BAB 2 : SURAT WASIAT

1858 Words
Pak Ramli mengeluarkan selembar map berwarna coklat muda dari tasnya. Dipakainya kaca mata yang sedari awal menggantung di lehernya yang keriput. Asisten muda di sampingnya dengan sigap mengambil pulpen untuk pengacara paruh baya itu. “Dibaca pelan – pelan ya, Pak.” pinta Marsya lirih. Meskipun tegang, ia berusaha menutupinya dengan wajah khas sunda yang tenang. Sementara itu, Rania yang duduk di samping memandang kedua lelaki di hadapannya dengan tatapan kosong. “Baik, Bu Marsya..” dengan suaranya yang bijak, Pak Ramli mulai membacakan selembar kertas putih surat wasiat peninggalan Taka. “Hanya ada tiga poin yang ditulis oleh Bapak Taka. Poin pertama, Pak Taka mewariskan dua ribu hektar lahan sawit di kalimantan barat atas nama PT Mil-..” “Sudah dijual dua hari sebelum dia meninggal, untuk melunasi sebagian hutang perusahaannya..” Rania memotong kalimat Pak Ramli dengan tatapan datar. Sementara itu Marsya terdiam terpaku. Hatinya sedikit bergidik dengan jumlah hutang yang ditinggalkan oleh Taka. “Baik, Bu.. saya lanjut poin kedua, Pak Taka mewariskan seluruh saham perusahaan PT DJAYA LESMANA untuk Caleb Les-..”, nada suara Pak Ramli menurun. Ia memilih tidak melanjutkan kalimatnya. Semua orang di ruangan itu tahu, perusahaan Taka bangkrut dan Caleb, anaknya, tewas bersamanya. Rania menunduk. Berusaha menyembunyikan semburat kabut di matanya. Hatinya teriris perih jika ada seseorang menyebut nama suami dan anaknya. “Lanjut poin ketiga..” tukas Pak Ramli. Kedua bola matanya bergulir ke kanan, lalu membulat. Lama. Entah apa yang sedang dibaca bapak paruh baya itu. Yang jelas hal itu akan mengejutkan semua orang di ruangan ini. “Poin ketiga.. jika Pak Taka meninggal, istri sahnya, yaitu Rania Marveen, diharuskan..” sesuatu tercekat di tenggorokan Pak Ramli. “Diharuskan apa, Pak?” tanya Marsya dengan wajah memburu. “Diharuskan menikah dengan Noah Bastian, atas hutang yang tidak pernah terbayarkan.” semua orang di ruangan itu terdiam kaku. Mata rania membulat. Raut wajahnya yang kosong kini menegang penuh tanda tanya. Mengapa suaminya menulis surat wasiat seperti itu? Dan.. siapa Noah Bastian? “Apa saya tidak salah dengar, Pak?” tanya Marsya. Matanya nanar menatap Pak Ramli. Sementara bapak paruh baya tersebut langsung menyerahkan selembar surat wasiat kepada Marsya. Mata fokus wanita itu bergulir cepat ke kanan dan ke kiri. “Si- Siapa Noah Bastian?” tanya Rania kepada Pak Ramli. Raut wajahnya yang sedari tadi kosong mulai menunjukkan ekspresinya. “Setahu saya, dia pemilik The Bastian Group. Bisnisnya menggurita di berbagai sektor. Dia.. dia juga yang membuat proyek kota terencana Time City mangkrak.” jawab Pak Ramli singkat. alis Rania bertaut. Yang dia tahu, Bastian Grup, induk perusahaan dari perusahaan – perusahaan tambang, perbankan dan e-commerce yang sedang melejit saat ini dinahkodai seorang CEO bernama Anggara Yuda. Tapi Noah Bastian? Pemilik Bastian Group? Baru kali ini ia mendengar nama itu. Marsya menyerahkan kembali surat wasiat itu kepada Pak Ramli. Perlahan ia mulai mengatur nafasnya yang memburu. Pikirannya kalut memikirkan nasib ayah Rania yang mendekam di jeruji besi, di tengah bau tubuh narapidana kelas teri yang membuat perut mual. “Noah Bastian itu salah satu saingan bisnis Mas Taka. Dia jadi kaya seperti sekarang karena mencurangi sistem yang ada. Dia itu mafia! Mafia yang punya tujuh nyawa! Jenderal polisi pun nggak bisa menyentuhnya.” ujar Marsya kepada Rania. Rania membelalak tak percaya. Dilihatnya Pak Ramli yang fokus mendengar Marsya. Bapak bersahaja itu mengangguk pelan, menyetujui perkataan Marsya. “Tapi kenapa Taka nggak pernah membahas tentang Noah Bastian kepadaku?” balas Rania. Dahinya mengernyit butuh jawaban. Tapi kenyataannya, semua orang di ruangan itu terdiam membisu. “Saya baru saja kehilangan suami dan anak saya. Ayah saya dipenjara. Kakak saya menghilang entah kemana. Dan sebentar lagi.. saya akan kehilangan rumah ini. Bagaimana bisa dalam keadaan seperti ini saya menikah dengan orang yang tidak saya kenal? Apalagi dia seorang mafia!?” Rania berkata tersengal. Sesak hati menyadari bahwa kehidupannya yang sempurna berubah dalam sekejap. “Sebaiknya Bu Rania menemui Pak Noah dan membicarakan hal ini.” balas Pak Ramli tenang. Dilepasnya kaca mata yang mulai mengembun oleh nafas hangatnya di tengah suhu ruangan yang dingin. Setelahnya, pria baruh baya itu menarik nafas dalam – dalam. “Jangan dulu, Ran.” seru Marsya. Ia menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya, “Kemarin aku dapet kabar dari pihak bareskrim. Kematian Mas Taka bukan kecelakaan biasa. Ada dugaan kuat bahwa dia dibunuh, dan dugaan itu mengarah kuat pada Noah Bastian.” “Apaaa?!!!” *** Satu minggu sebelumnya, Sinar lampu kristal kekuningan menyinari gaun warna maroon yang dikenakan Felo, artis cantik yang kurang berbakat namun punya ambisi besar menjadi selebriti terkenal. Nama lengkapnya Angelina Feloni. Tapi orang –orang enggan memanggilnya Angel. Karena nama malaikat itu sama sekali tidak mencerminkan wataknya yang pemarah dan arogan. Jadi, mereka memilih memanggilnya Felo. Dagu Felo yang lancip terangkat di depan cermin. Mengisyaratkan keangkuhan, bahwa malam ini ia akan menjadi wanita paling beruntung di kotanya. Sebentar lagi, Noah Bastian akan menyematkan cincin pertunangan di jari manisnya. Gadis itu begitu gigih mendekati pemilik tunggal The Bastian Group sejak dua tahun lalu. Tidak peduli harga dirinya yang tinggi anjlok di depan para teman artisnya, karena reputasi buruk seorang Noah sudah terkenal di mana – mana. Pemilik tunggal The Bastian Group itu membangun gurita bisnisnya dengan cara mencurangi sistem yang ada. Bahkan, tiap tahun pasti ada berita demonstrasi berjilid yang dilakukan para korban perusahaannya Noah. Selain itu, banyak proyek besar yang mangkrak atas ulahnya. Tapi tetap saja, polisi tidak berani menyentuh sang pemilik tunggal The Bastian Group. Wajar saja, jika semua orang menjulukinya sang mafia tujuh nyawa. Tapi apa pedulinya buat seorang Felo. Yang penting, ambisinya untuk menjadi nyonya seorang pengusaha kaya raya segera terkabul. “Eh.. ini kurang pink goblog! Buruan poles dikit!” Felo menyalak beringas kepada salah seorang tim make – up, membuat tim make –up lainnya saling bertatap heran dan menggelengkan kepala. “Anakku sayang..!” Ibu Felo tiba – tiba berlari ke arah anak semata wayangnya dan langsung mendekap erat punggungnya yang ramping. “Mamaaa..! Ya ampun, Ma.. kok bisa telat, sih?! Ini acara tunanganku!” tukas Felo kesal. Kerut di dahinya menimbulkan retakan foundation yang sudah terpoles sempurna. “Ihh.. jangan gitu dong, Sayang.. Mama kan cuma telat sepuluh menit.” seru Ibu Felo. Wajah keiputnya masih kegirangan. Dicubitnya kedua pipi Felo agar anaknya bisa menyunggingkan senyum. “Felo masih khawatir nih, Ma..” lagi – lagi dahi Felo melipat. “Khawatir kenapa?!” “Noah pernah bilang nggak akan bisa menikahiku.” wajah juteknya tertunduk lesu. Ibunya yang sudah mendengar kalimat itu ribuan kali dari anaknya menghela nafas panjang. Dipegangnya kedua lengan putri cantiknya sebelum mengatakan sesuatu, “Dengerin Mama, lelaki itu hanya tunduk pada dua hal. Pertama, kecantikan dan yang kedua adalah ikatan.” mata tajam Ibu menusuk relung hati Felo. “Ikatan gimana, Ma? Felo kan udah bilang Noah nggak bisa meni–“ telunjuk Ibu segera menempel pada bibir tebal Felo. Membuatnya bungkam dalam sekejap. “Bukan itu maksud Mama, yang Mama maksud tentang ikatan itu adalah.. anak. Noah bisa saja nggak menikahimu, atau meninggalkanmu gitu aja. Tapi.. dia tidak akan pernah berani meninggalkan anaknya. Benihnya. Ahli warisnya. Buat lelaki itu mau menikahimu dengan mengandung benih di rahim-mu.” jelas Ibu. Sorot matanya menelisik reaksi Felo yang masih terdiam. Perlahan Felo mengangguk, membuat ibunya menghela nafas yang sempat tertahan. “Pikirkan hal lain yang bikin kamu seneng, Sayang. Bayangkan tinggal di mansion paling megah di kota ini. Bayangkan juga kamu bisa liburan ke luar negeri tiap bulan..” senyum arogan menungging di wajah Ibu. Membuat Felo ikut tersenyum pula. “Dan.. naik helikopter ke lokasi syuting.. Aaakkkhhh!!! Aku udah nggak sabar banget jadi istrinya Noah! Makasih, Ma!” Felo berteriak kegirangan. Kakinya tidak berhenti loncat- loncat saking senangnya. “Bu Felo, sudah siap?” tiba – tiba petugas party organizer membuka pintu ruang make – up. Felo mengangguk mantap dengan senyum bahagia yang terukir di wajahnya. Bergegas Felo keluar ruangan sembari mengangkat gaun dengan kedua tangannya. Ibu Felo yang tak henti- hentinya berseri berjalan mengikuti anaknya. Felo menarik nafas panjang sebelum masuk ke dalam ballroom hotel yang megah. Jantungnya mulai berdegup kencang saat dua staf hotel membuka pintu ballroom lebar – lebar. Semua tamu yang hadir riuh bertepuk tangan melihat Felo yang berjalan anggun memasuki ballroom. Sebagian saling berbisik mengomentari gaun Felo yang terlalu mencolok, sebagian lagi memicing dengan pandangan sinis. Sementara itu, sosok lelaki tinggi berperawakan kekar dengan rambut hitam legam menunggu Felo di tengah mimbar dengan tatapan dingin khasnya. Wajah blasteran timur tengah lelaki itu benar – benar memikat semua wanita. Kesampingkan soal julukannya sebagai mafia, semua orang setuju bahwa wanita mana pun pasti akan jatuh hati pada pandangan pertama. Felo telah berdiri di hadapan Noah. Wajahnya semakin berseri – seri saat Noah memandangnya. Meskipun dengan tatapan datar. “Kamu nggak cium tanganku?” tanya Felo merengek. “Buat apa?” tukas Noah. Tak lama kemudian lelaki itu memalingkan wajah ke depan. Membuat hati Felo sedikit kecewa. Sekian detik kemudian seorang pengisi acara ibukota membuka sesi acara utama: Penyematan cincin tunangan. Ibu Felo yang duduk di kursi samping meja bundar mendekapkan kedua telapak tangan. Seperti orang yang sedang berdoa. Wajahnya tidak sabar menunggu pengesahan hubungan anaknya dan Noah ke level yang lebih tinggi, hubungan yang selama ini diimpikan seorang ibu ambisius itu. Tiba – tiba saja, derap langkah buru – buru Bagas, pengawal Noah memecah suasana seisi ballroom yang bahagia. Asisten tersebut berjalan terburu mendekati sang bos lalu membisikkan sesuatu di telinganya. Semua tamu saling lempar pandangan heran. Begitu pun dengan Felo. Alisnya menukik tajam. Menegaskan bahwa malam ini adalah acara tunangannya. Tidak ada seorang pun yang boleh mengganggu malam spesialnya! “Aku keluar sebentar..” pamit Noah singkat. “Sepenting apa, sih?!” seru Felo kesal. Belum sempat dijawab, lelaki itu buru – buru keluar ballroom mengikuti langkah Bagas. Membuat Felo menghentakkan kaki kiri saking kesalnya, lalu berjalan ke tempat duduk ibu dan teman – teman selebritinya. Sementara itu pengisi acara yang kebingungan berusaha mencairkan suasana. “Fel, gue nanya serius nih! Lo yakin mau nikah sama Noah?! Lo nggak takut kalo sewaktu – waktu kalian dibunuh orang? Dia itu mafia, lho.. banyak musuhnya!” tanya Gladys, salah satu selebriti yang diundang ke acara pertunangan privat itu. “Diem bisa nggak?!” Sementara itu di luar ballroom, Pak Malik, orang kepercayaan Noah yang berusia 45 tahun berdiri kaku menunggu bosnya. “Ada apa, Pak?” tanya Noah cemas, sesaat setelah ia berdiri di hadapan Pak Malik. “Maaf, Pak. Saya harus mengatakan berita ini di saat – saat seperti ini. Kawan Bapak, Taka Lesmana tewas tenggelam di Sungai Putih, 15 menit yang lalu..”, ujar Pak Malik. Mata Noah terbelalak. Ditatapnya kembali Pak Malik. Ekspresi wajah berumur itu tetap sama - yakin dengan apa yang dikatakannya. Nafasnya tertahan di ulu hati, sekian detik kemudian ia mengatur nafasnya agar bisa mengendalikan diri. “Terima kasih sudah memberitahu saya.” balas Noah begitu saja. Ekspresi wajahnya kembali datar. Tak mau berlama – lama, Noah membalikkan badan menuju pintu ballroom, lalu membukanya. Semua orang menoleh penuh tanda tanya. Tak terkecuali Felo dan ibunya. Noah mendekat ke arah mereka dengan wajah serius. Ditatapnya Felo yang bermuka masam, lalu mulai mengatakan sesuatu, “Aku nggak bisa melanjutkan pertunangan ini.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD