bc

Gama Apsara : Perjalanan Mendapatkan Sebuah Cinta

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
independent
neighbor
bxg
serious
mystery
loser
superpower
civilian
like
intro-logo
Blurb

Aku adalah Atma, seorang yang taat pada agama walaupun tak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuaku. Ku belajar dari kakek saat masih kecil karena aku suka.

Kepercayaan para warga yang membuatku menjadi wakil tetua di kala usiaku masih belia. Kuturuti saja apa yang mereka mau. terlebih lagi aku belum mengerti hawa duniawi.

Hal ini berubah ketika aku bertemu dengan Genah, teman sepermainan. Kumerasakan ada sesuatu yang berbeda dengan gadis itu. Namun aku tak bisa mencintainya sebab tetua dan para wakilnya tidak boleh menikah. Apakah itu akhir dari cinta kami? Tentu saja bukan. Masih ada cara lain agar bisa mencintainya yaitu dengan menjadi apsara. Caranya ada di dalam sebuah kitab. Dimana kitab itu? Tiada yang tahu. Sebab itulah mari kita mencari bersama-sama.

chap-preview
Free preview
Inikah Cinta?
Gunung Wanasri merupakan gunung keramat bagi warga sekitar. Sebab itulah tak ada seorang pun yang berani menyentuh sehingga hutan terjaga dengan alami. Gunung tersebut dibatasi oleh sawah dan bangunan. Di gunung Wanasri yang masih terasa alami tersebut terdalam sebuah candi, tempat para manusia berdoa. Bangunan seluas setengah hektar menjadi tempat tinggal seorang tetua, Wiyoko. Di usia yang lebih dari seabad tak membuat lelaki tersebut malas-malasan. Setiap hari dia selalu mengajarkan isi dalam kitab suci kepada para warga sekitar. Wiyoko tak sendirian. Sang master masih memiliki satu cucu yang selalu setia, Atma. Lelaki muda tersebut sudah belajar kepada sang kakek sejak usia kecil. Bahkan Atma sudah diangkap menjadi wakil master ketika masih berusia dua belas tahun. Di hari minggu merupakan waktu yang sibuk bagi Wiyoko dan Atma. Para warga seikitar melakukan peribadahan secara bersama. Mereka harus mendampingi para penduduk beribadah, dari awal hingga selesai. Tak hanya berdoa saja, para penduduk juga mempelajari kitab suci yang telah mereka baca dari rumah. Sebagian memang dipinjam dari kuil karena tak boleh keluar dari kuil, apalagi dicetak ulang. Hanya boleh mengutip sedikit saja isi baru buku tersebut tanpa menyertakan ayat yang jelas. Waktu peribadahan telah usia. Semua orang pergi dari candi tersebut. Kitab ditinggalkan di sebuah wadah tanpa dirapikan sama sekali. Masih beruntung buku tersebut memiliki lapisan plastic anti air dan hewan kecil. Lebih parah lagi banyak sampah dibiarkan begitu saja di lantai. Atma mengambil sebuah sapu untuk mengumpulkan sampah sisa dari manusia yang kurang bisa menjaga kebersihan. Kaki melangkah untuk mengumpulkan sampah pada sebuah titik. Tanpa sengaja dia menabrak seorang perempuan berbaju ungu. “Mbak, aku minta. Akan aku bantu,” katanya. “Mas, jangan panggil aku Mbak. Ini Genah, sahabat kecilmu,” kata perempuan itu. Pandangan mata Atma beralih ke wajah perempuan yang dirasa baru berjumpa. Gadis dengan wajah lembut terlihat cantik dengan dihiasi asesoris dari emas. “Benarkah kau Genah? Seingatku kau tak seperti ini?” Atma tak yakin atas apa yang ada di depan mata. “Ya, aku Genah putri Kartono. Genah yang dulu pernah bermain bersamamu.” Bagian pundak baju gadis tersebut dibuka. Kulit di pundak tubuh Genah dipamerkan. Tanda berwarna hijau menjadi sebuah ciri khas yang tak mudah ditemukan pada tubuh sembarang orang dan menjadi ikon untuk Genah. Atma pun yakin atas apa yang dikatakan Genah. “Mbak, kapan kau kembali? Kemana saja kau selama ini?” Sebuah pertanyaan diucapkan sebagai sebuah bentuk untuk meyakinkan diri sendiri. “Aku dulu pergi belajar ke luar negeri dan baru kemarin aku pulang.” Genah membantu mengumpulkan sampah. Kulit pundak ditutupi dengan rambut yang berwarna hitam. Kegiatan membersihkan tempat peribadahan telah usai dilakukan Atma dengan sedikit bantuan dari Genah. Sampah telah terbuang dari lantai candi. Namun wajah Genah sama sekali tak bisa hilang dari ingatan Atma walaupun gadis tersebut telah hilang dari pandangnya. Setiap kegiatan apa saja selalu teringat wajah Genah. Bahkan di dalam alam mimpi pun selalu ada wajah Genah. Kejadian seperti ini tak pernah dialami sebelumnya. Atma menoba mencari tahu apa penyebab hal ini bisa terjadi. Segala kitab dibuka dan dipelajari walaupun dia sendiri sudah hafal. Setiap rangkaian symbol huruf diperhatikan untuk memastikan jika ada hafalan yang terlewat. Semua buku telah dibaca dan dipelajari dengan sangat cepat. Hampir semua buku dibaca dalam waktu dua minggu. Bahkan ada yang dibaca hingga dua kali. Namun dia tak bisa menemukan tentang perasaan yang dialami selama ini. Kepala menjadi sedikit frustasi dan putus asa. Rasa penasaran di dalam hati Atma tak sirna juga karena tak bisa menemukan apa itu dan penyebabnya. Sang kakek merupakan harapan terakhir untuk bisa mengetahui kejadian aneh yang dialami untuk pertama kali seumur hidup. “Apakah Mbah bisa memberi bantuan kepada kawula?” tanyanya. “Tentu, bantuan apa?” Mata Wiyoko sang tetua menatap pada mata Atma. “Aku mengalami kejadian aneh. Setiap saat aku selalu teringat pada wajah seorang gadis yang Bernama Genah. Mau melakukan apapun aku selalu saja ingat dia. Apakah yang terjadi pada diriku?” “Atma, apakah kau pernah mengalami kejadian ini sebelumnya?” “Tidak.” “Le, inilah yang dinamakan cinta. Setiap orang pasti akan mengalami saat seperti ini jika ada kesempatan memasuki usiamu sekarang ini.” “Apa? Bukankah tak ada cinta di dalam hatiku? Itulah yang dikatakan penduduk sehingga mereka merasa senang saat aku menjadi wakil selama ini.” Amut tak percaya atas apa yang terjadi. “Ra, kamu hanya belum pernah merasakan saja. Setiap manusia memiliki rasa cinta. Lahirnya kamu di dunia ini juga karena rasa cinta.” Untuk pertama kali Atma tak percaya atas apa yang diucapkan sang kakek. Hati selalu didorong agar mampu mempercayai setiap kata yang keluar dari sang master karena selama ini tak pernah berbohong. Segala yang didengarnya dari sang kakek merupakan sebuah kebenaran. Atma tak kuat untuk mempertahankan kepercayaan di dalam hati. Dia pun pergi dari hadapan sang master. Di belakang bangunan terdapat sebuah tempat khusus. Di sana hidup seekor hewan berwarna putih salju mirip dengan kuda. Tanduk begitu indah berkilau diterpa cahaya matahari. Sayap putih yang mengepak menimbulkan eksotika keindahan tersendiri. Terlebih lagi ekor hewan yang selalu dirawat Amta dengan cermat. Batang pohon yang mirip dengan bambu, pripun diberikan kepada hewan kesayangan. Satu per satu batang yang masih muda masuk ke dalam mulut. Sebuah ember dibawa Atma. Keran sebagai sumber air didatangi dan dibuka. Air yang mengalir dari keran masuk ke dalam wadah tersebuh. Bayangan wajah diri sendiri terlihat di dalam Genangan air itu. Namun ada bayangan lain yang ada di dalam sana. Genah selalu terlihat begitu cantik. Dia pun menoleh ke belakang dan tak ada siapa pun yang ada di sana. Padangan pun kembali ke ember dan ternyata sudah penuh dengan air. Wadah tersebut dibawakan ke hadapan unicorn. Di malam itu, sang kakek sedang menghadiri sebuah pertemuan. Atma sendirian di dalam candi. Makan yang berada di sebuah meja makan diambil. Bayangan Genah kembali lagi terjadi saat dia sedang mengambil sepiring nasi. Tak hanya bayangan yang terpantul di sebuah cermin tetapi juga suara gadis itu terdengar sampai di telinga. Suara yang merdu langsung bersemayam di dalam hati. “Selamat malam, Mas,” ucap Genah. “Genah, mengapa suaramu bisa terdengar begitu jelas?” Atma memperhatikan gelas berisi air yang memantulkan cahaya dari sebuah lampu. Tak hanya suara saja yang didengar Atma. Sebuah sentuhan kelembutan mulai dirasakan. Namun dia mengabaikan perasaan itu dan melanjutkan menyantap makanan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.1K
bc

Rebirth of The Queen

read
3.8K
bc

Rise from the Darkness

read
8.7K
bc

FATE ; Rebirth of the princess

read
36.1K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.4K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.9K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook