BAB 3 : KEKUASAAN MAFIA YANG TAK TERBATAS

1413 Words
“Apa?! Apa katamu?!!” Felo terbelalak tidak percaya. Wajahnya merah padam. Emosinya yang mulai di ujung tanduk berusaha ditekan. Sementara itu, Ibu Felo yang sedari tadi berdiri mencari tempat duduk terdekat, sembari memegang dadanya yang nyeri erat- erat. “Kita sudah sepakat, kan? Kalau hubungan ini hanya setingan, aku butuh ketenaranmu, dan kamu, ingin kekayaanku.” tukas Noah singkat. Felo menggeleng tidak percaya. Tak lama kemudian Noah meminta maaf pada para tamu yang hadir karena ia telah membatalkan acara pertunangan dengan Felo secara mendadak. Hampir semua tamu terperangah tak percaya. Membuat harga diri Felo semakin terluka. Belum sempat menanyakan apa yang membuat Noah berubah pikiran, lelaki itu buru- buru melangkahkan kaki keluar ruangan, tidak mempedulikan Felo yang menatapnya nanar. Usahanya selama ini ternyata sia- sia. Impiannya menjadi seorang istri pemilik Bastian Group pupus sudah. Pecah tangis Felo di antara para tamu yang masih saling berbisik. Sementara itu, Gladys, dengan wajah seperti habis menang lotere, mulai mendekati Felo, “Upss.. gagal jadi Nyonya Bastian, nih!” “DIEM LO!!” *** Tiga minggu kemudian, Noah berdiri dengan gagah sembari menatap pemandangan kota dari ruang kerja yang berada di lantai atas gedung pencakar langit miliknya. Kedua telapak tangan kekarnya tersembunyi di balik saku celana , alisnya yang tebal hampir bertaut. Di balik raganya yang kokoh, ada hati yang rapuh didalamnya. Rapuh oleh api cinta yang membara pada wanita yang ditemuinya delapan tahun lalu, yang merenggut setengah jiwanya, dan merampas nafasnya. Tiba – tiba saja, lamunannya menguap saat pintu ruangan kantor terbuka oleh salah satu asistennya, Bagas. Dengan langkah tergesa lelaki muda itu menghampiri sang bos besar. “Bapak memanggil saya?” tanya Bagas sesaat setelah ia berdiri di hadapan sang bos. Noah mengangguk pelan. Ditariknya nafas dalam – dalam sebelum mengatakan sesuatu, “Jemput dia sekarang juga. Tapi ingat.. jangan dipaksa.” *** Dengan mata sayu dan rambut brunnete-nya yang dikuncir asal, Rania menarik koper menuju pintu utama rumah. Dress putih yang ia kenakan tampak kusut oleh tekanan tubuhnya yang terbaring lesu seharian di ranjang. Kini, ia memutuskan pergi tanpa tujuan. Meninggalkan ayahnya yang dulu sempat dibanggakan, dan juga surat wasiat suaminya yang tidak masuk akal. Menikahi Noah Bastian? Ahh.. sungguh ia tidak peduli dengan nama itu. Sesaat setelah membuka pintu utama, ia dibuat kaget oleh sosok lelaki muda berpakaian serba hitam, berdiri canggung di hadapannya. “Pagi Bu Rania. Saya Bagas, asisten pribadi Pak Noah. Saya ke sini berniat untuk menjemput Ibu ke rumah Pak Noah sekarang juga. Karena beliau akan melangsungkan akad nikah dengan Ibu sore ini.” jelas Bagas kaku. Rania terdiam terpaku. Mencoba mencerna apa yang didengarnya barusan. Sekian detik kemudian, wanita itu tersenyum nyengir sembari menggelengkan kepala. “Kamu punya adik perempuan, nggak?” tanya Rania. Bagas memutar bola matanya, lalu mengangguk perlahan. “Gimana perasaanmu kalo adik perempuanmu menikah dengan orang yang nggak kamu kenal? Kamu rela?” Bagas terdiam menunduk. Sekian detik tak ada jawaban, Rania meninggalkan lelaki muda itu, lalu berjalan keluar menuju pagar rumah yang menjulang. “Bu.. ma- maaf, tapi surat wasiat almarhum suami ibu harus dipenuhi..” “Tahu apa kalian tentang suamiku? Dan kamu? Kenapa tiba – tiba tahu isi surat wasiat suamiku?” suara Rania meninggi, lalu ia membalikkan badan ke arah Bagas. Mata sayunya memicing pada lelaki muda yang dianggapnya masih bocah. “Suami ibu membuat salinan surat wasiatnya kepada Pak Noah.” ucap Bagas singkat. Kali ini nada bicaranya lebih tegas, membuat Rania tidak berpindah dari posisi berdirinya. “Saya tidak tahu hubungan macam apa di antara suamiku dan Noah dan tidak mau mencari tahu. Dan kamu.. bilang sama bosmu itu, saya tidak akan mau menikah dengannya!” *** Matahari sore hampir tumbang di kaki langit. Halaman belakang rumah Noah yang luas dipenuhi orang – orang terdekatnya yang sedang menunggu acara akad nikah dibuka. Tampak Noah berpakaian tuxedo paling mahal dengan mawar putih tersemat di saku jasnya. Bapak penghulu dari KUA setempat dan saksi nikah sudah siap dengan perannya masing – masing. Sementara itu, yang membuat semuanya terkejut dan saling membisik heran adalah kehadiran Roy Marveen. Niat kedatangan mantan pejabat yang sedang menjalani hukuman penjara itu tak lain adalah sebagai wali nikah Rania. Kekuasaan Noah tidak terbatas. Tanpa kehadiran Rania pun ia bisa menikahi wanita paling cantik di kotanya. Tinggal menyogok hakim untuk meringankan hukuman Pak Roy, dengan sekejap Noah bisa menjadikan Rania istri sahnya. “Bisa dimulai?” tanya Pak Penghulu kepada Noah. Lelaki berkharisma itu mengangguk pelan sesaat setelah Pak Penghulu menjulurkan tangan kanannya. Dilihatnya kursi putih di samping yang kosong. Kedua matanya meredup. Rasa kecewa menjalar disepanjang ulu hatinya. Bergegas ia menghela nafas, agar sesak di dadanya memudar. Disambutnya tangan Pak Penghulu dengan tangan kekarnya. Babak kehidupan baru sang mafia baru saja dimulai. *** Rania menyeret koper dengan malas memasuki pintu gerbong kereta api kelas eksekutif. Beberapa jam yang lalu ia memutuskan untuk pergi ke Bandung, ke rumah sahabat lamanya dan memulai kehidupan baru. Bukan keputusan terbaik memang, tapi ini lebih baik daripada harus memenuhi surat wasiat Taka yang tidak bisa diterima akal sehat. Ia merebahkan diri di kursi dekat jendela setelah susah payah menaruh kopernya yang berat di kabin atas. Matanya menatap kosong ke arah penumpang yang buru – buru memasuki kereta. Tak lama kemudian, semua pintu kereta tertutup otomatis dan masinis pun menjalankan kereta ke kota tujuan. Tling Tiba – tiba sebuah pesan dari Marsya mengagetkannya. Ayahmu jadi wali nikah di pernikahan Noah dan kamu Mulut Rania menganga lebar membaca pesan dari Marsya. Belum sempat membalas pesan itu, Marsya mengiriminya sebuah foto. Tangannya bergetar saat hendak memencet foto itu.Terpampang jelas foto ayahnya yang memunggungi kamera sedang duduk takzim bersama beberapa lelaki yang mengenakan peci dan juga seorang pria berbadan kekar dengan tuxedo mahalnya. Wajah pria bertuxedo itu juga tidak tampak karena