Jam menunjukkan pukul 08.00 WIB. Ponsel yang berada di samping Alex berdering sedari tadi, sang pemilik memilih untuk mengacuhkannya. Sepertinya sang pemilik telepon sedang menikmati tidur nyamannya di ranjang ukuran Queen size dengan balutan sprei abu-abu muda senada dengan badcover-nya sehingga terkesan mewah dan elegan.
Dering telepon kembali berbunyi, mau tidak mau Alex bangun dari tidurnya dan mengangkat telepon yang dari tadi mengganggunya.
“Halo. Ada apa?”
“Kau dimana? Dari tadi aku telepon tidak ada jawaban. Apa kau baru bangun? Kau lupa sekarang jadwalnya apa?!”
“Apa kau ingin menggantikan ibuku?! Pagi-pagi mengomel di telepon tanpa jeda sedikit pun. Ku sarankan jangan sering-sering menemui ibuku jika omelannya membuatmu terinspirasi.”
“Aku tidak akan mengomel kalau kau tidak lupa jadwal hari ini. Kenapa aku berasa seperti istrimu selalu mengingatkan jadwalmu?!”
“Aku tidak bisa ikut.”
“Kenapa mendadak seperti ini?!”
“Kau saja. Aku tidak enak badan.”
“Apa kau baik-baik saja? Kau dimana sekarang?”
“Aku baik-baik saja, Sayang. Muach.” Setelah perdebatan panjang, Alex menutup teleponnya.
Sedangkan di seberang sana Marcelino Elon masih mengomel karena Alex menutup teleponnya sebelum pembicaraan mereka selesai. “Lex. Halo. Alexander Danzoz. Haloo. Sial.”
Alex melanjutkan tidurnya, dia terbawa suasana nyaman di kamar tersebut, ditambah lagi aroma reed diffuser yang membuatnya semakin betah di kamar itu.
Belum terlalu lama Alex terlelap, ponselnya kembali berdering untuk kesekian kalinya.
“Halo. Ada apa lagi sih?!”
“Kau dimana? Aku sekarang di rumahmu, tapi kau tidak ada. Kata ART-mu kau tidak pulang semalam.”
“Di rumah Ana.”
“Apa?! Apa yang kau lakukan di rumah gadis itu? Kau jangan—“
“Bawel.” Alex kemudian menutup teleponnya tanpa memperdulikan si penelepon melanjutkan pembicaraanya.
Pintu kamar diketuk oleh Ana. Alex yang mendengar ketukan itu segera merapikan posisinya.
“Selamat pagi. Apakah perutmu sudah enakan?”
“Sudah lumayan. Terima kasih atas perawatannya.”
“Ehm. ini bubur untuk sarapanmu. Mumpung masih hangat.”
“Terima kasih.”
“Sama-sama. Perlengkapan mandi dan baju ganti sudah ada semua di toilet. Kalau kau perlu yang lainnya, aku ada di rooftop.”
“Terima kasih. Maaf merepotkan. Ana, apakah tadi malam aku salah bicara?”
“Tidak. Tapi kau lebih berbahaya dari sebelumnya. Jadi aku harus waspada.”
“Memangnya apa yang sudah aku bicarakan semalam?”
“Terimakasih sudah menyelematkanku lagi, bisa kau berbaring disini, bisa kau temani aku malam ini. Apakah kau memang seperti itu jika sedang kesakitan?! Berbicara melantur kemana-mana?!”
“Maaf.”
“Jadi tebakanku benar. Kau sedang melantur. Apa kau membayangkan pacarmu?”
“Kenapa kau bawel sekali? Dan, kenapa bahasamu tidak baku? Kau lupa kalau aku ini bosmu?!”
“Setelah tadi malam kau menggenggam tanganku dan menarikku dalam pelukanmu, membuatku harus berhati-hati padamu. Dan juga, kita tidak sedang di kantor, ini daerah kekuasaanku.”
“Wah. Aku baru tahu sisi lainmu sekarang. Ternyata kau lebih garang daripada singa.”
“Terima kasih atas pujiannya. Aku harap kau punya kontrol diri lebih baik.”
“Apa?! Kau bilang aku tidak punya kontrol diri? Bukankah kau duluan yang terkesima melihat perut sixpack-ku? Jadi siapa yang tidak sopan?”
“Hah. Sudahlah. Segera sarapan dan minumlah obatnya, Tuan. Lalu silahkan pergi dari rumahku.”
“Apa? Sekarang kau mengusir bosmu?”
“Demi keselamatan dan martabat kita berdua, Tuan.“
Ana kemudian menundukkan diri seperti pelayan istana yang menghormati rajanya. Lalu, dia berbalik badan dan keluar dari kamar.
Dibalik pintu Alex tersenyum melihat Ana yang salah tingkah dan mengingat kejadian tadi malam. Memang dia kurang mengontrol diri karena efek obat. Seharusnya efek obat itu membuat dia mengantuk dan terlelap. Tapi entah kenapa malah membuatnya melayang seperti orang mabuk.
“Bagaimana dia bisa membahas kejadian tadi malam? Padahal, aku sudah berpikir positif bahwa dia memang murni sedang mengigau. Dasar mesum.” Sambil berjalan menuju rooftop, Ana berceloteh dalam batinnya. Jantungnya berdegup kencang dan tidak bisa dipungkiri bahwa dia sedang salah tingkah.
Sebelum dia sempat menaiki anak tangga menuju rooftop, terdengar suara ketukan pintu. Membuatnya langsung berbalik badan menuju pintu utama.
“Siapa pagi-pagi di hari libur bertamu? Haduh. Rencana me-time ku sepertinya berantakan hari ini.” Pintu utama pun dibuka oleh Ana. Ya, benar. Tepat seperti dugaan Ana. Bahwa me-time nya hari ini akan berantakan. Satu lagi tamu tak diundang ke rumahnya datang. Marcelino Elon.
“Selamat pagi, Ana.”
“Hm.. Apa mereka ini upin ipin. Kenapa tidak bisa terpisahkan?” batin Ana dalam hati.
“Selamat pagi, Pak Marcel. Wah, kebetulan sekali. Apa Bapak mau menjemput Pak Alex?”
“Jadi benar Alex di sini? Kau baik-baik saja, kan? Apa yang sudah Alex lakukan padamu?” tanya Marcel sambil memegangi pundak Ana. Dia yang menyadari itu, lalu segera melepaskan tangan Marcel dari bahunya.
“Oh.. Maaf..” Sesal Marcel.
“Kemarin malam Pak Alex maagnya kambuh. Jadi, dia tidak bisa pulang. Akhirnya saya kasih dia obat dan tetidur di sini. Silahkan masuk, Pak.“
“Oh.. ya? Apa dia berpura-pura agar dia bisa tinggal di rumahmu?” Sambil memasuki rumah, Marcel menggerutu sendiri mendengarkan cerita Ana.
“Bagaimana, Pak?”
“Ah, tidak. Dimana dia sekarang?”
“Beliau di kamar tamu. Itu kamarnya, Pak.” Ana menunjukkan kamar di ujung ruangan seberang ruang tamu.
”Bapak mau minum apa? Kopi, teh?” Ana menawarkan.
“Kopi, boleh.”
“Baik. Saya tinggal ke dapur dulu.”
“Terima kasih, Ana.”
Marcel memasuki kamar yang ditunjukkan Ana tanpa menunggu sang penghuni kamar mengijinkannya.
“Alexander Danzoz, bangun! Alex!” Marcel menggoyang-goyangkan badan Alex agar dia segera bangun. Sang pemilik badan sepertinya sangat pulas dalam tidurnya. Menyadari tak ada respon dari Alex, Marcel memanggil namanya dengan keras tepat disamping telinga Alex.
“Alexaa!”
Dari perlakuan Marcel tersebut, otomatis Alex langsung terjungkal kaget. Dia semakin terkejut kenapa sahabat yang selalu membuatnya kesal itu sudah ada dihadapannya.
“Marcel?? Haduh. Kenapa kau bisa disini?”
“Ayo pulang.”
“Aku bisa pulang sendiri.”
“Mandilah. Lalu pulang.”
“Kau bukannya khawatir malah ngomel-ngomel. Aku sedang sakit, Sayang...”
Alex menunjukkan sikap manjanya. Tangannya yang merangkul bahu Marcel dan mulutnya sedikit manyun genit, membuat Marcel merasa ingin muntah melihatnya. Marcel pun membalas sikap manja Alex padanya. Dia kemudian mengelus rambut Alex dan memanyunkan bibirnya mengarah ke bibir Alex. Sontak mata Alex pun terbelalak melihat Marcel yang seperti itu.
Tanpa mereka sadari, di pintu kamar ada Ana yang sedari tadi melihat drama mereka.
“Apa kalian penyuka sesama?”
Marcel dan Alex yang mendengar adanya suara wanita terkejut dan menoleh ke arah pintu secara bersamaan. Menyadari keberadaan Ana, sontak mereka langsung saling mendorong satu sama lain.
“Maaf mengganggu kemesraan kalian. Tapi ini di rumahku.”
“Maaf Ana, jangan salah paham. Kami normal, kok. Hanya ini satu-satunya cara membuat Alex segera bangun.”
“Bukan urusanku. Em.. kopi Bapak sudah siap di meja tamu. Silakan dinikmati selagi masih hangat.”
“Terima kasih Ana. Kamu memang selalu melakukan yang terbaik.”
“Biasa saja, Pak. Karena Bapak tamu saya jadi sudah selayaknya.”
Ana kemudian memandangi Alex yang masih melongo karena kejadian tersebut. Lalu Ana juga tergiur untuk sedikit menggoda bosnya yang sok cool tapi menggemaskan itu.
“Aa, sekarang saya jadi tahu siapa yang Pak Alex bayangkan tadi malam. Hm.. kenapa kalian romantis sekali. Jadi iri lihatnya.”
“Diam kau Ana,” balas Alex.
“Wuu.. si singa sudah sembuh ternyata,” ucap Ana yang tak mau kalah. Sambil tersenyum tipis, kemudian Ana meninggalkan mereka berdua. Dia menuju dapur untuk menyiapkan mereka berdua cemilan. Ya, Ana memang tipe tuan rumah yang sangat menjamu tamunya dengan baik.
Sementara Alex dan Marcel berjalan beriringan menuju meja ruang tamu yang sudah tersedia banyak cemilan dan dua gelas kopi dan satu gelas lemon madu hangat sebagai pendampingnya.
“Wah, kau benar-benar menjamu kami Ana. Aku memang tidak salah memilihmu. Kau juga suka minuman herbal ternyata. Hm.. baunya enak sekali,” puji Marcel.
“Itu untuk Pak Alex, Pak.” Ana membuatkan minuman khusus untuk Alex.
“Kenapa kau bedakan? Aku juga ingin kopi,” sahut Alex yang tidak terima kenapa minumannya dibedakan. Jelas-jelas Ana tahu bahwa dia pecinta kopi.
“Apa kau ingin perutmu sakit lagi dan merepotkanku?!” balas Ana menegaskan.
“Wah. Aku suka sekali cara berbicaramu ke Alex yang tegas dan berani, kau selalu membuatku kagum Ana.” Marcel bersorak melihat pemandangan mereka berdua yang sedang berdebat.
“Em, maaf Pak Marcel.” Ana menyesali karena perlakuannya yang tidak sopan pada Alex dipandang oleh Marcel.
“Santai saja Ana. Alex pantas mendapatkan ketegasanmu. Selama ini belum ada yang bisa berbicara tegas sepertimu. Haha. Aku seperti melihat suami istri sedang bertikai dengan romantis di pagi hari.” Marcel tersenyum bahagia melihat mereka berdua. Mendengar kehaluan Marcel, Alex kemudian melemparkan bantal kursi ke mukanya.
“Jadi, siapa yang mewakili kita join bermain golf kalau kamu menyusulku kesini?” tanya Alex. Ya, sebenarnya hari ini mereka berdua harus menghadiri kegiatan bermain golf dengan salah satu kolega mereka. Beruntung Papa Alex dan asisten kepercayaannya ikut hadir, jadi kehadiran mereka tidak terlalu berpengaruh.
“Papamu dan Adrian kebetulan juga mau bergabung. Jadi tidak masalah kalau kita berdua tidak hadir.”
“Lalu kenapa kau repot-repot kemari? Apa kau tidak Quality time dengan anak dan istrimu?”
“Aku kesini karena kau sedang berada di rumah Ana. Aku takut kau berbuat yang tidak-tidak ke Ana.”
“Kau kira aku pria macam apa yang tidak sopan dengan sekretarisnya?”
“Heleh,” ejek Marcel. Bagaimana seorang Alexander Danzoz yang tidak tergiur dengan pesona Anastashia Keihl. Di tambah lagi Ana adalah wanita yang membuat hidupnya b*******h kembali dan menyalamatkannya dari percobaan bunuh diri.
Ana yang sedari tadi sudah ikut bergabung duduk dengan mereka, hanya bisa memandangi Alex dengan tatapan tajam. Dia menekankan kejadian tadi malam termasuk perbuatan yang tidak sopan.
“Jadi, Pak Marcel sudah berkeluarga?” tanya Ana
“Ya, Kau pikir dia masih lajang?” jawab Alex
“Aku ini bapak-bapak gaul yang selalu berjiwa muda, Ana. Haha,” imbuh Marcel yang sedang membanggakan diri.
“Kau sedang apa?” tanya Alex yang daritadi melihat Ana sibuk dengan laptopnya.
“Pak Antoni baru saja mengirimkan tugas untuk menyusun jadwal anda berdua Senin besok,” jawab Ana sambil tetap fokus dengan laptopnya. Beberapa detik kemudian, Ana menghentikan aktivitasnya dan menyadari sesuatu.
“Oiya, kalau boleh tau, kenapa saya yang dipilih sebagai sekretaris?” tanya Ana pada dua pria yang sedari tadi menatap Ana yang sibuk dengan dunianya sendiri.
“Tentu saja karena kau lulus kualifikasi dan yang terpenting adalah karena Alex sudah mengincarmu,” jawab Marcel nyengir sambil menatap Alex.
“Jangan sembarangan kau Marcel,” timpa Alex dengan wajah datar dan dingin.
“Dia langsung terpesona dan tidak bisa melupakanmu setelah kau menciumnya di klub,” imbuh Marcel.
“Diam Kau. Ayo kita pulang.” Alex langsung menggandeng tangan Marcel untuk pergi dari rumah Ana.
“Terimakasih atas jamuannya Ana. Sampai ketemu besok Senin,” lanjut Alex yang berpamitan pada Ana.
Alex lalu menarik Marcel keluar, sedangkan Marcel melambaikan tangan pada Ana, tanda dia berpamitan untuk pulang.