Jabatan Mengejutkan

1316 Words
Dering telepon Ana berbunyi beberapa kali saat dia masih terlelap dalam tidurnya. Ana masih belum juga mengangkatnya. Sampai dering telepon yang ketiga, dia baru terbangun dan dengan malas mengangkat telepon tersebut. “Siapa sih, pagi-pagi begini telepon? Ganggu orang tidur saja,” ucap Ana. “Nomor siapa ini?” Saat dia menyadari bahwa yang meneleponnya adalah nomor yang tak dikenal. “Halo? Siapa ini?” Ana mengangkat teleponnya dengan masih sedikit sempoyongan. “Kami dari PT. Brilian Danzoz Group. Apakah benar ini dengan Anastashia Keihl?” ucap seorang lelaki sang penelepon. “Danzoz apa? Aku tidak mengenalmu. Jangan menggangguku di hari minggu!” ucap Ana sedikit kesal. “Maaf, Bu. Saya ulangi lagi. Kami dari PT. Brilian Danzoz Group. Kami berniat menelepon anda untuk panggilan wawancara. Jika anda menyanggupi hadir, kami menunggu anda di perusahaan jam sebelas tepat. Dan, kami hanya mengingatkan bahwa hari ini adalah hari senin, bukan hari minggu. Apa anda berkenan datang?” ucap lelaki itu dengan nada yang tegas dan tajam. Sehingga Ana bisa mendengarnya dengan jelas maksud dari penelepon tersebut. “W-wawancara? Saya dipanggil untuk wawancara?” tanya Ana gugup pada si penelepon tersebut. “Iya, Ibu. Jam sebelas siang ini. Apa anda berkenan?” tanya sang Penelepon. “Sangat siap, Pak. Saya siap. Saya akan datang,” ucap Ana kegirangan. “Baik. Kalau begitu akan kami kirimkan alamat perusahaan kami,” ucap sang penelepon kemudian menutup telepon tersebut. “Yeay! Tuhan.. terima kasih. Akhirnya aku dipanggil wawancara!” Ana kegirangan dan berguling-guling di kasurnya. “Sial! Sudah jam sembilan. Aku harus segera bersiap!” ucap Ana ketika melihat jam di layar ponselnya. Ana kemudian bangkit dan beranjak dari tempat tidurnya lalu bergegas pergi ke kamar mandi. *** “Selamat pagi, Pak. Ini CV beberapa kandidat yang akan wawancara hari ini,” ucap Antoni yang memberikan beberapa lembar portofolio untuk bahan wawancara pada Marcel. “Baiklah. Nanti biar langsung aku saja yang mewawancara. Tapi kau juga disini untuk mendampingi,” ucap Marcel pada Antoni. “Baik, Pak.” Marcel membaca sekilas beberapa CV yang ada di depannya. Perhatian dia terhenti pada CV atas nama Anastashia Keihl. “Hm, sepertinya aku tidak asing dengan nama ini,” ucap Marcel lirih saat membaca CV Ana. Marcel kemudian melihat jarum jam ditangannya. Dia bergegas menemui klien sebelum wawancara itu di mulai. *** Jam menunjukkan pukul sebelas lebih sepuluh menit tapi Marcel belum juga selesai dengan kliennya. Dia kemudian meminta Antoni untuk mengatasinya sementara. Karena, para kandidat sudah berkumpul di ruangan. Antoni mewawancari semua peserta sesuai dengan arahan Marcel tapi tidak ada satupun yang masuk pada kriteria yang diinginkan Marcel menjadi sekretarisnya. “Tidak ada yang seperti anda inginkan, Pak,” ucap Antoni dalam telepon. “Satu pun tidak ada?” tanya Marcel diseberang sana. “Mereka tidak sesuai dengan keinginan Bapak,” ucap Antoni. “Coba kau tanya pada Alex. Kita harus segera mendapatkannya,” ucap Marcel kemudian menutup teleponnya. Dalam waktu bersamaan Alex masuk ke ruangan tempat Antoni mewawancarai kandidat. “Bagaimana?” tanya Alex. “Saya sudah mewawancarai semuanya tapi tidak ada yang masuk kriteria,” ucap Antoni. Terdengar suara ketukan dari luar. Antoni pun segera membuka pintunya. “Maaf, Pak. Saya terlambat. Apakah saya masih bisa ikut wawancara?” tanya seorang wanita dibalik pintu. “Apa kau tidak melihat ini jam berapa? Kau terlambat satu jam setengah lalu masih bertanya?!” ucap Antoni sambil sedikit emosi pada wanita itu. “Tapi, saya tadi ada kendala di jalan. Tolong beri saya kesempatan, Pak.” Wanita itu memohon. “Siapa dia, Pak Antoni?” tanya Alex dari dalam ruangan. “Dia peserta wawancara, tapi sudah terlambat Pak,” ucap Antoni. “Tolonglah, Pak. Beri saya kesempatan.” Wanita itu masih memohon pada Antoni. Alex yang melihat perbincangan Antoni dengan wanita itu tak kunjung selesai, kemudian menghampirinya. “Suruh masuk saja. Jangan membuang-buang waktu. Kasih dia kesempatan!” pinta Alex pada Antoni. “Baiklah, Pak.” Antoni kemudian mempersilahkan wanita itu masuk. Wanita itu berjalan sambil tertunduk menuju kursi di depan meja Alex. Sedangkan Alex menatapnya tajam dari atas sampai bawah, tapi sayangnya wajahnya belum terlihat cukup jelas. “Silahkan duduk,” ucap Alex pada wanita itu. “Terima kasih, Pak.” “Apa kau bisa menegakkan badanmu dan mengangkat wajahmu?!” tanya Alex yang sudah mulai geram dengan wanita yang di depannya. “B-bisa, Pak.” Wanita itu perlahan menegakkan badannya dan mengangkat wajahnya sehingga sejajar dengan pandangan Alex. “Kau?!” “Kamu?!” ucap Alex dan wanita itu secara bersamaan ketika mereka bertatap muka. Ana terkejut ketika pria yang di depannya dan akan mewawancarainya itu adalah Alex. Yaitu pria yang pernah diciumnya di sebuah klub malam dua hari yang lalu. Ana sangat ingat wajah Alex karena dia memandangnya begitu dalam sebelum bibirnya mencium Alex. Sedangkan Alex, meskipun waktu itu wajah wanita yang menciumnya terlihat samar-samar. Tapi dia masih mengingat jelas pandangan wanita itu dan postur tubuhnya. Bahkan, sampai detik ini dia masih tidak bisa melupakan kesan yang diberikan wanita itu. Dan sekarang, wanita itu berada di depannya. Marcel yang menyadari bahwa Alex masih sibuk dengan kegiatan wawancaranya, kemudian masuk ke ruangan itu. Di sisi lain, dia juga ingin tahu siapa yang sedang diwawancarai Alex, padahal Antoni bilang bahwa telah selesai. “Apa kau belum selesai?” ucap Marcel yang berjalan masuk ke ruangan tersebut. Sontak Alex tersentak dan wanita itu menoleh ke arah Marcel. Marcel yang masih mengingat wajah wanita itu karena waktu di klub mereka juga sempat berkenalan, sekarang pun terkejut karena dia sudah ada di depannya. “Ana??” ucap Marcel yang akhirnya menyebutkan nama wanita itu. “M-marcel?” ucap Ana yang masih terkejut dengan pria yang ada di depannya itu. Ana membungkam mulutnya yang masih mengangah dengan kedua telapak tangannya karena terkejut dengan dua pria yang ada dihadapannya itu. “Kamu ngapain di sini?” tanya Marcel. “A-aku sedang ikut wawancara,” ucap Ana yang masih gugup. “Jadi, namamu Ana?” tanya Alex sambil mengernyitkan dahi dan tersenyum sedikit pada Ana. “Kita bertemu lagi, Ana,” ucap Marcel pada Ana. “Kalian bekerja di sini?” tanya Ana. “Perkenalkan ini adalah Pak Marcel, direktur di perusahaan ini. Dan, ini adalah Pak Alex, wakil direktur di perusahaan ini. Jika kamu lolos, maka kamu akan menjadi sekretaris mereka. Jadi, saya minta tolong jaga sikapmu karena mereka yang akan mewawancaraimu.” Antoni yang daritadi mengamati keterkejutan mereka bertiga, akhirnya berucap untuk menengahi mereka. Ana tidak tahu harus berbicara apa setelah mendengar pernyataan Antoni. Dia sedikit kikuk karena mengingat apa yang dilakukannya pada mereka berdua di klub malam waktu itu. Ana yang menggoda Marcel dan mereka hampir saja berciuman, lalu Ana yang mencium begitu dalam bibir Alex hingga mereka berdua terlena tapi Ana meninggalkannya begitu saja. “Baiklah. Aku sekilas sudah membaca CV-mu, sekarang kita mulai wawancaranya,” ucap Marcel yang sudah duduk di hadapan Ana. Ana masih kikuk terdiam di tempat duduknya. “Anastashia Keihl—“ Marcel belum sempat melanjutkan bicaranya. “Baiklah. Kau diterima.” Alex langsung mengambil keputusan diikuti dengan senyuman dari Marcel. “Tidak. Saya tidak sesuai kualifikasi. Kalian tidak bisa menerima saya,” sahut Ana. “Apa kau yang memutuskan?” tanya Alex. “T-tapi saya—“ “Apa kau malu karena kejadian waktu itu? Sekarang aku menemukanmu. Kau tidak bisa lari dariku,” bisik Alex pada Ana. Pipi Ana memerah dan telapak tangannya keringat dingin karena Alex mengetahui alasan penolakkannya. “Kau diterima sebagai sekretaris disini dan kau mulai bekerja besok. Tidak ada penolakan” ucap Alex dengan tatapan mengintimidasi. Ana berpikir keras, lalu dengan penuh keberanian, dia membalas tatapan Alex. Menatapnya tajam dan begitu dalam seperti apa yang dia lakukan di klub waktu itu. Ana kemudian sedikit meringis dan menyetujui ucapan Alex dengan syarat. “Baiklah. Tapi kau harus membayarku sesuai dengan penawaranku. Deal?” “Deal!” balas Alex lalu mereka berjabatan tangan. “Drama roman picisan dimulai,” ucap Marcel lirih yang daritadi memperhatikan mereka berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD