Matahari pagi menunjukkan sinarnya sedikit demi sedikit, hingga menembus kaca jendela mobil Alex. Mata Alex terbuka perlahan, dia menyadari bahwa malam panjangnya yang dingin telah berlalu. Alex tersenyum saat memandangi wajah Ana yang masih terlelap dalam pelukannya.
“Jangan tinggalkan aku, aku mohon Ana,” pinta Alex tadi malam.
“Aku akan selalu di sisimu, Aku.. akan menjagamu.” Alex mengingat ucapan Ana yang membalas ucapannya tadi malam. Ya, tadi malam dia bukan mengigau, tapi dengan penuh kesadaran saat mengatakan kalimat itu.
“Hm, ternyata aku telah menyatakannya,” ucap Alex lirih. Dia lalu mencium kening Ana kemudian memindahkan posisi tidur Ana agar lebih nyaman. Setelahnya, dia keluar dari mobil untuk mencari bantuan dan menuju warung tak jauh dari mobilnya yang mogok. Sambil menunggu baterai terisi, dia memesan kopi di warung itu dan membelikan beberapa camilan dan minuman untuk Ana. Lalu kembali ke mobilnya.
Di sisi lain, Ana mulai membuka matanya perlahan dan dia sedikit tersentak saat menyadari kalau hari sudah pagi ditambah dia sadar bahwa Alex tidak ada di dekatnya.
“Jam berapa ini? Haduh.. bakal terlambat ke kantor ini. Jangan-jangan Alex sudah menuju kantor dan aku ditinggal sendiri di sini. Bagaimana ini?“ Ana kebingungan harus berbuat apa. Karena hari ini banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan untuk dilaporkan pada Robert dan Marcel sebagai bahan audit besok.
“Kau sudah bangun? Apa kau baik–baik saja?” tanya Alex yang saat itu sudah berada di samping mobil dan melihat Ana yang sedang kebingungan.
“Kau masih disini? Aku kira kamu sudah ke kantor dan meninggalkanku sendiri di sini.” ucap Ana sedikit kaget melihat Alex yang tiba-tiba muncul dihadapannya.
“Kenapa aku harus meninggalkan wanita yang sudah tidur denganku, sendirian?” ucap Alex yang menatap Ana sambil tersenyum tipis.
“Siapa yang tidur denganmu?! Jangan sembarangan.”
“Tapi waktu aku bangun, kau sudah di sampingku. Bukankah awalnya kamu tidur di kursi depan?”
“Tadi malam kamu mimpi buruk dan berteriak kencang. Aku menghampirimu dan menenangkanmu. Aku tidak tahu harus berbuat apa, yang aku bisa cuma menepuk-nepuk pundakmu agar kau sedikit tenang.” Ana membuat pembelaan dan tidak terima dengan tuduhan Alex. Di sisi lain senyum Alex semakin lebar saat mendengar pembelaannya yang berbicara panjang lebar dengan sedikit memanyunkan bibirnya.
“Tapi aku merasakan kau juga memelukku.” Alex semakin menggoda Ana.
“Hei, Pak Alex yang terhormat. Kamu duluan yang memelukku. Aku punya harga diri yang harus aku jaga. Tidak mungkin aku seagresif itu. Sudah kuperingatkan di awal, kau selalu membahayakan kalau kita hanya berdua. Huh. Aku menyesal peduli denganmu semalam. Dasar!” Ana semakin kesal dengan Alex yang memojokkannya.
“Lebih baik aku pergi dari sini. Huh. Jam berapa sekarang. Hari yang berat. Pasti sampai kantor aku kena omel Pak Robert.” Ana mengemasi tasnya dan syal yang dibawanya dari rumah, dia merapikan wajahnya dan rambutnya yang sedikit berantakan.
“Kau mau kemana?” tanya Alex.
“Masih tanya kemana? Aku harus bekerja. Kau urusi saja mobilmu ini. Aku akan pergi sekarang.” Ana keluar dari mobil menyusuri jalanan. Alex mengejarnya dan menarik tangan Ana.
“Kau mau jalan kaki ke Jakarta?”
“Lebih baik aku jalan kaki daripada disini berdua dengan bos menyebalkan.”
“Hei.. kenapa kau marah-marah? Aku hanya menggodamu. Aku hanya bercanda,” ucap Alex sambil menggenggam tangan Ana. Sebelum mereka melanjutkan pertikaian, ada sebuah mobil yang mendatangi mereka. Ya, saat ponsel Alex sudah kembali menyala, Alex langsung menghubungi Marcel dan Antoni untuk menceritakan kejadian yang dialaminya dan Ana serta meminta bantuan untuk menjemputnya dan mengurus mobilnya.
“Selamat pagi, Pak Alex. Selamat pagi, Ana.” Antoni dan sopir turun dari mobilnya menyapa mereka berdua yang masih berpegangan tangan. Antoni yang melihat sikap mereka berdua terlihat heran dan beberapa kali melirik tangan mereka berdua yang masih saling menggenggam.
“Ehm.” Antoni berdehem sambil matanya menuju tangan mereka berdua untuk menyadarkan mereka. Secara spontan mereka saling melepaskan tangan satu sama lain.
“Pagi,” jawab Alex cuek.
“Pagi, Pak Antoni,” jawab Ana sambil sedikit menundukkan badannya.
“Silakan masuk mobil, Pak,” ucap Antoni pada Alex.
“Kalau kau mau jalan kaki, silakan. Aku akan pergi dengan Antoni. Tapi kalau kau terlambat sampai kantor, aku akan potong gajimu 50%.” Tantang Alex pada Ana yang saat itu masih menunjukkan wajah yang sedikit cemberut. Antoni yang mendengarnya, menyembunyikan senyumannya dengan tertunduk.
“Ehm. Masuklah Ana, kalau tidak kita akan terlambat ke kantor,” ucap Antoni melerai mereka berdua. Ana kemudian berjalan menuju mobil Antoni diikuti dengan Alex.
***
“Bagaimana tentang Margaret?” tanya Marcel pada Robert.
“Sepertinya untuk saat ini masih aman. Dia belum terlalu membahayakan untuk perusahaan. Tapi kita tetap waspada,” balas Robert.
Di tengah-tengah pembicaraan mereka, hadirlah Alex yang sudah rapi dengan pakaian bersihnya. Sepertinya semua sudah disiapkan di kantor sebelum Alex datang.
“Ada apa dengan Margaret?” tanya Alex penasaran.
“Hai, Alex. Apa kau baik-baik saja?” tanya Marcel.
“Papa dengar mobil kamu mogok, kamu dan Ana terjebak tidak bisa pulang. Apa kalian baik-baik saja?” tanya Robert pada Alex. Alex hanya menatap papanya dingin. Dia tidak menyangka jika papanya tahu musibah yang dilaluinya bersama Ana tadi malam, tapi papanya tidak berbuat apa-apa.
“Ya. Aku selalu baik-baik saja meski tanpa bantuanmu,” balas Alex dingin.
“Maaf Lex, kami baru tahu tadi pagi setelah Antoni kau telepon. Aku kira kalian sudah istirahat di rumah masing-masing,” jelas Marcel. Ya, memang kenyataannya Marcel dan Robert baru mengetahuinya setelah paginya Alex menghubungi Antoni meminta bantuan.
“Sudahlah lupakan. Kita bahas apa yang perlu dibahas. Ada apa dengan Margaret?”
“Tidak ada. Kami baru saja membahas soal laporan keuangan dan semuanya clear,” ucap Marcel menjelaskan.
Ditengah percakapan mereka, datanglah Ana yang sudah memakai pakaian rapi dan polesan make up yang cantik dan sederhana, membawa beberapa berkas.
“Selamat Pagi, Pak. Maaf saya terlambat karena ada sedikit halangan,” ucap Ana sambil menundukkan badan.
“Tidak apa-apa, saya mengerti. Silakan duduk,” ucap Robert mempersilahkan Ana.
“Ini berkas yang Pak Robert minta, dan ini berkas yang harus ditanda tangani Pak Marcel, ini berkas yang harus dipelajari Pak Alex.” Ana membagikan berkas-berkas itu pada mereka. Di sisi lain Robert memergoki Alex yang sedari tadi matanya tidak lepas memandang Ana saat dia pertama muncul ke ruangan. Robert menyimpulkan bahwa putranya telah jatuh cinta pada sekretarisnya. Pandangan mata Robert berganti menuju Ana. Ya, Ana memang cantik, cerdas dan elegan. Sepertinya Papa Robert telah memahami selera putranya itu.
“Kapan kamu menyiapkan semua ini?” tanya Alex penasaran. Karena dia dan Ana semalaman terjebak dan tidak bisa melakukan pekerjaan apapun saat mobilnya mogok. Ana menjawabnya hanya dengan senyuman.
“Ini Ana. Terimakasih.” Marcel mengembalikan berkas yang telah ditanda tangani ke sekretarisnya.
“Hm.. Benar. Ini semua berkas yang aku perlukan. Kalau begitu kalian bisa kembali ke ruangan masing-masing. Setelah jam makan siang, kita bahas lagi,” ucap Robert pada semuanya.
“Baik, Pak,” jawab Marcel dan Ana bebarengan.
“Ana temani saya makan siang, ada yang mau saya bicarakan,” pinta Robert pada Ana. Seperti biasa, Alex yang mendengarnya langsung tersulut emosi. Di sisi lain, Marcel juga sedikit kaget, kenapa Robert meminta Ana untuk menemaninya makan siang. Karena ini adalah hal yang baru pertama kali terjadi.
“Baik, Pak.” Ana yang mendengar instruksi Robert sedikit kebingunan dan hanya menjawab sebisanya.
“Kenapa kau meminta Ana menemanimu makan?! Kenapa kau selalu mengganggu sekretarisku? Apa kau tidak bisa makan sendiri?!” Alex tersulut emosi.
“Karena putraku tidak mungkin mau menemani papanya yang sudah tua ini untuk makan siang, jadi aku meminta sekretarisnya yang menemaniku. Dan juga, dia bukan sekretaris utamamu. Dia adalah sekretaris utama Marcel. Dia tidak akan keberatan aku meminjam sekretarisnya. Iya, kan Marcel?” ucap Robert.
“Iya, Pak. Sepenuhnya hak bapak untuk berkomunikasi dengan semua karyawan Bapak,” balas Marcel.
“Apa kau tidak bisa dengan yang lain? Kenapa harus Ana?” ucap Alex yang tetap tidak terima.
“Alex, kenapa kau posesif sekali ke Ana. Dan jangan berlebihan. Papamu ada perlu dengan Ana dan aku mengiyakan,” sahut Marcel yang sudah lelah dengan sikap Alex yang berlebihan.
“Hm. Baiklah kalau begitu Ana, kau nanti akan diantar sopir ke restoran La Brassele. Kita bertemu di sana,” ucap Robert pada Ana.
“Siap, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu,” balas Ana. Dia kemudian pamit meninggalkan ruangan.