Pilihan Alex

1201 Words
Ana menuju mobil kantor yang sudah siap mengantarnya, sopir sudah membukakan pintu untuknya. “Silakan, Bu Ana,” ucap sang sopir. “Terimakasih, Pak Tono,” ucap Ana sambil tersenyum dan menundukkan kepala. “Biar aku saja yang nyetir, kamu istirahatlah, Ton.” Teriak seorang laki-laki dari kejauhan. “Pak Alex?” ucap Ana saat menoleh melihat siapa lelaki yang berteriak itu. “Apa tidak sebaiknya Bapak dan Bu Ana saya antar, Pak?” ucap Tono “Tidak usah, kau istirahatlah. Oke..” ucap Alex pada sang sopir. “Masuklah!” perintah Alex pada Ana. “Sebaiknya saya saja yang menyetir, Pak. Bapak kan atasan saya,” ucap Ana pada Alex. “Tidak usah, aku tidak biasa disetiri perempuan. Masuklah, nanti terlambat,” ucap Alex padanya. Ana pun menuruti permintaan Alex. Alex pun segera melajukan mobilnya. “Apa Pak Robert juga meminta Bapak untuk makan siang dengan beliau?” “Tidak.” “Lalu, kenapa Bapak ikut saya?” “Terserah aku, dong. Memangnya salah kalau aku mau makan siang dengan papaku?” “Hm. Jadi sekarang anaknya papa ingin makan siang dengan papanya,” ucap Ana sambil sedikit nyengir. “Apa kau sedang mengejekku?” ucap Alex pada Ana. “Tidak, saya hanya terkesima saja. Tumben-tumbenan…” “Jangan bawel,” ucap Alex singkat. Dia kemudian menambah laju mobilnya dengan cepat. *** “Huwaa…. Ini restorannya? Mewah sekali. Tapi, kenapa pak Robert minta bertemu di restoran semewah ini, hanya karena ingin makan siang denganku?“ ucap Ana saat tiba di restoran yang disebutkan Robert. “Kau menunggu apa? Ayo masuk,” ajak Alex sambil menggandeng tangan Ana. Sontak ana melepaskan gandengan Alex. “Jangan bersikap begini, nanti kalau ada yang lihat bagaimana? Silakan jalan duluan, Pak Alex,” pinta Ana sambil menjulurkan tangannya mengisyaratkan agar Alex jalan lebih dulu. “Itu Pak Robert.. loh, beliau sedang duduk dengan siapa?” ucap Ana sambil melihat ke arah Robert. Ternyata Robert sudah datang duluan dan duduk bersama seorang wanita yang sudah berusia matang, mempunyai paras yang cantik, berpenampilan sederhana dan elegan. Sangat berkelas. Ya, dia adalah Liliana Robert Danzoz, isteri Robert dan ibu sambung Alex yang sangat dicintainya. “Hm. Sudah kuduga.” Alex bergumam ketika dia mengikuti arah mata Ana saat melihat Robert. Mereka lalu berjalan menuju meja yang telah ditempati kedua orang tua Alex. “Selamat siang Pak Robert, selamat siang Bu,” ucap Ana sambil menundukkan badan menyapa mereka berdua. “Selamat siang, Ana. Aku Liliana Robert, Panggil saja Liliana,” ucap Liliana pada Ana. “Selamat siang, Ana. Lihat ma, rencanaku berhasil, kan?” ucap Robert bangga pada Liliana. Ya, memang ini adalah rencana Robert untuk mengajak Ana makan siang bersamanya. Saat Alex tahu, Alex pasti tidak akan membiarkan Ana makan bersama Robert. Alex pasti mengikuti Ana untuk menemaninya. Jadi dibalik semua itu, sebenarnya Robert ingin memancing Alex agar mau makan siang bersamanya dan Liliana. “Kau benar-benar memahami putramu, Sayang,” ucap Liliana sambil menggenggam tangan Robert. Ana yang mendengarnya hanya bisa tersenyum dengan sedikit kebingungan. Sedangkan Alex yang sudah curiga dari awal hanya menunjukkan wajah yang malas. “Silakan duduk sayang,” ucap Liliana mempersilahkan mereka berdua duduk dengan posisi Ana berhadapan dengan Liliana, sedangkan Alex berhadapan dengan Robert. “Jadi kamu yang namanya Ana? Cantik sekali,” ucap Liliana dengan memandang kagum Ana. “Terimakasih. Perkenalkan nama saya Anastashia Kiehl. Sekretaris Pak Marcel dan Pak Alex,” ucap Ana memperkenalkan diri pada Liliana dengan menjulurkan tangannya. “E.. saya mohon maaf, jika saya mengganggu acara keluarga Bapak, Ibu dan Pak Alex. Mungkin saya bisa makan di meja lain,” ucap Ana dengan sedikit sungkan. Ya, memang, dia sangat canggung. Karena ini acara makan dengan para bos, tapi kenapa rasanya seperti makan bersama calon mertua. Sejujurnya dia bingung bagaimana harus bersikap. “Kau mau kemana? Duduk dan diamlah di sini. Kau harus disampingku!” ucap Alex pada Ana. “Sayang, bicara yang baik pada wanita,” ucap Liliana pada Alex. “Makan disini saja bersama kami, Ana. Kita santai saja, hanya makan siang biasa. Saya juga mau berterimakasih karena kamu, Alex bisa makan satu meja dengan kami,” ucap Liliana. “Baik, terima kasih, Bu,” balas Ana. Makanan yang dipesan pun telah datang. Sajian makanan Eropa yang lengkap mulai dari appertizer, main course, hingga dessert. “Saya terimakasih karena waktu itu kamu menyelamatkan Alex. Saya berhutang padamu, Ana,” ucap Liliana sambil menggenggam tangan Ana. “Sama-sama, Bu. Saat itu hanya kebetulan saya lewat. Saya hanya melakukan yang mungkin orang lain juga akan lakukan,” ucap Ana pada Liliana. “Waktu saya diberitahu Robert, kalau kamu menjadi sekretaris putraku, aku ingin segera bertemu denganmu. Dan akhirnya kita punya kesempatan untuk bertemu,” ucap Liliana. Ana membalas ucapan Liliana dengan senyuman. Sepertinya Liliana penasaran dan sangat menyukai Ana. “Apa saya boleh tau lebih banyak tentang kamu, Ana?” ucap Liliana. “Saya, hanya seorang wanita biasa, Bu. Hehe..” ucap Ana. “Orang tua kamu, masih bekerja?” “Saya sebatang kara. Ibu saya meninggal karena sakit kanker 2 tahun yang lalu.” “Maaf, saya turut berduka cita, Sayang.” “Tidak apa-apa. Kejadiannya sudah lama,” jawab Ana. “Alex. Kapan kamu mengenalkan calon istrimu pada papa sama mama?” ucap Robert. Seketika Alex menghentikan kegiatannya yang sedang mengiris steak saat mendengarkan ucapan papanya. “Kenapa dibahas di sini?” tanya Alex angkuh. “Kalau kau belum juga mengenalkannya, biar Melanie yang menjadi istrimu,” ucap Robert. “Papa,” ucap Liliana yang menenangkan Robert agar tidak membuat suasana semakin panas. “Aku dan Melanie tidak bisa menikah. Kau jangan ikut campur urusan pribadiku!” ucap Alex dingin. Ana yang mendengar nada ucapan Alex pada papanya yang tidak sopan, spontan menggenggam tangan Alex yang di bawah meja, untuk menenangkannya. “Aku sudah bilang padamu bahwa aku sudah punya calon sendiri. Kenapa kau tidak paham?” Alex melanjutkan ucapannya. Ana yang mendengarnya kemudian melepaskan genggaman tangannya pada Alex. Saat Ana melepaskannya, cepat-cepat tangan Ana diraih kembali oleh Alex. “Sudah, sudah. Kenapa setiap bertemu kalian selalu bertengkar? Apa kalian tidak bisa menghormati kehadiranku dan Ana? Makan dengan tenang. Jangan saling tersulut emosi. Kenapa kalian sangat kaku?!” ucap Liliana yang sudah lelah melihat pertikaian suaminya dan putranya. “Kau sudah selesai? Ayo pergi.” Alex berdiri dan menarik tangan Ana. Seketika Ana menyeimbangi posisi Alex. Dia menundukkan badan untuk pamit pada kedua orang tua Alex. “Hati-hati, Sayang,” ucap Liliana agak berteriak karena Alex dan Ana sudah pergi membelakangi mereka. “Papa….” panggil Liliana pada suaminya yang masih duduk persis di sebelahnya. “Hm?” balas Robert yang sibuk melanjutkan memakan makanannya. “Apa Alex menyukai Ana?” “I think so. Pandangan matanya tidak pernah lepas untuk memandang sekretaris kesayangannya itu.” “Aku harap dia bisa membawa perubahan baik untuk Alex.” “Hm, ya,” jawab Robert singkat. “Kamu kenapa sayang?” tanya Liliana pada Robert. “Aku hanya.. Hm, Alex masih selalu bersikap dingin padaku. Bahkan untuk mengajaknya makan saja, harus melibatkan Ana,” ucap Robert dengan wajah sedih. “Sekali-kali kamu harus mengalah pada Alex, Sayang. Kamu perlu berusaha sedikit keras agar Alex bisa merasakan cintamu,” ucap Liliana sambil mengelus pundak suaminya agar lebih tenang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD