Janji Untukmu

1478 Words
“Kau disini?” tanya Margaret pada Ana setelah dia mengetahui bahwa Ana sudah di tempat yang sama dengannya. “Apa saya salah kalau saya di sisi bos saya?” “Kau ternyata bersikeras ya. Tetaplah bersikap posesif, dengan begitu Alex akan menjauhimu dengan cepat.” “Saya hanya menjalankan tugas saya sebagai sekretaris, Bu. Kenapa anda sangat sensitif?” Dengan tegas Ana menjelaskan maksud dan tujuannya pada Margaret. “Dengar ya, Ana, aku tidak akan membiarkanmu menjadi lebih baik dariku di mata Alex,” ucap Margaret mengancam. Ana yang mendengar pernyataan Margaret semakin heran dan gemas padanya. Mengapa Margaret bersikap begitu dan merasa Ana menjadi ancaman baginya. “Mengapa anda bilang seperti itu? Kita punya bagian pekerjaan sendiri, Bu. Mengapa Ibu merasa saya menjadi ancaman?” Ana mulai bisa membaca karakter Margaret ketika berhadapan dengannya. Margaret menatap mata Ana tajam, Ana pun tetap menunjukkan pendiriannya. “Apa anda mempunyai perasaan khusus pada pak Alex?” tanya Ana menyelidik. “Kau—“ Margaret yang geram dengan pertanyaan Ana yang sensitif tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Alex tiba-tiba muncul ditengah pembicaraan mereka. “Ana, kau disini?” Alex muncul disaat mereka berdua beradu. “Iya, Pak. Pak Marcel meminta saya menemaninya kesini.” “Baguslah. Lalu dimana Marcel?” “Sedang berbicara dengan kepala cabang di ruangannya.” “Kau tidak mendampinginya?” “Saya habis dari kamar mandi.” Mereka bertiga kemudian menyusul Marcel menuju ruangan Kepala Cabang. Mereka mendiskusikan banyak hal selama berjam-jam. Setelah obrolan mereka selesai. Mereka berempat lalu pamit kembali ke kantor pusat. “Lex, kamu pulang sama Ana. Aku ada perlu sama Margaret,” ucap Marcel pada Alex. “Baiklah.” Lalu mereka menuju mobil masing-masing. *** Seperti biasa, keheningan selalu menyelimuti Alex dan Ana ketika mereka hanya sedang berdua saja. Ana selalu tidak nyaman dengan keadaan itu, keadaan yang membuatnya berpikiran kemana-mana. “Apa kau benar mencemaskanku?” ucap Alex memecahkan keheningan. Ana yang terkejut dengan pertanyaan Alex yang tiba-tiba membuatnya menjawab dengan gelisah. “S-saya, Em, Pak Marcel hanya melebih-lebihkan. Waktu itu saya hanya tanya Pak Marcel kemana Bapak akan pergi,” jawab Ana. “Hm, jadi begitu ya. Aku kira kamu cemburu karena aku pergi berdua dengan Margaret.” “Kenapa saya harus cemburu?” “Tidak. Apa yang tadi kau bicarakan dengan Margaret? Aku melihat kalian berdua cukup tegang saat mengobrol.” “O ya? Hanya pembicaraan biasa saja. Mungkin karena kami baru saling mengobrol jadi agak sedikit canggung.” “Hm. Aku kira kamu wanita yang cukup percaya diri dibanding siapa pun.” “Ya, saya memang sangat percaya diri. Itulah kelebihan saya,” ucap Ana dengan mimik wajah yang membanggakan dirinya. Alex yang melihat Ana sekilas ikut tersenyum lebar. Alex lalu memutar lagu kesukaannya yang berjudul Us by Dearly Dave. Lagu itu ternyata juga lagu kesukaan Ana. Mereka lalu bernyanyi bersama menikmati perjalanan. *** Jalanan Bandung yang padat dan Macet membuat mereka masih berada di jalan saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dan kejadian yang tidak diharapkan membuat rasa bosan mereka berada di jalan pun bertambah. Ya, mobil Alex sedang mogok. “Hm, kenapa lagi ini mobil?” “Ada apa, Pak?” tanya Ana ketika mobil Alex berhenti mendadak. “Entahlah. Aku cek dulu.” Alex turun dari mobilnya, sejenak dia mengecek mesin mobilnya. Nahasnya, mobil berhenti di jalanan yang sepi penduduk. Setengah jam berlalu tetapi mobilnya belum juga bisa menyala. “Saya coba cari bantuan,” ucap Ana. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya. Tetapi, ternyata baterainya habis. “Hp saya mati, Pak. Bisa saya pinjam Hp-nya?” “Iya. Ada di mobil.” “Saya harus menghubungi siapa?” “Hubungi Marcel saja, suruh dia kirim bantuan kesini.” “Baik.” Ana lalu mencari kontak Marcel yang ada di ponsel Alex, lama dia menunggu jawaban tapi juga tidak ada respon. Sampai akhirnya ponsel Alex baterainya juga habis dan akhirnya mati. “Yah, Pak. Hp-nya mati,” ucap Ana sambil memanyunkan bibirnya. “Apa?” ucap Alex yang langsung mengecek ponselnya yang ada di tangan Ana, memastikan apakah benar-benar mati. Di sisi lain, saat itu Ana melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Hal yang membuat mereka khawatir adalah waktu semakin malam, sedangkan besok ada audit di kantor, yang membuat mereka harus berada di kantor pagi-pagi sekali. Sedangkan sekarang mereka masih di jalanan sepi Bandung dalam kondisi mobil yang entah kapan bisa jalan lagi. “Saya coba cari bantuan ke penduduk,” ucap Ana pada Alex. Alex yang melihat sekeliling sudah gelap dan rumah penduduk sudah tertutup semua, tidak yakin dengan usulan Ana. “Sepertinya penduduk juga sudah terlelap semua.” “Bagaimana ini, kita besok pagi harus sudah dikantor,” ucap Ana. “Aku tau.” “Kalau begitu Bapak dorong mobilnya, saya yang nyetir.” “kenapa kau menyuruhku mendorong?” “Lalu bagaimana? Apa kita harus di sini sampai pagi?” “Iya. Kita tunggu sampai pagi.” “Tidak bisa, lalu bagaimana dengan pekerjaan kantor besok? Banyak yang harus saya siapkan. Huft, tau gitu saya tidak memaksa Pak Marcel untuk menyusul kesini.” “Jadi kau menyesal karena sudah menemaniku di sini?” Mendengar ucapan Alex, Ana lalu terdiam. “Kita tidur di mobil. Lalu kita mencari bantuan besok,” ucap Alex memberikan saran. “Kita? Berdua?” “Ya. Kenapa?” “Tapi saya ragu akan keselamatan saya kalau berdua di mobil sama Bapak.” “Kau sedang mikir apa? Mangkanya pikiranmu itu jangan kotor terus!” Alex geram dengan sikap Ana yang selalu menuduhnya ketika mereka bersama. “Kau sudah beberapa kali membuatku waspada,” balas Ana. “Hm. Sifat aslimu muncul sekarang. Memangnya di pikiranmu aku akan melakukan apa?!” Alex bertanya keheranan. “Kau berkali-kali memelukku tanpa alasan. Wajar saja kalau aku harus waspada,” ucap Ana mengingatkan kejadian yang telah berlalu. “Aku akan memelukmu, menciummu, dan kemudian kita berdua tidur bersama di kursi belakang. Persis seperti yang kau bayangkan.” Ledek Alex dengan sedikit menyondongkan badannya ke Ana dan senyuman meringis yang membuat Ana semakin takut padanya. “Kau mau melecehkanku lagi? Aku akan lapor polisi. Kau bos m***m!” ucap Ana sambil memberikan pukulan kecil pada Alex saat Alex semakin menyondongkan badannya. Alex yang melihat ekspresi Ana, membuatnya semakin gemas padanya. “Mangkanya jangan kebanyakan nonton sinetron. Pikiranmu selalu halu kalau berdua denganku,” ucap Alex yang masih tersenyum kemudian membenarkan posisi tubuhnya. Ana yang sedari tadi memejamkan mata, akhirnya berani membuka matanya dan masih terdiam untuk menetralkan keadaan. “Kau tetap di luar itu terserahmu. Tapi aku tidak mau tanggung jawab kalau kau sakit karena kedinginan. Oiya, kalau kau sakit dan akhirnya besok tidak bisa masuk kerja. Gajimu akan aku potong 50% persen.” “Apa kau manusia?! Kenapa tega mengancamku seperti itu?!” “Aku tidak mengancammu, aku mencoba melindungimu yang sangat keras kepala dari dinginnya hawa Bandung.” Ana tetap terpaku ditempatnya. Dia berpikir keras dan menimbang-nimbang, memang tidak ada pilihan lain selain istirahat di mobil sambil menunggu pagi. Karena tidak mungkin juga mencari penginapan atau hal semacamnya. Mau tidak mau dia memang harus tidur di mobil dengan Alex. Toh, memangnya apa yang akan mereka lakukan. Alex yang saat itu sudah berada di kursi belakang, membuat Ana memilih tidur di kursi depan sebelah kursi sopir. *** Ana melihat jam yang melingkar di tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul tiga pagi. Dia tidak bisa tidur dengan nyaman karena posisi tidurnya cukup membuat badannya lelah. Sedangkan Alex yang dari tadi sudah mendengkur begitu keras, menandakan tidurnya sangat lelap. Ana kembali memposisikan badannya senyaman mungkin dan mencoba memejamkan matanya kembali. agar paginya bisa lebih segar saat melanjutkan perjalanan dan saat harus bekerja kembali. Sebelum dia terlelap sepenuhnya, dia mendengar Alex yang terbangun dan berteriak. “Tidak!!” Teriak Alex yang tiba-tiba bangun dengan wajah pucat dan ketakutan. “Pak Alex? Ada apa?” Ana yang saat itu terkejut secara spontan menghampiri Alex yang berada di kursi belakang. Alex terdiam dan menatap Ana. “Pak Alex tidak apa-apa? Pak Alex mimpi buruk?” tanya Ana kembali sambil tangannya memegang pundak Alex dengan niat untuk menenangkannya. “Aku memimpikannya lagi, kejadian itu.. saat ibuku meninggal karena kesalahanku..” Alex menjelaskan mimpinya dengan wajah depresi dan ketakutan. Mendengar penjelasannya, Ana terdiam sejenak dengan sedikit menggosok-gosok tangannya ke pundak Alex. “It’s Ok… semuanya baik-baik saja, saya di sini, Pak,” ucap Ana menenangkan Alex. Alex yang mendengarkannya menatap Ana dalam-dalam. Dengan spontan, Alex memeluk Ana sangat erat dan cukup lama. Ana yang terkejut, kemudian berusaha untuk tetap tenang dan dengan pelan menggosok pundak Alex untuk menenangkannya. “Jangan tinggalkan aku. Jangan pernah tinggalkan aku. Aku mohon Ana,” ucap Alex lirih. “Iya. Aku akan selalu di sisimu. Aku.. akan menjagamu,” balas Ana lirih. Mereka berpelukan begitu erat dan cukup lama. Seperti dua insan yang tak terpisahkan dan siap untuk saling menjaga. Mereka berdua kembali terlelap dalam tidurnya, hingga matahari menunjukkan sinarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD