Masa Lalu Alex

1616 Words
“Iya, mamaku sayang, ini aku sudah di Rumah Sakit. Kamarnya nomor berapa?” Mama Alex sedang memintanya untuk menjenguk sahabat kesayangannya yang sedang di rawat di rumah sakit. “Kamar Boulevard nomor 401. Barang permintaan mama untuk tante Mawar sudah kamu bawa, Sayang?” “Sudah, Ma. Ini aku bawa bunga mawar, bolu coklat dan ayam goreng madu bikinan mbak Mirna, reed diffuser aroma gardenia. Sudah, kan? Apa ada yang kurang?” Alex menyebutkan semua bawaan yang dipesan mamanya untuk sahabatnya itu. Terlihat sekali bahwa mama Alex sangat pengertian dan sangat menyayangi sahabatnya. “Anak baik, muach. Maaf ya Sayang, karena mama pulangnya masih tiga hari lagi, jadi terpaksa kamu yang harus gantiin mama jenguk tante Mawar.” Mama Alex saat ini memang sedang berada di luar kota, sehingga dia meminta Alex untuk segera menjenguk sahabatnya itu. “Kenapa papa pulang duluan kemarin?” “Papa bilang, ada urusan kantor mendadak dan beliau harus segera pulang.” “Oke. Hati-hati di sana Ma, Love you.“ Alex memasuki lift dan menekan tombol menuju lantai empat. Semenit kemudian dia sudah sampai di lantai yang dia tuju. Jarak kamar tempat tante Mawar dirawat memang tidak terlalu jauh dari lift, sehingga dia tidak butuh waktu lama untuk sampai di kamar tersebut. Saat dia akan mengetuk pintu yang tidak menutup dengan sempurna, terdengar suara orang mengobrol dari dalam. Dia mengenal suara laki-laki yang tidak asing di telinganya. “Aku sudah tidak kuat lagi, Robert. Badanku rasanya semakin hari semakin lemah,” kata wanita yang sedang berbaring di tempat tidur pasien itu. “Hush. Kamu tidak boleh ngomong seperti itu. Aku yakin kau pasti akan segera sembuh.” Hibur pria itu untuk menenangkan sang wanita. “Aku takut sendiri, aku ingin bertemu Liliana.. aku ingin minta maaf padanya..” “Lili akan segera kemari, tidak ada yang perlu dimaafkan, karena kau tidak salah dan Lili ikhlas menerima semua ini. Lili menyayangimu sama seperti aku menyayangimu. Percayalah…” “Apa kau sudah menceritakan pada Alex bahwa dia anak kita berdua?” “Waktunya belum tepat, Sayang. Alex masih terpukul karena kepergian adiknya. Dia butuh sandaran untuk bisa menerima semua ini.” Robert pun mencium bibir Mawar dengan penuh keintiman layaknya sepasang kekasih yang sudah lama menahan rindu untuk bertemu. Kedua tangan Alex mengepal keras saat melihat pemandangan itu. Dia bertanya-tanya hubungan apa yang sedang orang tuanya jalani itu. “Kenapa?” Alex yang telah mendengar semua pembicaraan papanya dan tante Mawar, sahabat kesayangan mamanya itu, terkejut dengan obrolan mereka berdua. “Kenapa harus menunggu aku agar punya sandaran yang kuat? Apa karena semenyakitkan itu bahwa ternyata aku anak dari hasil perselingkuhan kalian berdua?!” “Alex, sejak kapan kamu disitu?” “Alex Sayang, biar tante jelaskan, Nak.” “Jangan panggil aku Nak! Kau wanita yang sudah mengkhianati sahabatmu sendiri!” Alex tidak bisa menahan amarahnya. Dia membuang semua barang bawaannya ke lantai. Lalu pergi meninggalkan papanya dan tante Mawar. Mawar yang melihat sikap Alex yang menolaknya mentah-mentah membuat dirinya mengalami penurunan kesadaran. Robert pun segera memanggil dokter untuk mengecek kondisi Mawar. Lalu dia menelepon Liliana agar segera pulang saat itu juga. Liliana yang mendengar kabar itu, langsung terbang menuju rumah sakit. *** “Bagaimana kabar Mawar? Apa yang terjadi, Robert? Kau bilang kondisi Mawar semakin baik, aku tidak kuat melihat Mawar seperti itu.” Liliana yang baru saja tiba, langsung menemui Robert yang sudah berada di depan ruang ICU. Liliana tidak kuat menahan tangisnya, badannya gemetar melihat sahabatnya berbaring di ruang ICU dengan keadaan yang semakin lemah. Robert pun memeluk Liliana untuk menenangkan istrinya itu. “Tadi terjadi kesalahpahaman antara Alex dan kami berdua. Tanpa kami sadari dia mendengar pembicaraan kami berdua tentang siapa dia sebenarnya.” “Lalu?” “Alex mengatakan Mawar mengkhianatimu dan dia mengasihani dirinya sendiri dan menamainya sebagai anak haram.” “Ya Tuhan. Lalu dimana Alex sekarang, Pa? Kita harus menjelaskan semuanya ke Alex..” “Entahlah, aku belum sempat menghubunginya. Setelah dia pergi, keadaan Mawar semakin kritis.” “Kalau begitu biar aku yang menghubunginya.” Liliana lalu mengambil ponselnya di tas, dia mencoba menelepon Alex berkali-kali. *** Setelah mendengarkan semua itu, Alex langsung meninggalkan rumah sakit. Dia mengendarai mobilnya dengan kencang, tatapannya kosong. Banyak hal berisik yang sedang mengganggu pikirannya. Dia tidak menyangka papanya bisa mengkhianati mamanya. Berselingkuh dengan sahabat istrinya sendiri. Hubungan macam apa itu. Sungguh tidak bermoral. Papanya selalu mengajarinya untuk menjadi pria gentle dan setia. Tapi apa yang terjadi barusan adalah hal yang tidak bisa dia percaya. “Kapan kau ceritakan pada Alex kalau dia adalah anak kita berdua?” Kalimat itu terus terngiang di kepala Alex. Dia masih belum menerima kenyataan yang ada, bahwa Liliana mama yang sangat dia cintai melebihi apapun, ternyata bukan mama kandungnya dan mama kandungnya merupakan sahabat tersayang mamanya. Bagaimana bisa ada hubungan seperti itu. Setelah berkilo-kilo meter dia melajukan mobilnya, dia pun memarkirkan mobilnya dipinggir sebuah taman. Dia mencoba menenangkan pikirannya dan mencerna keadaan yang sedang dihadapinya. Dia melihat layar ­ponselnya. Terdapat sepulug panggilan tak terjawab dari mamanya. Tanpa berpikir panjang dia kemudian ganti menelepon mamanya. “Halo, Ma.” “Sayang, kamu dimana Nak? Kamu tidak apa-apa?” “Iya, Ma. Aku baik-baik saja. Mama kapan pulang? Ada yang ingin aku bicarakan sama mama.” Alex mencoba menenangkan suaranya agar mamanya tidak khawatir. “Mama sudah pulang, Nak. Mama sekarang di rumah sakit. Tante Mawar masuk ICU. Mama bisa minta tolong kamu kesini sekarang, Sayang?” “Aku tidak ada urusannya dengan dia. Maaf ma aku—“ “Demi Mama. Nak.” Liliana mencoba membujuk Alex. Dia sangat yakin bahwa anaknya pasti mau menurut dengannya, karena Alex akan melakukan apapun demi mama tercintanya. ”Baiklah. Tunggu aku, Ma.” Alex langsung memutar mobilnya melaju menuju rumah sakit. *** “Apa yang terjadi?” Alex melihat mama papanya berpelukan sambil menahan tangis di depan kaca ruang ICU. “Sayang, kamu sudah datang, Nak.” Liliana langsung menghampiri Alex dan memeluknya. “Mama kenapa menangisi sahabat mama itu? Apa mama belum tahu kalau sebenarnya dia dan papa telah berselingkuh di belakang mama?!” Sambil menahan amarah, Alex menatap tajam mata papanya. “Jaga bicaramu Alex! Bersikaplah dewasa. Ibumu sedang menghadapi masa kritisnya!” Robert tidak bisa menahan emosinya mendengar Alex yang berapi-api itu. “Kau menyuruhku menjaga bicara? Kau sendiri tidak bisa menjaga sikapmu. Pertama adikku meninggal karenamu. Dan sekarang kau membuat wanita itu yang ternyata ibu kandungku kritis. Lalu, bagaimana nasib mamaku? Apakah kau juga sudah berhasil menyakitinya karena sudah membuat hubungan yang rumit ini? Hah?!” Alex semakin tersulut emosinya. Bapak dan anak itu sekarang kondisinya seperti macan dan serigala yang saling mengaum. Menunjukkan emosinya masing-masing. Liliana yang melihat pertikaian mereka berdua berusaha untuk melerai. “Sudah cukup, aku mohon. Sayang dengarkan mama. Kita duduk dulu. Dengarkan penjelasan mama.” Liliana merangkul tangan Alex dan mengajaknya duduk di tempat yang disediakan di depan ruangan. “Dengarkan mama baik-baik. Tante Mawar bukanlah selingkuhan papa. Kamu bukan anak haram. Mereka berdua adalah pasangan sah.” Alex yang mendengar pernyataan mamanya, merasa seperti disambar petir saat itu. Kebingungan dan rasa penyesalan yang teramat besar karena tadi dia begitu kasar dengan tante Mawar yang selama ini begitu baik dan menyayanginya. Ditengah ketegangan Alex, Liliana melanjutkan ceritanya. “Saat kamu berusia dua tahun, tante Mawar didiagnosa sakit tumor otak, dia sering merasakan sakit kepala sampai berakibat mengganggu aktivitasnya, termasuk merawat kamu dan melayani papamu. Dia sangat menyayangimu dan papamu sampai dia memikirkan masa depan kalian. Papamu masih muda saat itu, dia juga perlu bahagia. Akhirnya tante Mawar atau ibumu, pelan-pelan menjodohkan mama dengan papa. Dia tahu waktunya tidak lama, jadi dia menitipkan kamu dan papa ke mama. Mama sangat menyayangi dia, apapun yang membuat dia bahagia dan melupakan rasa sakitnya. Dan benar, setelah kami menjalani semua seperti kemauan dia, dia bisa lebih bahagia dan bisa bertahan sampai sekarang.” Itulah tadi penjelasan Liliana pada Alex. Air matanya mengalir deras. Sekarang dia begitu menyesali karena telah berbuat kasar pada ibu kandungnya sendiri. Dia pun merasa bahwa kondisi ibunya yang semakin kritis karena perbuatan dia. “Lalu kenapa papa selama ini meninggalkan ibu sendirian? Seharusnya papa lebih sering bersamanya disaat masa sulitnya.” Alex tetap menyalahkan papanya yang dia pikir papanya sudah tega pada ibu kandungnya. Dan papanya pun hanya terdiam. Keadaan Mawar semakin kritis dan itulah akhir kehidupan Mawar. Alex yang menyadari semua itu merasa dirinya hancur. Rasa bersalah karena tidak bisa menolong adiknya belum sembuh, kemudian ditambah lagi dengan penyesalan karena perlakuan dia yang membuat ibu kandungnya semakin kritis, dia kini menyalahkan dirinya sendiri. *** Kembali ke masa kini. Alarm jam berdering keras. Membuat Alex yang saat itu tertidur sedikit kaget. Matanya terbelalak seperti sehabis mimpi buruk. “Ya Tuhan, selalu saja aku mimpi buruk setiap kali aku habis teringat kejadian itu.” Alex kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan mandi. Shower dia nyalakan dengan tujuan agar pikirannya lebih segar. 15 menit kemudian dia sudah mengenakan pakaian rapi, dia meraih ponselnya dan mencari sebuah nama dalam kontak teleponnya. “Halo?” “Halo, Pak. Kebetulan sekali, saya baru saja akan menghubungi Bapak.” ”Kamu dimana?” “Saya di rumah, Pak. Saya ingin menginfokan jadwal bes—“ Belum selesai Ana melanjutkan pembicaraanya, Alex menyela. “Bersiaplah. Aku akan menjemputmu.” Alex lalu menutup teleponnya, dia masuk ke mobil dan mengendarai mobilnya dengan kencang menuju rumah Ana. 20 menit kemudian, Alex sudah di depan pintu rumah Ana. “Pak Alex, silakan masuk.” Ana mempersilakan sang tamu untuk masuk. Tapi tanpa aba-aba dia dikagetkan oleh perlakuan bosnya itu. Alex menarik tangan Ana dan membuatnya jatuh kedalam pelukan Alex. Begitu dalam pria itu memeluk Ana sampai Ana tidak bisa bernafas. “Ana...” Alex pun semakin mempererat pelukannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD