“Kita ngapain disini, Pak?” Ana terkejut ketika dia menyadari bahwa Alex membawanya ke kedai kopi yang jaraknya jauh dari kantor. Ana bingung dengan sikap Alex yang memaksanya ikut dengan emosi membara, tapi ujungnya mereka berhenti di kedai kopi.
“Ketemu klien.”
“Oh.”
“Kenapa?”
“Saya kira, Bapak ngajak saya ngopi. Di jam kerja lagi.” Tanpa sadar Ana memberikan sedikit omelan pada Bosnya itu.
“Kenapa kau bawel sekali?”
“Karena saya memikirkan pekerjaan di kantor.”
“Menurutmu, apa kamu sekarang tidak sedang bekerja?!” Alex menekankan pertanyaannya.
“Iya, Pak, maaf. Mari kita masuk.”
Mereka berdua memilih tempat duduk dengan satu meja dan empat kursi. Ana duduk di sebelah Alex, sambil menunggu klien datang, mereka berdua memesan kopi dan snack. Tidak lama kemudian klien yang ditunggu telah datang, dan mereka membicarakan banyak hal.
“Bagaimana menurutmu tadi?” Alex menanyakan hasil rapat mereka kepada Ana.
“Enak,” jawab Ana antusias.
“Apanya yang enak?”
“Kopinya kan?” Ana menatap mata Alex.
“Kau lebih berkesan dengan kopi daripada tujuan utama kita?! Aku berbicara tentang pekerjaan.”
“Hah?! Em, iya.” Ana gelagapan saat dia menyadari bahwa bukan itu jawaban yang diinginkan Alex.
“Bagaimana bisa kau tidak fokus seperti ini?!” Alex meninggikan nada bicaranya yang membuat suasana mereka berdua menjadi tegang. Ana yang tidak terima dengan sikap Alex membuatnya juga tersulut emosi.
“Apa Bapak punya dua kepribadian?”
“Hah?”
“Ya. Saya tanya, apa Bapak punya dua kepribadian?”
“Maksud kamu apa?”
“Mereka bilang Bapak begitu humble dan ceria di depan mereka. Tapi saya tidak pernah melihat Bapak yang humble itu selama saya berinteraksi dengan Bapak,” ucap Ana penasaran.
“Maaf, apa ada perilaku saya yang menyinggung Bapak?” Ana melanjutkan pertanyaannya.
“Bukan hakmu menanyakan itu.”
“Hah?!”
“Masuk!” Alex menyuruh Ana masuk ke mobil.
Dalam hati, Ana jengkel dengan bosnya yang tidak jelas itu. Tapi bagaimanapun Alex adalah bosnya. Di dalam mobil, mereka berdua saling terdiam. Ana yang tidak enak dengan pernyataannya yang blak-blakan akhirnya memberanikan diri untuk meminta maaf pada Alex.
“Saya minta maaf, Pak. Mungkin saya sudah kelewatan.”
“Sama-sama.”
“Tentang pertemuan dengan klien tadi, sampai kantor akan segera saya buatkan laporannya, Pak.”
“Jadi kamu tadi mendengarkan? Tidak ada satupun yang terlewat?”
“Sudah saya rekam dengan ponsel saya, Pak.”
“Hm. Cerdas juga kamu.” Alex mengernyitkan bibirnya tipis. Dia tidak menyangka Ana ternyata secerdas itu. Karena di sisi lain, Alex tidak menyalahkan Ana jika Ana kurang persiapan, karena dia tidak memberitahunya dari awal kemana mereka akan pergi.
Sesampainya di kantor, ternyata Marcel sudah menunggu di ruangan Alex. Alex yang mengetahuinya, agak malas dengan keberadaan Marcel di ruangannya. Sepertinya dia sudah tahu apa yang akan mereka bahas.
“Ada apa?” tanya Alex.
“Aku hanya ingin tahu, kemana kau menculik sekretarisku?”
“Dia bukan sekretarismu, tapi sekretaris kita.”
“Ya, baiklah. Jadi, bagaimana kencannya?” tanya Marcel dengan mimik wajah mengejek.
“Kencan apa?! Aku dan Ana tadi menemui klien.”
“Ya, ya. Kencan berkedok meet up dengan klien juga tidak masalah. Tapi by the way kenapa wajah Ana cemberut? Mungkin dia menyesal karena sudah mengikuti bosnya yang dingin dan arogan.” Tatapan mata Marcel menyindir Alex. Alex memandang ke luar ruangannya. Memang wajah Ana tidak sumringah seperti biasanya.
“Jangan sampai gengsimu menyakitinya, Alex. Jika dia semakin tidak nyaman, bukan hanya kau yang akan kehilangan dia. Tapi, kita dan pekerjaan kita juga akan kerepotan.”
Marcel menyeramahi sahabatnya yang keras kepala itu. Setelah dirasa cukup, dia kembali ke ruangannya.
“Aku juga tidak tahu kenapa aku selalu bersikap dingin padanya. Dia sudah menyelamatkanku, seharusnya aku berterimakasih padanya, bukan malah memperlakukannya seperti ini.” Alex kembali memandangi Ana sembari berbicara dalam hatinya.
***
“Ana, kau ditunggu Pak Marcel di ruangannya,” ucap Antoni setelah dia memberikan beberapa berkas pada Ana.
“Baik, Pak.”
Anastashia bergegas menuju ruangan Marcel. Tanpa disadari Ana, Antoni mengamatinya. Sedikit demi sedikit rasa penasaran Antoni mulai terjawab. Dia penasaran kenapa Pak Marcel memilih wanita yang baru saja bergabung di perusahaannya itu. Padahal, Marcel adalah orang yang selektif perihal siapa yang bisa menjadi sekretarisnya. Tidak sembarang orang bisa menduduki posisi tersebut. Antoni pun mengakui Ana memang wanita yang cepat beradaptasi dan kompeten pada setiap pekerjaan yang diberikan padanya. Tanpa mengeluh bahkan tidak menunjukkan kesulitan sama sekali.
Ana sampai di ruangan Marcel. Ternyata di dalam juga ada Alex yang sedang menunggunya.
“Selamat siang, Pak.”
“Silahkan masuk Ana.”
“Baik, Pak.”
“Bagaimana kabarmu hari ini?” Sambil menanyakan kabar Ana, di waktu yang sama Marcel menatap Alex yang sedang sibuk sendiri di sampingnya.
“Em, cukup baik, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”
“Kamu sudah punya pacar?” Marcel kembali menanyakan pertanyaan yang tak terduga.
“Bagaimana, Pak?” Bukannya Ana tidak mendengar pertanyaan Marcel, Ana hanya ingin meyakinkan apakah Marcel benar menanyakan hal itu.
“Apakah kamu sedang berkencan dengan seseorang?”
“Maaf. Apakah pertanyaan Bapak ada hubungannya dengan pekerjaan saya?” Ana balik bertanya untuk meyakinkan dirinya.
“Haha, tidak juga. Hanya intermezo Ana. Silahkan duduk.”
“Baik, terima kasih, Pak.”
“Tapi tentang statusmu single atau sedang berkencan, saya perlu tahu, karena sedikit pasti mempengaruhi pekerjaan.” Marcel kembali kekeh menanyakan status Ana.
“Saya single, Pak. Terima kasih.” Sebenarnya Ana risih karena Marcel terus menanyakan statusnya. Toh, single atau tidak, dia memastikan dirinya selalu bekerja secara profesional. Karena Ana sangat mengenal dirinya, mengutamakan pekerjaan dibanding apapun.
“Wow, lega sekali mendengarkan jawabanmu. Ngomong-ngomong—“ Sebelum Marcel menyelesaikan kalimatnya, Alex buru-buru menyela pembicaraan Marcel. Karena dia sudah tahu kemana Marcel akan membawa arah pembicaraannya.
“Laporannya sudah selesai?” Alex menanyakan laporan tentang pembicaraan dengan klien mereka saat di kedai kopi tadi.
“Sedang saya kerjakan Pak. Besok pagi selesai,”
“Ayolah Alex, kenapa kau begitu serius? Kau dan Ana baru saja datang. Ana belum lama duduk di mejanya, sekarang sudah kau panggil kemari. Apa dia penyihir, sekali jentikkan jari semuanya langsung jadi?” Marcel mengomeli Alex yang tidak bisa santai. Dia jengkel kenapa sahabatnya yang sebenarnya salah tingkah itu, malah menunjukkan sikap yang dingin.
“Kau kan yang bilang, jangan menyampurkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan.” Alex membela diri.
“Iya. Ana, tolong pesankan kopi untuk kita. Saya mau berdiskusi penting dengan kamu dan Alex.”
“Baik, Pak.” Ana pun memesankan kopi untuk mereka bertiga menggunakan telepon yang ada di meja Marcel. Mereka berdiskusi selama kurang lebih 2 jam, banyak hal yang mereka bahas, termasuk hal penting yang harus mereka pertanggung jawabkan dan dilaporkan pada pimpinan utama. Yaitu Pak Robert, Papa Alex. Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Mereka pun mengakhiri diskusi mereka.
“Ana, kau bawa kendaraan?” Marcel bertanya.
“Saya naik Gojek, Pak.”
“Mobilmu kemana?” Alex menambahkan pertanyaan.
“Di bengkel, Pak.”
“Kalau begitu bareng Alex saja. Dia pasti tidak keberatan. Ya, kan Lex?” Marcel tiba-tiba menawarkan tumpangan pada Ana tanpa seijin Alex. Alex menatap tajam mata Marcel, mengisyaratkan kenapa Marcel tiba-tiba menawarkan Alex sebagai tumpangannya.
“Kenapa tidak kau saja?” Alex mengembalikan tawaran tumpangannya pada Marcel.
“Apa kau tidak menyesal, kalau aku yang mengantarkan Ana? Kau pasti—“
“Tidak usah, Pak, terimakasih. Saya bisa pulang sendiri.”
Ana kemudian pamit kembali ke mejanya. Alex kembali ke ruangannya, Marcel pun bergegas untuk pulang.
***
“Kau tidak pulang?” Alex yang saat itu menuju lift untuk pulang, menyadari bahwa Ana ternyata masih sibuk dengan komputernya. Lalu dia menghampiri Ana.
“Saya masih belum selesai, Pak,” jawab Ana dengan mata tetap fokus pada komputernya.
“Mau aku temani?” Alex menawarkan.
“Maksudnya?” Ana heran Kenapa Alex mau repot-repot menemani Ana yang belum menyelesaikan pekerjaannya.
“Kau sendiri disini, mau aku temani?”
“Saya sudah biasa sendiri.”
“Kenapa kau dingin sekali?”
Pertanyaan Alex yang bertubi-tubi membuat Ana bergumam dalam hati.
“Orang ini kenapa aneh sekali. Dia bilang sikapku dingin. Apa dia tidak sadar sikapnya lebih aneh. Tadi pagi sedingin gunung es. Sekarang sehangat api unggun. Menawari menemaniku saat bekerja. Dia sebagai boss ngapain repot?” batin Ana.
“Terima kasih atas penawarannya, tapi saya rasa Bapak tidak perlu repot-repot. Bapak lebih baik pulang dan istirahat. Karena besok pagi harus kembali lagi, kan?”
“Saya akan temani kamu disini.”
“Tapi Bapak bisa mengganggu konsentrasi saya kalau Bapak disini. Dan akhirnya pekerjaan saya tidak bisa selesai dengan cepat.”
“Kau diplomatis sekali kalau berbicara. Aku akan menemanimu disini. Lalu aku akan mengantarmu pulang.”
“Saya bisa pulang sendiri.”
“Kau akan ku antar dan ini perintah!”
“Ternyata selain sikap yang berubah-ubah, Bapak juga otoriter.”
“Apa kau sedang memberontak?”
“Iya, bisa dibilang seperti itu. Bapak tidak bisa memaksa saya untuk pulang dengan Bap—“ Ana belum selesai dengan kalimatnya, tetapi Alex sudah menyela.
“Lebih baik kau selesaikan pekerjaanmu dengan cepat.”
Ana pun mengalah. Dia melanjutkan pekerjaannya. Walaupun wajahnya sangat kesal, tapi terus berdebat dengan Alex malah akan membuang waktunya. Jujur dia sangat ingin segera menyelesaikannya lalu pulang dan beristirahat di rumahnya.
***
Alex memberhentikan mobilnya di depan rumah modern minimalis berwarna nude kombinasi putih dan hitam. Rumah itu terlihat gelap, karena sang pemilik baru saja sampai di rumah setelah lama ditinggal bekerja. Rumahnya memang tidak terlalu besar, tapi terdapat dua lantai utama dan 1 balkon kecil yang ada tamannya di lantai 3. Dari depan terlihat asri, bersih, rapi dan nyaman. Seperti menggambarkan karakter pemilik rumah.
“Jadi ini rumahmu? Hm, terlihat mewah dan sangat nyaman.” Alex berdecak kagum melihat rumah Ana.
“Biasa saja, Pak. ini peninggalan orang tua. Terima kasih atas tumpangannya hari ini. Kalau begitu saya masuk dulu.” Tanpa basa-basi, Ana pamit pada Alex yang sudah memberikan tumpangan padanya.
“Em, Ana—“ Alex menahan kepergian Ana.
“Iya, Pak?”
“Em.. tidak jadi. Masuklah. Selamat malam.”
“Selamat malam.”
Ana kemudian turun dari mobil Alex dan menuju pintu rumahnya. lampu hiasan taman dan lampu dinding di rumahnya mulai menyala menambah kesan mewah. Tanda sang pemilik rumah sudah ada di dalam.
“Hm, akhirnya sampai rumah juga. Hari ini cukup melelahkan.” Ana kemudian memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi, Ana menuju dapur untuk memasak mie instan. Dia cukup lama tidak mengonsumsi mie instan. Karena, setelah ibunya meninggal akibat sakit kanker, saat itu juga dia berkomitmen dengan untuk merubah pola hidup dan pola makannya.
“Tidak apa-apa sesekali aku makan mie instan, toh aku menyandingkannya dengan minum teh hijau. Pasti rasanya sangat enak jika ditambah cabe, telur dan sayur.”
15 menit kemudian makan malam Ana pun jadi, dia menyantapnya dengan melihat film kesukaannya di Netflix. Dia sangat menyukai waktu me-time selepas pulang kerja.
“Benar-benar surga dunia rasanya. Sebaiknya segera aku bereskan ini semua, lalu aku akan tidur. Karena besok adalah hari libur, aku akan bermalas-malasan sehari saja. Akan aku manfaatkan waktu liburku.”
Ana membersihkan barang-barang yang berantakan setelah makan malam. Mencuci alat makan, merapikan dapur dan membuang sampah di tong sampah depan rumahnya.
“Aku masih bingung dengan sikap Pak Alex hari ini. Sangat dingin, kemudian baik, lalu dingin lagi, lalu jadi hangat sampai dia mau mengantarkanku pulang. Dasar orang aneh. Huh.” Sambil mambawa bungkusan sampah keluar, Ana bergumam sendiri memikirkan sikap Alex padanya sepanjang hari ini.
Saat akan kembali memasuki rumah, Ana menyadari bahwa mobil Alex masih terpakir di depan rumahnya. Tepat di tempat Ana turun tadi. Tanpa berpikir panjang, Ana menghampirinya.
“Pak Alex? Kok masih disini? Kok belum pulang? Bapak menunggu siapa?”
“Ya.. Ana…” Alex hanya menjawab sekedarnya dengan kondisi badan yang lemas.
“Bapak tidak apa-apa? Wajah Bapak pucat sekali.”
Ana memberikan pertanyaan sambil memberanikan diri menyentuh wajah Alex. Memastikan bahwa Alex baik-baik saja. Disisi lain tangan Alex sebelah kanan menggenggam tangan Ana sambil sedikit merintih kesakitan, sedangkan tangan kiri meremas perutnya, berharap dengan begitu sakit di perutnya bisa berkurang.
“Bapak bisa jalan? Ayo masuk ke rumah, biar Bapak bisa istirahat dan saya carikan obat.” Dengan sigap Ana memapah Alex untuk masuk ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Ana membaringkan Alex di kamar tamu. Ana melepas sepatu Alex dan membuka kancing baju yang paling atas agar bisa melegakan jalur pernafasan Alex. Kemudian dia menyelimuti Alex. Lalu dia keluar mencari persediaan obat yang dibutuhkan dan mengambil air putih untuk Alex. Tak lama kemudian dia kembali ke kamar tempat Alex beristirahat.
“Pak Alex, apa Bapak punya sakit maagh? saya rasa maagh Bapak sedang kambuh.“
“Iya. Sepertinya sedang kambuh.”
“Kalau begitu segera minum obat ini, Pak. Lalu istirahatlah.” Ana meminumkan obat dan air putih ke mulut Alex.
“Terima kasih. Sejujurnya perutku nyeri sekali, apakah kamu punya obat anti nyeri?”
“Aduh.. Obat anti nyerinya habis. Aku harus bagaimana ini? Dia terlihat begitu kesakitan.”
Ana melihat Alex yang masih kesakitan. Dia tidak tega dengan kondisi bosnya yang seperti itu. Dia sangat paham apa yang sedang dirasakan bosnya. Karena dulu dia pernah menderita sakit seperti ini selama enam bulan. Bahkan saat ini jika dia terlalu stress, maaghnya pasti kambuh walaupun tidak separah dulu.
“Bapak tunggu sebentar. Saya mau ambil sesuatu.” Ana menuju dapur merebus air hangat untuk mengompres perut Alex agar nyerinya bisa berkurang.
“Maaf karena saya tidak sopan, tapi saya harus membuka baju Bapak.”
“Apa yang akan kamu lakukan padaku?!” Dengan tetap meremas perutnya, Alex sedikit terkejut dengan pernyataan Ana.
“Saya akan mengompres perut Bapak. Semoga ini berhasil. Permisi.”
Sejujurnya Ana agak grogi. Karena pertama, Ana akan membuka kancing baju bosnya, kedua hanya ada mereka berdua di rumah itu dan ketiga pesona Alex tetap terlihat walau dia sakit. Untung saja Ana bisa mengendalikan dirinya. Seluruh kancing baju Alex pun berhasil dilepas oleh Ana, sampai pada perut sixpack-nya.
“Wa.. bidang sekali perutnya. Sangat sempurna,” celoteh Ana dalam hati.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” Alex membuyarkan lamunan Ana.
“M-maaf. Sebentar, biar saya kompreskan.” Tanpa sengaja Ana menarik nafas panjang, membuatnya terlihat salah tingkah karena Alex memergoki lamunannya. Kain lap yang sudah dibasuh air hangat pun dikompreskan ke perut Alex.
“Terima kasih karena kau selalu ada disaat aku butuh. Terima kasih karena kau kembali menyelamatkanku, Ana…
“Hm… Sepertinya efek obatnya mulai bekerja. Dia sudah mulai rilex,” batin Ana dalam hati.
Ana menyudahi perawatannya. Dia kembali mengancingkan kemeja Alex hingga tertutup sempurna. Lalu menyelimuti Alex dan mengucapkan “Selamat Istirahat”. Sebelum dia beranjak pergi, tiba-tiba Alex menahannya dan menggenggam tangan Ana. Alex menarik Ana sehingga dia jatuh ke dalam pelukannya. Mereka berdua berpelukkan cukup lama. Ana hanya mematung di kondisi tersebut.
“Bisakah kau berbaring disini malam ini? Menemaniku? Hm, nyaman sekali berpelukan denganmu.”