memunggungi kamera ponsel Marsya. Rania menjerit dalam hati. Tangannya menggenggam penuh dendam membayangkan sosok Noah yang berbuat sesuka hati, dan juga ayahnya yang tidak punya hati nurani. Kamu di mana, sekarang?, Marsya mengiriminya pesan lagi. Perjalanan ke Bandung, singkat ia membalas Marsya. Hati – hati, Ran. Kayaknya Noah kirim orang buat ngikutin kamu Deg! Pesan yang tak kalah mengejutkan dari Marsya membuat hatinya rontok seketika. Ia heran, mengapa orang kaya itu sebegitu menginginkannya? Apa yang telah diperbuat Taka kepadanya? Dan yang terpenting, hutang macam apa yang membuat Taka rela menyerahkan istrinya sendiri pada Noah? Belum sempat mengatur nafasnya yang tersengal, kereta yang sudah bergerak cepat tiba- tiba berhenti mendadak. Membuat semua penumpang terkejut dan saling toleh kanan – kiri keheranan. Tak terkecuali Rania. Matanya memicing melihat gerbong depan. Tak berapa lama, ia melihat dua pria bertubuh raksasa berpakaian serba hitam berjalan tergesa menuju ke arahnya. Jantungnya berdegup kencang saat mata mereka menusuk tajam wajah sendunya. Membuatnya menebak dalam hati, apakah mereka suruhan Noah? Deg! Ternyata ia tidak salah menduga! Ia langsung tersadar saat salah satu di antara mereka menunjuk ke arahnya. Rania bergegas beranjak dari kursi, namun usahanya untuk melarikan diri terlambat. Satu pria raksasa melangkahkan kaki lebih cepat dan meraih kedua tangan Rania yang langsung digenggamnya erat – erat “Aaakkkhhhh..!! Lepaskan aku! Lepass..!!” pekik Rania histeris. Sekuat tenaga ia berontak, tapi pria itu mencengkeram tangannya sangat kuat, membuatnya tidak bisa berkutik sama sekali. Penumpang lain bergidik ketakutan. Mereka berdiri menepi menjauhi mereka, sebagian ingin menolong Rania, namun mereka memutuskan untuk mengurungkan niat itu. Dua pria raksasa itu terlalu besar untuk postur mereka yang standar. “Ikut kami!” “Nggak.. nggak mau!” Rania memekik lebih kencang. Dilihatnya pria itu dengan tatapan nanar dan mengiba. Namun pria raksasa tetap tidak bergeming. Yang penting misinya untuk membawa Rania ke bosnya berhasil. Saat Rania masih berontak sekuat tenaga, pria di belakangnya meraih tubuh Rania dengan kedua tangannya yang super besar. Dibopongnya tubuh kecil wanita itu. Membuat Rania yang kelelahan sedikit putus asa dan ingin menangis sejadi – jadinya. Dua pria raksasa itu kemudian berjalan keluar menuju pintu kereta dan tak mempedulikan Rania yang mulai menangis tergugu. “Lepaskan aku, bodoh!” gertak Rania dengan suara sengaunya. Namun tidak ada jawaban. pria itu tetap berjalan tenang melewati rel kereta api yang sunyi dan menuju mobil hitam di seberangnya. “Kalian mau membawaku ke mana? Hah?!” “Ke kediaman Pak Noah.” hati Rania mencelos mendengar nama yang bisa memantik rasa dendamnya. Sesaat setelah mendekati mobil, pria satunya membukakan pintu. Dimasukkan Rania yang tak mampu lagi melawan ke dalam mobil dengan sangat hati – hati, sebelum menutup pintu mobil, pria yang membopongnya tadi mulai mengatakan sesuatu, “Pak Noah sudah menyiapkan hidangan terbaik untuk makan malam Anda.” “Masa Bodoh!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD