Mobil yang ditumpangi Rania mulai memasuki kediaman Noah yang begitu luas. Butuh sekitar lima menit untuk menuju bangunan utama dari pagar rumah yang menjulang tinggi. Pepohonan besar berjejeran mengelilingi kediaman sang pemilik Bastian Group, membuat semua orang yang melintas di daerah itu tidak menyadari ada kediaman mewah bak istana di baliknya. Namun, semua orang juga memaklumi, tidak ada kriminal yang ingin terekspos publik.
Sesaat kemudian, mobil berhenti persis di depan bangunan utama. Tampak jelas bangunan bergaya perancis serba putih dan air mancur buatan di seberangnya membuat Rania sedikit berdecak kagum. Bukan karena ia tidak pernah melihatnya, tapi ia tahu berapa nilai sebuah bangunan mewah itu.
“Silahkan turun, Bu.” pria bertubuh raksasa yang membopongnya tadi membukakan pintu mobil. Dengan wajah acuh, Rania pun turun sembari membenahi rambutnya yang terkesiap angin malam. Sempat terbesit untuk segera melarikan diri. Matanya berkeliling mencari pintu keluar terdekat. Tapi hanya pemandangan pekarangan super luas yang didapatnya.
“Ahh..percuma!” serunya dalam hati.
Tak lama kemudian, satu pria raksasa mempersilahkannya masuk saat pintu utama dibukanya lebar – lebar. Diikutinya langkah berat dua pria itu yang berjalan memasuki ruangan bercat putih. Lengang. hampir tidak ada apa – apa di ruang depan bangunan kecuali lukisan asbtrak yang terpajang di berbagai sudut. Aneh.. sungguh aneh pemilik rumah ini!
“Pak Noah menunggu Ibu di sana.” kata pria raksasa sembari menunjuk ke arah sudut ruangan yang tertutup pilar bangunan.
Rania mulai berjalan maju ke arah yang ditunjuk. Setelah melewati pilar yang menutupi sudut ruangan, terlihat seorang lelaki dengan tinggi sekitar 185 cm berdiri tegak membelakanginya. Wajahnya mendongak memandang lukisan abstrak dihadapannya. Kedua telapak tangannya yang kekar tersembunyi di balik saku celana. Lelaki itu menyadari kehadiran orang lain, tapi tetap tidak bergeming dari lukisan itu.
“Kau kah yang memaksa Taka menulis surat wasiat itu?!” ujar Rania. Suaranya bergetar karena menyadari seseorang yang baru saja ia benci berdiri di hadapannya. Tak lama kemudian pria itu membalikkan badan. Rania terdiam terpaku saat melihat wajah Noah yang begitu tampan. Wajah blasteran khas timur tengah itu hampir memikat hatinya yang sedetik lalu mendendam. Jantungnya mulai berdegup kencang. Ia tidak mengerti mengapa malah jadi begini, tapi yang jelas, ia terpesona.
Noah berjalan mendekati Rania dengan wajah dinginnya. Matanya terlihat berbinar meskipun ada raut canggung. Sesaat kemudian, lelaki itu berdiri persis di hadapannya.
“Kamu sudah makan?” tanya lelaki itu lembut. Rania sedikit terhenyak oleh pertanyaan yang tak disangka keluar dari mulut seorang Noah, seseorang yang punya predikat mafia. Pikirannya meragu, Mafia macam apa yang repot – repot mempedulikan wanita yang baru ditemuinya beberapa menit lalu?
“Jawab pertanyaanku.” tukas Rania dengan raut wajah datar. Seakan lupa bahwa sekian detik lalu sempat meragu oleh predikatnya.
“Untuk apa aku jawab sekarang? Kamu pasti nggak bakalan percaya dengan perkataanku.” Rania terdiam mendengar jawaban logis yang terlontar begitu saja. Dipandangnya lamat – lamat mata indah lelaki itu dengan cara membayangkan kematian tragis Taka, agar tak lagi terbesit niat untuk terpesona. Beberapa detik kemudian, Rania melepas pandangan darinya dan tersenyum sinis.
“Selama Taka hidup, dia tidak pernah menggunakan uangnya untuk mengendalikan orang lain. Sementara kamu? Menghentikan kereta secara mendadak dan juga menyuap ayahku untuk menjadi wali nikahku.. Woww.. seperti itu kah cara hidup seorang mafia?!” suara Rania meninggi, membuat Noah memejamkan mata dan mengepal tangannya kuat. Kalimat itu sengaja ditahan agar tak masuk di hatinya. Terlalu melankolis memang. Apalagi untuk ukuran seorang Noah yang tangguh. Tapi begitu lah dia. Kelemahannya hanya satu: cinta.
“Aku melakukan ini semua demi kamu..” ucap Noah singkat. Jantungnya berdesir hebat, tapi sesaat melega. Karena pada akhirnya ia bisa mengucapkan kalimat itu kepada cintanya.
“Memangnya aku siapamu? Kita bahkan nggak pernah bertemu sebelumnya.”
“Aku lah orang yang seharusnya memilikimu, bukan Taka.”
“Jadi itu alasanmu membunuh Taka?” Noah membelalak mendengar ucapan Rania yang begitu kejam. Dilihatnya wanita itu dengan tatapan nanar. Tak berapa lama kemudian, Noah mengeluarkan tangan dari saku celana dan segera menarik pinggang ramping Rania, membuat wanita itu terhenyak kaget. Dibenamkan wajah kekar Noah ke wajah Rania sedekat mungkin. Bahkan, wanita itu bisa melihat bayangan dirinya di kedua bola mata Noah. Perasaannya campur aduk, antara terpesona wajah tampan itu dan juga takut, apa yang akan dilakukan mafia berkuasa itu?
“Aku tidak membunuhnya. Dan jangan pernah percaya pada orang yang mengatakan itu.” ucap Noah tidak main – main, membuat Rania ragu menelan ludah. Bulu kuduknya merinding saat hembusan nafas berat lelaki itu tertiup di lehernya yang jenjang.
“Rendi!” seru Noah kepada pengawalnya yang berjaga di pintu utama. Bergegas pengawal muda itu menghampiri mereka berdua dan berhenti di belakang Rania.
“Antar istriku ke kamar. Pastikan makan malamnya masih hangat.” ucapnya tegas. Meskipun Rendi menatap bosnya penuh hormat, tatapan Noah tetap tidak bisa lepas pada wajah bidadari dihadapannya.
Sementara itu, Rania mencoba membesarkan hati agar rasa takutnya sedikit pudar. Namun, pikirannya mulai dipenuhi prasangka liar. Semua yang diperbuat lelaki itu memang mengarah pada penyebab kematian Taka, lelaki yang amat dicintainya. Didorongnya tubuh kekar Noah secara kasar. Wanita itu segera membalikkan badan dan berjalan cepat ke arah Rendi. Matanya segera tertuju pada pistol yang tersembunyi di balik jas si ajudan muda. Direbutnya pistol itu secepat kilat, lalu mengarahkannya ke tempat Noah berdiri. Sontak saja Noah terkejut dan bersiap mencegahnya. Namun usahanya kalah cepat oleh Rania yang sudah memegang pistol itu dengan kedua tangannya. Dengan mata terpejam, Rania memantik pistol itu, dan...
“Doorrr!!”, suara timah besi yang meluncur menggema di seluruh ruangan, seiring dengan suara tubuh yang jatuh terpental. Rania yang masih memejam mulai membuka mata perlahan. Jantungnya seketika berhenti saat melihat darah segar memenuhi lantai dan membenamkan tubuh Noah yang tumbang. Darah mengucur deras melalui lengan kiri sang lelaki berkuasa, membuat Rania dengan sekejap menyesali perbuatannya. Dijatuhkan pistol dari tangannya begitu saja, lalu pengawal lain berdatangan dan mulai mengangkat tubuh Noah yang melemah.
“A-apaa yang telah aku lakukan?!”