangat ketara, Alex. Aku mengenalmu sudah lama.” “Apa kau cemburu?” “Sedikit. Tapi aku pasti lebih baik dari dia.” “Kau masih saja angkuh.” “Aku tidak angkuh, aku hanya ingin mengembalikan kepercayaan diriku. Dia sangat cantik. Pantas saja kau langsung terpesona di pandangan pertama.” “Sudahlah. Kau tau kita tidak akan bisa bersama. Batu tidak bisa menjalin hubungan dengan batu.” “Haha. Baiklah. Tapi kita harus selalu berhubungan baik. See you, Alex.” “See you. Hati-hati.” Melanie mencium pipi kanan kiri Alex, kemudian meninggalkannya. Mereka berdua sebenarnya pasangan yang serasi. Karena mereka sudah lama saling mengenal dan orang tua mereka adalah sahabat yang saling membangun bisnis bersama. Tapi sifat keras kepala dan saling kompetitif antara Alex dan Melanie, membuat mereka tidak bisa menjalin hubungan romansa yang lama. Alex kembali masuk ke restoran, menghampiri Ana yang masih sibuk dengan ipad-nya. Alex melihat Ana dari kejauhan, dia sadar bahwa kini dia sudah menemukan wanita yang dia cari. Ya, Ana sudah di depan matanya, tapi jujur dia belum tahu harus bagaimana untuk langkah selanjutnya. “Terima kasih,” ucap Ana pada pelayan restoran yang baru saja mengantarkan pesanannya. “Waa.. ternyata kau benar-benar kelaparan ya?”Alex terkejut dengan Ana yang memesan makanan berat lagi. Ternyata banyak juga porsi makan Ana kalau kelaparan. “Hehe.. Maaf, Pak. Saya memang sedang kelaparan. Karena tadi saat ada Bu Melanie, saya sedikit sungkan untuk makan dengan lahap. Nanti bill-nya saya ganti.“ “Tidak usah. Nikmati saja makanannya. Anggap saja ini bonus karena kamu kerja di hari libur.” “Terima kasih, Pak.” Ana senang mendengarnya. Dia langsung dengan lahap menyantap makanannya. “Pak Alex dan Bu Melanie sangat cocok. Kenapa kalian tidak memutuskan untuk menikah? Jika kalian menikah, pasti nanti akan menjadi pasangan pengusaha muda yang kaya raya,” puji Ana dengan menunjukkan ekspresi halunya. “Melanie dan aku hanya cocok sebagai partner kerja. Selebihnya, kita tidak pernah menemukan keserasian. Lagian, Melanie sudah punya pasangan di Jerman.” “Dan Bapak?” “Aku? Ya jelas aku sudah punya orang yang aku cintai. Lagian, kenapa kau mengatur hubunganku dengan Melanie? Itu bukan urusanmu.” “Iya, iya. Saya hanya bertanya. Selalu saja sepersekian detik sikapnya berubah. Untung saja Anda bos saya. Dan juga, kalau Bapak punya orang yang Bapak cintai, jangan memeluk wanita sembarangan. Apa Bapak tidak bisa menjaga perasaan orang yang Bapak cintai?” Setelah Ana berbicara panjang lebar pada Alex, dia tidak meresponnya dan hanya menatap mata Ana begitu lama. Sampai membuat Ana kikuk dan merasa bersalah. “Sudahlah. Aku tidak mau bertengkar denganmu. Kalau sudah selesai, mari kita pulang. Aku akan mengantarmu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD