“Ana, aku ingin berbicara denganmu,” ucap Robert yang saat itu menahan Ana untuk tidak meninggalkan ruangannya.
“Baik, Pak,” jawab Ana
“Silahkan duduk.” Ana kemudian menuruti Robert untuk duduk di depan mejanya, jadi mereka dalam posisi tatap muka. Raut wajah Robert terlihat lebih serius.
“Aku ingin minta tolong padamu untuk mengawasi Margaret.” Permintaan Robert membuat Ana bertanya-tanya.
“Maaf. Maksud Bapak, Bu Margaret Kepala Bagian Keuangan?” tanya Ana agar lebih yakin.
“Iya.”
“Tapi ada apa dengan Bu Margaret?”
“Hm. Sebenarnya aku dan Marcel sudah mencurigainya sejak lama. Tapi karena kami juga banyak urusan dan semakin sibuk, jadi kami perlu seseorang untuk memnbantu kami. Dan aku yakin kamu bisa membantu kami.”
“Tapi kenapa saya? Mohon maaf, bukannya saya menolak perintah Bapak, Tapi apa saya pantas, sedangkan saya masih karyawan baru disini.”
“Marcel sudah menceritakan padaku siapa kamu, mangkanya kenapa Marcel bersikeras mengangkatmu sebagai sekretarisnya dan Alex. Terimakasih karena kau sudah menyelamatkan Alex saat itu.”
“Sama-sama, Pak. Saya hanya membantu sedikit. Tapi, apa Pak Alex tahu semua ini?”
“Itulah masalahnya, Ana. Alex sudah menganggap Margaret kakak kandungnya sendiri. Dia pasti sangat emosional jika tahu kalau kami mencurigai Margaret. Kami belum cukup bukti untuk membenarkan kecurigaan kami. Maka dari itu tolong bantu kami, Ana.”
“Pasti saya bantu semampu saya, Pak. Karena ini termasuk dalam pekerjaan saya.”
“Terima kasih banyak, Ana. Sepertinya Marcel benar bahwa kamu selalu melakukan yang terbaik.”
“Sama-sama, Pak. Saya juga terimakasih atas kepercayaannya.”
“Ya. Kalau begitu, kamu boleh kembali ke ruanganmu, Ana.”
“Siap. Saya permisi, Pak. Selamat sore.”
“Selamat sore.”
***
Jam menunjukkan pukul 17.30 WIB, Ana berniat melanjutkan pekerjaannya besok dan langsung pulang ke rumahnya. Karena hari ini cukup menguras tenaga, pikiran dan mentalnya. Setelah dia membereskan barang-barangnya, dia menuju ke parkiran mobil. Dengan cepat dia melajukan mobilnya, tak sabar ingin membaringkan badan di tempat tidur ternyamannya.
“Akhirnya, sampai juga di surgaku,” ucap Ana lega saat dia memasukkan kunci untuk membuka pintu rumahnya.
“Aku harap tidak ada gangguan lagi kali ini, tidak ada yang tiba-tiba muncul mengetuk pintu rumahku.” Doa Ana, karena dia ingat hari sabtu-minggu kemarin para bosnya mengganggu dengan mendatangi rumahnya tiba-tiba. Seperti biasa, Ana langsung membersihkan dirinya, makan malam dan mengganti bajunya dengan baju tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, Ana pun bersiap untuk tidur. Sebelum dia terlelap, dering pesan masuk di handphone-nya berbunyi.
“Besok pagi temui aku di ruanganku.” Pesan masuk dari Alex.
“Haduh.. ada apalagi ini. kenapa firasatku jadi tidak enak.” Ana membaca pesan dari Alex dengan penuh khawatir. Ana hanya membaca pesan Alex tanpa sempat membalasnya, karena dia tidak kuat menahan rasa kantuk yang sudah dirasanya. Anapun terlelap dalam tidurnya.
***
Pukul 7 pagi Anastashia sudah berada di kantor, dia menyiapkan berkas-berkas untuk dilaporkan ke Alex dan Marcel. Kemudian dia menuju pantry untuk membuat kopi dan snack untuk kedua bosnya. Sebenarnya ada Office Boy yang bisa melakukan itu. Tapi para bosnya lebih suka kopi buatan Ana.
“Selamat pagi, Pak Alex. Ini kopi dan camilan untuk anda.” Ana menyodorkan kopi dan camilan yang sudah dia siapkan ke meja Alex. Alex yang sibuk dengan Ipad-nya hanya mengangguk sekedarnya.
“Taruh saja disitu. Terima kasih,” ucap Alex sambil melihat Ana sekilas.
“Duduk!” perintah Alex lagi.
“Saya ambil dulu berkas-berkas yang untuk Bapak,” jawab Ana sambil mengarahkan telunjuknya ke meja tempatnya di seberang kantor Alex.
“Duduk!”Alex menatap tajam mata Ana dan menekankan nada perintahnya. Dengan menghela nafas panjang, Ana duduk di depan meja Alex sambil menunggu dengan penasaran apa yang telah membuat mood Alex buruk dari semalam dan melibatkan dirinya. Dia juga menenangkan dirinya sendiri agar lebih terbiasa dengan sikap Alex yang gampang berubah.
“Apa yang kau bicarakan dengan Pak Robert kemarin?” tanya Alex.
“Sudah kuduga, ini yang akan dia tanyakan,” batin Ana dalam hati. Setelah dipikir-pikir, sikap Alex selalu berubah kasar ketika Robert mencoba berinteraksi padanya.
“Kami tidak membicarakan apa-apa, Pak. Pak Robert hanya ingin tahu sudah sejauh mana saya bekerja menjadi sekretaris Bapak dan Pak Marcel. Itu saja,” jawab Ana beralasan dan dengan postur tubuh yang tetap tenang. Alex yang mengetahui jawaban Ana hanya terdiam dan memandangnya dengan tatapan penuh sidik.
“Apa ada yang ditanyakan lagi? Kalau tidak, saya minta ijin untuk mengambil berkas-berkas yang harus bapak tanda tangani,” ucap Ana. Alex hanya terdiam tanpa merespon Ana. Ana yang terlalu lama menunggu respon Alex, akhirnya memberanikan diri untuk meninggalkan ruangan Alex. Belum sempat Ana meninggalkan ruangannya, Margaret sudah berada di belakan Ana
“Pagi, Alex. Apa kamu sudah siap?” Tanpa basa-basi dan tanpa mempedulikan ada Ana disitu, Margaret berbicara pada Alex.
“Sebentar, aku harus menyelesaikan ini dulu,” balas Alex pada Margaret.
“Maaf, tapi Pak Alex mau kemana?” tanya Ana.
“Bukan urusanmu, Ana,” sahut Margaret.
“Aku mau pergi ke Bandung dengan Margaret, ada urusan pekerjaan,” ucap Alex.
“Pekerjaan? Di Bandung? Tapi di jadwal saya, Pak Alex tidak ada jadwal dinas ke Bandung hari ini,” jelas Ana.
“Kau siapa mengatur Alex semaumu dan berbicara seperti itu padanya?” Tantang Margaret.
“Saya sekretarisnya. Dan juga, sudah tugas saya untuk mengatur semua urusan Pak Alex yang menyangkut pekerjaan,” jelas Ana pada Margaret.
“Kau anak baru kemarin sore. Dan kau juga belum sebulan menjadi sekretarisnya. Jadi tolong jangan sok ataupun mentang-mentang.” sahut Margaret. Ana yang tidak terima dengan ucapan Margaret, mempertegas pembicarannya.
“Ibu Margaret yang terhormat, saya bukan sok atau mentang-mentang. Justru karena saya masih baru menjadi sekretaris, ini adalah hal krusial yang perlu saya tanyakan. Saya hanya ingin memastikan apa acara anda berdua memang di luar jadwal yang saya tahu atau memang ini murni keteledoran saya,” jelas Ana. Alex yang mendengar perdebatan mereka semakin memanas pun segera melerai mereka berdua.
“Sudah, sudah. Ini memang jadwal mendadak Ana. Baru kemarin malam Margaret mengirimkan pesan kepadaku untuk rencananya. Kami akan mengunjungi salah satu kolega untuk persiapan audit,” jelas Alex.
“Bapak kemarin mengirim pesan ke saya, kenapa Bapak tidak bilang?”
“Kau tidak membalas pesanku,” bela Alex. Ana yang mendengar itu langsung terdiam.
“Tidak membalas pesan atasan termasuk keteledoran, Sayang. Aku harap kamu perbaiki kinerjamu. Ayo Alex, kita sudah siang,” ucap Margaret dengan tatapan meledek. Kemudian mereka berdua pergi dan meninggalkan Ana sendirian di ruangan Alex. Ana yang mengemban tugas tambahan untuk menyelidiki Margaret merasa tidak enak dengan firasatnya. Dia pun segera beranjak menuju ruangan Marcel.
“Selamat pagi, Pak Marcel.”
“Pagi, Ana.”
“Maaf, Pak. Apa Pak Marcel tahu Bu Margaret dan Pak Alex akan pergi kemana?”
Marcel yang saat itu fokus menandatangani berkas, seketika menghentikan pekerjaanya.
“Tidak. Memangnya mereka berdua kemana?”
“Mereka bilang, akan pergi ke Bandung menemui kolega untuk menyiapkan audit. Dan mereka sekarang sudah pergi. Apa Bapak tahu?”
“Bandung? Hm, Aku tidak mengetahuinya.”
“Apa boleh saya minta ijin untuk mengikuti mereka?”
“Kamu mau ke Bandung? Menyetir sendiri?”
“Iya, Pak. Apa saya boleh minta tolong tanyakan pada pak Alex kemana tujuannya? karena kalau saya yang tanya pasti tidak akan di jawab.”
“Hm… Baiklah. Aku akan meneleponnya.” Marcel kemudian menelepon Alex. Sambil menunggu jawaban dari Alex, Marcel melihat wajah Ana yang terlihat cemas.
“Apa kau mencemaskannya?” tanya Marcel pada Ana. Kemudian Ana dengan cepat menunduk untuk menjawab pertanyaan Marcel.
“Halo. Ada apa?”
“Kau dimana?”
“Lagi on the way ke cabang Bandung. Sama Margaret. Kenapa?”
“Ada yang mencemaskanmu. Apa kau tidak pamit padanya?”
“Siapa?”
“Anastashia Keihl.” Ucapan Marcel yang menyebut nama lengkapnya membuat dia tertunduk malu. Dia berpikir, apa iya dia terlihat sangat mencemaskan Alex.
“Hm, Sudah aku nyetir dulu.” Alex menutup telepon Marcel sebelum dia sempat menjawab teleponnya.
“Dia ke kantor cabang Bandung, Ana. Kau tidak perlu khawatir,” jelas Marcel pada Ana. Ana hanya terdiam mendengarnya dengan wajah masih terlihat cemas.
“Saya cemas karena saya kepikiran tentang tugas yang diberikan Pak Robert pada saya kemarin,” ucap Ana ragu pada Marcel.
“Tugas? Tugas apa?” tanya Marcel menyelidik.
“Tentang bu Margaret. Pak Robert bilang kalau Bapak dan Pak Robert meminta saya untuk membantu.”
“Hm. Jadi misinya sudah di mulai. Huft… “ Marcel bergumam dan menghela nafas panjang.
“Misi?” tanya Ana.
“Iya, Misi Rahasia. Jangan sampai sikapmu membuat Alex curiga. Apalagi kalau menyangkut Margaret.”
“Maaf, apa mereka punya hubungan spesial?”
“Hm.. sepertinya mereka berdua mempunyai keterikatan emosional. Sejak ibu kandungnya meninggal, Margaret lah yang selalu ada untuk menghibur Alex. Tapi entah kenapa aku tidak nyaman saat Margaret terlalu dekat dengannya.”
“Apa bu Margaret seumuran dengan pak Alex?”
“Tidak.. Margaret jauh lebih tua darinya. Apa kau mau menyusul Alex?”
“Iya, Pak.”
“Oke. Kalau begitu mari kita susul mereka.”
“Pak Marcel ikut? Apa Bapak tidak ada kerjaan?”
“Apa aku ada pekerjaan yang mendesak wahai sekretarisku?” tanya Marcel sedikit menggoda Ana. Ya, karena Ana terlalu mencemaskan Alex, sampai dia lupa dengan jadwal Marcel hari ini. Marcel pun sedikit menggodanya agar Ana lebih rilex.
“Aa.. Iya.. Bapak hari ini hanya mengerjakan rutinitas saja. Tidak ada yang mendesak,” jawab Ana malu.
“Aku harap kau adil antara aku dan Alex, Ana. Haha. Haruskah kita berangkat sekarang?” tanya Marcel.
“Baik, Pak. Mari kita berangkat sekarang,” jawab Ana. Kemudian mereka bergegas menuju parkiran mobil.